Hari-Hari Ini

Hm, apa yang sudah kami lalui dalam beberapa hari terakhir, atau beberapa pekan, ini? Banyak sekali sebenarnya. Cuma, ga sempat saja mencatatnya. Banyak ide tulisan yang terlewat begitu saja, karena tak ada waktu.

Di antara yang paling menarik (buat saya), adalah kuliah S3 saya… Alhamdulillah, so far so good. Tadinya saya sempat kuatir saat harus memutuskan, lanjut kuliah atau tidak. Pertama, duitnyaaaa… (per semester 12,5 jt). Kedua, waktunya… wah… bisa nggak ya, saya ibu RT dengan dua anak yang homeschooling, kuliah lagi, S3 pulak! Ketiga, saya mikir-mikir, buat apa ya, saya S3, toh saya ini ibu RT, ga kerja dimana-mana, ‘hanya’  ngeblog (eeh..tapi ngeblog juga ternyata ‘pekerjaan’ yang menantang dan membahayakan, sehingga saya dapat ancaman serangan fisik segala), dan sesekali alhamdulillah diminta nulis di media (jadi ada honornya kan, hehe). Secara umum, saya ini ibu RT dengan no income (kecuali royalti buku yang jumlahnya selalu wallahua’lam, ga bisa jadi andalan pemasukan). Trus, nekad mau kuliah S3? Wew…

Tapi, berkat dorongan si Akang yang selalu optimis, dan selalu yakin pada hadis ‘Orang yang dijamin rizkinya adalah orang yang menuntut ilmu, yang sedang safar, dan yang menikah’ (jangan tanya riwayatnya ke saya, atau teks persisnya, pokoknya, kurang lebih hadisnya demikianlah), saya pun daftar. Apalagi, si Akang memang membuktikan, dengan sangat mudahnya dia dapat beasiswa, full pulak, tanpa disangka-sangka.

Saat keterima dan harus bayar 19,5 jt (uang pangkal + SPP), langsung deh tuing-tuing, bingung. Ga ada duit sama sekali. Tapi.. ya itulah, benar sekali hadis Rasulullah tadi. Ada saja rizki tak terduga yang membuat saya bisa melunasi uang itu, cash. Jumlahnya pun pas segitu. Subhanallah. Btw, saya ini ternyata dapat keringanan, temen-teman saya (yang S2-nya bukan dari jurusan dan kampus yang sama) konon harus bayar 28 jt.

Lalu, saat kuliah… subhanallah lagi, saya langsung disuruh ambil mata kuliah semester dua. Aartinya, kalau lancar-lancar saja, jumlah semester yang harus saya lalui kan lebih sedikit dan beban SPP-nya pun tentunya berkurang. Tapi, tentu saja saya tetap berusaha mencari beasiswa. Semoga saja Allah memudahkan rizki-Nya, amiiin.. Pokoknya tawakal sajalah, meneladani si Akang 🙂

Nah, sekarang masalah kuliahnya. Berat nggak? Wah, gimana ya, bergantung orangnya kali ya.. Kalau saya emang seneng banget ilmu HI, jadi yang seneng-seneng aja. Kayak ikan kecemplung di air deh. Yang lucunya, saya tuh kuliah sendirian (bener-bener sendirian, ga ada mahasiswa lain). Jadi, kuliahnya ya efektif banget dong. Saya seperti berguru secara pribadi ke dosen-dosen yang keren-keren. Jadi, saya harus menyelesaikan draft bab 1 usulan penelitian dengan cara berdiskusi intensif dengan seorang profesor. Kalau sudah selesai, saya pindah lagi berguru ke dosen yang lain, untuk menyelesaikan draft bab 2. Kalau itu beres, pindah lagi ke dosen yang lain lagi (eh, tapi untuk bab 3, metode penelitian, saya disuruh bergabung dengan kelas S3 ilmu pemerintahan, yah.. gpp lah, semoga meskipun bidang ilmunya beda, urusannya ga ruwet).

Jadi, secara umum, kuliah saya ya nyantai banget, karena sepekan hanya satu kali bertemu dosen. Sisanya, riset, bisa dilakukan di rumah. Inilah yang saya syukuri banget. Awalnya kan saya kuatir kalau terlalu sering meninggalkan rumah, gimana pendidikan anak-anak…?

Tapi bukan berarti ga ada kesulitan sama sekali lho ya… Biar bagaimanapun, bikin disertasi itu kan ‘sesuatu’ banget. Saya berkali-kali ditegur pak profesor, “Dina, nulis disertasi itu beda dengan nulis di blog! Gaya bahasa blog jangan dibawa-bawa ke sini!”. Eaaaa… Bukannya beliau meremehkan blog ya (malah beliau mengaku senang baca-baca blog Kajian Timur Tengah saya itu). Tapi, ya memang benar sih, saya agak kesulitan menggunakan bahasa yang ‘serius’. Duh, ini saya rasa problem lama saya yang belum juga terpecahkan sampai sekarang. Saya tuh ya, sering terpukau sama tulisan opini di Kompas yang bahasanya keren banget itu (sangat akademis, gitu deh). Meski, banyak juga yang mengkritik, “itu mereka ngomong apa sih?’ Gunawan Muhammad juga pernah menyindir bahwa di Kompas ada penulis yang ‘ya-Alloh-ruwetnya’. Hahaha…

Saya sadari bahwa tulisan yang encer gaya blog itu lebih mudah dipahami dan karenanya menurut saya, inilah gaya bahasa yang lebih efektif. Ngapain juga nulis kalau yang bisa paham hanya orang-orang di level yang sama (misal, tulisan politik yang rumit hanya bisa dipahami oleh para akademisi politik). Masalahnya, ada juga yang diistilahkan dengan ‘bahasa selingkung’; jadi kalau di lingkungan akademis, ya musti pakai bahasa akademis. Nah bahasa akademis yang canggih itu kayak apa ya? Saya merujuk ke kolom opini Kompas yang sering diisi para akademisi terkenal. Saya sampai sekarang belum bisa meniru mereka (dan karena itu pula saya ga pernah lolos ke Kompas kali ya; dan kemudian saya berhenti mencoba sama sekali. Saya pikir, ngabisin waktu aja deh: nulis, tanpa tau pasti bakal dimuat apa engga. Mendingan nulis di blog atau nulis pesanan; karena ternyata ada juga media cetak yang cocok dengan gaya bahasa saya yang jarang pakai istilah-istilah yang ya-Allah-ruwetnya).

Jadi gini maksud saya (duh bingung): saya tetap berpendapat bahwa menulis itu memang musti mudah dipahami pembaca. Tapi, parahnya, saya tetap merasa harus meningkatkan kualitas sehingga mampu menulis yang tidak mudah dipahami pembaca (eeeh..apa seh?! hahaha). Ya gitu deh, pokoknya saya harus meng-upgrade tulisan saya supaya cocok buat disertasi.

Kalau diingat-ingat, dulu saya pernah berhasil menulis buku cerita anak di saat saya sedang sibuk nulis tesis, dengan cara berhenti nulis tesis sama sekali, lalu sebulan penuh menenggelamkan diri dengan buku anak-anak. Eh, alhamdulillah berhasil juga. Nah, kayaknya cara serupa musti saya jalani juga: berenti ngeblog dan selama sebulan penuh mencekoki diri dengan tulisan ala opini Kompas. Hm.. baiklah, akan saya coba 😀

[Parenting]: Memaksimalkan Potensi Diri

Ini catatan intisari ceramah Bunda Rani Razak Noe’man (founder Komunitas Cinta Keluarga / KCK) di acara INDIGO PRO2 96FM RRI dengan topik “Memaksimalkan Potensi Diri”. Yang mencatat, mbak Yustika Kurniati (di status FB-nya), saya copas dan pindahin ke sini karena penting buat saya juga. Ini sebenarnya materi dari pelatihan Self Emotional Healing.

Isi pelatihan ini, seperti diungkapkan mbak Yustika di blognya:

Dari pelatihan ini aku belajar tentang konsep mindful life, yaitu hidup yang dijalani dengan menerima diri kita apa adanya, penuh syukur, menikmati setiap momen, menghargai diri, dan berdamai dengan masa lalu. Teknik yang diajari ada dua, yaitu Self Nurture (SN) dan Self Coaching (SC). SN mirip dengan self hypnosis, merupakan suatu terapi bagi jiwa dan bertujuan untuk membersihkan diri dari residu masa lalu. SC adalah suatu bentuk teknik untuk mengenali perasaan dan kebutuhan diri, mengenali akar dari perasaan/kebutuhan, kemudian merespon dengan aksi untuk memenuhi kebutuhan itu.

Yang membuat pelatihan ini “wow” buatku adalah bagaimana kita diilhami dengan kesadaran bahwa diri kita begitu berharga dan kita berhak untuk bahagia. Oh yess, bahagia itu dipilih, Saudara-Saudara. Kitalah yang memilih respon kita dalam menghadapi kehidupan, mau bahagia atau mau sedih. Kitalah yang memilih untuk tersenyum, entah seberapa pahitnya keadaan yang kita hadapi. Karena seorang bunda yang bahagia akan menghasilkan anak-anak yang bahagia. Indah sekali, bukan?

 

Saya udah dua kali ikut pelatihan itu, hiks, tapi ya biasalah…namanya manusia memang kudu rajin mengingat-ingat dan diingatkan. Kalau catatan dari saya sendiri: hikmah dari pelatihan Self Emotional Healing ini adalah menyembuhkan semua ‘sakit’ di alam bawah sadar. Karena, biasanya, kita sudah tau teori parenting..misalnya, ga boleh membentak anak (ungkapkan kemarahan dengan tenang tapi tegas; bukan dengan emosi). Tapi, prakteknya.. ada saja kan yang bikin ibu-ibu meledak? Padahal, sebenarnya kesalahan si anak sederhana saja (namanya juga anak kecil…), tapi karena menstimulasi munculkan kenangan buruk di alam bawah sadar, langsung deh si ibu meledak. Nah, problem ini musti disembuhkan dulu…

 

Thank’s banget status2nya ya mbak Yustika.. 🙂

—-

sukses = 15% prestasi akademik + 85% attitude.
attitude diperoleh dari character building.

attitude:
– komunikasi
– kerja sama kelompok
– sikap pantang menyerah
– dll

potensi diri:
– attitude
– bakat dan minat

subconscious mind vs conscious mind

action = produk dari subconscious mind

conscious mind ibarat sopir, merupakan pilihan sadar seperti cita-cita, keinginan.
subconscious mind ibarat mesin mobil, merupakan believe/keyakinan seperti sistem nilai, prasangka.

jangan sampai mental kita dibajak oleh subconscious mind sehingga kita jadi ga pede, mudah menyerah, negative thinking.
hal ini bisa memicu stres.

the power of now = kemampuan kita untuk hidup hari ini dan saat ini,
bukan hidup kemarin atau di masa lampau.

sadari bahwa satu menit yang akan datang belum tentu milik kita.
jadi, hiduplah untuk saat ini.
supaya bisa hidup sebaik-baiknya, melakukan yang terbaik saat ini.

juga bukan hidup yang kuatir dengan masa depan.
boleh punya cita-cita, tapi amunisinya tetap apa yang dilakukan hari ini.

hikmah the power of now:
– lebih tenang
– tidak dihantui dengan masa lampau
– tidak kuatir berlebihan terhadap masa depan
– melakukan yang terbaik saat ini
– stres berkurang

selalu sadar apa yang penting buat kita,
akan menjadikan diri kita terbaik dalam memaksimalkan potensi diri.

tidak ada satupun potensi yang sulit dikembangkan.

mengenali potensi diri:
– kenali kesenangan yang bisa jadi potensi
– lihat penghargaan di masa lampau
– dengarkan komen positif dari sekeliling

bakat manusia (ada di tiap manusia dengan kadar yang berbeda):
– cerdas angka
– cerdas bahasa
– cerdas alam
– cerdas interpersonal
– cerdas intrapersonal
– cerdas nada/musik
– cerdas gerak/kinetik
– cerdas gambar/visual

“wah, gw ga akan bisa sukses kayak temen gw itu tuh.”

ini namanya believe, yang termasuk dalam subconscious mind.
jangan sampai mental kita dibajak oleh subconscious mind sehingga kita jadi ga pede, mudah menyerah, negative thinking.

berdasar riset, tekuni sesuatu dengan usaha terbaik selama 3 tahun.
niscaya kita akan menjadi ahli dalam hal tersebut.
*btw, angka 3 tahun ini didapat dari riset.

kita lah yang menentukan apakah akan berhasil atau tidak.

bersiap untuk yang akan datang bukan berarti jadi kuatir atau takut akan sesuatu yang belum terjadi.
jangan sampai kekuatiran itu menghambat kita untuk melakukan sesuatu.

memaksimalkan potensi diri juga berarti memangkas kebiasaan buruk yang menghambat atau menjauhkan kita dari apa yang penting buat kita.

Bukan Kurang Cinta

Status dari om Mario Teguh ini keren banget:

Jatuh cinta adalah sebuah kecelakaan yang indah,
yang keindahannya hanya bisa diperpanjang
dengan persahabatan.

Bukan kurangnya cinta,
yang menjadikan sebuah kebersamaan
tidak berbahagia,
tapi tidak cukupnya persahabatan.

Sepertinya benar ya, banyak pernikahan yang hampir bubar (atau bubar) karena kurangnya persahabatan antar suami-istri. Sahabat itu artinya menerima apa adanya, memahami satu sama lain, saling mendukung, saling tertawa bersama, saling menghibur,..dst. Tapi kok kadang susah memunculkan persahabatan di antara suami-istri ya? Saya juga ga tau teorinya. Tapi, pengalaman saya pribadi, persahabatan itu bisa muncul dengan sikap ikhlas dan menjauhkan diri dari emosi negatif. Misalnya begini, saat ada konflik, biasanya istri memendam kesal. Kalau konflik berkali-kali, kebayang tumpukan kesalnya (=emosi negatif) kan? Gimana mau bersahabat kalau kondisinya kayak gini? Nah, bila istri bisa menghilangkan rasa kesal itu, dan bisa lebih ikhlas menghadapi sikap-sikap suami, tentu sikapnya ke suami lebih enteng. Dan harapannya sih, suami yang diperlakukan dengan cerah ceria oleh istri juga akan memberi respon yang seimbang (eh ini sih teori dari seorang psikolog, saya baca di internet, lupa lagi siapa). Intinya, sikap cinta, ceria, dan lepas (enteng aja..) dari seseorang (suami/istri) akan lambat laun akan direspon dengan setimpal oleh pasangannya. Sebaliknya, kalau istri memendam terus rasa kesalnya, dan muncul dalam omelan, cemberut, atau bahasa tubuh yang keliatan nggak nyaman, yah.. itu pula respon yang akan diterima. Akibatnya persahabatan ga akan tercipta.

Lagi-lagi, ini pengalaman yang personal banget. Bagaimana dengan pengalamanmu?

Note: salah satu cara cepat membuang emosi negatif adalah dengan EFT. Jadi, kalau lagi kesel sama suami (atau kesel sama anak, tetangga, temen, dll), langsung aja EFT diri sendiri..sebentar saja, langsung bisa senyum n ketawa lagi, dan dengan kepala dingin bisa mencari jalan keluar.