Tentang Penyair

Sejak kemarin, media online (entah TV, saya tak ikuti) memberitakan kasus asusila seorang penyair terkenal. Lalu, saya mendapati blog seorang perempuan, yang menceritakan ketidaknyamanannya berada di tengah komunitas penyair. Tulisannya terasa memendam kemarahan dan membuat saya merasa miris. Sedemikian kelam rupanya kehidupan di komunitas penyair? Lalu, bagaimana bisa menghasilkan puisi yang transenden dan menggapai langit? Sila baca sendiri di sini.

Tentu saja, penilaian atas sebuah syair/puisi sangat relatif. Ada yang masih tergila-gila pada puisi cinta laki-laki-perempuan. Waktu muda, saya dulu juga sering “jatuh cinta” pada syair-syair romantis. Juga sering “jatuh cinta” pada laki-laki yang dengan gitarnya menyanyikan puisi yang dilagukan. Kalau kata anak muda sekarang, so sweeet… 🙂

Tapi sesungguhnya syair atau puisi punya kekuatan dahsyat yang bisa menyadarkan, membangkitkan, dan menggerakkan. Tak heran bila ada penyair yang diintimidasi, seperti Wiji Thukul yang sejak 1998 menghilang, entah kemana. Syair-syairnya menyuarakan perlawanan kaum proletar dan agaknya membuat panas kuping penguasa saat itu. Misalnya saja syair ini:

PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
 Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan                                                                                                                                                             Maka hanya ada satu kata: lawan!

(Wiji Thukul, 1986)

Atau, simaklah syair Rendra tentang orang miskin. Entahlah, apa karena kekritisan Rendra pada pemerintah yang membuat SBY tak berpidato saat Rendra meninggal, namun berpidato saat Mbah Surip wafat.

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.

Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.

Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.

Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.

Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.

Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim..

Djogja, 4 Februari 1978

Iran adalah salah satu negara yang sangat mendorong berkembangnya syair-syair yang transenden. Syair-syair klasik Persia yang legendaris terus hidup bersama syair-syair kontemporer.  Saya pernah nonton acara kuis syair di televisi, yang diikuti anak-anak sekolah, sungguh mengagumkan saya. Mereka bisa menjawab pertanyaan tentang syair karya penyair 1000 tahun yll, dan bisa mengulangi bait-bait syair itu luar kepala (padahal satu penyair bisa membuat ribuan bait syair). Bagaimana dengan anak-anak kita hari ini? Terus-terang saja, anak saya tak hafal satu syair pun. Saya bahkan baru teringat sekarang ini, bahwa saya seharusnya mengenalkan syair-syair yang sastrawi dan transenden kepada mereka.

Lalu pada tahun 2012, Iran mengadakan Islamic Awakening Poetry Congress yang mengumpulkan penyair dari puluhan negara muslim, terutama negara-negara yang sedang bergolak ‘Arab Spring’. Menurut Velayati, pimpinan penyelenggara kongres itu, peran puisi dan penyair sepanjang sejarah kebangkitan Islam sangat signifikan. Melalui syair-syair yang revolusioner, para penyair mampu membangkitkan semangat rakyat untuk maju bergerak melawan tiran (A Note from Tehran, hlm 19).

Bila syair dan penyair, termasuk juga syair-syair lagu, yang digila-gilai masyarakat masih dalam tataran syair cinta-cinta romantis (yang agaknya lebih tepat disebut syahwat, bukan cinta; definisinya bisa baca di sini), sepertinya fenomena yang ditulis oleh si blogger di atas memang menjadi ‘biasa’. Ya memang segitulah kualitas dunia kepenyairan kita, sayang sekali. Seorang penyanyi terkenal -yang sering dipuji syair lagunya ‘dalem’– yang dibui karena aksi video cabulnya, kini toh kembali jadi idola anak muda; bolak-balik masuk TV dan fotonya dipasang besar-besar di iklan-iklan pinggir jalan. Dan sang penyair yang kini dihebohkan oleh media, sangat mungkin nanti akan dimaafkan dan dilupakan, dan kembali dianggap sebagai penyair besar.

Dan para penyair revolusioner itu, masih harus bersyair dalam sepi. Hilang entah kemana (Wiji Thukul) atau wafat dalam kesendirian (Rendra). Tapi saya berjanji akan membacakan syair-syair mereka kepada anak-anak saya.

Advertisements

5 thoughts on “Tentang Penyair

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s