Tentang Cinta

Apa sih cinta itu?

Ketika sepasang manusia yang saling mencintai, lalu lambat laun seiring waktu, rasa menggebu-gebu yang muncul di awal-awal pernikahan menjadi hilang, apakah itu tandanya mereka tak saling mencintai?

Apakah ketika si perempuan atau si laki-laki bertemu dengan seseorang yang lain, dan muncul perasaan menggebu-gebu itu; apakah itu tandanya dia jatuh cinta lagi?

Jawabannya, cinta harus dibedakan dari syahwat. Cinta adalah bagian dari fitrah manusia. Cinta adalah sesuatu yang transenden, yang seharusnya membawa manusia mendekat kepada Tuhannya. Karena itu, cinta identik dengan pengorbanan. Pengorbanan adalah menunda kesenangan pribadi, demi sesuatu yang lebih besar, yang kelak akan kembali menyenangkan kita.

Saat istri mencintai suami, maka ada yang harus dikorbankan istri: kesenangannya untuk bepergian ke sana-kemari, kesenangannya untuk bersantai-santai, bermanja-manja pada ortu; dia harus melayani suaminya sebaik mungkin. Tapi sebagai gantinya, akan ada kebahagiaan yang menantinya.

Saat suami mencintai istri, maka ada yang harus dikorbannya: kesenangan pada kecantikan wanita lain; dia cukupkan hatinya untuk istrinya; kesenangan untuk kongkow-kongkow dengan teman-temannya; kesediaan untuk menyerahkan hasil kerja kerasnya kepada sang istri, untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.

Semua pengorbanan itu harus terus dijalani, bila yang jadi tujuan adalah Allah. Ketika semua itu dijalani demi Allah, maka itulah cinta sejati. Mungkin tak ada lagi perasaan menggebu-gebu itu, mabuk kepayang ala pra-pernikahan atau masa awal pernikahan, tapi bukan berarti cinta sudah hilang. Cinta itu sedang bermetamorfosa menjadi sesuatu yang lebih dewasa: persahabatan dan kerjasama untuk bersama-sama menuju Allah.

Lalu, rasa mabuk kepayang pada seseorang yang lain di luar pernikahan, itu bukan cinta. Karena bila itu cinta, pastilah akan menuju pada Tuhan. Apa mungkin perselingkuhan bisa menuju pada Tuhan? Itu bukan cinta, tetapi syahwat. Dan demi mempertahankan cinta sejati (cinta suami-istri), inilah yang harus dikorbankan. “Rasa mabuk kepayang pada seseorang yang lain di luar pernikahan” itulah yang harus dikorbankan. Tinggalkan. Lepaskan. Korbankan ‘kebahagiaan’ sesaat itu, demi cintamu. Mungkin sakit, tapi kelak kebahagiaan akan menjadi milikmu, ketika engkau dan pasanganmu berhasil melampaui semua rintangan dan berhasil menggapai Allah.

 

 

Advertisements

One thought on “Tentang Cinta

  1. Pingback: Tentang Penyair | My daily life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s