Kisah Mawar Biru

Suatu hari, saat pulang kuliah saya melewati seorang ibu penjual bunga. Sejak lama saya memperhatikan para penjual bunga di pinggiran jalan Dago itu. Dan sejak lama pula saya sudah jatuh hati pada mawar berwarna biru. Jadi hari itu, karena tak tergesa, saya sempatkan berhenti sejenak dan membeli sekuntum mawar biru. Saya ingin menghadiahkannya untuk suami saya. Dia bukan tipe romantis, dan saya sudah lama membuang harapan bahwa dia akan menghadiahi saya bunga. Tapi, saya pikir, lebih baik saya yang pro-aktif, ya kan?

Saat saya serahkan mawar itu, dia menatap dengan heran dan hanya berkata, “Buat papa? Oooh…”  Sama sekali tak ada tatapan mesra atau ucapan terimakasih. Bagaimana perasaan saya? Tentu saja sakit hati. Dan saat saya kecewa atau sakit hati, semua orang yang menatap saya akan segera bisa mengetahuinya. Saya memang bukan jenis orang yang bisa menutup rapat-rapat perasaan. Senang atau sedih, biasanya akan langsung terlihat di wajah saya. Begitupun suami saya, dengan heran bertanya, “Mama kok cemberut?”

Ya’ela.. ya iyalah gw cemberut! teriak saya dalam hati. Tapi saya diam saja.  Setelah kejadian itu, begitu banyak urusan kami, dan ada banyak orang di sekitar kami, jadi tak ada waktu buat bicara serius. Sampai suatu pagi, muncul sms romantis darinya (cuma satu baris, huh, jadi saya pikir tidak terlalu memenuhi syarat untuk dikategorikan romantis), dan saya jawab dengan satu kata ‘thanks’. Saya sedang tidak berselera romantis-romantisan. Masih sakit hati.

Lalu, hari itu juga saya bertemu dengan seorang perempuan. Dengan berlinangan air mata dia menceritakan perilaku suaminya yang berpoligami dengan perempuan  yang selama ini track record-nya buruk, suka menggoda suami orang. Saya tidak anti poligami ya (bagaimana bisa anti pada sesuatu yang dibolehkan Quran?). Tapi kalau diawali dengan kebohongan, pengkhianatan, dan berlanjut dengan KDRT terhadap istri pertama, baik verbal maupun fisik, apa ini poligami yang benar?  Saya semalaman resah memikirkan masalah ini. Saat sholat, dengan berlinangan air mata mendoakan perempuan itu, dan mendoakan pernikahan saya sendiri.

Tragedi mawar biru seharga lima ribu perak yang saya beli di pinggir jalan itu, terasa seperti setetes kecil masalah yang seharusnya segera menguap dalam hitungan detik; bila dibandingkan dengan badai besar yang menimpa perempuan itu.

Dan, mawar biru itu pun saya lempar saja ke tong sampah. Sebelumnya, saya tatap bunga yang sudah mulai layu itu. Kirana menaruhnya di sebuah botol bekas sirup. Saya tertawa sendiri. Bahkan di rumah kami tidak ada vas bunga satupun. Dan selain si mawar-biru-hampir-layu-ini, tidak ada sekuntum bunga pun di dalam rumah kami. Hey,  kamu juga ternyata bukan perempuan romantis! kata hati saya.

mawarbiru

si mawar biru di tempat sampah

Ehm, baiklah. Mari kita redefinisi keromantisan. John Gottman dalam bukunya The Seven Principles for Making Marriage Work hlm 81 menulis:

..turning toward your spouse in the little ways is also the key to long-lasting romance. Many people think that the secret to reconnecting with their partner is a candlelit dinner or a by-the-sea vacation. But the real secret is to turn toward each other in little ways every day.

Maksudnya, kunci menumbuhkan romantis yang ‘abadi’ itu justru dengan memperhatikan hal-hal ‘kecil’ dari pasangan kita setiap hari; bukan dengan candlelit dinner, liburan mahal, atau setangkai mawar biru (ehm). Jadi, sesungguhnya suamiku itu romantis dengan kesetiaannya membuatkan jus tiap pagi, mengantar-jemput saya ke sana-sini, membantu cuci piring, membiarkan saya berjam-jam membaca novel.. dst. Dan sebaliknya, saya juga musti melakukan hal-hal ‘kecil’ yang disukai suami.. misalnya, instead of memberikan bunga biru yang baginya tak ada maknanya, lebih baik saya mengurangi sikap ngambekan saya yang membuat dia pusing; lebih ‘tahu diri’ saat membaca novel (sehingga tidak mencuekinya selama belasan jam), lebih banyak tertawa bersamanya (dan mengurangi kritik/omelan), dst.

Ya..ya.. saya akan kembali sadar untuk memperhatikan satu demi satu kebaikan hati suami saya. Justru saya yang bodoh, sudah tahu punya suami orang Indonesia super asli, yang tidak terbiasa dengan bunga atau keromantisan ala novel-novel orang bule, mengapa saya gaya-gayaan beli bunga?

Nanti ya, bersambung deh. Bukunya John Gottman ini asyik banget. Kapan-kapan saya bahas lagi kutipannya.

Meninjau Ulang ‘Mengeja Seribu Wajah Indonesia’

Jadi ga sabar segera membaca buku ini 🙂

Setapak Aksara

Hari ini, saya kelar membaca Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia. Buku yang diterbitkan oleh De Teens, lini Diva Press, ini adalah antologi 25 kisah perjalanan dari para traveler writer. Mereka antara lain: Dee An, Arabia, Dwi AR, M. Saipul, Dinar Okti Satitah, Huzer Apriansyah, Dina Y. Sulaeman, Bustomi Menggugat, Dian Onasis, Ary Amhir, Adis Takdos, Dody Johanjaya, Farchan Noor Rachman, Lina W. Sasmita, Meinilwita Yulia, Helene Jeane Koloway, Feni Kurniati, Prita Kusumaningsih, Katerina, Arini Tathagati, Lomar Dasika, Eaz Eryanda, Manik Priandani, Viola Malta Ramadhani, dan saya sendiri.

Bukan tanpa alasan saya membuat ulasan ini. Pertama, saya ingin membagi kesan saya selama membaca buku ini. Kendati saya sudah pernah membaca naskahnya sebelum terbit, tapi sensasinya tentu saja berbeda. Membaca versi digital, masih berupa naskah di Microsoft Word, tanpa keindahan visual; dibandingkan membaca versi cetak dengan kaver hijau segar, kertas berwarna, font yang ramah di mata, serta foto yang…

View original post 629 more words

[Traveling] Buku Baru: Love Journey #2

Buku traveling yang satu ini beda dengan buku traveling biasanya. Dan ini pula yang membuat saya bersemangat ikut audisinya ya. Audisi? Iya, audisi naskah. Buku ini ditulis oleh beberapa penulis sekaligus yang sebagian besar terpilih melalui audisi. Penulis utamanya adalah traveler muda bernama Lalu Abdul Fatah, yang sebelumnya juga sudah menulis beberapa buku traveling yang seru serta aktif mencatat kisah traveling di blognya. Senang rasanya, tulisan saya termasuk yang lolos audisi 🙂

Love Journey 2

Yang membuat saya sangat tertarik adalah kalimat-kalimat ini (tercantum di pengumuman undangan audisi):

Dalam Love Journey#2 ini, kami sepakat TIDAK akan mengungkap keindahan alam Indonesia. Kita akan coba menangkap sisi lain dari Indonesia yang mungkin sering diabaikan saat melakukan perjalanan.

Mengungkap sisi lain, bukan berarti membongkar keburukan yang ada. Kami hanya ingin menantang kamu untuk mengangkat kisah yang lebih riil dan apa adanya tentang Indonesia. Kisah yang lebih membumi dan lebih humanis.

Indonesia itu punya seribu wajah. Dan tidak semuanya menampilkan keindahan. Tidak indah, bukan berarti tidak menarik, kan? Banyak hal yang bisa kita ungkap dari sisi lain yang tampak tidak ‘indah’ itu.

Ini sungguh tantangan. Bisa nggak ya, nulis catatan perjalanan yang ‘kritis’, tidak sok-sokan mengkritik, tapi melakukan perenungan sehingga ada pencerahan yang didapat, lalu diungkapkan dalam kalimat-kalimat yang menarik minat pembaca? Saya pun bertekad menulis. Dan karena kebetulan audisi itu diumumkan sebelum acara jalan-jalan saya bersama Muslimah Backpacker ke Bromo, jadi saya sudah merencanakan akan menulis soal kota Malang (bukan Bromo ya). Setelah teman-teman pulang ke kota masing-masing, saya tetap tinggal di Malang untuk beberapa keperluan, antara lain ya untuk jalan-jalan sendirian di Malang, mencari bahan tulisan, dan  akhirnya jadi deh tulisannya. Artinya, ini emang tulisan yang diniatiiiin.. banget… 🙂

Salah satu endorser buku ini menulis

Love Journey#2 mengajak kita berkelanake berbagai lokasi di Indonesia sambil menyadari bahwa setiap sosok manusia memiliki cerita. Gabungan gaya bahasa dan alur dari penulis yang beragam memberi warna lebih akan cerita perjalanan yang sering kali membuat kita lebih puitis (Marischka Prudence, travel blogger)

Bukunya bisa dibeli di Gramedia dll, atau bisa juga langsung pesan ke penerbitnya, Diva Press via SMS  0818 0437 4879 (pada jam kerja)

[Parenting] Better Late than Early?

Di sebuah TK, pernah ada seorang ibu yang marah-marah kepada anaknya yang nempel terus, dan tak mau ditinggal. Dia mungkin memakai standar: anak lain bisa ditinggal di TK, kenapa anak saya tidak? Saya jadi ingat, dulu, waktu Kirana masih balita, saya juga pernah kesaaal… sekali padanya. Pasalnya, dia selalu menangis saat saya tinggal di penitipan anak sementara saya kuliah (waktu itu saya masih di Iran). Setelah berlalu seminggu, dan selama seminggu itu dia nangis terus berjam-jam, akhirnya sakit, dan saya memutuskan berhenti kuliah. Saya benar-benar kesal dan merasa ‘tidak beruntung’. Mengapa anak-anak orang baik-baik saja di penitipan? Mengapa anak saya tidak?

Waktu Reza kecil, kejadian yang sama terulang. Dia sama sekali tidak mau ditinggal di TK-nya Jadi saya memang benar-benar menungguinya di TK, benar-benar duduk di sampingnya selama hampir dua tahun. Kalau dulu Rana usia 3 tahun akhirnya ‘normal’, mau dititipkan di penitipan anak (waktu itu saya dapat kerjaan sebagai jurnalis di Iran Broadcasting) dan bisa bergaul dengan baik dengan teman-temannya yang sebagian besarnya orang Iran. Kalau Reza… oh no.. sampai usia 6 tahun pun masih nempel ke saya. Bahkan dia menolak keras untuk masuk ke SD. Saya pun baca-baca buku soal homeschooling (HS), berdiskusi dengan beberapa teman, dan akhirnya Reza ber-HS.

Bukan hanya ‘lambat’ dari sisi kemandirian. Reza juga lambat dari sisi kemauan untuk membaca, menghafal Quran, dll. Intinya, dia menolak belajar membaca (termasuk Iqra), setelah dibujuk-bujuk, baru mau memperhatikan, tapi cuma sebentar. Untungnya saya menghadapi perilaku Reza ini setelah kenal ilmu parenting dan sudah banyak membaca buku-buku pendidikan anak. Jadi engga terlalu panik.

Suatu saat saya mengeluhkan perilaku Reza ini ke teman saya (lho, tetep ngeluh ya..? ya iyalah.. saya ini perempuan biasa kok..hahaha.. wajar banget deh ibu-ibu curhat dan galaw), dia mengenalkan istilah ‘better late than early’… lebih baik lambat daripada kecepetan. Saya pun mulai browsing-browsing. Ternyata ini konsep yang diperkenalkan oleh seorang penulis AS bernama Moore. Bisa browsing sendiri deh, gimana jelasnya. 

Yang ingin saya ceritakan adalah bahwa kalimat itu (better late than early) semakin mensugesti saya untuk mengubah mindset : saya tidak membanding-bandingkan anak saya dengan yang lain, juga dengan kakaknya. Setiap anak punya kecepatan dan kesiapannya sendiri. Dan ternyata lambat-laun terbukti, berbagai kekhawatiran saya sebenarnya justru muncul ketika membandingkan dengan anak lain.

Misalnya, kenapa saya kesal saat Reza nempel sama saya di TK-nya? Tentu saja, karena saya lihat anak lain nyantai-nyantai aja ketika jauh dari ibunya. Padahal, sebenarnya, kalau baca tulisannya Moore (saya belum baca bukunya, hanya baca-baca artikel lepas di internet), memang sangat wajar kok kalau anak kecil nempel pada ibunya. Ada anak yang cepat mandiri, ada yang tidak. Ya sudah, nikmati saja.

Lalu, mengapa saya sempat khawatir saat Reza (dulu) tak mau membaca? Karena saya bandingkan dia dengan kakaknya yang usia 4 tahun sudah bisa baca latin (Indonesia) dan Iqra, sekaligus bisa bahasa Persia. Padahal saya kurang apa ya..? Sejak dia bayi, di sekelilingnya ada buku; ortunya gemar membaca, kakaknya juga. Di rumah kami yang mungil, di setiap sudut ada buku.

Mengapa Reza (dulu) tak mau menghafal Quran? Padahal sejak bayi sudah dikenalkan metode Rumah Qurani, sejak kecil sudah ikut gabung dengan dalam klub tahfiz keluarga kami (tapi prakteknya: kakak dan sepupu2nya ngapalin Quran, dia main di luar :D).  Sepupunya sudah sangat banyak hafalannya, sementara dia masih Al Ikhlas melulu.

Belum lagi urusan naik sepeda: anak lain sudah lancar, ini mencoba pun tidak. Kenapa dia penakut dan nggak mau gaul sama orang lain (kecuali kalau sudah lama kenal), padahal sepupunya berani banget dan pintar bergaul? Bla..bla.. pokoknya kalau membandingkan dengan anak lain, emang ibu-ibu malah jadi resah.

Nah, saya selama ini selalu berusaha menanamkan mindset ke diri sendiri: biarlah Reza berkembang sesuai kecepatannya sendiri. Alhamdulillah, sampai hari ini saya mendapati bahwa semua kekhawatiran saya itu tidak beralasan.

Ketika sudah tiba masanya (kadang disebut ‘a-ha moment’), kemampuan-kemampuan itu muncul sendiri kok. Misalnya, Reza akhirnya mau membaca pada usia 6 tahun. Dan sekarang (usia 7 tahun), dia sangat kutu buku, lebih kutu buku dibanding kakaknya. Dia bahkan ingat dengan detil buku yang disukainya, lalu mampu menceritakan ulang dan mengomentari/mengkritisi beberapa bagiannya. Saya ingat, suatu hari kami ke Gramedia dan membeli buku. Sejak di angkot, sampai di atas kereta, dia terus membaca sampai diliatin orang-orang. Saya pelanggan kereta, dan selama ini belum pernah liat anak seusia Reza asyik membaca di kereta.

Lalu, akhirnya, baru-baru ini, dia pun menunjukkan antusiasme untuk menghafal Quran dan hafalannya mulai banyak, mencapai 10 surat pendek (jangan bandingin sama anak orang yang udah 10 juz, hehe :D). Lalu, berani naik sepeda, dan bahkan sudah bisa dimintai tolong ke warung yang agak jauh. Kepercayaan dirinya juga tumbuh baik: mulai mudah bergaul dengan orang lain (ibu tetangga dengan takjub cerita bahwa Reza sekarang mau ngobrol panjang lebar dengannya, hehehe.. dulu kan dieeeem.. aja). Terakhir, yang membuat saya terharu banget, dia berhasil mengatasi ketakutannya dan main ice-skating tanpa putus asa, meski berulang kali terjatuh (dan dua pekan lalu, saat kembali ber-ice-skating, ternyata kemajuannya sangat pesat, sudah jarang jatuh).

ice skating

Apa sudah sempurna? Tentu saja belum. Masih banyak ‘kekurangan’-nya yang lain. Apalagi kalau saya membandingkan dengan anak-anak lain yang (keliatan) ‘wah’ itu. Untungnya, saya sudah lama (berusaha) berhenti membandingkan (artinya: kadang-kadang membanding-bandingkan juga sih..kadang-kadang minder juga sih.. wajarlah kalau terjadi demikian; yang penting segera saja kembali ke akal sehat :D).

Jadi, kalau teman-teman membaca cerita-cerita saya tentang anak-anak saya yang keliatannya keren (misalnya, Rana yang jadi penulis cilik), tak perlulah terpesona. Yakinlah bahwa setiap anak punya kelemahan dan kelebihan. Tugas kita adalah mendorong potensi-potensi baik  yang dimiliki anak agar berkembang pada waktunya: bisa cepat, bisa lambat. Ikuti saja ‘kecepatan’ anak. Mereka punya waktunya masing-masing.

Dari perspektif ini, saya cocok banget dengan istilah ‘better late than early’ ini. Memang ada anak-anak yang cepat kemajuannya, mereka anak-anak istimewa yang sah-sah saja dikagumi. Tapi jangan paksa anak kita maju melebihi kecepatan yang dimilikinya, karena nantinya malah jadi ‘anak karbitan’.

(Silahkan baca tulisan bagus-terkenal ini, karena sudah sering sekali di-share ulang: Anak-anak Karbitan)

NB: kadang yang suka banding2in anak itu justru ortu, mertua, ipar, dll. Nah, sikapi dengan bijaksana, ‘lawan’ dengan baik. Kalau di depan umum mereka bilang, “Kok anakmu belum bisa baca… itu si Amat udah…”. Jawab aja dengan nyantai, “Ah, biarinlah, ntar juga bisa. Tapi alhamdulillah, kalau main lego, dia jago banget lho!” 😀 Jangan biarkan anak kita jadi minder saking seringnya dikritik orang (dan orang Indonesia kayaknya emang hobi ngritik ya…).

Mbak Ning, In Memoriam

Hari ini, sejak pagi, pikiran saya dikacaukan oleh banyak hal. Dan tiba-tiba Bunda Rosmadewi mengirim SMS, mengabarkan kepergian mbak Ning Surachman, sahabat FB kami. Lalu barusan saya membuka FB mbak Ning, dan juga timeline saya… subhanallah, banyak sekali yang menulis status tentangnya; kenangan atas kebaikan-kebaikannya…

Ternyata, mbak Ning sangat dekat di hati banyak orang, meski sepertinya mereka pun seperti saya, ‘hanya’ berkenalan via FB. Dia dengan setia memberi komen, atau minimalnya like pada hampir setiap status saya; dan bahkan ‘hafal’ dengan cerita-cerita saya. Suatu saat, dia posting kutipan kalimat dari buku Inferno (Dan Brown), saya lupa persisnya, tapi intinya adalah: ketika kebenaran dan kesalahan sudah terlihat jelas; maka bersikap netral adalah kejahatan.

Kamipun berbalas komen, antara lain, Mbak Ning menanyakan kabar anak saya Kirana dan bertanya, apa Kirana sudah jadi membaca buku Da Vinci Code? Luar biasa, mbak Ning ingat cerita saya, di status saya dulu, entah kapan, tentang upaya saya mengontrol buku bacaan anak saya; di komen-komen terdiskusikan buku Dan Brown dan saya ceritakan bahwa Kirana sangat ingin membacanya, tetapi belum saya izinkan; semata-mata karena saya belum punya waktu luang untuk membacanya (saya harus baca dulu, menyensor bagian yang kurang cocok untuk anak, baru saya berikan pada Kirana).

Saya jawab, “Belum.” Mbak Ning spontan menyatakan akan mengirim buku itu untuk Kirana. Dan memang buku itu sampai beberapa hari kemudian, dikirim via pos. Saya pun ‘terpaksa’ membaca buku itu secara cepat, dan menemukan ada bagian yang memang perlu saya selotip, baru kemudian saya serahkan kepada Kirana yang membacanya dengan antusias. Kirana membalas kebaikan mbak Ning dengan mengirim buku karyanya, Adventure in Flower City, yang berisi cerita traveling keliling Bandung. Setelah membacanya, Mbak Ning mengirim sms, memuji tulisan Kirana dan menyatakan ingin jalan-jalan ke Bandung mengikuti rute yang ditulis di buku Kirana. Dan itulah SMS terakhirnya untuk saya.

Dan rupanya, saya baca dari berbagai status duka-cita teman-teman mbak Ning di FB, demikianlah Mbak Ning memperlakukan teman-teman FB-nya. Dia selalu penuh perhatian dan sangat peduli. Tak heran bila sedemikian banyak yang secara khusus menulis status tentangnya. Bunda Rosma, di smsnya bercerita bahwa dia menangis sejak pagi, saat mendapat kabar kepergian Mbak Ning. Rupanya mbak Ning sudah menyatakan akan ke Bandung untuk ketemu dengan Bunda Rosma (padahal  mereka sama-sama hadir di launching buku saya, tapi tak saling bersua). Tapi takdir berkehendak lain.

Dan kehadiran mbak Ning adalah salah satu bentuk ‘keajaiban’ dunia maya bagi saya. Saya ‘lahir’ menjadi penulis adalah berkat aktif di dunia maya. Di sini saya juga menemukan banyak teman baru, orang Indonesia yang tinggal di berbagai kota/negara. Namun, dunia maya pula yang hampir ‘menghancurkan’ saya.

Suatu saat, dunia seperti terjungkir balik buat saya. Sebuah blog anonim di wordpress menaruh foto saya sekeluarga dengan judul ‘tokoh syiah Indonesia’; (bersama foto lima orang lainnya). Beberapa waktu kemudian, foto saya (kali ini sendirian) muncul lagi bersama foto lima orang lainnya di sebuah situs berita berlabel Islam yang selama ini terbukti sangat sering berbohong/memfitnah. Dan dengan segera, dan sangat masif, link berita itu diforward ke sana-sini. Caci-maki dilemparkan kepada saya, mulai dari kafir, sesat, sampai babi betina. Ratusan teman-teman FB saya meremove saya; (ratusan orang pengecut tidak berani remove, tapi unfollow). Tapi anehnya, yang antri meng-add saya di atas 1000 orang (sayangnya tidak bisa diconfirm karena kuota FB hanya 5000) dan follower saya membengkak jadi 3000 lebih.

Tak banyak yang tahu betapa saya sangat down. Saya bukan orang yang suka tampil di depan umum. Saya selalu merasa sebagai ibu RT biasa yang memang sehari-hari di rumah, tinggal di sebuah kampung yang kondisi jalannya sangat buruk dan menyedihkan, tiap hujan lebat jalanan di depan rumah saya akan menjelma sungai (dan terus-terang, ini membuat saya merasa sebagai orang yang sangat-sangat biasa). Tapi tiba-tiba saja saya menjadi orang ‘terkenal’, nama saya ramai dibicarakan di FB dan twitter, dan dengan konotasi negatif pula, dengan tambahan kalimat ‘layak dibakar hidup-hidup!’. Bahkan baru-baru ini spanduk besar dipampang di pinggir jalan di sebuah kota di Jateng, dengan judul “Syiah Bukan Islam” dan foto saya ada di spanduk itu! 😦

Semua tulisan saya masih tersimpan rapi di dua blog saya, blog ini dan blog Kajian Timur Tengah. Tak ada satupun tulisan saya yang mendiskreditkan sahabat, menuhankan Ali, atau apapun yang dituduhkan kepada Syiah.  Saya menulis tentang Iran sejak tahun 2005 di blog dan media massa. Bahkan saya menulis dua buku tentang Iran, Ahmadinejad on Palestine dan Journey to Iran. Tak pernah ada masalah sebelumnya menimpa saya. Juga, tak ada yang aneh bila saya menulis tentang Iran. Betapa banyak orang yang tinggal di Eropa, Jepang, atau Amerika yang menulis artikel/buku tentang negara yang mereka tinggali? Dalam tulisan-tulisan saya, saya hanya menceritakan apa yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri selama di Iran, bahwa orang Syiah Iran tidak ‘sesat’ sebagaimana yang dituduhkan (Quran mereka sama dengan Quran sunni; saya tak pernah sekalipun mendengar mereka melaknat sahabat -saya kadang sholat di masjid dekat rumah saya di Teheran, jadi saya cukup gaul juga dengan warga- mereka menuhankan Allah, bukan Ali, dst.)

Apalagi, saya memang sudah memilih ‘karir’ untuk jadi analis politik Timur Tengah; bagaimana mungkin tidak menyertakan Iran dalam analisis saya? Chossudovsky, Escobar, Phelan, Nazemroaya, Meyssan, Barret, Petras, dan para analis politik bule -entah apa agamanya, sepertinya non-muslim- juga menulis analisis senada dengan saya (dan saya memang sering belajar dari analisis-analisis mereka).

Lalu mengapa caci-maki terhadap saya itu muncul belakangan? Menurut analisis saya pribadi, ini semua gara-gara saya membongkar masalah Suriah; yang ternyata (tanpa saya sadari sebelumnya) sangat ‘melukai’ perasaan kelompok-kelompok pendukung pemberontak (yang mengaku mujahidin) Suriah. Kalau kata suami saya, tulisan saya tentang Suriah tepat ke jantung masalah dan membongkar apa yang selama ini ditutup-tutupi media mainstream. (Padahal inti analisis saya sebenarnya sama saja dengan yang ditulis analis bule – independen, seperti Chossudovsky, Nazemroaya, Meyssan, atau Barret)

Lalu, tibalah hari itu, tanggal 3 Juli 2013. Hari itu acara launching buku saya, Prahara Suriah, yang saya selesaikan dalam kondisi tertekan. Sejak saya menulis tentang Suriah, saya memang sering diintimidasi (yang puncaknya adalah berita ‘penobatan’ saya sebagai tokoh Syiah itu). Dan sejak itu berbagai masalah muncul, tak perlulah berpanjang-panjang diceritakan di sini. Yang jelas, sepekan sebelum acara saya, Dr Joserizal membuat acara diskusi Suriah, dan mendapat intimidasi dari orang-orang takfiri. Ini membuat saya khawatir. (Dr. Jose bukan penulis politik seperti saya. ‘Dosa’-nya hanya satu: menolak mengirim relawan ke Suriah dan menyebut konflik Suriah sebenarnya adalah agenda Israel yang menggunakan tangan umat muslim sendiri. Atas ‘dosa’ ini, Dr Jose juga dituduh Syiah).

Saya berangkat ke Jakarta ditemani suami, dengan perasaan kacau balau. Di jalan, tiba-tiba sekretaris Dr Joserizal, salah satu narasumber launching buku saya, menelpon dan mengabari bahwa Dr Jose tidak bisa hadir. Perasaan saya tambah kacau. Saya merasa ‘ditinggal’.

Dan saya mulai bicara dengan kepala blank. Untung saja saya masih bisa bicara. Tapi saya hanya sedikit bicara. Saat para pembicara lain yang berkenan hadir, Bpk Agus Nizami (blogger yang sangat-sangat aktif berdakwah lewat blognya),  Bpk Very Aziz (dosen HI Paramadina), dan Prof Abdul Hadi WM memaparkan pendapat mereka; ditambah dengan wakil Dubes Suriah yang juga hadir memberi sambutan; pelan-pelan suasana hati saya mulai membaik.

Dan ketika acara ditutup, Mbak Ning pun mendekati saya. Inilah pertama kalinya kami bertemu. Sosoknya mungil, wajahnya ayu, sikapnya sangat tenang.

dina-ning

ki-ka: dina-ning

Kami tak banyak bicara, karena banyak orang yang mengerumuni saya waktu itu. Tapi hadir dan senyumnya menenangkan hati saya. Bunda Rosma dan Uni Yonita juga datang dan memberi pelukan, membuat saya semakin tenang.

Kelak, dalam komen-komen di FB, mbak Ning cerita bahwa dia bisa menangkap kegundahan saya saat acara launching itu. Dengan komen-komennya yang menenangkan, dia selalu memberi dukungan pada saya. Dia kutipkan kalimat Dan Brown itu, bahwa ketika kebatilan-kebenaran sudah tampak bedanya, bersikap netral adalah kejahatan.

Sebagai analis politik Timteng, wajar bila saya lebih cepat menangkap situasi (karena memang saya consern di sini) dan pengetahuan saya tentu saja jauh berbeda dari mereka yang hanya membaca info sepotong-sepotong dari status FB atau analisis media takfiri. Saya sejak akhir 2011 sudah menulis, ada keterlibatan AS dan Israel dalam kekacauan Suriah, dan baru akhir-akhir ini fakta ini semakin terang-benderang. Tapi inipun sampai sekarang masih ditutup-tutupi oleh media-media takfiri. Di hadapan orang-orang takfiri (dan sayangnya banyak juga orang Indonesia yang begini, indikasinya terlihat dari betapa info-info bohong soal Suriah dengan cepat di-like dan di-share oleh ratusan bahkan ribuan orang) ini, apapun data dan argumen yang diberikan, selama analisis yang kita tulis tidak berpihak pada “mujahidin”, maka komen mereka tetap satu: syiah lu!

Tapi untungnya saya bisa bangkit dari rasa down itu dan tetap menulis analisis Timteng (meski akhir-akhir ini jarang karena ruwet ngurusin proposal disertasi). Banyak alasannya, salah satunya adalah karena saya punya teman-teman yang menyemangati saya. Mereka saya kenal via FB/blog. Jadi, meski saya “habis-habisan” dibully di FB/twitter (dan dalam kondisi begini ‘seharusnya’ seorang perempuan biasa seperti saya akan menangis, deactivate FB, lalu mogok menulis),  di saat yang sama saya menemukan teman-teman setia. Dan salah satunya, mbak Ning.

Selamat jalan Mbak.

😦

Berpikir Sistemik

Kemarin saya sit in di kelas seorang profesor dari ITB yang mengajar mata kuliah teori sistem. Setelah beberapa puluh menit terbengong-bengong  mendengar penjelasan pak prof tentang cara membuat grafik berdasarkan model sistem yang kita buat (langsung diperagakan dengan software tertentu), akhirnya dengan lega saya mendengarkan penjelasan aplikasi teori sistem itu dalam menganalisis masalah. Nah, kalau begini sih saya seneng banget. Tapi kalau sudah disuruh bikin model dan grafik secara digital, duh, nyerah deh.

Intinya begini, ketika kita mendapati sebuah masalah, misalnya masalah banjir, bagaimana kita menganalisisnya? Mungkin kita berhenti pada pembahasan parsial: masyarakat ga tertib buang sampah, pemerintah ga becus menangani pembuatan drainase, dll. Tapi, dengan berpikir sistemik, banjir akan terlihat sebagai satu bagian saja dari berbagai problem lain, misal krisis epistemologi, krisis kapitalisme, dll. Lalu, kita bisa membuat ‘model’ dari berbagai masalah itu sehingga terlihat bahwa banjir itu problem yang interdependen (saling terkait) dengan problem2 lain; dan nanti akan keliatan sumber utamanya di mana,misalnya di metodologi. Dst.

Nah, sang prof kemudian menceritakan betapa sistem sudah sedemikian kuat dibangun di Jepang. Dia cerita suatu saat ingiiin sekali membawa anak-anaknya ke Jepang supaya mereka bisa melihat dan merasakan langsung sistem di sana. Akhirnya mereka dapat tiket sangat murah dari Air Asia dan berangkat ke Jpg. Anak-anaknya dengan antuasias memperhatikan banyak hal yang tersistem baik, misalnya: mereka sampai di stasiun A pukul 7 pagi; padahal check in di hotel baru bisa jam 4 sore. Padahal, mereka masih ingin jalan-jalan ke kota B. Lalu koper-koper harus ditaruh dimana? Masa ditenteng ke kota B, lalu nanti sore balik lagi ke kota A? Eh, ternyata ada locker di stasiun itu, dengan ukuran berbeda-beda, ada yang bisa muat tas kecil, ada yang besaaar. Tak ada penjaga loker. Untuk bisa membuka loker, harus masukkan uang koin. Ketika tak ada koin, bisa tukar uang kertas di mesin penukar uang. Lalu ketika beli karcis, juga tak ada penjaga loket, semua menggunakan mesin. Di kereta, juga tak ada petugas kereta yang nanyain karcis ke tiap penumpang. Lalu anak sang profesor nyeletuk, “Kalau gak ditanyai tiketnya, kan kita bisa beli tiket anak-anak aja ya. biar murah, toh ga ketauan?”

Jawab sang profesor: nah, itulah bedanya orang Jepang dengan masyarakat kita. Orang Jepang sudah tahu bahwa tiket yang mereka bayar dengan jujur akan kembali manfaatnya kepada mereka sendiri dalam bentuk fasilitas yang nyaman.

Nah inilah yang dimaksud berpikir sistemik itu: mampu melihat segala sesuatunya interdependen. Bahwa kalau buang sampah sembarangan selembar plastik kecil saja, efeknya akan sangat besar. Bahwa menyerobot antrian itu ada efeknya, misalnya, ada orang dalam antrian itu yang gak kebagian karcis, terlambat pulang, anaknya di rumah kelaparan karena ibunya pulang telat, lalu sakit, lalu bla..bla.. Berpikir sistemik tidak berhenti pada ego pribadi dan mengira bahwa yang dilakukannya hanya berdampak pada dirinya saja.

Dalam perjalanan pulang dari kampus, saya pun mulai mikir-mikir berbagai rencana. Sepertinya saya harus meniru prof itu: mulai mantengin Air Asia supaya dapat tiket super murah dan mengajak anak-anak saya jalan-jalan ke berbagai negara untuk memperluas wawasan mereka. Dan kalau suami saya yang selalu sibuk itu menolak, fine, saya jalan sama anak-anak aja deh. Hm, tujuan pertama kemana ya? Mungkin Singapura dulu deh… trus.. trus…*gagal fokus* 😀

[Parenting] Cinta Tanpa Syarat?

Tulisan Goenawan Mohamad tentang anaknya, Mita, yang ‘memilih’ menjadi lesbian, membuat saya merenung. Goen memakai argumen: ortu harus mencintai anaknya tanpa syarat. Melalui tulisannya itu, Goen memperkenalkan kata ‘melela’: memperagakan diri, mengungkapkan identitas. Melalui tulisannya, ia memberikan penghargaan kepada para homoseks yang berani mengaku kepada publik, dan memberikan ‘teladan’ kepada para ortu agar membiarkan saja anak mereka bila memilih menjadi homoseks, atas nama ‘cinta tanpa syarat’.

Benarkah ini bentuk cinta?

Saya jadi teringat pada cerita seorang ibu yang aktif di dunia parenting. Dia mendapati kasus, seorang remaja yang terpapar homoseksualitas (awalnya disodomi oleh guru ngajinya sendiri, lalu lama-lama ketagihan dan selalu menginginkan hubungan dengan sesama jenis). Ibu si remaja ini, ternyata aktivis muslimah, bahkan disebut ustazah. Awalnya, sang ibu berikhtiar untuk menyembuhkan anaknya. Namun akhirnya dia menyerah dan pasrah, dan berkata, “Mungkin sudah jalannya demikian.”  Padahal, menurut ibu aktivis parenting ini, ibu si remaja itu sangat sibuk sehingga tidak maksimal dalam mendampingi proses penyembuhan anaknya.  Yang dilakukannya hanya sebatas mengeluarkan uang banyak lalu menyerahkan urusan kepada dokter atau terapis.

Apakah ibu itu, atau Goen, menunjukkan sebuah cinta tanpa syarat? Apakah benar bersikap ‘cinta tanpa syarat’ itu? Mungkin saja, bila yang dicintai adalah sesama manusia, orang bersikap demikian. Misalnya, ada istri yang rela hidup menderita atas perilaku buruk suaminya, dengan alasan ‘cinta’. Saking cintanya, dia menutup mata atas segala keburukan suaminya, yang jelas melanggar aturan agama. Atau, ortu yang pasrah saja menerima pacar lesbi anaknya di rumah (sepert yang dilakukan Goen). Mereka membawa-bawa nama ‘cinta’, namun rasanya ini sebenarnya adalah ‘cinta buta’, cinta yang membutakan diri dari Cinta (=cinta sejati, kepada Tuhan).

Jika sandaran cinta kita adalah Tuhan, maka aturan Tuhanlah yang mengatur cinta kita pada sesama manusia. Cinta pada anak akan selaras pada cinta pada Tuhan. Jika Tuhan sudah melarang homoseksualitas, tentu yang harus dilakukan ortu adalah menjaga anaknya agar tidak terpapar perilaku tersebut; dan bila terlanjur terpapar, harus berupaya maksimal untuk menyembuhkannya. Bukannya pasrah atau malas berjuang, lalu berlindung di balik  nama cinta.

Saya pun ingat pada sebuah buku berjudul “Cinta yang Berpikir” (Ellen Kristi). Dan menurut saya, inilah cinta sejati ortu itu: cinta yang dilandasi pikiran; bukan cinta buta tanpa syarat. Di halaman 51 buku itu tertulis, “Karakter macam apa yang terbentuk dalam diri anak, kita sebagai ortu bertanggung jawab moral atasnya. …anak terlahir dengan berbagai kecenderungan bawaan yang akan membentuk masa depannya. Namun tiap kecenderungan memiliki banyak cabang, bisa baik, bisa buruk. Agar anak melaju di jalur yang tepat sebagai aktualisasi dari setiap potensi yang tersimpan dalam dirinya, itulah amanah orang tua. Ini adalah tugas serius dan menuntut tanggung jawab ortu.”

Bahkan Tuhan pun mencintai umat-Nya dengan syarat, kan? Kita baru akan masuk surga kalau menjalani hidup sesuai dengan aturan-Nya. Dan aturan-Nya itu sejatinya adalah demi keselamatan dan kebahagiaan manusia jua; dan aturan itulah perwujudan dari cinta-Nya kepada umat manusia.

 

Tulisan terkait: Goenawan dan Cara Pandang Hitam-Putih Kita