Belajar dari Hati

Perkuliahan kemarin benar-benar menyenangkan. Saya kuliah dari jam 8.00 sampai jam 16.00, (break satu jam makan siang). Dan itu bukan kuliah wajib saya. Saya sengaja ikut kuliah kelas lain (sit in) karena dosennya adalah ‘suhu’ dalam studi HI di Indonesia, yaitu Prof Mohtar Mas’oed. Lalu disambung dengan kuliah (sama, ini sit in juga, tidak wajib saya ikuti sebenarnya) tentang politik luar negeri.

Capek? Ih, enggak tuh, sama sekali. Full seger terus selama delapan jam itu. Mendengarkan uraian dosen, saling berdiskusi, mendengar argumen teman, membalasnya dengan agumen lagi, kadang-kadang menimbulkan tawa, benar-benar membuat saya merasa sangat ‘hidup’. Berada di ruangan yang sama dengan sesama penuntut ilmu dari berbagai kalangan, dosen (bahkan ada yang ketua prodi di sebuah kampus), wartawan, anggota TNI, anggota BIN, anggota DPR, benar-benar ‘sesuatu’. Mendengarkan argumen-argumen mereka yang dilandasi latar belakang masing-masing, sungguh menambah wawasan.

Sungguh, mempelajari sesuatu yang benar-benar diminati, muncul dari semangat pribadi, bukan dari tuntutan siapa-siapa, adalah proses belajar yang sangaaaat menyenangkan, memberi banyak inspirasi, dan meningkatkan intelektualitas. Pertanyaan yang muncul dalam diri saya sebagai ibu… gimana ya, cara menumbuhkan semangat belajar seperti ini ke anak-anak saya…? Belajar demi mencari ilmu, bukan demi nilai, ijazah, prestise, uang, dll.

Duh, ini memang PR besar… Salah satu ilmu soal ini, saya dapatkan dari Charlotte Mason (dikutip dari buku Cinta Yang Berpikir, hlm 61):

Sama seperti tubuh anak secara alamiah punya kemampuan mencerna makanan,begitu pula pikiran anak memiliki kemampuan bawaan untuk mencerna pengetahuan. Ketika menemukan ide yang menurutnya berharga, secara otomatis benaknya akan bekerja, menalar, membandingkan, berimajinasi, menaut-nautkan memori, untuk mengolah ide itu.

..Oleh karenanya Charlotte menghimbau kita untuk sesedikit mungkin campur tangan dalam proses pembelajaran. Tugas kita adalah menyajikan ide-ide terbaik sebagai makanan mental, mana yang anak pilih dan bagaimana mencernanya harus anak tangani sendiri secara mandiri. Ini berarti: “Anak-anak, bukan para guru, mereka sendirilah pribadi-pribadi yang harus bertanggung jawab [dalam proses belajar], biarkan mereka menggarap pelajaran mereka dengan upaya mandiri. Para guru memberikan simpati dan sekali-kali menjernihkan, mengarahkan, atau memperluas sudut pandang, tetapi proses berpikir haruslah menjadi bagian para pelajar.”

 

Karena anak-anak saya berhomeschooling, saya substitusi kata ‘guru’ dalam kutipan di atas dengan kata ‘orang tua’.

Semoga Allah memudahkan…

Sekedar penyemangat buat saya (dan semoga juga buat pembaca), ada hadis tentang menuntut ilmu (hasil browsing di Google):

Pelajarilah ilmu,maka sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah berarti takut kepada Allah. Dan menuntut ilmu adalah ibadah, mempelajarinya (mengulang-ulang) adalah tasbih, dan membahasnya (mengkajinya) adalah jihad, dan mengajarkannya kepada orang lain yang tidak tahu adalah sedekah, dan memberikannya kepada keluarga/kerabat adalah termasuk pendekatan diri kepada Allah. Dan ilmu itu adalah teman sewaktu sendirian dan sahabat sewaktu kesepian dan penunjuk kepada agama, dan penyebar dalam keadaan suka dan duka, serta membantu ketika berada di lapangan dan menjadi keluarga dekat ketika merantau (di tengah-tengah orang asing) dan juga menjadi pelita penerang jalan menuju surga.” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Abdil Bar dari Muadz bin Jabal)

Advertisements

3 thoughts on “Belajar dari Hati

  1. kalo kata kang Alfathri, optimalkan energi minimum. energi minimum ini merujuk pada passion seseorang yang membuat dia belajar atau bekerja tapi tidak pernah merasa capek sekali pun.

    kang Al juga sering mengutip einstein yang pernah bilang, “bila kamu menyuruh seekor ikan untuk memanjat pohon, maka seumur hidupnya dia akan meratapi betapa buruk hidupnya.” jadi, suruhlah ikan untuk berenang, bukan memanjat.

    kemudian, kang Al juga pernah mengutip ungkapan konfusius, “pilihlah pekerjaan yang kamu cintai, maka anda tidak pernah akan merasakan bekerja sehari pun.”

    mungkin mba Dina passion/energi minimum-ny d bidang HI, jadi ngak capek ikutan kuliah dr pagi sampe sore. sebaliknya, malah menikmati. hehehe 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s