[Parenting] Cinta Tanpa Syarat?

Tulisan Goenawan Mohamad tentang anaknya, Mita, yang ‘memilih’ menjadi lesbian, membuat saya merenung. Goen memakai argumen: ortu harus mencintai anaknya tanpa syarat. Melalui tulisannya itu, Goen memperkenalkan kata ‘melela’: memperagakan diri, mengungkapkan identitas. Melalui tulisannya, ia memberikan penghargaan kepada para homoseks yang berani mengaku kepada publik, dan memberikan ‘teladan’ kepada para ortu agar membiarkan saja anak mereka bila memilih menjadi homoseks, atas nama ‘cinta tanpa syarat’.

Benarkah ini bentuk cinta?

Saya jadi teringat pada cerita seorang ibu yang aktif di dunia parenting. Dia mendapati kasus, seorang remaja yang terpapar homoseksualitas (awalnya disodomi oleh guru ngajinya sendiri, lalu lama-lama ketagihan dan selalu menginginkan hubungan dengan sesama jenis). Ibu si remaja ini, ternyata aktivis muslimah, bahkan disebut ustazah. Awalnya, sang ibu berikhtiar untuk menyembuhkan anaknya. Namun akhirnya dia menyerah dan pasrah, dan berkata, “Mungkin sudah jalannya demikian.”  Padahal, menurut ibu aktivis parenting ini, ibu si remaja itu sangat sibuk sehingga tidak maksimal dalam mendampingi proses penyembuhan anaknya.  Yang dilakukannya hanya sebatas mengeluarkan uang banyak lalu menyerahkan urusan kepada dokter atau terapis.

Apakah ibu itu, atau Goen, menunjukkan sebuah cinta tanpa syarat? Apakah benar bersikap ‘cinta tanpa syarat’ itu? Mungkin saja, bila yang dicintai adalah sesama manusia, orang bersikap demikian. Misalnya, ada istri yang rela hidup menderita atas perilaku buruk suaminya, dengan alasan ‘cinta’. Saking cintanya, dia menutup mata atas segala keburukan suaminya, yang jelas melanggar aturan agama. Atau, ortu yang pasrah saja menerima pacar lesbi anaknya di rumah (sepert yang dilakukan Goen). Mereka membawa-bawa nama ‘cinta’, namun rasanya ini sebenarnya adalah ‘cinta buta’, cinta yang membutakan diri dari Cinta (=cinta sejati, kepada Tuhan).

Jika sandaran cinta kita adalah Tuhan, maka aturan Tuhanlah yang mengatur cinta kita pada sesama manusia. Cinta pada anak akan selaras pada cinta pada Tuhan. Jika Tuhan sudah melarang homoseksualitas, tentu yang harus dilakukan ortu adalah menjaga anaknya agar tidak terpapar perilaku tersebut; dan bila terlanjur terpapar, harus berupaya maksimal untuk menyembuhkannya. Bukannya pasrah atau malas berjuang, lalu berlindung di balik  nama cinta.

Saya pun ingat pada sebuah buku berjudul “Cinta yang Berpikir” (Ellen Kristi). Dan menurut saya, inilah cinta sejati ortu itu: cinta yang dilandasi pikiran; bukan cinta buta tanpa syarat. Di halaman 51 buku itu tertulis, “Karakter macam apa yang terbentuk dalam diri anak, kita sebagai ortu bertanggung jawab moral atasnya. …anak terlahir dengan berbagai kecenderungan bawaan yang akan membentuk masa depannya. Namun tiap kecenderungan memiliki banyak cabang, bisa baik, bisa buruk. Agar anak melaju di jalur yang tepat sebagai aktualisasi dari setiap potensi yang tersimpan dalam dirinya, itulah amanah orang tua. Ini adalah tugas serius dan menuntut tanggung jawab ortu.”

Bahkan Tuhan pun mencintai umat-Nya dengan syarat, kan? Kita baru akan masuk surga kalau menjalani hidup sesuai dengan aturan-Nya. Dan aturan-Nya itu sejatinya adalah demi keselamatan dan kebahagiaan manusia jua; dan aturan itulah perwujudan dari cinta-Nya kepada umat manusia.

 

Tulisan terkait: Goenawan dan Cara Pandang Hitam-Putih Kita

 

Advertisements

One thought on “[Parenting] Cinta Tanpa Syarat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s