[Parenting] Menunggu Aha Moment

“Aha moment” adalah saat ketika seseorang tiba-tiba mendapat pencerahan untuk melakukan sesuatu, dan dia akan berkata “Aha..! Aku dapat ide! Aku akan melakukan ini..!” Jadi, dia melakukan ‘sesuatu’ itu dengan dorongan dari dirinya sendiri dan dia tentu saja akan melakukannya dengan penuh semangat.

Tugas ortu menstimulasi dan memfasilitasi, sambil bersabar menunggu munculnya ‘aha moment’ ini. Sayangnya, sabar ini yang jadi problem. Betapa ortu sering panik melihat anaknya ogah-ogahan diajak belajar membaca sementara anak seusianya sudah lancar melahap majalah IRFAN (iklan!:D). Atau, melihat anaknya males-malesan diajak menghafal Quran sementara di tivi ditayangkan anak-anak kecil yang subhanallah hafalannya sudah sangat banyak.

Dua hari terakhir ini, saya takjub menyaksikan ‘aha moment’-nya Reza. Ceritanya begini, saya merasa kemampuan menulis sangat penting dikuasai anak. Banyak masalah hidup yang bisa selesai dengan kemampuan menulis, dan sebaliknya, banyak masalah muncul ketika kemampuan menulis terbatas. Misalnya saja, mahasiswa yang musti menyusun skripsi/tesis/disertasi. Kebayang stressnya mereka yang ga mahir menulis.

Atas dasar itu, saya dengan penuh semangat melatih Reza menulis setahun terakhir ini. Saya mendorongnya menulis diary. Wow.. susahnyaaa.. Reza kayak cacing kepanasan kalau disuruh duduk menulis. Satu kalimat aja perjuangannya (dan perjuangan saya memotivasi) berat banget. Lalu, dia saya dorong untuk menulis di blog. Blognya saya yang bikinin, saya desain dengan gambar kesukaannya, Ninjago. Kalimatnya pendek-pendek. Namun ketahuilah, menunggu dia menyelesaikan satu kalimat aja perjuangan saya menyabar-nyabarkan diri bener-bener pooool…

Tanpa diduga-duga, kemarin Reza menemukan ‘aha moment’ itu. Tiba-tiba saja, setelah membaca ulang buku karya kakaknya, Avalonia Castle (lho, iklan lagikah?:D), dia berkata, “Ma, aku mau nulis buku kayak kakak!” Tentu saya menyambut antusias, meski dalam hati pesimis (ya eaalaah.. nulis satu kalimat aja repot banget, gimana nulis satu buku?!). Tapi.. beneran.. sejak dua hari terakhir ini, Reza tekun sekali mengetik. Dan sudah mencapai dua halaman A4, size 12, spasi 1,5. Dan kalimat-kalimat yang disusunnya… waduh, alhamdulillah, kliatan banget kalau buku-buku yang dibacanya memang berpengaruh pada apa yang ditulisnya. Dan, yang paling membuat saya takjub, saya nggak perlu nungguin, nggak perlu nyuruh-nyuruh dia nulis. Wow banget lah, ‘the aha moment’-nya Reza kali ini.

Kesabaran untuk terus menstimulasi dan menanti hasilnya, memang berat. Tapi ‘bayaran’-nya sungguh luar biasa. Jadi, ayah bunda, jangan pernah berputus asa menunggu ‘the aha moment’ anak-anak ya..

Advertisements

One thought on “[Parenting] Menunggu Aha Moment

  1. Pingback: [Parenting] Better Late than Early? | Dina Y. Sulaeman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s