[Review] In God We Trust

Siang tadi menyengajakan diri datang ke bedah buku In God We Trust, karya Ranti Aryani. Saya mengajak Kirana, dengan harapan acara itu bisa memberinya inspirasi. Soalnya saya dengar, bukunya tentang seorang dokter gigi asal Indonesia yang sempat bergabung dengan Pentagon, tapi mendapat tekanan karena dia berjilbab.

Pas ngeliat bukunya, tebel juga, dan harganya juga sesuai dengan tebelnya, 88rb. Saya sempat ragu membelinya. Pertama duitnya, karena kami emang benar2 krisis nih (maklum habis mudik, bulan tua lagi). Kedua, saya banyak kerjaan (tapi sayangnya ga ada honornya/entah kapan cair honornya) sehingga saya ragu apa bisa baca buku setebal itu. Saya tanya sama Rana, “Kalau Rana minat baca dan janji akan membaca sampai selesai, Mama beliin, tapi patungan ya..” [saya ingin dia menghargai buku yang dibeli, apalagi kan Rana baru dapat uang lebaran]

Rana ragu2, “Kalau ga rame gimana?”

“Kalau rame, kita patungan. Kalau ga rame, pake duit Mama semua,” jawab saya.

Walhasil, buku itu pun saya beli. Di jalan, saat menuju les biola Rana (setelah ikut acara bedah buku), saya baca tuh bukunya di angkot. Saat menunggui Rana pun, saya baca terus. Di kereta, saat pulang, terus saya baca. Saya terbius, rasanya ga pengen berenti baca. Rasanya seperti baca novel yang asyik (kalau saya baca novel bagus, emang suka gitu, bacaaa.. terus susah berenti,makanya si Akang suka ngomel kalau saya beli novel; tapi tetep aja dia suka bawain oleh-oleh novel :D). Tapi, di kereta, Rana minjem buku itu. Saya kasih. Dan dalam sekejab, dia juga terhanyut. Bacaaa… terus. Sampai akhirnya saya ga tahan juga. “Gantian doooong..”

Di rumah, tentu saja, setelah ngurus ini-itu, saya baca lagi. Si Akang penasaran. Saya bilang, “Iya nih Pa, tolong baca juga dong. Minimalnya bab-bab pertama deh. Ada yang ingin Mama diskusikan sama Papa, soal sufisme. Menarik sekali.” Dan.. saat saya mandi dan makan, si Akang ambil itu buku… dan sampai sekarang ga berenti baca.. eaaa.. Duh, akhirnya saya nulis di blog ini deh.. Habis ngapain lagi, masa bengong aja nungguin si Akang?

Jadi intinya, sejauh yang saya baca, hidupnya Ranti itu emang penuh warna banget deh dan kayak novel. Berkali-kali mata saya berembun karena haru, atau jantung saya berdebar lebih kencang karena kisah yang seru. Gaya penulisan buku ini emang keren. Ranti dibantu sebuah tim, di antaranya mba Sofie Dewayani.. pantes saja ‘gaya’ mba Sofie ada di buku itu.. Saya suka sekali cara mba Sofie (di cerpen/novel karyanya) mendeskripsikan sesuatu, indah banget.

Trus, ada hal yang sangat baru buat saya, yaitu kisah tentang Ranti dan Rich (suaminya) yang menjalani sufisme/suluk. Selama ini saya tau soal sufisme kan teori-teori aja. Ini cerita pengalaman empiris orang ‘biasa’ (maksud saya, mereka orang-orang modern biasa, penampilan juga biasa), yang ternyata menjalani kehidupan sufistik. Saya jadi ‘iri’ membaca cerita Ranti soal ini. Pengen juga bisa mencapai ma’rifat kayak gitu, yang rasanya jauuuh.. banget dari diri saya yang emang amat praktis n pragmatis ini (saya tipe orang yang ga mau mikir susah-susah soal agama).

Hm.. apa lagi yaa..

Oh ini nih, tadi pak Budiyana, salah satu pembedah buku, berkata bahwa manusia itu harus berkali-kali mengalami luka, dibenturkan berkali-kali, supaya kualitasnya semakin meningkat. Beliau (dan juga Ranti dalam bukunya) mengutip QS Ankabut ayat 2: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan ‘kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi.

Duh, saya jadi takut… hidup saya ini kok rasanya gampang-gampang saja ya..? Jangan-jangan…

(Eeeh.. tapi saya juga optimis, siapa tau saya merasa hidup saya ‘gampang’ karena memang saya memandangnya gampang..padahal buat orang lain berat kali yaaa.. misalnya..sekarang niiih.. minim duiiit.. hehehe…)

Anyway, sejauh yang saya baca (kan belum selesai), buku ini menyentak kesadaran saya bahwa perjalanan saya menuju Allah ternyata masih jauuuuh… 😦

____

Update:

-Rana memutuskan bahwa buku ini emang rame, jadi dia ikut patungan πŸ˜€

-Saya menyelesaikan buku itu malam itu juga (setelah posting tlsn ini)..bela-belain begadang.. dan penilaian saya (yang sudah saya tulis di atas) tidak berubah, emang bukunya kayak novel..dramatis banget.. Hwaaa.. takjub banget sama Ranti yang tangguh menghadapi tekanan dari orang-orang Pentagon.. menghadapi berbagai masalah yang menyusul kemudian.. Subhanallah.. God bless you sis.. πŸ™‚

Advertisements

20 thoughts on “[Review] In God We Trust

  1. Din, sekedar sharing memang betul hidup ini gimana believe kita. Kalau kita memiliki believe ‘memandang gampang’ maka yg terjadi ya gampang2 aja meskipun sedang gak punya uang. Karena Allah berdasarkan prasangka hambanya. Jadi itulah yg terjadi. Kelihatanya paradox kok gak ada uang memiliki believe gampang. Tapi itulah kenyataan. What you believe become reality and what you don’t believe will not.

    • Makasih banyak kang Yudho.. benar juga ya.. hidup itu emang seiring dg cara pandang kita… kadang2 hal kecil sudah bikin saya galau, tapi ada juga masalah yg kayaknya besar, saya bisa nyantai saja..

  2. Salam mbak Dina… thx u for your encouraging review… salam kenal mbak πŸ™‚ . Believe me, saya juga masih jauuuh dari makrifat… its a long journey… salam utk Rana juga..

    • Waalaykumsalam..wow, kejutan manis, penulisnya bersedia mampir ke blog ini.. Trmkasih banyak mbak Ranti.. Bukunya emang luar biasa. Ada update dari saya juga tuh (saya sudah selesai membacanya). Salam sudah disampaikan ke Rana, dia senang sekali πŸ™‚

  3. Pingback: [Parenting] Anak-Anak yang Terdoktrin | Dina Y. Sulaeman

  4. Aku malah baru dapat buku ini minggu lalu di Gramedia Bekasi. Kata pelayan yang mencarikannya, ‘Tinggal beberapa lagi bu. Wah, kayaknya bukunya bagus ya, Bu.” Ternyata sambil berjalan ia sempat membaca bagian belakangnya.
    Aku sendiri, seperti kata Dina ‘terbius.’ Benar2 terbius sampai perjalanan macet ke pulo gadung di senen pagi terasa cuma beberapa menit.’ (ihhh, komennya panjang amat’).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s