Merindukan Akhirat

Membuka dan membaca komen-komen di media online sering membuat saya geram. Misalnya nih ya, kasus asusila penyair SS itu. Di artikel yang membuat penjelasan lengkap dari BEM FIB UI, kan sudah ada penjelasan mengapa setelah hamil 7 bulan baru dilaporkan; yaitu karena memang si korban depresi dan butuh waktu lama untuk menguatkannya agar berani lapor polisi. Eh, di kolom komen ada saja yang komen, “Kok sudah 7 bulanΒ  baru lapor?!.. (dan disambung kalimat tidak sopan lainnya). Duh itu orang gak bisa baca dan mikir apa ya? Kan di artikel pertanyaannya sudah dijawab. Ih, gemes banget baca komen kayak begitu.

Sialnya, saya sering sekali ‘bertemu’ sama orang yang begonya kayak tembok begitu. Untungnya ketemu di dunia maya aja. Kalau ketemu di dunia nyata, bisa stress deh gw. Misalnya nih, saya panjang lebar nulis artikel menjelaskan bahwa ‘A itu benar’, eh, ada saja komen yang masuk dengan ngototnya mengatakan ‘A itu salah’, tanpa ada argumen bantahan yang valid dari apa yang saya tulis itu. Kayaknya orang-orang kayak gitu itu emang ga mau baca dan mikir, lalu sotoy nyelonong nulis komen.

Lalu, kasus lain, saya terkadang ‘gemes’ dalam menjalani hidup. Sering, seriiing banget terjadi: dalam satu hari saya mendapatkan kebahagiaan, tapi di hari yang sama, saya juga mendapatkan kesedihan. Hiks.. kapan ya ada kebahagiaan sempurna, tanpa diganggu hal-hal menjengkelkan? Dulu saya menghibur diri, yah itu adalah proses latihan bersyukur. Mau mensyukuri kebahagiaan yang didapat hari itu, atau berlama-lama sedih gara-gara kesusahan yang didapat di hari yang sama?

Tapi kemarin, tiba-tiba, saya dapat insight baru: justru karena itulah selayaknya saya merindukan akhirat.

Komen-komen menjengkelkan di media online, berita-berita fitnahan yang sangat jahat terhadap saya, ketersinggungan akibat perilaku orang-orang yang saya temui pada suatu hari, semuanya adalah karakter HIDUP DI DUNIA. Memangnya ada gitu, manusia yang hidup di dunia tapi muluuuus.. tanpa kesulitan dan kesusahan? Saya sebenarnya sering merasa hidup saya ini mulus-mulus aja, happy-happy aja… tapi terkadang lewat juga hal-hal yang menjengkelkan dan menyedihkan, alhamdulillah bisa saya lalui, dan saya pun kembali merasa hidup saya bahagia. Sampai kemudian muncul lagi hal-hal yang bikin jengkel itu. Dst.

Nah, justru karena itulah saya seharusnya RINDU AKHIRAT. Di sana, keadilan ditegakkan. Tak ada lagi orang yang berani komen sotoy. Tak ada lagi yang punya kesempatan untuk memfitnah (dan justru pada hari itulah semua pemfitnah dihukum). Tak ada lagi orang-orang zalim yang berani unjuk gigi. Hari itulah semua orang yang tertindas dan terzalimi mendapatkan haknya.

Lalu, bagaimana nasib saya hari itu? Nah itulah yang harus saya pikirin dari sekarang. Jadi Dina, berhentilah memikirkan komen atau sikap buruk orang lain. Bersiap saja menuju akhirat. Di sana tidak ada lagi kesedihan, kecuali jika kamu tidak membawa bekal apa-apa untuk akhiratmu kelak.

 

Advertisements

3 thoughts on “Merindukan Akhirat

  1. Yaaah Uni, gak sekalian mampir ke rumah mungil kami, sudah tak terlalu jauh loh πŸ™‚

    Uni, kalau ke Bandung kota lagi, kabar-kabarin ya, kepingin silaturahmi, kangen πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s