Jalan-Jalan Di Pantai Padang

Saya lahir di Semarang, tapi kemudian usia 9 tahun pindah ke Padang, sampai SMA. Lalu lulus SMA, kuliah di Bandung..nikah..ke Iran..balik lagi ke Bandung. Nah, selama itu saya tidak terlalu menyukai pantai. Panas. Saya suka pegunungan.

Tapi, ketika Reza usia 4 tahun (atau 5 thn ya? pikun ih), terjadi perubahan besar. Waktu itu kami mudik ke Padang, dan Reza seneeeeng banget main di pantai. Gayanya all out banget, bahkan buka baju dan minta dikuburin setengah badan di pasir. Kirana juga penuh semangat membuat istana pasir. Lalu kami naik kapal ke pulau nggak jelas, berkat terbujuk rayuan tukang perahu di pantai Gandoriah, Pariaman. Pulau itu kecil, kosong aja, tapi pasirnya putih, dan bisa dibilang ga ada ombaknya. Wow, menyenangkan banget deh. Kami bertahan 3 jam di situ, ditungguin tukang perahu yang bete. Pengunjung lain cuma 10 menit foto-foto, lalu naik perahu lagi ke pantai. Tapi kami, main sepuasnya… muka sampai gosong, hiks.. berhari-hari baru sembuh dengan pakai masker bengkoang…

Sejak itulah saya jatuh cinta pada pantai. Saya rindu pulang ke Padang, untuk main ke pantai. Sama, anak-anak saya juga sangat merindukan pantai.

Lebaran 2013, kami ke Padang lagi, dan tentu saja, ke pantai lagi. Mulai dari pantai di belakang rumah (jalan kaki saja 10 mnt dari rumah ortu saya), pantai Padang, pantai Gondoriah (lagi!), dan pantai Air Manis. Pantai Gondoriah sayangnya rameeee.. banget, baik oleh pedagang maupu pengunjung. Mungkin karena suasana lebaran. Jadi kami nggak ke pulau ‘gak jelas’ itu deh, males.

Yang berkesan banget itu pantai Air Manis. Di pantai ini ada batu Malin Kundang (yah patung semen seadanya gitu deh..,). Yang bikin berkesan itu ombaknya lembut karena pantainya sangat landai, jadi saya nggak kuatir membiarkan Reza main hingga agak ke tengah. Sayang, pasirnya keras dan lengket (apa ya, istilahnya, pokoknya susah digali pake sekop utk bikin istana pasir; nggak kayak pasir biasa). Tapi pokoknya saya senang sekali sama pantai yang satu ini. Romantis suasananya. Sayang si akang sudah pulang duluan ke Bandung, jadi ga ikut ke pantai ini.

Berikut beberapa fotonya:

pantai1

di pantai belakang rumah, melihat nelayan menarik jala berisi ikan plus sampah

naik sepeda di pantai Padang (sewa Rp10.000/10 mnt)

naik sepeda di pantai Padang (sewa Rp10.000/10 mnt)

di pantai malin kundang

Pantai Air Manis

pantai malin kundang

Pantai Air Manis

pantai malin kundang

Pantai Air Manis

Pantai Air Manis

Pantai Air Manis

Advertisements

[Parenting] Menjaga Anak Gadis

(Copas dari Fanpage Bunda Rani Razak Noe’man):

 

Menjaga Anak Gadis

Kutipan Vivanews.com (29 Maret 2013): Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Garut, Nita K Wijaya, menjelaskan tingginya kasus asusila yang menimpa terhadap anak di bawah umur bermula dari perkenalan korban dengan pelaku melalui situs jejaring sosial Facebook. “Jadi 15 kasus asusila terhadap anak ini diawali dengan perkenalan melalui facebook, padahal antara korban dan pelaku baru 1 atau 2 kali pertemuan, ” ujarnya.

Waduh, naudzubillah…

Apa yang perlu dilakukan ortu untuk mencegah hal ini?
Catet ya…: “Peluk dan cium anak gadismu sering-sering.. Puji kebaikan dan prestasinya… Sebelum dia terpikat pada laki-laki asing yang melakukan itu semua untuknya!”

Penjelasannya begini. Anak-anak gadis yang terpikat oleh teman di facebook, lalu kabur dari rumah bersama temannya itu, hampir pasti memang anak-anak yang kurang kasih sayang di rumah. Butuh keberanian sangat besar bagi seorang perempuan (apalagi anak di bawah umur) untuk meninggalkan rumah dan orangtuanya. Bila rumah dan orangtua memberikan cinta dan kenyamanan yang cukup, akankah seorang anak mau meninggalkan rumahnya demi lelaki yang baru saja dia kenal?

Jadi gimana dong? Ortu sebaiknya membolehkan anak gadisnya FB-an, atau tidak? Saya pikir, terpulang pada keputusan masing-masing ortu ya, silahkan dipertimbangkan baik/buruk/resikonya; lalu diskusikan baik-baik dengan anak. Tapi inti masalah ini bukan pada boleh/tdk-nya FB-an, tapi bagaimana menciptakan situasi yang nyaman di rumah, sehingga anak gadis kita nggak haus kasih sayang dan langsung klepek-klepek saat dirayu cowok di FB.

Rumah adalah tempat di mana anak-anak memulai proses panjang untuk membangun jati dirinya, tempat dimana anak mengenal berbagai kemungkinan pilihan dan menyadari bahwa setiap pilihan ada konsekuensinya. Persoalannya, dewasa ini rumah bukan lagi menjadi tempat pendidikan anak yang utama. Orangtua seringkali merasa sudah melaksanakan tugas mendidik anak dengan mengirim mereka ke sekolah yang baik, kalau perlu sekolah termahal di kota itu serta membekalinya dengan berbagai fasilitas pendidikan, termasuk komputer + internet + HP berfitur tinggi. Padahal, sekolah hanyalah lembaga pendamping pendidikan, terutama dari segi kognitif (akademis).

Jadi? Yuk, luangkan waktu untuk berlama-lama ngobrol dengan anak gadis kita. Buat dia nyaman curhat dengan kita; jangan segan memuji dan memeluknya, dan kalau ada yang perlu dikritik, sampaikan dengan sebaik-baiknya. Kalau bingung gimana caranya, pelajari teknik komunikasi (Amazing Communication).
Lakukan ini, sebelum dia punya pelarian: curhat ke orang asing…

[Parenting] Melatih Thinking Skill

(Copas dari status saya di FB):

Alkisah, seorang ilmuwan dan teknokrat yang sangat handal (dan dikenal hidup lurus) ditangkap pihak berwenang dengan tuduhan korupsi. Sebut saja namanya si X. Menurut info orang ‘dalam’, uang haram yang ada di tangannya itu ternyata ‘uang lelah’ dari sebuah perusahaan asing. Dan ini dianggap beda dengan uang suap karena tender sudah dilakukan dengan fair. Ini hanya uang lelah yang dianggap wajar selama ini. Hanya saja, si X ini berniat menggunakan uang itu untuk setoran ke pihak ‘anu’ supaya jabatannya naik. Karena urusannya jabatan, pastilah yang mengincar cukup banyak. Nah, lawan ‘politik’-nya ini, yang tahu soal aliran uang uang lelah itu, melapor ke pihak berwenang. Si X pun ‘tertangkap tangan’.

Masih kata ‘orang dalam’ nih ya, landasan si X memberikan uang setoran itu ternyata ‘mulia’: dia berharap dapat memperbaiki kondisi negeri ini melalui jabatan yang dikejarnya itu. Nah karena di negeri bobrok ini, untuk menjabat perlu kasih setoran ke pihak-pihak tertentu, si X bun ber-‘logika’: apa boleh buat, sudah sistemnya begini… kalau saya tidak kasih uang, jabatan itu tidak bisa saya pegang; kalau saya tidak menjabat di posisi itu, bagaimana memperbaiki situasi yang ada sekarang..? Ini demi kebaikan!

Nah, di sinilah pentingnya thinking skill (kemampuan berpikir). Profesor saya bilang ‘di Indonesia ini banyak orang cerdas, tapi ga bisa mikir’. Cerdas dan mikir itu dua hal yang berbeda rupanya. Si X ini kurang cerdas apa..? Wah, cerdas banget, bahkan punya pangkat sangat tinggi di dunia akademis. Tapi dia tidak bisa berpikir jernih: apakah ‘uang lelah’ itu halal atau haram? Meskipun pemberian itu sudah berlangsung puluhan tahun dan dianggap biasa, dianggap bukan suap, tentu tidak bisa dijadikan parameter kebenaran. Justifikasi lainnya: ini kan bukan uang negara, ini dari perusahaan asing, negara tidak dirugikan. Benarkah? Inilah pentingnya kemampuan berpikir sistemik: benarkah bila itu uang dari perusahaan asing artinya bangsa ini tidak dirugikan? Dan bila dia berhasil meraih jabatan yang diimpikannya itu, apakah dia benar-benar leluasa melakukan hal-hal yang idealis? Tidakkah dia tersandera oleh pihak ‘anu’ yang diberinya uang setoran (dan pasti akan menuntut setoran berikutnya)?

Nah, siapa yang bertanggung jawab melatih thinking skill ini? Orang tua. Bukan sekolah. Makanya banyak orang cerdas tapi ga bisa mikir. Dan banyaknya koruptor hari ini, adalah kesalahan orang tua di masa lalu. Para koruptor hari ini adalah anak-anak di masa lalu yang seharusnya diasuh dengan baik oleh para ibu dan ayah mereka. Batas benar-salah terkadang sangat samar dan butuh thinking skill tingkat tinggi.

Bagaimana cara melatih thinking skill anak? Jawabnya simpel: biasakan mereka berpikir, jangan prtu yang sibuk mikir untuk mereka. Ketika anak nilainya jelek, jangan ortu yang ambil alih, “Kamu les aja!” Tapi, tanyakan, “Menurutmu, apa yang harus kamu lakukan supaya nilaimu baik?” Anak nangis pulang karena ditonjok temannya, jangan langsung intervensi, “Besok mama adukan pada bu guru!” Katakan, “Menurutmu, apa yang sebaiknya kamu lakukan terhadap temanmu itu?” Saat membacakan buku cerita, stimulasi anak, “Menurutmu, perilaku si kancil itu benar atau salah?” Dst.

Thinking skill anak bisa dilatih bila ortu pun melatih thinking skillnya. Kalau masih suka membeo apa kata orang lain, bak katak dalam tempurung, tanpa pake mikir, tanpa mampu memberi argumentasi yang valid, hanya berlindung pada justifikasi ‘ini kelompokku, maka semua yang dilakukan kelompokku pasti benar, tak perlu diverifikasi lagi’, sulit berharap bisa menumbuhkan thinking skill anaknya.

[Parenting] Baby Blues-2

Ini copas status saya di FB:

Tadinya saya kira saya butuh waktu lama untuk menulis lanjutan status saya sebelumnya. Tapi baru saya ingat, Bunda Elly Risman (Psikolog) sudah menulisnya di kata pengantar buku “Oh Baby Blues”. Jadi saya ringkaskan saja isinya ya.

Baby blues itu kondisi perubahan emosi (sebenar senang, sebentar kemudian sedih) yang dialami ibu pasca melahirkan dan SEHARUSNYA hilang sendiri dalam sepuluh hari. Tapi jika gejala yang dirasakan bertahan lebih lama, artinya baby blues-nya sudah meningkat ke depresi. Penyebabnya medisnya diduga karena perubahan hormon. Kondisi ini akan semakin runyam akibat kelelahan fisik luar biasa pasca melahirkan, tidak adanya dukungan dari pihak sekitar (terutama suami),  dan stress akibat faktor-faktor lain.

Nah, mengapa ada ibu yang bisa melalui situasi ini dengan baik-baik saja (sembuh sendiri), ada yang berlarut-larut? Kuncinya di pola pengasuhan ortu (terutama ibu). Ada pengasuhan yang bisa menumbuhkan anak yang kuat dalam menghadapi problem pascamelahirkan, ada pula yang sebaliknya.

[Sudahlah, jangan dikerjakan sekarang.. tinggalkan saja! Biar Mama yang kerjain. Sudah sana! Kerjakan saja pe-ermu!] “Kata-kata seperti ini lazim diucapkan ibu terutama pada anak perempuannya. Tanpa sengaja seringkali ibu menghindarkan anak-anaknya terlibat dalam mengerjakan pekerjaan rumah… Tanpa sengaja kita terlalu fokus pada keberhasilan akademis anak semata. Akibatnya banyak hal lain terabaikan, termasuk kita abai menyiapkan anak kita menjadi suami/istri dan menjadi orang tua. Anak-anak kita nyaris tanpa bekal ketika mereka mulai mengarungi kehidupan barunya sebagai suami/istri dan kemudian menjadi ayah/ibu. Yang menjadi bekal mungkin hanya warisan bagaimana cara kita mengasuh mereka –yang belum tentu benar—dan sedikit tambahan dari membaca buku, informasi dari internet, dan pembicaraan dengan orang lain. … Akibatnya banyak pasangan muda di awal pengalaman mereka memiliki anak tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehamilan, perkembangan janin,.. sampai pada berbagai kemungkinan yang terjadi pada saat dan setelah persalinan.” (Elly Risman, 2007)

Kalau ingat pengalaman saya sendiri, ya kurang lebih itulah yang terjadi. Boro-boro kenal ‘baby blues’, saya bahkan tidak tahu kalau persalinan itu sakit banget (pernah dengar sih kalau sakit, tapi tidak terbayangkan sedemikian sakitnya). Saya juga tidak tahu bahwa bayi akan menangis malam-malam dan mengubah pola tidur ibu dengan sedemikian parah. Saya benar-benar kaget mendapati bahwa menjadi ibu artinya menyerahkan seluruh diri untuk si bayi, padahal selama ini saya menyerahkan diri saya untuk sesuatu yang lain (akademis).

Singkat cerita, pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah: kita perlu mendidik anak dengan sudut pandang bahwa kelak mereka akan menjadi ibu/ayah. Kita jangan menyesali masa lalu atau menyalahkan pihak lain (apalagi menyalahkan ortu.. wah, jangan ya..; saya juga nggak menyalahkan ibu saya, karena saya sadar sepenuhnya, ibu saya dengan penuh cinta telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani suami dan anak-anak, dan itu adalah jasa yang takkan pernah mampu saya balas).  Tapi kita perlu membangun masa depan yang lebih baik untuk anak, jangan sampai terjadi situasi yang sama turun-temurun.

(Btw, kalau Cempaka, kasusnya malah ekstrim sebaliknya: ibunya mengabaikannya; ‘luka’ akibat pengabaian ini –ditambah pengabaian suami- yang membuat baby bluesnya beralih ke depresi superberat. Dan ternyata, kasus Cempaka membuktikan bahwa  anak-anak yang dibesarkan oleh ibu yang depresi, ternyata juga mengidap kasus-kasus kejiwaan.)

[Parenting] Baby Blues-1

Ini copas status saya di FB:

 

Perempuan itu, sebut saja namanya Cempaka, pada satu titik kehidupannya menghadapi masalah yang mirip dengan saya. Tapi, selanjutnya, jalan hidup kami amat berbeda. Nasib Cempaka sangat tragis. Sementara saya, yah… yang seperti teman-teman kenal hari inilah.

Cempaka dan saya, sama-sama punya ambisi kuat di bidang akademis. Saat saya melahirkan Kirana, saya sedang kuliah S2 di Iran dan saat itu saya berambisi untuk terus kuliah sampai jadi doktor. Cempaka melahirkan anaknya saat sedang kuliah S1. Tiba-tiba saja kami dihadapkan pada kenyataan: tidak mungkin lanjut kuliah dengan bayi yang butuh perhatian 24 jam sehari! Ini benar-benar kenyataan yang pahit. Semua kebanggaan saya runtuh, semua ambisi saya buyar. Saya merasa tidak berharga lagi (dan ternyata, itu dulu dirasakan pula oleh Cempaka).

Tapi ada perbedaan besar di antara kami: suami yang kami miliki. Suami saya langsung waspada saat menyaksikan perubahan perilaku saya yang sering sedih, murung, dan marah-marah setelah melahirkan (dan inilah yang diistilahkan “baby blues” itu). Dia cepat-cepat minta bantuan psikolog. Bahkan ketika saya menolak konseling (karena psikolognya seorang wanita Iran yang sangat cantik dan punya gelang emas sangat banyak, sehingga saya merasa terintimidasi; saya dalam hati berkata, “Enak aja lu ngomong, kalau elu sih hidupnya enak!”), akhirnya dia konsultasi dengan psikolog laki-laki (kali ini psikolognya seorang mullah/ulama/pria bersorban yang selain mendalami ilmu agama, juga mendalami psikologi). Dengan sabar, suami saya menjalankan saran-saran dari psikolog itu. Dia mendampingi dan memanjakan saya; dia menghandel hampir semua pekerjaan rumah agar saya tidak lelah dan tenang mengurus bayi. Bahkan untuk itu, dia memutuskan berhenti kuliah S2-S3-nya (dia dapat beasiswa terusan) di Sastra Persia.

Singkat cerita, badai terlalui dan hari ini saya sedang meneruskan kuliah di S3 (kali ini dengan ‘passion’, bukan lagi ‘ambisi’). Suami saya pun akhirnya kuliah S2-S3 di Indonesia.

Sementara Cempaka? Suaminya sepertinya tidak menyadari ada masalah, dia sibuk dengan segala aktivitas di luar rumah. Akibatnya, baby blues itu mengendap, lalu semakin menumpuk saat dia melahirkan anak ke 2, 3, dst. sehingga meningkat jadi depresi, dan bahkan schizophrenia. Cempaka bahkan harus dirawat di RS Jiwa.

Mengapa seorang perempuan bisa kena baby blues, sementara perempuan lain tidak? Ternyata akarnya ada di pengasuhan ibunya (panjang kalau dibahas, kapan2 ya, insya Allah). Tapi yang ingin saya garisbawahi dari cerita ini adalah: Pertama, pernikahan adalah sebuah kerjasama. Kalau satu pihak mengabaikan yang lain, akibatnya akan sangat fatal, bahkan mempengaruhi nasib anak-anaknya. (Anak Cempaka pintar-pintar, tapi terindikasi depresi). Kedua, setiap manusia umumnya menjalani hidup yang ‘berlubang’: ada saja masalah yang dihadapi/dialami. Nah, karenanya kita perlu berjuang untuk menutupi lubang itu supaya hidup menjadi ‘penuh’ (komplit, bahagia). Ini bukan hanya demi/untuk kita, tapi demi nasib anak-anak kita di masa depan.

[kisah baby blues saya dkk -selain Cempaka ya, karena saya baru aja ‘kenal’ sama Cempaka- pernah dibukukan. Tapi, sudah sold out. Mudah-mudahan kelak bisa terbit ulang karena kasus ini sepertinya masih banyak terjadi di Indonesia, dan baru ketahuan ketika sudah ada efek buruk/fatal.]

Belajar dari Hati

Perkuliahan kemarin benar-benar menyenangkan. Saya kuliah dari jam 8.00 sampai jam 16.00, (break satu jam makan siang). Dan itu bukan kuliah wajib saya. Saya sengaja ikut kuliah kelas lain (sit in) karena dosennya adalah ‘suhu’ dalam studi HI di Indonesia, yaitu Prof Mohtar Mas’oed. Lalu disambung dengan kuliah (sama, ini sit in juga, tidak wajib saya ikuti sebenarnya) tentang politik luar negeri.

Capek? Ih, enggak tuh, sama sekali. Full seger terus selama delapan jam itu. Mendengarkan uraian dosen, saling berdiskusi, mendengar argumen teman, membalasnya dengan agumen lagi, kadang-kadang menimbulkan tawa, benar-benar membuat saya merasa sangat ‘hidup’. Berada di ruangan yang sama dengan sesama penuntut ilmu dari berbagai kalangan, dosen (bahkan ada yang ketua prodi di sebuah kampus), wartawan, anggota TNI, anggota BIN, anggota DPR, benar-benar ‘sesuatu’. Mendengarkan argumen-argumen mereka yang dilandasi latar belakang masing-masing, sungguh menambah wawasan.

Sungguh, mempelajari sesuatu yang benar-benar diminati, muncul dari semangat pribadi, bukan dari tuntutan siapa-siapa, adalah proses belajar yang sangaaaat menyenangkan, memberi banyak inspirasi, dan meningkatkan intelektualitas. Pertanyaan yang muncul dalam diri saya sebagai ibu… gimana ya, cara menumbuhkan semangat belajar seperti ini ke anak-anak saya…? Belajar demi mencari ilmu, bukan demi nilai, ijazah, prestise, uang, dll.

Duh, ini memang PR besar… Salah satu ilmu soal ini, saya dapatkan dari Charlotte Mason (dikutip dari buku Cinta Yang Berpikir, hlm 61):

Sama seperti tubuh anak secara alamiah punya kemampuan mencerna makanan,begitu pula pikiran anak memiliki kemampuan bawaan untuk mencerna pengetahuan. Ketika menemukan ide yang menurutnya berharga, secara otomatis benaknya akan bekerja, menalar, membandingkan, berimajinasi, menaut-nautkan memori, untuk mengolah ide itu.

..Oleh karenanya Charlotte menghimbau kita untuk sesedikit mungkin campur tangan dalam proses pembelajaran. Tugas kita adalah menyajikan ide-ide terbaik sebagai makanan mental, mana yang anak pilih dan bagaimana mencernanya harus anak tangani sendiri secara mandiri. Ini berarti: “Anak-anak, bukan para guru, mereka sendirilah pribadi-pribadi yang harus bertanggung jawab [dalam proses belajar], biarkan mereka menggarap pelajaran mereka dengan upaya mandiri. Para guru memberikan simpati dan sekali-kali menjernihkan, mengarahkan, atau memperluas sudut pandang, tetapi proses berpikir haruslah menjadi bagian para pelajar.”

 

Karena anak-anak saya berhomeschooling, saya substitusi kata ‘guru’ dalam kutipan di atas dengan kata ‘orang tua’.

Semoga Allah memudahkan…

Sekedar penyemangat buat saya (dan semoga juga buat pembaca), ada hadis tentang menuntut ilmu (hasil browsing di Google):

Pelajarilah ilmu,maka sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah berarti takut kepada Allah. Dan menuntut ilmu adalah ibadah, mempelajarinya (mengulang-ulang) adalah tasbih, dan membahasnya (mengkajinya) adalah jihad, dan mengajarkannya kepada orang lain yang tidak tahu adalah sedekah, dan memberikannya kepada keluarga/kerabat adalah termasuk pendekatan diri kepada Allah. Dan ilmu itu adalah teman sewaktu sendirian dan sahabat sewaktu kesepian dan penunjuk kepada agama, dan penyebar dalam keadaan suka dan duka, serta membantu ketika berada di lapangan dan menjadi keluarga dekat ketika merantau (di tengah-tengah orang asing) dan juga menjadi pelita penerang jalan menuju surga.” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Abdil Bar dari Muadz bin Jabal)