Tentang Penyair

Sejak kemarin, media online (entah TV, saya tak ikuti) memberitakan kasus asusila seorang penyair terkenal. Lalu, saya mendapati blog seorang perempuan, yang menceritakan ketidaknyamanannya berada di tengah komunitas penyair. Tulisannya terasa memendam kemarahan dan membuat saya merasa miris. Sedemikian kelam rupanya kehidupan di komunitas penyair? Lalu, bagaimana bisa menghasilkan puisi yang transenden dan menggapai langit? Sila baca sendiri di sini.

Tentu saja, penilaian atas sebuah syair/puisi sangat relatif. Ada yang masih tergila-gila pada puisi cinta laki-laki-perempuan. Waktu muda, saya dulu juga sering “jatuh cinta” pada syair-syair romantis. Juga sering “jatuh cinta” pada laki-laki yang dengan gitarnya menyanyikan puisi yang dilagukan. Kalau kata anak muda sekarang, so sweeet… 🙂

Tapi sesungguhnya syair atau puisi punya kekuatan dahsyat yang bisa menyadarkan, membangkitkan, dan menggerakkan. Tak heran bila ada penyair yang diintimidasi, seperti Wiji Thukul yang sejak 1998 menghilang, entah kemana. Syair-syairnya menyuarakan perlawanan kaum proletar dan agaknya membuat panas kuping penguasa saat itu. Misalnya saja syair ini:

PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
 Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan                                                                                                                                                             Maka hanya ada satu kata: lawan!

(Wiji Thukul, 1986)

Atau, simaklah syair Rendra tentang orang miskin. Entahlah, apa karena kekritisan Rendra pada pemerintah yang membuat SBY tak berpidato saat Rendra meninggal, namun berpidato saat Mbah Surip wafat.

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.

Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.

Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.

Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.

Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.

Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim..

Djogja, 4 Februari 1978

Iran adalah salah satu negara yang sangat mendorong berkembangnya syair-syair yang transenden. Syair-syair klasik Persia yang legendaris terus hidup bersama syair-syair kontemporer.  Saya pernah nonton acara kuis syair di televisi, yang diikuti anak-anak sekolah, sungguh mengagumkan saya. Mereka bisa menjawab pertanyaan tentang syair karya penyair 1000 tahun yll, dan bisa mengulangi bait-bait syair itu luar kepala (padahal satu penyair bisa membuat ribuan bait syair). Bagaimana dengan anak-anak kita hari ini? Terus-terang saja, anak saya tak hafal satu syair pun. Saya bahkan baru teringat sekarang ini, bahwa saya seharusnya mengenalkan syair-syair yang sastrawi dan transenden kepada mereka.

Lalu pada tahun 2012, Iran mengadakan Islamic Awakening Poetry Congress yang mengumpulkan penyair dari puluhan negara muslim, terutama negara-negara yang sedang bergolak ‘Arab Spring’. Menurut Velayati, pimpinan penyelenggara kongres itu, peran puisi dan penyair sepanjang sejarah kebangkitan Islam sangat signifikan. Melalui syair-syair yang revolusioner, para penyair mampu membangkitkan semangat rakyat untuk maju bergerak melawan tiran (A Note from Tehran, hlm 19).

Bila syair dan penyair, termasuk juga syair-syair lagu, yang digila-gilai masyarakat masih dalam tataran syair cinta-cinta romantis (yang agaknya lebih tepat disebut syahwat, bukan cinta; definisinya bisa baca di sini), sepertinya fenomena yang ditulis oleh si blogger di atas memang menjadi ‘biasa’. Ya memang segitulah kualitas dunia kepenyairan kita, sayang sekali. Seorang penyanyi terkenal -yang sering dipuji syair lagunya ‘dalem’– yang dibui karena aksi video cabulnya, kini toh kembali jadi idola anak muda; bolak-balik masuk TV dan fotonya dipasang besar-besar di iklan-iklan pinggir jalan. Dan sang penyair yang kini dihebohkan oleh media, sangat mungkin nanti akan dimaafkan dan dilupakan, dan kembali dianggap sebagai penyair besar.

Dan para penyair revolusioner itu, masih harus bersyair dalam sepi. Hilang entah kemana (Wiji Thukul) atau wafat dalam kesendirian (Rendra). Tapi saya berjanji akan membacakan syair-syair mereka kepada anak-anak saya.

Tentang Cinta

Apa sih cinta itu?

Ketika sepasang manusia yang saling mencintai, lalu lambat laun seiring waktu, rasa menggebu-gebu yang muncul di awal-awal pernikahan menjadi hilang, apakah itu tandanya mereka tak saling mencintai?

Apakah ketika si perempuan atau si laki-laki bertemu dengan seseorang yang lain, dan muncul perasaan menggebu-gebu itu; apakah itu tandanya dia jatuh cinta lagi?

Jawabannya, cinta harus dibedakan dari syahwat. Cinta adalah bagian dari fitrah manusia. Cinta adalah sesuatu yang transenden, yang seharusnya membawa manusia mendekat kepada Tuhannya. Karena itu, cinta identik dengan pengorbanan. Pengorbanan adalah menunda kesenangan pribadi, demi sesuatu yang lebih besar, yang kelak akan kembali menyenangkan kita.

Saat istri mencintai suami, maka ada yang harus dikorbankan istri: kesenangannya untuk bepergian ke sana-kemari, kesenangannya untuk bersantai-santai, bermanja-manja pada ortu; dia harus melayani suaminya sebaik mungkin. Tapi sebagai gantinya, akan ada kebahagiaan yang menantinya.

Saat suami mencintai istri, maka ada yang harus dikorbannya: kesenangan pada kecantikan wanita lain; dia cukupkan hatinya untuk istrinya; kesenangan untuk kongkow-kongkow dengan teman-temannya; kesediaan untuk menyerahkan hasil kerja kerasnya kepada sang istri, untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.

Semua pengorbanan itu harus terus dijalani, bila yang jadi tujuan adalah Allah. Ketika semua itu dijalani demi Allah, maka itulah cinta sejati. Mungkin tak ada lagi perasaan menggebu-gebu itu, mabuk kepayang ala pra-pernikahan atau masa awal pernikahan, tapi bukan berarti cinta sudah hilang. Cinta itu sedang bermetamorfosa menjadi sesuatu yang lebih dewasa: persahabatan dan kerjasama untuk bersama-sama menuju Allah.

Lalu, rasa mabuk kepayang pada seseorang yang lain di luar pernikahan, itu bukan cinta. Karena bila itu cinta, pastilah akan menuju pada Tuhan. Apa mungkin perselingkuhan bisa menuju pada Tuhan? Itu bukan cinta, tetapi syahwat. Dan demi mempertahankan cinta sejati (cinta suami-istri), inilah yang harus dikorbankan. “Rasa mabuk kepayang pada seseorang yang lain di luar pernikahan” itulah yang harus dikorbankan. Tinggalkan. Lepaskan. Korbankan ‘kebahagiaan’ sesaat itu, demi cintamu. Mungkin sakit, tapi kelak kebahagiaan akan menjadi milikmu, ketika engkau dan pasanganmu berhasil melampaui semua rintangan dan berhasil menggapai Allah.

 

 

[Parenting] Nasihat Luqman al-Hakim kepada Anaknya

Nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya:

“Wahai anakku, lakukanlah apa yang menjadi kemaslahatan dirimu, baik itu mengenai agamamu maupun duniamu, dan laksanakanlah semua urusanmu itu hingga tuntas. Jangan engkau pedulikan orang lain dan tak usah engkau dengar perkataan dan cemoohan mereka. Karena bagaimanapun engkau tidak akan mampu untuk membuat semua mereka menjadi puas, dan engkau pun tidak akan mampu untuk mempersatukan semua hati mereka”.

Dan sesudah itu Luqman pun menyuruh anaknya untuk mengambil seekor keledai, “Anakku, bawalah kemari seekor keledai, mari kita lihat apa komentar orang-orang nanti, mereka selamanya tidak akan puas dalam melihat orang lain”.

Tak lama kemudian anak itu pun datang dengan membawa keledai yang diminta. Kemudian Luqman naik ke atas punggung keledai tersebut dan menyuruh anaknya untuk berjalan menuntun binatang itu, sementara ia enak-enak duduk di atas punggungnya.

Dalam perjalanan, lewatlah mereka pada sekumpulan orang, dan ketika mereka melihat pemandangan yang ganjil itu orang-orang pun berkata, “Anak kecil disuruh berjalan, sedangkan yang sudah tua itu malah enak-enak di atas kendaraan, betapa kejamnya dan tak tahu malu orang tua itu!”

“Apa kata orang-orang itu wahai anakku?”, tanya Luqman kepada anaknya. Dan setelah anak itu menerangkan atas apa yang telah mereka cemoohkan, Luqman pun turun dari atas punggung kendaraannya dan menyuruh anaknya untuk naik, dan sekarang giliran Luqman yang menuntun keledai.

Berikutnya ketika mereka melewati kerumunan orang yang lain, terdengarlah perkataan-perkataan mereka, “Yang kecil naik, sedang orang yang sudah tua renta seperti itu disuruh berjalan kaki, sungguh kejam anak itu dan tak tahu kesopanan”.

“Apa kata mereka?”, kata orang tua itu mengulangi pertanyaannya. Maka diterangkanlah oleh anak itu perihal apa yang telah diperkatakan orang-orang. Dan kini kedua insan anak dan bapak itu bersama-sama naik ke atas punggung binatang itu. Sehingga keduanya tiba di suatu tempat, ketika mereka melewati kerumunan orang yang berikutnya, mereka pun berkata, “Dua orang berbonceng-boncengan di atas punggung seekor keledai, padahal dua orang itu sakit tidak, lemah pun tidak, ah sungguh tak kenal belas kasihan kedua orang itu terhadap binatang”.

Luqman bertanya pula kepada anaknya, “Apa kata orang-orang itu wahai anakku?”.

Dan setelah anak itu menjawab, maka tak ada pilihan lain kecuali keduanya harus turun dari punggung keledai dan menuntunnya bersama-sama sambil berjalan kaki.

“Subhanallah!” orang terheran-heran melihat keledai yang segar-bugar dan kuat itu berjalan tanpa muatan, sementara kedua pemiliknya malah berjalan kaki menuntunnya bersama-sama. “Kenapa salah seorang tak mau menaikinya?”, kata mereka.

Sekali lagi Luqman bertanya kepada anaknya, “Apa kata mereka wahai anakku?”. Dan setelah anak itu menerangkan persoalan tersebut, berkatalah Lukman, “Wahai anakku, bukankah telah aku katakan kepadamu, lakukanlah apa yang menjadi kemaslahatan bagi dirimu, jangan pedulikan perkataan-perkataan orang. Semua hal tadi aku lakukan kepadamu tak lain hanya untuk memberikan suatu pelajaran kepadamu”.

Ketika cemoohan dan pujian dari manusia telah dirasakan sama, maka inilah mulanya anugerah keikhlasan dari Allah Ta’ala tercurah kepada qalbu kita. Dzun Nun Al-Mishri menjelaskan, “Ada tiga tanda keikhlasan: Pertama, manakala seseorang telah memandang pujian dan celaan manusia sebagai hal yang sama saja. Kedua, apabila seseorang yang sedang mengerjakan amal kebaikan tidak menyadari bahwa dia sedang mengerjakan suatu kebaikan. Dan ketiga, jika seseorang telah lupa akan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal baiknya.”

[bukan karya saya; copas from Alfathri A]

[Parenting] Cara ‘Rahasia’ Belajar Ice Skating

Sungguh, kemarin pengalaman yang luar biasa buat saya dan Reza (dan sepertinya juga buat teman-teman praktisi HS yang kemarin ikut ngumpul di Sky Rink, Mal Taman Anggrek, Jakarta). Luar biasa karena, terus-terang, saya ini sangat ‘penakut’. Saya khawatir setengah mati kalau Kirana pergi les sendirian, tanpa didampingi ortu. Bolak-balik saya sms gurunya,ngecek, anak saya sudah sampai apa belum. Dulu, ketika Reza belajar sepeda, saya pun setengah mati menahan kuatir. Saat dia terjatuh, duh, rasanya hati ini ngenes banget. Tentu, saya sembunyikan; saya terus beri dia semangat. Dan akhirnya bisa. Alhamdulillah. Tapi, kekuatiran belum berakhir. Saat dia bersepeda di depan rumah dengan stang yang masih goyang, ada motor lewat, saya rasanya ingin teriak karena kuatir. Ingin sekali teriak, “Jangan Nak, di rumah saja! Nanti ketabrak.. Nanti diculik.. bla..bla..”

Saya tahu itu salah, makanya saya upayakan tekan perasaan itu. Saya berusaha biasa saja di depan anak, meski sebenarnya di dalam hati, rasanya kuatiiir.. sekali.

Kemarin.. saat belajar ice skating..oh nooo.. rasa kuatir itu muncul cukup besar. Saya ga bisa ice skating, dan saya nggak mau mencoba ikut main skating bersama Reza. Yang saya bisa lakukan cuma pasrah, membiarkan dia masuk ke arena skating bersama teman-temannya. Lalu saat saya lihat dia kerepotan berpegangan di besi pinggir arena, dan berkali-kali hampir jatuh, saya segera memalingkan wajah. Saya takut sekali.

1465365_10151796135333733_486678311_n

anak-anak berpegangan pada besi di pinggir arena (photo: wiwiet mardiati)

Tapi dia dan teman-temannya, terus pantang mundur, berpegangan ke besi sampai jauh dari pintu masuk. Lalu, saya terpikir, wah, baju Reza pasti basah nanti, padahal saya tidak bawa baju ganti. Tak lama kemudian, datang Irma dan anak-anaknya. Eh, mereka malah ga bawa jaket. Akhirnya saya dan Irma pergi belanja baju dan jaket ke Matahari di lantai 2. Saat kami kembali ke Sky Rink di lantai 3.. subhanallah.. Reza sudah bisa! Saya melihatnya ada di tengah arena, berdiri tegak dengan sepatu ice skatingnya.

reza sudah bisa berdiri tegak di tengah arena (photo by wiwiet mardiati)

reza sudah bisa berdiri tegak di tengah arena (photo by wiwiet mardiati)

Saya hampir nangis terharu, tapi ditahan-tahan (malu dong sama yang lain). Reza memang berkali-kali jatuh tapi dia sama sekali tak patah semangat, langsung berdiri lagi dan mencoba lagi. Kalau saja saya tadi di sampingnya dan berkali-kali menjerit, mungkin hatinya akan menciut dan mungkin berhenti mencoba.

Dan saya lihat, yang berjasa besar adalah Mella (rasanya pengen meluk dia, tapi sama, malu juga..haha.. maklum baru ketemu). Jadi ceritanya, Mella ini bisa main ice skating; dia punya dua anak, Husayn dan Ali. Husayn sudah sangat lancar skating. Husayn-lah yang berkali-kali dengan setia membantu teman-temannya, Reza, Tata (anak mba Lala), Atala (anak mba Wiwiet), Dilan dan Difi (anak Irma). Mella pun bertindak sebagai pelatih dadakan bagi mereka. Dalam waktu singkat, anak-anak itu sudah bisa meluncur di es. Sementara, Ali, si kecil, awalnya juga masih dipegang ibunya saat skating, tapi lama-lama berani lepas dan bisa berjalan dengan sepatu skating di lapisan es yang licin itu.

Mella sedang melatih anak-anak (photo & montage by wiwiet mardiati)

Mella sedang melatih anak-anak (photo & montage by wiwiet mardiati)

Ini videonya:

Dan pagi ini, saya saat membuka FB untuk mencari foto-foto di fb mba Wiwiet (krn foto hp saya hasilnya ga terlalu bagus), saya membaca komen dari Mella, yang sangat berharga untuk direnungkan.

Ice skating kali ini bener2 berkesan buatku, awalnya keringetan di dlm skyrink krn tnyata ada 4 anak yg cuma nempel dipinggiran boro2 meluncur, bahkan berdiri aja susah (lha aku aja juga ga bisa maiiinn), tp tnyata melibatkan mereka sebagai partner belajar, teriakan membangun, ketawa lepas dan saling membantu ketika jatuh, membuahkan mereka bisa meluncur dengan penuh rasa percaya diri, kupikir2 sebenarnya kadang kita terlalu mendewakan teknis dan step2 belajar, padahal anak-anak secara alami mengeluarkan potensi mereka sendiri. Mungkin anak2 manis ini berpikir aku yg membantunya belajar hingga mereka bisa meluncur, padahal mereka mengajari diri mereka sendiri dan bahkan aku yg belajar banyak hal dari mereka hari ini. Terima kasih atala,tata, Husayn,Ali,difi,reza,dilan dan Zahra.

Luar biasa. Saya jadi belajar lagi soal ‘belajar’ pada komen Mella ini. Like it so much, so inspiring…! Inilah rupanya ‘rahasia’ Mella mengajari anak-anak kami ice skating: melibatkan mereka sebagai partner belajar, teriakan membangun, ketawa lepas dan saling membantu ketika jatuh. Saya tidak tahu apa saya bisa mempraktekkannya, karena saya sendiri tidak berani mencoba bermain skating. Saya hanya bisa bersyukur bahwa kemarin Reza menemukan guru luar biasa 🙂 Tapi, rasanya, tips ini juga bisa dipraktekkan dalam kegiatan belajar lainnya.

Akhir cerita… terimakasih banyak buat mba Wiwiet yang berkat posting foto Atala bermain skating, membuat Reza ngotot pengen main skating juga, dan akhirnya kami janjian ketemuan bareng di Sky Rink. Terimakasih juga buat Irma, senang akhirnya saya bisa ketemu dengan sang inspirator saya. Aneh deh, Irma ini mengisnpirasi saya justru karena postingannya yang sering bernada galau, sehingga membuat saya mikir, “Oh, jadi normal yah kalau gw galau.” Hahaha… Juga, thanks to mba Devi dan anaknya Zahra yang kemarin juga ikut hadir. Saya kemarin menyaksikan langsung kesabaran mba Devi membimbing Zahra yang mengalami autisme, benar-benar menyentuh hati dan inspiring… Dan hebatnya, Zahra sudah lancar ice skating, tante Dina kalah banget nih, karena ga berani mencoba…

ki-ka: dina, wiwiet, devi, zahra, mella, irma (anak-anak cowok: reza, difi, husayn).. photo pinjam dari FB Devi

ki-ka: dina, wiwiet, devi, zahra, mella, irma (anak-anak cowok: reza, difi, husayn).. photo pinjam dari FB Devi

Semoga kita bisa ketemu lagi ya.. Reza di atas bis sudah nanya-nanya, “Kapan kita main ice skating lagi?”  🙂

reza in action (photo by wiwiet mardiati)

reza in action (photo by wiwiet mardiati)

[Parenting] Kecerdasan Politik

Ayah Edi, seorang pakar parenting, pernah posting link berita tentang perilaku Munarman yang menyiram teh ke lawan bicaranya. Saya lupa lagi, apa kata Ayah Edi soal itu. Seorang komentator mengkritik,mengapa Ayah Edi ikut-ikutan politik, ga ada kaitannya dengan parenting. Jawaban Ayah Edi sangat saya setujui, yaitu bahwa dalam mendidik anak pun ortu perlu sadar politik.

Menurut saya pun, justru salah satu target mendidik anak adalah menjadikan mereka berkepribadian yang sadar politik, sehingga mampu bersikap dewasa menghadapi perbedaan pendapat, mampu menentukan mana yang baik dan mana yang salah, dan gak aneh-aneh kayak orang satu itu.

Nah, saya sedang membaca buku William Blum, ‘Demokrasi, Ekspor Amerika Paling Mematikan’. Ada bagian yang pas banget soal ini. Blum mengemukakan istilah ‘kecerdasan politik’. Ada banyak jenis kecerdasan (multiple intelijen), tapi sayangnya kecerdasan politik tidak termasuk di antaranya. Blum menulis, “Kecerdasan politik saya definisikan sebagai kemampuan untuk melihat secara cermat segala omong kosong yang diberikan oleh para politisi  -yang didengungkan oleh media ke seluruh masyarakat- yang dicekokkan kepada warganya sejak lahir untuk memenangkan pemiu dan memastikan keberlanjutan ideologi yang berkuasa.”

Orang-orang AS, sayangnya sedikit yang tidak cerdas politik ini (kata Blum). Akibat dari ketidakcerdasan politik rakyat AS ini mereka memberikan kekuasaan dan kesempatan kepada para politisi jahat sehingga menyebabkan terbunuhnya sejumlah besar manusia tidak bersalah di Irak, Afgan,Pakistan, Yugoslavia, Vietnam, Libya, Suriah, dll.

Rakyat AS mirip dengan anak-anak seorang bos mafia yang tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang dilakukan ayah mereka dalam mencari nafkah, tetapi kemudian bingung mengapa ada orang melemparkan bom ke rumah mereka (Blum, xxiii)

Bagaimana dengan rakyat Indonesia..?

Di Indonesia, kecerdasan politik tidak hanya berkaitan dengan pemilu. Posisi Indonesia sebagai negara ‘pinggiran’ dan objek globalisasi, membuat Indonesia memang diupayakan untuk dipecah-belah oleh kekuatan asing. Karena Indonesia negara muslim, maka isu yang dipakai untuk memcahbelah adalah isu agama.  Karena itu, ayo dong, para ortu, cerdas politik. Jangan hanya ngikuuut aja kata ustadz anu, ustadzah anu, tanpa mau meneliti. Kritislah pada media. Jangan hanya karena labelnya Islam dan isinya penuh ayat-ayat, semua yang dikatakan media itu ditelan mentah-mentah. Allah mengaruniai kita akal dan nurani untuk dipakai. Kalau ortunya ga cerdas politik, kebayang deh anaknya kayak apa. Dari sinilah muncul orang-orang radikal. Kalau ga setuju sama sikap orang lain, siram pake teh, atau kalau perlu bunuh! Naudzubillah…

Manfaat Tahajud

Sekedar sharing saja.. semoga bermanfaat memotivasi pembaca untuk tahajud, karena saya juga sering termotivasi oleh tulisan orang-orang lain 🙂

Begini… selama dua pekan terakhir saya pusiiing banget, kebingungan merevisi draft disertasi saya. Bayangin, saya ini alhamdulillah berhasil nulis buku, tapi nulis disertasi (padahal baru draftnya) udah kelimpungan gini. Tiap diserahkan ke dosen, ada saja salahnya (dan saya akui memang salah). Tapi, sejak dua pekan terakhir, saya benar-benar macet. Otak saya rasanya buntu sekali. Saya tahu, saya gak akan ‘maju’ kalau ga baca text book dan jurnal. Masalahnya, saya blank melulu tiap baca, dan ga bisa konsen. Kadang saya dalam hati menyalahkan anak-anak: baru mau mulai konsen, eh, musti ngurusin mereka. Tapi saya berusaha tetap waras: anak-anak ga salah; saya yang gak bisa konsen kok nyalahin mereka. Toh saya berkali-kali bangun dini hari, tapi ujungnya malah facebook-an atau nulis untuk web dan blog.

Akhirnya, ga ada jalan lain, selain mengadukannya kepada Allah. Saya akui, akhir-akhir ini memang malas sekali tahajud; kalaupun berhasil melawan kemalasan, paling saya sholat dua rakaat saja, itupun tanpa penghayatan.

Lalu, saya berusaha melawan rasa malas itu, dan berusaha sholat 11 rakaat (5 x 2 rakaat + 1 rakaat witir). Saya ingat bahwa Allah menjanjikan akan mengabulkan doa untuk mereka yang sholat tahajud.

“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun (ke langit dunia) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman: “Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lalu, saya ingat, ada seorang teman, dia ini sering jadi ustad (mengisi ceramah agama di masjid). Nah dia pernah bilang, kalau malamnya dia ga tahajud, saat dia bicara di mimbar, biasanya kata-katanya nggak lancar. Saya pikir, tentu berkorelasi juga dengan menulis kali ya.. 🙂

Alhamdulillah, setelah dijalani beberapa malam, kemarin saya merasakan manfaatnya. Begini, paginya saya chatting dengan seorang teman di Inggris. Saya mengeluhkan tidak berhasil mendapatkan jurnal yang sangat penting untuk disertasi saya. Eh, dia langsung carikan. Hanya dalam hitungan menit, itu jurnal sudah terdonlot di laptop saya. Lalu, saya berangkat kuliah. Tadinya, saya sudah pasrah. Itu perkuliahan terakhir dan saya seharusnya presentasi dan menyerahkan draft saya. Tapi kan sudah dua pekan macet, hanya ada sedikit perubahan di bab 1 yang saya lakukan.

Tapi sambil mengamati teman yang presentasi, saya dapat ide untuk memperbaiki beberapa bagian di naskah, lalu saya segera keluar kelas, ngeprint, balik lagi ke kelas, dan menyerahkannya ke pak profesor. Perkuliahan saya itu intinya musti rajin ngasih revisi, dan nanti akan dikomentari, lalu revisi lagi, dst, sampai akhirnya draft itu jadi (hampir) sempurna. Jadi, kalau saya nggak ngasihin revisi, saya yang rugi, gak dapat masukan lagi dari profesor saya yang cerdas banget itu.
Singkat kata, beliau memberikan beberapa masukan. Dan saya melanjutkan ngurusin naskah itu di perpus. Alhamdulillah, otak saya mendadak ga buntu lagi. Terang sekali rasanya. Saat membaca tumpukan text book di perpus, saya bisa memahaminya dengan mudah, bisa menemukan ‘sambungan’-nya dengan penelitian saya, dst. Subhanallah.

Masih belum cukup karunia dari Allah, tiba-tiba masuk SMS: minta no rek untuk mengirim honor tulisan saya. Subhanallah, tepat di saat keuangan saya menipis, Allah mendatangkan rizki-Nya.

Tentu saja, seharusnya sih, ketika sholat tahajud, niat kita harusnya lebih trensenden, lebih ‘tinggi’, lebih ‘nyufi’ : untuk mencapai ma’rifat, untuk menggapai cinta Ilahi… Tapi mungkin karena level saya masih segini, makanya yang terasa ya hal-hal materi melulu, hiks.

Ya sudahlah, siapa tau saja tulisan ini ada gunanya buat siapa saja yang sedang kesulitan. Allah sedemikian penyayang dan pemurahnya.. bahkan terhadap sholat yang masih males-malesan, setengah ngantuk, dan tidak terlalu khusyuk pun,  Dia memberikan apresiasi-Nya.. Subhanallah…