[Parenting] Homoseksualitas di Sekeliling Kita

Dalam sebuah pertemuan dengan beberapa ibu pemerhati parenting, ada ibu yang sharing tentang sebuah kasus, lalu disambung dengan cerita yang lain lagi dengan tema sama, yaitu: homoseksualitas.

Ceritanya begini. Seorang anak laki-laki kelas 1 SD, sekolah di sekolah berlabel agama, diperlakukan tidak senonoh oleh gurunya. “Untungnya” belum terjadi intercourse, ‘hanya’ ditempelkan ‘itu’-nya. Si anak mengadu pada ibunya dan langsung si ibu memindahkan anaknya.

Kasus lain, seorang anak laki-laki disodomi oleh pengasuhnya (jangan salah, pengasuhnya ini lelaki  ‘pilihan’, educated, dan dari luar kelihatan sangat relijius) selama beberapa tahun. Setelah ketahuan, terlambat. Si anak yang sudah remaja ini  sudah kecanduan hubungan seks dengan sesama jenis. Pada saat-saat tertentu, secara rutin, dia “sakaw”, ingin melakukan ‘itu’. Entah bagaimana cara menyembuhkannya.

Seorang ibu menganalisis bahwa ketika sudah terjadi intercourse, apalagi bila berkali-kali, ada syaraf-syaraf dalam otak yang berubah, dan bahkan menjadi rusak, dan kecenderungan homoseksualitas pun ‘tertularkan’. Artinya, si anak yang tadinya suci, normal, karena disodomi akhirnya ikut-ikutan jadi homoseks.

Dan kabarnya, kejadian ini sangat banyak menimpa anak-anak Indonesia… Bahkan anak yang sudah jadi korban akan  ‘digilir’ di antara orang-orang dewasa (sepertinya mereka sudah ada jaringannya). dan bisa dibayangkan, anak-anak itu tumbuh seperti apa (jiwanya). Secara lahiriah, mereka mungkin akan tumbuh jadi orang sukses secara akademis, bahkan punya jabatan penting. Tapi, orang-orang penting inilah yang kemudian menjadi ‘pelindung’ gerakan homoseksualitas. 😦

Para pembela homoseksualitas biasanya memberikan argumen antara lain:

  1. Setiap orang berhak untuk memiliki orientasi seksual masing-masing; karena itu tidak boleh ada penindasan terhadap orang dengan orientasi seksual yang berbeda!
  2. Kalaulah seseorang itu homoseksual, kenapa yang lain harus marah? Kalau sebagian memang menganggap itu haram menurut agama, ya nyatakan saja haram, biarkan Tuhan yang menghukumnya!

Dua kalimat di atas saya copas dari email seseorang bergelar doktor (!) tapi argumen serupa banyak diungkapkan oleh orang-orang di internet.

Jawaban saya atas argumen di atas, pakai logika saja: jika benar seorang berhak menjadi homoseks, oke, tapi dia tidak berhak menularkannya kepada orang lain! Homoseksualitas itu bukan genetic (atau ‘ciptaan’ Tuhan), melainkan ‘ditularkan’ oleh lingkungan. Cerita di atas adalah buktinya. Penelitian yang dilakukan oleh Paul Cameron Ph.D (Family Research Institute) pun menemukan bahwa di antara penyebab munculnya dorongan untuk berperilaku homo, adalah pernah disodomi waktu kecil (dan parahnya, perilaku mensodomi anak kecil menjadi salah satu ‘budaya’ kaum homo), dan pengaruh lingkungan, yaitu sbb:

  1. Sub-kultur homoseksual yang tampak/terlihat dan diterima secara sosial, yang mengundang keingintahuan dan menumbuhkan rasa ingin mengeksplorasi (=ingin mencoba)
  2. Pendidikan yang pro-homoseksual (bayangkan bila di sekolah-sekolah kita –seandainya para pendukung homoseks berhasil menggolkan agenda politik mereka—ada kurikulum  tentang kesetaraan seksual, setiap orang berhak jadi apa saja, heteroseksual atau homoseksual; kurikulum seperti ini konon dicoba diterapkan di AS karena menteri pendidikan era Obama ini adalah tokoh pro-homoseksual).
  3. Toleransi sosial dan hukum terhadap perilaku homoseksual
  4. Adanya figur yang secara terbuka berperilaku homoseksual
  5. Penggambaran bahwa homoseksualitas dalah perilaku yang normal dan bisa diterima (bahkan konon di kota besar seolah menjadi gaya hidup; dianggap sebagai sesuatu yang keren dan ‘berkelas’)

Penelitian Cameron juga menunjukkan bahwa kecenderungan homoseksualitas bisa disembuhkan, antara lain, melalui pendekatan diri kepada Tuhan.  Selain itu, dari sisi kesehatan,  homoseksualitas juga berdampak sangat buruk bagi pelakunya. Lengkapnya bisa dibaca di sini: http://www.biblebelievers.com/Cameron3.html

Nah, masalahnya, anak-anak kita juga dikepung oleh propaganda homoseksualitas. Cowok yang berlagak gemulai menjadi trend di tivi. Lagu-lagu yang dikumandangkan artis-artis terkenal banyak yang membela homoseksualitas dan menyebut ini perilaku yang genetic (memang dikasih Tuhan demikian). Bahkan penulis yang banyak dielu-elukan kalangan tertentu di Indonesia, Irshad Manji, berusaha menjustifikasi perilaku ini (dan ‘kebetulan’, Manji juga seorang lesbian), dengan membawa-bawa tafsir ayat Quran (saya pernah membantah penafsirannya itu di sini)

Balik lagi ke diskusi kami di atas. Setidaknya ada satu hal yang perlu digarisbawahi para ortu: ternyata bukan cuma anak perempuan yang harus dijaga baik-baik (karena banyak perempuan jadi korban pelecehan seks). Anak laki-laki pun menghadapi ancaman besar pelecehan seks yang dampaknya sangat sangat merusak masa depannya. Dan,… memang beresiko bila urusan pengasuhan anak diserahkan begitu saja kepada orang lain..

Semoga Allah selalu melindungi anak-anak kita.. Semoga Allah membuat kita para ortu selalu awas dan waspada, dan memberi kita kemampuan untuk menjaga anak-anak..menjauhkan kita dari lengah dan lalai.. Amiin YRA.

Advertisements

[Review] In God We Trust

Siang tadi menyengajakan diri datang ke bedah buku In God We Trust, karya Ranti Aryani. Saya mengajak Kirana, dengan harapan acara itu bisa memberinya inspirasi. Soalnya saya dengar, bukunya tentang seorang dokter gigi asal Indonesia yang sempat bergabung dengan Pentagon, tapi mendapat tekanan karena dia berjilbab.

Pas ngeliat bukunya, tebel juga, dan harganya juga sesuai dengan tebelnya, 88rb. Saya sempat ragu membelinya. Pertama duitnya, karena kami emang benar2 krisis nih (maklum habis mudik, bulan tua lagi). Kedua, saya banyak kerjaan (tapi sayangnya ga ada honornya/entah kapan cair honornya) sehingga saya ragu apa bisa baca buku setebal itu. Saya tanya sama Rana, “Kalau Rana minat baca dan janji akan membaca sampai selesai, Mama beliin, tapi patungan ya..” [saya ingin dia menghargai buku yang dibeli, apalagi kan Rana baru dapat uang lebaran]

Rana ragu2, “Kalau ga rame gimana?”

“Kalau rame, kita patungan. Kalau ga rame, pake duit Mama semua,” jawab saya.

Walhasil, buku itu pun saya beli. Di jalan, saat menuju les biola Rana (setelah ikut acara bedah buku), saya baca tuh bukunya di angkot. Saat menunggui Rana pun, saya baca terus. Di kereta, saat pulang, terus saya baca. Saya terbius, rasanya ga pengen berenti baca. Rasanya seperti baca novel yang asyik (kalau saya baca novel bagus, emang suka gitu, bacaaa.. terus susah berenti,makanya si Akang suka ngomel kalau saya beli novel; tapi tetep aja dia suka bawain oleh-oleh novel :D). Tapi, di kereta, Rana minjem buku itu. Saya kasih. Dan dalam sekejab, dia juga terhanyut. Bacaaa… terus. Sampai akhirnya saya ga tahan juga. “Gantian doooong..”

Di rumah, tentu saja, setelah ngurus ini-itu, saya baca lagi. Si Akang penasaran. Saya bilang, “Iya nih Pa, tolong baca juga dong. Minimalnya bab-bab pertama deh. Ada yang ingin Mama diskusikan sama Papa, soal sufisme. Menarik sekali.” Dan.. saat saya mandi dan makan, si Akang ambil itu buku… dan sampai sekarang ga berenti baca.. eaaa.. Duh, akhirnya saya nulis di blog ini deh.. Habis ngapain lagi, masa bengong aja nungguin si Akang?

Jadi intinya, sejauh yang saya baca, hidupnya Ranti itu emang penuh warna banget deh dan kayak novel. Berkali-kali mata saya berembun karena haru, atau jantung saya berdebar lebih kencang karena kisah yang seru. Gaya penulisan buku ini emang keren. Ranti dibantu sebuah tim, di antaranya mba Sofie Dewayani.. pantes saja ‘gaya’ mba Sofie ada di buku itu.. Saya suka sekali cara mba Sofie (di cerpen/novel karyanya) mendeskripsikan sesuatu, indah banget.

Trus, ada hal yang sangat baru buat saya, yaitu kisah tentang Ranti dan Rich (suaminya) yang menjalani sufisme/suluk. Selama ini saya tau soal sufisme kan teori-teori aja. Ini cerita pengalaman empiris orang ‘biasa’ (maksud saya, mereka orang-orang modern biasa, penampilan juga biasa), yang ternyata menjalani kehidupan sufistik. Saya jadi ‘iri’ membaca cerita Ranti soal ini. Pengen juga bisa mencapai ma’rifat kayak gitu, yang rasanya jauuuh.. banget dari diri saya yang emang amat praktis n pragmatis ini (saya tipe orang yang ga mau mikir susah-susah soal agama).

Hm.. apa lagi yaa..

Oh ini nih, tadi pak Budiyana, salah satu pembedah buku, berkata bahwa manusia itu harus berkali-kali mengalami luka, dibenturkan berkali-kali, supaya kualitasnya semakin meningkat. Beliau (dan juga Ranti dalam bukunya) mengutip QS Ankabut ayat 2: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan ‘kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi.

Duh, saya jadi takut… hidup saya ini kok rasanya gampang-gampang saja ya..? Jangan-jangan…

(Eeeh.. tapi saya juga optimis, siapa tau saya merasa hidup saya ‘gampang’ karena memang saya memandangnya gampang..padahal buat orang lain berat kali yaaa.. misalnya..sekarang niiih.. minim duiiit.. hehehe…)

Anyway, sejauh yang saya baca (kan belum selesai), buku ini menyentak kesadaran saya bahwa perjalanan saya menuju Allah ternyata masih jauuuuh… 😦

____

Update:

-Rana memutuskan bahwa buku ini emang rame, jadi dia ikut patungan 😀

-Saya menyelesaikan buku itu malam itu juga (setelah posting tlsn ini)..bela-belain begadang.. dan penilaian saya (yang sudah saya tulis di atas) tidak berubah, emang bukunya kayak novel..dramatis banget.. Hwaaa.. takjub banget sama Ranti yang tangguh menghadapi tekanan dari orang-orang Pentagon.. menghadapi berbagai masalah yang menyusul kemudian.. Subhanallah.. God bless you sis.. 🙂

[Parenting] Suara yang Didengar Oleh Janin

Ini cerita ‘serem’. Saya bertemu dengan seorang psikolog untuk mengantar seorang teman yang perlu berkonsultasi.

Usai terapi, kami sempat berbincang-bincang dengan Ibu psikolog. Antara lain, beliau bercerita tentang sebuah kasus seorang (dewasa) yang entah mengapa benci pada nada musik tertentu. Rasa benci itu sangat mengganggunya. Setelah diterapi, digali alam bawah sadarnya (melalui teknik EFT), ketahuanlah bahwa musik yang dibencinya itu adalah musik kesukaan ayahnya. Dan akhirnya, ketahuan pula bahwa dia pernah mendengar bapaknya berkata, “Gugurkan anak ini!”. Jadi? Iya, orang ini mendengar ayahnya berkata demikian ketika ia sedang di dalam kandungan ibunya!

(Jadi benarlah teori bhw ibu hamil perlu menjaga baik-baik perilakunya, makanan yang dimakannya, suara-suara yang diperdengarkan ke anaknya, dll, karena semua itu membawa efek kepada janin)

Lalu, ada lagi kasus-kasus lain yang mengerikan, yang ternyata semua sumbernya adalah kesalahan pengasuhan ortu.. hwaaa.. :((

Sungguh, “surga di bawah telapak kaki ibu” itu sama sekali ga murah dan ga mudah dicapai oleh seorang ibu. Tak semua ibu punya surga di kakinya…

Saya dan ibu psikolog pun berencana menulis buku soal ini. Ah, semoga saya sanggup membantu ibu psikolog. Semoga Allah memberi kekuatan dan kemampuan. Mohon doa ya…

[Parenting] Menunggu Aha Moment

“Aha moment” adalah saat ketika seseorang tiba-tiba mendapat pencerahan untuk melakukan sesuatu, dan dia akan berkata “Aha..! Aku dapat ide! Aku akan melakukan ini..!” Jadi, dia melakukan ‘sesuatu’ itu dengan dorongan dari dirinya sendiri dan dia tentu saja akan melakukannya dengan penuh semangat.

Tugas ortu menstimulasi dan memfasilitasi, sambil bersabar menunggu munculnya ‘aha moment’ ini. Sayangnya, sabar ini yang jadi problem. Betapa ortu sering panik melihat anaknya ogah-ogahan diajak belajar membaca sementara anak seusianya sudah lancar melahap majalah IRFAN (iklan!:D). Atau, melihat anaknya males-malesan diajak menghafal Quran sementara di tivi ditayangkan anak-anak kecil yang subhanallah hafalannya sudah sangat banyak.

Dua hari terakhir ini, saya takjub menyaksikan ‘aha moment’-nya Reza. Ceritanya begini, saya merasa kemampuan menulis sangat penting dikuasai anak. Banyak masalah hidup yang bisa selesai dengan kemampuan menulis, dan sebaliknya, banyak masalah muncul ketika kemampuan menulis terbatas. Misalnya saja, mahasiswa yang musti menyusun skripsi/tesis/disertasi. Kebayang stressnya mereka yang ga mahir menulis.

Atas dasar itu, saya dengan penuh semangat melatih Reza menulis setahun terakhir ini. Saya mendorongnya menulis diary. Wow.. susahnyaaa.. Reza kayak cacing kepanasan kalau disuruh duduk menulis. Satu kalimat aja perjuangannya (dan perjuangan saya memotivasi) berat banget. Lalu, dia saya dorong untuk menulis di blog. Blognya saya yang bikinin, saya desain dengan gambar kesukaannya, Ninjago. Kalimatnya pendek-pendek. Namun ketahuilah, menunggu dia menyelesaikan satu kalimat aja perjuangan saya menyabar-nyabarkan diri bener-bener pooool…

Tanpa diduga-duga, kemarin Reza menemukan ‘aha moment’ itu. Tiba-tiba saja, setelah membaca ulang buku karya kakaknya, Avalonia Castle (lho, iklan lagikah?:D), dia berkata, “Ma, aku mau nulis buku kayak kakak!” Tentu saya menyambut antusias, meski dalam hati pesimis (ya eaalaah.. nulis satu kalimat aja repot banget, gimana nulis satu buku?!). Tapi.. beneran.. sejak dua hari terakhir ini, Reza tekun sekali mengetik. Dan sudah mencapai dua halaman A4, size 12, spasi 1,5. Dan kalimat-kalimat yang disusunnya… waduh, alhamdulillah, kliatan banget kalau buku-buku yang dibacanya memang berpengaruh pada apa yang ditulisnya. Dan, yang paling membuat saya takjub, saya nggak perlu nungguin, nggak perlu nyuruh-nyuruh dia nulis. Wow banget lah, ‘the aha moment’-nya Reza kali ini.

Kesabaran untuk terus menstimulasi dan menanti hasilnya, memang berat. Tapi ‘bayaran’-nya sungguh luar biasa. Jadi, ayah bunda, jangan pernah berputus asa menunggu ‘the aha moment’ anak-anak ya..

[Parenting] Mengatasi Anak Sulit Diatur

Berikut ini catatan saya saat mengikuti ceramah bu Rani Noeman di Komunitas Cinta Keluarga. Saya hanya menulis ulang poin-poin pentingnya saja, supaya tidak hilang (karena saya mencatatnya di selembar kertas).

Tujuan belajar parenting: supaya ortu bisa membesarkan anak dengan bahagia. Kita akan mengalami lebih sedikit stress dan hidup yang lebih menyenangkan bila anak-anak kita kooperatif dan kita hidup saling mencintai. Banyak rumah tangga yang kurang mengekspresikan cinta, sehingga anak-anak terbiasa berkonflik, dan sampai dewasa pun mereka cenderung suka berkonflik.

STOP! : menyogok dengan hadiah, menghukum, negosiasi, teriakan

Rudolf Dreikurs menemukan bahwa anak yang berperilaku buruk adalah anak-anak yang putus asa; mereka meyakini bahwa mereka tidak bisa diterima (belong/dimiliki/diakui eksistensinya) oleh lingkungan lewat jalan biasa (dengan perilaku buruk mereka merasakan dapat perhatian)

Anak-anak yang tidak mengalami masalah komunikasi dengan ortu akan memiliki kemampuan berpikir yang sesuai dengan usianya. Kebanyakan anak-anak Indonesia tidak punya thinking skill yang sesuai usianya, sehingga banyak yang kekanak-kanakan (contoh sudah SMA/mahasiswa, masih tawuran).

Cara mengajarkan thinking skill: jangan banyak ngomel, menasehati, memberi solusi. Beri teladan. Beri kesempatan kepada anak untuk berpikir dan mencari sendiri jalan keluar masalahnya. Yakinlah bahwa anak kita mampu mengambil keputusan yang benar.

Empat Tipe Anak Berperilaku Buruk:

1. Mencari perhatian.

Semua anak ingin perhatian. Tetapi bila dia ingin diperhatikan sepanjang waktu, ini adalah perilaku buruk yang harus dicari jalan keluarnya.

2. Power seeking

Anak ingin berkuasa atas ortunya; ada dua cara yang mungkin diambil: kekerasan atau diam. Contoh kasus, anak yang ingin membantah ortu dengan cara diam, tak mau melakukan apa yang diminta ortu, atau sebaliknya, bersikap keras (ngamuk, memukul) kepada ortunya.

3. Revenge (balas dendam)

Anak membalas perilaku ortu yang telah menyakitinya dengan cara: menyakiti ortunya (bisa berbentuk kekerasan), atau menyakiti dirinya sendiri (misal: dg menkonsumsi narkoba, seks bebas, dan melakukan hal-hal yang tidak disukai ortu namun dampak buruknya diderita si anak sendiri

4. Putus asa (tidak mau melakukan apapun)

Apa yang harus dilakukan?

  1. Tenang, jangan panik (dan memberikan apa yang mereka mau) atau malah marah; karena dengan demikian tujuan anak malah tercapai
  2. Tunjukkan respek
  3. Bersenang-senang
  4. Berikan dorongan
  5. Tunjukkan cinta

Contoh: ibu sedang ada tamu, anak seeking attention: jangan panik (lalu menyogok, dll), tapi katakan dengan tegas: “mama sedang ada tamu, jadi adek baca buku dulu/main dengan kakak/dll”

Tapi kalau perilaku buruknya sudah tahap revenge, ini sudah sangat bahaya. Sikap orto: ridho, instrospeksi diri (bukannya menyalah2kan anak melulu), dan maafkan anak. Tujuan anak revenge adalah supaya ortu  marah dan sakit hati. Maka, ortu harus ridho dan memaafkan (sehingga, anak berhenti membalas dendam).

Dalam Quran Surat Ali Imran 159 “..sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu..”

Menghadapi anak ABG (puber) yang perilakunya jadi aneh/menjengkelkan ortu: harus panjang sabar, insya Allah badai akan berlalu, jangan cepat tersinggung.

Setiap perilaku mempunyai tujuan. Kita ga bisa mendisiplinkan anak sebelum kita memahami siapa/bagaimana anak kita. Faktor yang berpengaruh: temperamen, faktor keturunan (ortu yang lelet, biasanya anaknya juga tipe lelet), lingkungan, peran sebagai laki-laki/perempuan, umur dan tahapan perkembangan.

Masalah Jodoh (Lagi)

Hm, sudah berapa kali ya, saya nulis soal jodoh di blog ini?

Bagi saya, tetap saja jodoh itu misteri.

Tapi, ada sebuah kejadian yang menurut saya patut diambil hikmahnya.

Begini, ada seorang gadis yang pendidikannya tinggi, S2-nya aja di luar negeri. Karirnya mapan pula. Wajahnya juga manis. Wah, kurang apa lagi yaaa..? Tapi jodohnya masih belum datang juga. Nah, karena usianya sudah mulai mengkhawatirkan, ibunya berusaha mencarikan suami. Si gadis juga menyerah saja ke ibunya, karena [konon kata ibunya] dia ini emang bukan gadis yang kenal pacaran.

Lalu, ada seorang perjaka yang sedang mencari istri, sudah punya karir mapan, soleh, nggak pernah pacaran, jadi minta tolong ke ibunya buat nyariin istri.

Nah.. di sinilah ceritanya berawal. Si ibu pun -lewat temennya- mendengar kabar ttg si gadis ini dan datang ke rumahnya. Tujuan kedatangan pun sudah jelas, mau ‘melihat’ si gadis dan membicarakan kemungkinan perjodohan si gadis dan si perjaka (artinya, si gadis sudah tau, bahwa yang datang ini seorang ibu yang mau ‘menilai’ dia).

Eh, apa yang terjadi?

Saat si gadis menemui si ibu di ruang tamu, sikapnya cuek banget. Setelah disuruh salaman (bayangin, kok kayak anak kecil aja ya.. Kan biasanya mama-mama ke anaknya suka bilang gini, “Ayo salaman sama tante nak..”), barulah si gadis menyodorkan tangan. Itupun cuma nyodorin tangan ke si ibu aja. Padahal si ibu datang bersama temennya. Kan mustinya, ngajak salaman juga ke ibu yang satu lagi. Setelah disuruh nyalamin ibu yang atu lagi, barulah dia salaman. Dan.. ga pake cium tangan pula.

Lalu, dia duduk diam, nggak basa-basi sama sekali, kalau ditanya baru jawab singkat. Lalu, ibunya bilang, “Bikinin minum dong nak..”, barulah dia ke dapur ngambilin minum. Saat menghidangkan minuman pun, dia memegang gelas di bibir gelas (kan etikanya, tangan kita ga pegang bibir gelas, tapi di tengah, atau di bawah, supaya tamu ga jijik minum dari gelas itu). Dan yang parah, apa mrk ga punya cangkir yang pantes gitu, kok si gadis ngambilin minum pakai gelas model warung Tegal (yang bisanya juga jadi hadiah gratisan sabun cuci)? Dia hanya mengambilkan minum untuk dua orang (untuk ibunya sendiri enggak).

Lalu..bla..bla.. ngobrol-ngobrol berlanjut. Ibu si gadis yang mendominasi pembicaraan, kliatan banget kalau dia sangat berharap anaknya jadian sama si perjaka ini.

Ibu si perjaka pun pulang dengan perasaan tidak enak, dan sudah mengambil keputusan bahwa anaknya ga akan dia izinkan menikah sama si gadis itu. Duh kasian juga ya si gadis..melayang lagi kesempatannya menikah..

Saya akui, waktu saya gadis, saya pun banyak melakukan kesalahan. Bahkan saat menikah pun saya belum bisa masak (kecuali masak indomie). Tapi, sebagai seorang ibu (dan punya anak perempuan), saya mengambil pelajaran penting dari kejadian ini.

Begini, situasi ini sungguh aneh. Si gadis ini kan lulusan luar negeri, berkarir pula. Tapi kok sikapnya melayani tamu aneh banget, kayak nggak pernah gaul aja, dan ga ngerti tata krama. Menurut saya, ini agaknya karena dia selama ini memang disuruh fokus belajar aja. Jadi, secara akademis dia berhasil, tapi ada banyak hal yang terlewat: kemampuan bersosialisasi, empati pada orang lain, etika, dll. Bahkan mungkin selama ini dia emang ga biasa melayani tamu, semua urusan domestik dihandle sama emaknya.

Nah, sebagai ibu, saya harus menghindarkan anak saya dari kesalahan kayak gini. Saya belajar dari ibu saya. Waktu saya gadis, saya memang tipe kutu buku yang ga terlalu peduli urusan domestik. Tapi, ada saat-saat ketika ibu ‘memaksa’ saya untuk terlibat. Jadi, meski urusan masak selalu dihandle ibu saya, saya dibiasakan untuk beretika dalam banyak hal lainnya. Misalnya, kalau lagi bertamu di rumah orang, harus ikut bantu-bantu tuan rumah. Meski ga bisa masak, saya tetep ke dapur, ikut bantuin motongin sayur, cuci piring, dll. (dan ada manfaatnya juga, karena keseringan memperhatikan orang masak, mau ga mau ada juga ilmu masak yang saya serap, sehingga setelah menikah, akhirnya bisa masak juga).

Kalau ada tamu, ya saya disuruh bikin minum; cara menghidangkannya pun diajarin. Trus, kalau lagi ngumpul sama keluarga besar, saya suka diomelin kalau mojok sendiri baca buku. Saya disuruh gabung, ikut ngobrol dengan saudara-saudara.

Akhirnya, meski dalam hati bete dan ga nyambung sekalipun (dan pada dasarnya saya juga tipe penyendiri dan hanya nyaman ngobrol sama yang benar-benar cocok aja), saya biasanya tetap bisa beramah tamah dengan setiap orang. Dalam kondisi kepepet pun (misalnya, pernah tuh, tiba-tiba saya berada satu ruangan dengan seorang dubes dan seorang tokoh nasional yang sangat terkenal), saya tetap bisa mencari bahan pembicaraan dan akhirnya kami malah ngobrol seru. Saya baru nyadar, saya berhutang budi pada ibu untuk kemampuan ini.

Nah, ini perlu saya praktekkan ke anak saya juga. Apalagi, saya perhatiin anak-anak zaman sekarang, susah banget bersosialisasi. Sering saya temui, anak-anak yang air mukanya cuek dan dingin saat bertemu tamu ortunya (atau mengurung diri di kamar, ga mau keluar menemui tamu ortunya); atau dalam pertemuan dg keluarga besar, anak-anak muda cenderung menyendiri dengan hape masing-masing. Kalau nggak ditanya, nggak ngobrol. Bantu-bantu di dapur? Wah, musti disuruh-suruh dulu baru bergerak. Kalau ada tamu, cuek. Musti disuruh ngambilin air, baru jalan.

Dan entahlah, saya pantas ngasih nasehat atau tidak ke orang lain soal jodoh.. yang jelas, belajar dari kasus si gadis ini, ada satu hal penting yang perlu dipersiapkan para gadis: pelajari lagi etika (manner) dalam bersosialisasi. Tingkat pendidikan, jumlah hafalan Quran (biasanya kan ustad/zah suka menekankan anak didiknya untuk ngafalin Quran dan salah satu indikator dari para ikhwan saat nyari istri: hafalannya brp juz?) , bisa masak/enggak, dll, itu belum cukup. Ketidakmampuan beramah tamah dan bergaul dengan orang lain, nggak tau cara yang sopan menyajikan teh, ga paham memilih gelas yang pantes buat tamu, dll; ternyata juga bisa menghalangi datangnya jodoh.

Demikian.