[Parenting]: Memaksimalkan Potensi Diri

Ini catatan intisari ceramah Bunda Rani Razak Noe’man (founder Komunitas Cinta Keluarga / KCK) di acara INDIGO PRO2 96FM RRI dengan topik “Memaksimalkan Potensi Diri”. Yang mencatat, mbak Yustika Kurniati (di status FB-nya), saya copas dan pindahin ke sini karena penting buat saya juga. Ini sebenarnya materi dari pelatihan Self Emotional Healing.

Isi pelatihan ini, seperti diungkapkan mbak Yustika di blognya:

Dari pelatihan ini aku belajar tentang konsep mindful life, yaitu hidup yang dijalani dengan menerima diri kita apa adanya, penuh syukur, menikmati setiap momen, menghargai diri, dan berdamai dengan masa lalu. Teknik yang diajari ada dua, yaitu Self Nurture (SN) dan Self Coaching (SC). SN mirip dengan self hypnosis, merupakan suatu terapi bagi jiwa dan bertujuan untuk membersihkan diri dari residu masa lalu. SC adalah suatu bentuk teknik untuk mengenali perasaan dan kebutuhan diri, mengenali akar dari perasaan/kebutuhan, kemudian merespon dengan aksi untuk memenuhi kebutuhan itu.

Yang membuat pelatihan ini β€œwow” buatku adalah bagaimana kita diilhami dengan kesadaran bahwa diri kita begitu berharga dan kita berhak untuk bahagia. Oh yess, bahagia itu dipilih, Saudara-Saudara. Kitalah yang memilih respon kita dalam menghadapi kehidupan, mau bahagia atau mau sedih. Kitalah yang memilih untuk tersenyum, entah seberapa pahitnya keadaan yang kita hadapi. Karena seorang bunda yang bahagia akan menghasilkan anak-anak yang bahagia. Indah sekali, bukan?

 

Saya udah dua kali ikut pelatihan itu, hiks, tapi ya biasalah…namanya manusia memang kudu rajin mengingat-ingat dan diingatkan. Kalau catatan dari saya sendiri: hikmah dari pelatihan Self Emotional Healing ini adalah menyembuhkan semua ‘sakit’ di alam bawah sadar. Karena, biasanya, kita sudah tau teori parenting..misalnya, ga boleh membentak anak (ungkapkan kemarahan dengan tenang tapi tegas; bukan dengan emosi). Tapi, prakteknya.. ada saja kan yang bikin ibu-ibu meledak? Padahal, sebenarnya kesalahan si anak sederhana saja (namanya juga anak kecil…), tapi karena menstimulasi munculkan kenangan buruk di alam bawah sadar, langsung deh si ibu meledak. Nah, problem ini musti disembuhkan dulu…

 

Thank’s banget status2nya ya mbak Yustika.. πŸ™‚

—-

sukses = 15% prestasi akademik + 85% attitude.
attitude diperoleh dari character building.

attitude:
– komunikasi
– kerja sama kelompok
– sikap pantang menyerah
– dll

potensi diri:
– attitude
– bakat dan minat

subconscious mind vs conscious mind

action = produk dari subconscious mind

conscious mind ibarat sopir, merupakan pilihan sadar seperti cita-cita, keinginan.
subconscious mind ibarat mesin mobil, merupakan believe/keyakinan seperti sistem nilai, prasangka.

jangan sampai mental kita dibajak oleh subconscious mind sehingga kita jadi ga pede, mudah menyerah, negative thinking.
hal ini bisa memicu stres.

the power of now = kemampuan kita untuk hidup hari ini dan saat ini,
bukan hidup kemarin atau di masa lampau.

sadari bahwa satu menit yang akan datang belum tentu milik kita.
jadi, hiduplah untuk saat ini.
supaya bisa hidup sebaik-baiknya, melakukan yang terbaik saat ini.

juga bukan hidup yang kuatir dengan masa depan.
boleh punya cita-cita, tapi amunisinya tetap apa yang dilakukan hari ini.

hikmah the power of now:
– lebih tenang
– tidak dihantui dengan masa lampau
– tidak kuatir berlebihan terhadap masa depan
– melakukan yang terbaik saat ini
– stres berkurang

selalu sadar apa yang penting buat kita,
akan menjadikan diri kita terbaik dalam memaksimalkan potensi diri.

tidak ada satupun potensi yang sulit dikembangkan.

mengenali potensi diri:
– kenali kesenangan yang bisa jadi potensi
– lihat penghargaan di masa lampau
– dengarkan komen positif dari sekeliling

bakat manusia (ada di tiap manusia dengan kadar yang berbeda):
– cerdas angka
– cerdas bahasa
– cerdas alam
– cerdas interpersonal
– cerdas intrapersonal
– cerdas nada/musik
– cerdas gerak/kinetik
– cerdas gambar/visual

“wah, gw ga akan bisa sukses kayak temen gw itu tuh.”

ini namanya believe, yang termasuk dalam subconscious mind.
jangan sampai mental kita dibajak oleh subconscious mind sehingga kita jadi ga pede, mudah menyerah, negative thinking.

berdasar riset, tekuni sesuatu dengan usaha terbaik selama 3 tahun.
niscaya kita akan menjadi ahli dalam hal tersebut.
*btw, angka 3 tahun ini didapat dari riset.

kita lah yang menentukan apakah akan berhasil atau tidak.

bersiap untuk yang akan datang bukan berarti jadi kuatir atau takut akan sesuatu yang belum terjadi.
jangan sampai kekuatiran itu menghambat kita untuk melakukan sesuatu.

memaksimalkan potensi diri juga berarti memangkas kebiasaan buruk yang menghambat atau menjauhkan kita dari apa yang penting buat kita.

Advertisements

3 thoughts on “[Parenting]: Memaksimalkan Potensi Diri

  1. Salam. Sy sudah cari buku ini Mbak, gara2 baca postingan Mbak Dina di sini, hehee. Cm blm dapat..

    Oh iya Mbak, sprtix blm ad postingan ttg Calistung di sini ya Mbak? Saya nunggu ya πŸ™‚ pendapat Mbak Dina ttg Calistung untuk anak usia dini. Antara pendapat Maria Montessori tentang belajar di usia emas dan Teori perkembangan kognitif Jean Piaget πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s