[Parenting] Baby Blues-2

Ini copas status saya di FB:

Tadinya saya kira saya butuh waktu lama untuk menulis lanjutan status saya sebelumnya. Tapi baru saya ingat, Bunda Elly Risman (Psikolog) sudah menulisnya di kata pengantar buku “Oh Baby Blues”. Jadi saya ringkaskan saja isinya ya.

Baby blues itu kondisi perubahan emosi (sebenar senang, sebentar kemudian sedih) yang dialami ibu pasca melahirkan dan SEHARUSNYA hilang sendiri dalam sepuluh hari. Tapi jika gejala yang dirasakan bertahan lebih lama, artinya baby blues-nya sudah meningkat ke depresi. Penyebabnya medisnya diduga karena perubahan hormon. Kondisi ini akan semakin runyam akibat kelelahan fisik luar biasa pasca melahirkan, tidak adanya dukungan dari pihak sekitar (terutama suami),  dan stress akibat faktor-faktor lain.

Nah, mengapa ada ibu yang bisa melalui situasi ini dengan baik-baik saja (sembuh sendiri), ada yang berlarut-larut? Kuncinya di pola pengasuhan ortu (terutama ibu). Ada pengasuhan yang bisa menumbuhkan anak yang kuat dalam menghadapi problem pascamelahirkan, ada pula yang sebaliknya.

[Sudahlah, jangan dikerjakan sekarang.. tinggalkan saja! Biar Mama yang kerjain. Sudah sana! Kerjakan saja pe-ermu!] “Kata-kata seperti ini lazim diucapkan ibu terutama pada anak perempuannya. Tanpa sengaja seringkali ibu menghindarkan anak-anaknya terlibat dalam mengerjakan pekerjaan rumah… Tanpa sengaja kita terlalu fokus pada keberhasilan akademis anak semata. Akibatnya banyak hal lain terabaikan, termasuk kita abai menyiapkan anak kita menjadi suami/istri dan menjadi orang tua. Anak-anak kita nyaris tanpa bekal ketika mereka mulai mengarungi kehidupan barunya sebagai suami/istri dan kemudian menjadi ayah/ibu. Yang menjadi bekal mungkin hanya warisan bagaimana cara kita mengasuh mereka –yang belum tentu benar—dan sedikit tambahan dari membaca buku, informasi dari internet, dan pembicaraan dengan orang lain. … Akibatnya banyak pasangan muda di awal pengalaman mereka memiliki anak tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehamilan, perkembangan janin,.. sampai pada berbagai kemungkinan yang terjadi pada saat dan setelah persalinan.” (Elly Risman, 2007)

Kalau ingat pengalaman saya sendiri, ya kurang lebih itulah yang terjadi. Boro-boro kenal ‘baby blues’, saya bahkan tidak tahu kalau persalinan itu sakit banget (pernah dengar sih kalau sakit, tapi tidak terbayangkan sedemikian sakitnya). Saya juga tidak tahu bahwa bayi akan menangis malam-malam dan mengubah pola tidur ibu dengan sedemikian parah. Saya benar-benar kaget mendapati bahwa menjadi ibu artinya menyerahkan seluruh diri untuk si bayi, padahal selama ini saya menyerahkan diri saya untuk sesuatu yang lain (akademis).

Singkat cerita, pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah: kita perlu mendidik anak dengan sudut pandang bahwa kelak mereka akan menjadi ibu/ayah. Kita jangan menyesali masa lalu atau menyalahkan pihak lain (apalagi menyalahkan ortu.. wah, jangan ya..; saya juga nggak menyalahkan ibu saya, karena saya sadar sepenuhnya, ibu saya dengan penuh cinta telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani suami dan anak-anak, dan itu adalah jasa yang takkan pernah mampu saya balas).  Tapi kita perlu membangun masa depan yang lebih baik untuk anak, jangan sampai terjadi situasi yang sama turun-temurun.

(Btw, kalau Cempaka, kasusnya malah ekstrim sebaliknya: ibunya mengabaikannya; ‘luka’ akibat pengabaian ini –ditambah pengabaian suami- yang membuat baby bluesnya beralih ke depresi superberat. Dan ternyata, kasus Cempaka membuktikan bahwa  anak-anak yang dibesarkan oleh ibu yang depresi, ternyata juga mengidap kasus-kasus kejiwaan.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s