Masalah Jodoh (Lagi)

Hm, sudah berapa kali ya, saya nulis soal jodoh di blog ini?

Bagi saya, tetap saja jodoh itu misteri.

Tapi, ada sebuah kejadian yang menurut saya patut diambil hikmahnya.

Begini, ada seorang gadis yang pendidikannya tinggi, S2-nya aja di luar negeri. Karirnya mapan pula. Wajahnya juga manis. Wah, kurang apa lagi yaaa..? Tapi jodohnya masih belum datang juga. Nah, karena usianya sudah mulai mengkhawatirkan, ibunya berusaha mencarikan suami. Si gadis juga menyerah saja ke ibunya, karena [konon kata ibunya] dia ini emang bukan gadis yang kenal pacaran.

Lalu, ada seorang perjaka yang sedang mencari istri, sudah punya karir mapan, soleh, nggak pernah pacaran, jadi minta tolong ke ibunya buat nyariin istri.

Nah.. di sinilah ceritanya berawal. Si ibu pun -lewat temennya- mendengar kabar ttg si gadis ini dan datang ke rumahnya. Tujuan kedatangan pun sudah jelas, mau ‘melihat’ si gadis dan membicarakan kemungkinan perjodohan si gadis dan si perjaka (artinya, si gadis sudah tau, bahwa yang datang ini seorang ibu yang mau ‘menilai’ dia).

Eh, apa yang terjadi?

Saat si gadis menemui si ibu di ruang tamu, sikapnya cuek banget. Setelah disuruh salaman (bayangin, kok kayak anak kecil aja ya.. Kan biasanya mama-mama ke anaknya suka bilang gini, “Ayo salaman sama tante nak..”), barulah si gadis menyodorkan tangan. Itupun cuma nyodorin tangan ke si ibu aja. Padahal si ibu datang bersama temennya. Kan mustinya, ngajak salaman juga ke ibu yang satu lagi. Setelah disuruh nyalamin ibu yang atu lagi, barulah dia salaman. Dan.. ga pake cium tangan pula.

Lalu, dia duduk diam, nggak basa-basi sama sekali, kalau ditanya baru jawab singkat. Lalu, ibunya bilang, “Bikinin minum dong nak..”, barulah dia ke dapur ngambilin minum. Saat menghidangkan minuman pun, dia memegang gelas di bibir gelas (kan etikanya, tangan kita ga pegang bibir gelas, tapi di tengah, atau di bawah, supaya tamu ga jijik minum dari gelas itu). Dan yang parah, apa mrk ga punya cangkir yang pantes gitu, kok si gadis ngambilin minum pakai gelas model warung Tegal (yang bisanya juga jadi hadiah gratisan sabun cuci)? Dia hanya mengambilkan minum untuk dua orang (untuk ibunya sendiri enggak).

Lalu..bla..bla.. ngobrol-ngobrol berlanjut. Ibu si gadis yang mendominasi pembicaraan, kliatan banget kalau dia sangat berharap anaknya jadian sama si perjaka ini.

Ibu si perjaka pun pulang dengan perasaan tidak enak, dan sudah mengambil keputusan bahwa anaknya ga akan dia izinkan menikah sama si gadis itu. Duh kasian juga ya si gadis..melayang lagi kesempatannya menikah..

Saya akui, waktu saya gadis, saya pun banyak melakukan kesalahan. Bahkan saat menikah pun saya belum bisa masak (kecuali masak indomie). Tapi, sebagai seorang ibu (dan punya anak perempuan), saya mengambil pelajaran penting dari kejadian ini.

Begini, situasi ini sungguh aneh. Si gadis ini kan lulusan luar negeri, berkarir pula. Tapi kok sikapnya melayani tamu aneh banget, kayak nggak pernah gaul aja, dan ga ngerti tata krama. Menurut saya, ini agaknya karena dia selama ini memang disuruh fokus belajar aja. Jadi, secara akademis dia berhasil, tapi ada banyak hal yang terlewat: kemampuan bersosialisasi, empati pada orang lain, etika, dll. Bahkan mungkin selama ini dia emang ga biasa melayani tamu, semua urusan domestik dihandle sama emaknya.

Nah, sebagai ibu, saya harus menghindarkan anak saya dari kesalahan kayak gini. Saya belajar dari ibu saya. Waktu saya gadis, saya memang tipe kutu buku yang ga terlalu peduli urusan domestik. Tapi, ada saat-saat ketika ibu ‘memaksa’ saya untuk terlibat. Jadi, meski urusan masak selalu dihandle ibu saya, saya dibiasakan untuk beretika dalam banyak hal lainnya. Misalnya, kalau lagi bertamu di rumah orang, harus ikut bantu-bantu tuan rumah. Meski ga bisa masak, saya tetep ke dapur, ikut bantuin motongin sayur, cuci piring, dll. (dan ada manfaatnya juga, karena keseringan memperhatikan orang masak, mau ga mau ada juga ilmu masak yang saya serap, sehingga setelah menikah, akhirnya bisa masak juga).

Kalau ada tamu, ya saya disuruh bikin minum; cara menghidangkannya pun diajarin. Trus, kalau lagi ngumpul sama keluarga besar, saya suka diomelin kalau mojok sendiri baca buku. Saya disuruh gabung, ikut ngobrol dengan saudara-saudara.

Akhirnya, meski dalam hati bete dan ga nyambung sekalipun (dan pada dasarnya saya juga tipe penyendiri dan hanya nyaman ngobrol sama yang benar-benar cocok aja), saya biasanya tetap bisa beramah tamah dengan setiap orang. Dalam kondisi kepepet pun (misalnya, pernah tuh, tiba-tiba saya berada satu ruangan dengan seorang dubes dan seorang tokoh nasional yang sangat terkenal), saya tetap bisa mencari bahan pembicaraan dan akhirnya kami malah ngobrol seru. Saya baru nyadar, saya berhutang budi pada ibu untuk kemampuan ini.

Nah, ini perlu saya praktekkan ke anak saya juga. Apalagi, saya perhatiin anak-anak zaman sekarang, susah banget bersosialisasi. Sering saya temui, anak-anak yang air mukanya cuek dan dingin saat bertemu tamu ortunya (atau mengurung diri di kamar, ga mau keluar menemui tamu ortunya); atau dalam pertemuan dg keluarga besar, anak-anak muda cenderung menyendiri dengan hape masing-masing. Kalau nggak ditanya, nggak ngobrol. Bantu-bantu di dapur? Wah, musti disuruh-suruh dulu baru bergerak. Kalau ada tamu, cuek. Musti disuruh ngambilin air, baru jalan.

Dan entahlah, saya pantas ngasih nasehat atau tidak ke orang lain soal jodoh.. yang jelas, belajar dari kasus si gadis ini, ada satu hal penting yang perlu dipersiapkan para gadis: pelajari lagi etika (manner) dalam bersosialisasi. Tingkat pendidikan, jumlah hafalan Quran (biasanya kan ustad/zah suka menekankan anak didiknya untuk ngafalin Quran dan salah satu indikator dari para ikhwan saat nyari istri: hafalannya brp juz?) , bisa masak/enggak, dll, itu belum cukup. Ketidakmampuan beramah tamah dan bergaul dengan orang lain, nggak tau cara yang sopan menyajikan teh, ga paham memilih gelas yang pantes buat tamu, dll; ternyata juga bisa menghalangi datangnya jodoh.

Demikian.

Advertisements

12 thoughts on “Masalah Jodoh (Lagi)

  1. hehe.. keren bu.. tp perlu di jabarkan lagi tentang tamu.. tamu jaman dulu “kamar mandinya dimana? mau numpang buang air kecil/numpang wudhu”… kalo tamu sekarang? “Ada colokan kabel nggak? HP mulai drop nih”.. hehe πŸ˜€

    • hehe.. ingat proses perjodohan yg lain lagi.. si ibu (ini ibu lain lagi) setiap datang ngecek calon istri buat anaknya, akan izin ke kamar mandi/toilet.. untuk ngecek standar kebersihan keluarga itu πŸ™‚

  2. hehehe, sangat mengena sekali Bu… banyak anak jaman sekarang yang lebih asyik bermain dengan gadget nya dibanding bersosialisasi. Dan sayangnya para orangtua pun seringkali tidak menyadari hal itu…. terimakasih sudah share Bu…

  3. Jadi teringat anak2 saya Bun, thanks sharingnya πŸ™‚ Saya sendiri merasakan, karena keluarga suami adalah keluarga besar, bertolak belakang dengan saya, jadi harus pintar membawa diri di tengah keluarga besar. Padahal aslinya saya paling gak bisa ngobrol panjang lebar πŸ˜€ kok jadi curhat?

  4. hai bunda..
    setuju sama tulisan bunda,,
    fokus belajar itu penting,,tapi bersosialisasi juga lebih penting,,

    kalau dirumah aku selama ada tamu kita di wajibkan untuk melayani tamu ngobrol, gak boleh sibuk dengan hape,
    kata mama
    “itu tamu pake ongkos kerumah tamu, bukan buat liat kamu sibuk ama hape ya dek “

  5. Benar Bu, dan mereka yg blm pny jodoh hrs berubah baik dr tindakan maupun paradigma nya.Banyak yg berpikir klo blm menikah krn jodohnya blm dateng, ini paradigma yg hrs dirubah.Bersosialisasi adlh tindakan yg paling nyata dan tdk pilih2, terutama jgn merasa paling alim&hebat hingga maunya dpt jodoh yg lebih dr dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s