A Simple Birthday

Tahun lalu, ulang tahun saya ‘dirayakan’ dengan makan malam di sebuah mall di Bandung. Kami datang terpisah-pisah, karena ada keperluan, dan ngumpul di tempat yang sudah disepakati. Lalu si Akang bilang, dia sudah sudah survey harga smartphone dan berniat ngasih hadiah buat saya, cuma nggak langsung beli karena kuatir saya ga suka warnanya.

Akhirnya, setelah makan, saya dan akang ke toko handphone itu, sementara anak-anak ke toko buku bareng adik saya. Di jalan, saat tau harga si smartphone, saya langsung ragu-ragu. Ah, kemahalan. Hp saya masih bisa dipakai kok, kata saya. Memang sih sering hang atau lelet loading, tapi ya masih bisa ditahan. Apalagi, saya ingat, banyak sekali pengeluaran lain yang lebih penting. Akang menggandeng tangan saya sambil senyum,”Sudah, tenang aja. Insya Allah ada rizkinya.” Lalu dia jelaskan mengapa saya perlu smartphone, antara lain supaya saya bisa baca e-book. Ehm.. di satu sisi seneng sih… diperhatiin begitu. Tapi di sisi lain, tetap ga tega harganya. Saya selama ini pakai hp yang cukup murah. Akhirnya kami sampai di toko itu. Ee.. saya malah terpesona sama tablet *gubrak*.. dan merayu si akang beliin tablet aja (haduuuh!)

Walhasil, saya pun bawa pulang kado berupa tablet.. dan si hp butut tetep dipake. Tapi entah mengapa saya nggak nyaman pake tablet itu. Mungkin krn gaptek. Atau mungkin karena lebih suka baca e-book di laptop. Atau, ya pokoknya ga nyaman aja deh. Akhirnya di tablet putih itu sering nganggur.

Nah, seiring waktu, si hp semakin kacau, dan akhirnya..hilang! Waktu kami kemping sekeluarga di Kiara Payung, itu hp entah nyelip di mana. Di saat yg sama, hpnya si akang juga bermasalah, rusak parah. Bbrp hari kemudian, tralaa.. si akang beli dua smartphone, dengan warna sama, merk sama. Satu buat saya, satu buat si akang. Pas saya tanya harganya, dia bilang, “Udah, pake aja!” Bukan merk terkenal siiih.. juga warnanya bukan gue banget hiks. Tapi tetep alhamdulillah.

Dengan agak repot saya pelajari itu si smartphone, dan lama-lama saya seneng banget pakenya. Lalu, si tablet jadi ga kepake dong (kan fungsinya sudah disediakan semua sama smartphone). Tadinya si akang mau jual aja, krn belum setahun, masih ada garansi. Tapi saya sedih.. itu kan hadiah ultah… Tiba-tiba Kirana nyeletuk, “Kakak juga pengen punya iPad” (hihi, sebenarnya kami menyebut tablet itu iPad, entah mengapa, pdhl ini tablet, krn produk Samsung). Ya udah deh, itu tablet itu saya hadiahkan saja pada Kirana.

Ultah saya tahun ini, dalam situasi ketika hal-hal yang harus kami lunasi sangat banyak… Ah, repot deh pokoknya. Jadi, saya bilang ke akang, ga usah kasih hadiah apa-apa, ga usah makan di luar. Eh, pas hari H, Reza berkeras bahwa kami harus ke Jatos mall untuk merayakan ultah mama. “Papa bilang gitu kok!” Si akang masih di jakarta. Jadilah saya, Rana, dan Reza ke mall bertiga dengan tujuan nonton Turbo (karena Reza berhari-hari sebelumnya pengen nonton. Jadi saya heran, ini kepentingan siapa seh sebenarnya, buat ngerayain ultah atau krn emang anak2 pengen nonton aja?:D). Saya menolak opsi berbuka di Jatos. Jadi, rencananya, nonton jam 12.45, lalu beli bahan buat buka puasa, dan pulang, makan di rumah aja. Biar anak-anak seneng, saya tawarkan, “Kita beli bahan buat bikin burger dan pie buah, trus kita masak-masak di rumah, seneng kan?”

Begitulah, kami ke Jatos, dan si akan nelpon, dia sudah otw bandung. Saya bilang, ketemu di Jatos aja. Alhamdulillah, dia tiba tepat waktu dan bisa ikut nonton. Lalu,habis nonton, saya bilang, “Hadiah buat mama buku aja ya! Tapi syaratnya, musti patungan bertiga,papa, kakak, reza.”

Nah, ini sebenarnya kami sedang berusaha mendidik Reza supaya mau berbagi. Duit tabungannya cukup banyak, sekitar 120 ribuan, hehe, tapi dia berat hati banget patungan. Sudah dibujuk sama kakaknya, tetep dia menolak mengeluarkan uang  Si akang lalu membelikan Reza mainan (harganya 10rb, tapi lucu banget, adonan banting, kayak balon, dan kalau dibanting kayak adonan yang meleleh). Lalu dia bilang. “Reza, seneng nggak dikasih hadiah?” Reza mengangguk. “Nah, mama pasti seneng banget kalau Reza kasih hadiah. Gimana, Reza mau kasih hadiah buat Mama?”  Reza diam, tapi akhirnya mengangguk dan bilang, “Tapi dua ribu aja ya?”  Wadawww.. 😀

Akhirnya di toko buku, saya menemukan buku yang saya suka, Khaled Hosseini, And The Mountains Echoed. Harganya 59rb. Si akang bilang, “Reza, kita patungan ya? Dua puluh ribu perorang. Gimana?”

Reza mengerutkan alisnya. “Tapi nanti lebaran aku bakal dapat uang lagi kan?” Papanya mengiyakan. Barulah dia mengangguk. 😀

Buat kami, ini bukan masalah uangnya. Tapi ini sedang menanamkan sikap mau berbagi, mau berkorban melepaskan apa yang dicintai. Kan ada ayatnya, “Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menginfakkan apa-apa yang kalian cintai. Apa saja yang kalian infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92)

Kita seringnya berinfak dengan apa yang sudah kita anggap tidak perlu (termasuk uang, kita infak kalau kita ngerasa ada kelebihan). Padahal ujiannya di situ: yang dicintai. Kalau infaq barang bekas yang emang kita ga butuh sih, ga perlu pengorbanan besar, dan karenanya belum setara dengan al birr (kebajikan yang sempurna). Kisah yang luar biasa terkait hal ini adalah kisah keluarga Imam Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah (putri Rasulullah). Mereka mau berbuka dan tiba-tiba ada pengemis datang minta makanan. Dan mereka serahkan satu-satunya roti yang mereka punya, sehingga mereka (termasuk anak-anak mereka, Hasan dan Husain) berbuka hanya dengan air. Entah apa bisa kami meniru pengorbanan seberat itu. Tapi setidaknya, harus dimulai dari yang ringan dulu, sesuai kemampuan.

Nah, habis beli buku (eh, di situ juga mejeng buku saya Prahara Suriah, senengnya, liat buku sendiri… Tapi kok ya nggak difoto ya..nyesel juga), kami ke supermarket dan beli bahan-bahan bikin burger dan pie buah. Lalu, pulang deh.

Di rumah, bertiga menyiapkan semuanya (si akang tidur karena kecapean). Dan tralaaa… ini dia pie buahnya…

IMG_20130730_181012

Malamnya, saya tidur-tiduran, si akang datang menyerahkan novel yang tadi dibeli (jadi sejak dari mall, belum saya sentuh-sentuh tuh novel). “Selamat ulang tahun ya Ma…” Saya senyum. Tiba-tiba jadi terkenang ulang tahun saya selama kami menikah.. Terharu deh.. Ingat si akang selalu berusaha menyenangkan  hati saya, mencarikan kado yang menurutnya bagus. Meski berkali-kali saya nggak cocok sama hadiahnya, ya saya tahan saja. Kalau si akang emang ga ahli milih kado, ya apa boleh buat, ya penting ada usaha lah, ya kan? 😀  Yang paling mengharukan itu dulu, pas kami statusnya masih mahasiswa, di Iran. Saat itu saya berkali-kali mengeluh pengen kalung. Soalnya, saya melihat temen saya pake kalung, kok cantik banget. Duh, kekanak-kanakan banget saya waktu itu. Eh, si akang beneran beliin saya kalung dengan harga cukup mahal untuk ukuran mahasiswa yang mengandalkan uang beasiswa yang sangat minim. Masalahnya, itu kalung bukan kalung emas! Duh saya keseeel banget (dalam hati). Pertama, ngapain buang-buang uang hanya beli kalung bukan emas (warna perak, tapi entah perak asli atau enggak). Kedua, karena kulit saya emang ga cocok sama selain perhiasan emas, pasti gatel-gatel. Tapi ya sudahlah… saya bisa menangkap si akang bener-bener pengen menyenangkan hati saya. Itu lebih penting.

Ehm udah deh segini dulu ceritanya.  Oiya, novelnya belum saya baca, karena kayaknya isinya banyak kesedihan deh, sementara saya lagi ga pengen sedih, sudah banyak masalah nih (lha, kenapa miih novel yang ituh!?).. nanti ajalah dibaca di Padang. Kami kan mau mudik ke Padang lebaran ini.

Alhamdulillah for everything.

Advertisements

Review “A Note From Tehran”

Kajian Timur Tengah

Catatan buat penstudi HI: ini bisa masuk ke pembahasan tentang ‘diplomasi budaya’

Review A Note From Tehran

Dina Y. Sulaeman

Tepat setahun yang lalu, saya berada di Tehran. Sebelumnya, sejak 1999-2007 saya pernah tinggal di Iran. Awalnya untuk kuliah S2 karena saya mendapat beasiswa di Tehran University, jurusan Hukum Islam. Baru kuliah satu semester, saya mendapati bahwa memang bidang tersebut sama sekali tidak saya minati. Seiring dengan itu, saya kerepotan mengurus bayi (kalau pakai istilah seorang pakar parenting, waktu itu saya mengalami sindrom gajatu ‘gagap jadi ortu’). Kuliah pun saya tinggalkan dan saya fokus mengurus anak. Ketika anak saya telah usia dua tahun, saya bekerja sebagai jurnalis di IRIB, dengan memanfaatkan kemampuan bahasa Indonesia, Inggris, dan Persia saya. Lumayan, bisa menabung Dollar. Seiring dengan semua itu pula, saya aktif menjadi blogger dan mencatat warna-warni kehidupan saya selama di Iran di blog saya. Catatan itu akhirnya menjadi buku dengan judul Pelangi…

View original post 1,474 more words

Mama-Mama Yang Enggak Suka Marah

Ada satu kalimat salah kaprah yang kadang saya ucapkan kalau saya sudah spanneng, ke anak-anak: “Coba tanyain ke temen-temenmu.. ada enggak mama-mama yang nggak suka ngomel kalau anaknya nggak nurut..?”

Waduh..secara logika dan ilmu parenting ini jelas kalimat yang salah banget… Pertama, kalau saja semua mama di dunia suka marah, apa itu artinya perbuatan marah ke anak bisa dibenarkan? Kesalahan yang diperbuat mayoritas orang tidak bisa membuat kesalahan itu jadi kebenaran. Kedua, mengapa mama-mama harus marah kalau anaknya nggak nurut? Mama mau mendidik anak penurut (dan kelak jadi manusia ‘yes bos’ melulu) atau anak kritis sih?

Lalu pagi ini saya membaca artikel yang bener-bener gue bangeeeet… Tulisan yang sangat bagus dari mba Ellen Kristi. Selengkapnya silahkan baca di sini, tapi saya akan copas -dan adaptasi- bagian yang sangat perlu saya praktekkan mulai hari ini.. (hwaaa..sebenarnya ini pun sudah berkali-kali saya formulasikan di blog ini, tapi kita pun musti memaafkan diri sendiri, namanya manusia memang gampang lupa, jadi yang perlu dilakukan adalah terus-menerus menambah ilmu dan mencari ‘pengingat’ /sesuatu atau seseorang yang mengingatkan kita pada tekad-tekad baik yang pernah kita canangkan):

Langkah yang perlu saya lakukan supaya jadi Mama yang konsentrasi penuh ke anak-anak, dan tidak gampang emosi lagi (eeh…sbnrnya saya juga ga suka marah-marah sih..udah tobat.. tapi masih sering kesel…dan cemberut… dan ngomel… yeeee.. 11-12 kali yee…):
Pertama, meditasi dan refleksi. Setiap pagi dan petang, pada waktu teduh, akan saya sisihkan waktu untuk merenungkan apa sebetulnya yang paling bermakna dalam hidup ini, dan apa yang perlu saya lepas demi memperoleh yang paling bermakna itu. Jika anak-anak ada di urutas atas daftar prioritas hidup saya, maka yang lain musti ditempatkan sesuai porsinya.

Kedua, asupan ide. Momentum perubahan musti dipelihara. Saat ini secara rutin saya membaca tulisan-tulisan inspiratif yang membantu saya untuk terus ingat pada komitmen saya ini.

Ketiga, selektif pada komitmen baru. Banyak hal baik yang bisa kita kerjakan, namun bukan berarti semuanya perlu kita kerjakan sekaligus saat ini. Ke depan, saya akan berpikir baik-baik sebelum mengiyakan suatu permintaan atau tugas, dan hanya menerima apa yang betul-betul selaras dengan prioritas hidup saya.

Keempat, anak dulu baru komputer (dan semua hal lain yang bisa ditunda). Saya tidak punya BB atau smartphone, tapi saya tetap kecanduan facebook dan internet, dan saya sering lebih mementingkan mengetik menghadap layar ketimbang menemani anak. Sudah agak lama saya menyimpulkan bahwa “facebook and kids are not friends” – gadget dan apps mudah sekali merebut perhatian kita dari anak. “Tunggu” dan “sebentar lagi” adalah alasan yang selalu kita berikan setiap kali ia meminta giliran diperhatikan. Maka di hari-hari mendatang, saya akan matikan selalu laptop ketika anak-anak masuk ke ruang kerja saya. Mari kita lihat seperti apa jadinya.

Kelima, kontak mata dan perhatian otentik. Saat anak mendekati saya, saya ingin menyapanya dengan sepenuh hati dan menatap ke dalam matanya. Ketika anak berseru, “Mama, lihat aku!” saya ingin berhenti dari apa pun yang sedang saya kerjakan, mengalihkan perhatian padanya, duduk dan menonton seluruh aksinya dari awal sampai akhir, bahkan kalau perlu memvideokannya. Seperti saran Rachel, saya ingin menangkap momen sekali seumur hidup itu dan menyimpannya sebagai kenangan manis setelah saya tua dan beruban nanti.

Keenam, merekam dalam jurnal. Saya tidak tahu peristiwa-peristiwa apa yang akan muncul selama menjalani tantangan ini. Saya akan mencatat, mempelajari, menangis dan tertawa ketika kelak membacanya lagi.

Ketujuh [ini dari saya -Dina-]: ingat-ingat terus QS Thaha 43-44.. bahwa Allah menyuruh Musa dan Harun datang ke Firaun dan memperingatkannya dengan lemah-lembut… Aih, ke Firaun aja musti lemah-lembut,masak ke anak-anak ngomel melulu…???

Kita bisa memaksakan diri tersenyum manis di depan orang lain, betapapun mereka bikin kita kesel, tapi mengapa stok senyum itu malah tidak dipakai di hadapan anak-anak kita? Seperti kata mbak Ellen: Tidakkah itu cara pikir yang terbalik? Bukankah anak-anak kita adalah audiens yang paling berarti dan paling kita sayangi?

 

Ayo semangat…no more ngomel!!