Berpikir Sistemik

Kemarin saya sit in di kelas seorang profesor dari ITB yang mengajar mata kuliah teori sistem. Setelah beberapa puluh menit terbengong-bengong  mendengar penjelasan pak prof tentang cara membuat grafik berdasarkan model sistem yang kita buat (langsung diperagakan dengan software tertentu), akhirnya dengan lega saya mendengarkan penjelasan aplikasi teori sistem itu dalam menganalisis masalah. Nah, kalau begini sih saya seneng banget. Tapi kalau sudah disuruh bikin model dan grafik secara digital, duh, nyerah deh.

Intinya begini, ketika kita mendapati sebuah masalah, misalnya masalah banjir, bagaimana kita menganalisisnya? Mungkin kita berhenti pada pembahasan parsial: masyarakat ga tertib buang sampah, pemerintah ga becus menangani pembuatan drainase, dll. Tapi, dengan berpikir sistemik, banjir akan terlihat sebagai satu bagian saja dari berbagai problem lain, misal krisis epistemologi, krisis kapitalisme, dll. Lalu, kita bisa membuat ‘model’ dari berbagai masalah itu sehingga terlihat bahwa banjir itu problem yang interdependen (saling terkait) dengan problem2 lain; dan nanti akan keliatan sumber utamanya di mana,misalnya di metodologi. Dst.

Nah, sang prof kemudian menceritakan betapa sistem sudah sedemikian kuat dibangun di Jepang. Dia cerita suatu saat ingiiin sekali membawa anak-anaknya ke Jepang supaya mereka bisa melihat dan merasakan langsung sistem di sana. Akhirnya mereka dapat tiket sangat murah dari Air Asia dan berangkat ke Jpg. Anak-anaknya dengan antuasias memperhatikan banyak hal yang tersistem baik, misalnya: mereka sampai di stasiun A pukul 7 pagi; padahal check in di hotel baru bisa jam 4 sore. Padahal, mereka masih ingin jalan-jalan ke kota B. Lalu koper-koper harus ditaruh dimana? Masa ditenteng ke kota B, lalu nanti sore balik lagi ke kota A? Eh, ternyata ada locker di stasiun itu, dengan ukuran berbeda-beda, ada yang bisa muat tas kecil, ada yang besaaar. Tak ada penjaga loker. Untuk bisa membuka loker, harus masukkan uang koin. Ketika tak ada koin, bisa tukar uang kertas di mesin penukar uang. Lalu ketika beli karcis, juga tak ada penjaga loket, semua menggunakan mesin. Di kereta, juga tak ada petugas kereta yang nanyain karcis ke tiap penumpang. Lalu anak sang profesor nyeletuk, “Kalau gak ditanyai tiketnya, kan kita bisa beli tiket anak-anak aja ya. biar murah, toh ga ketauan?”

Jawab sang profesor: nah, itulah bedanya orang Jepang dengan masyarakat kita. Orang Jepang sudah tahu bahwa tiket yang mereka bayar dengan jujur akan kembali manfaatnya kepada mereka sendiri dalam bentuk fasilitas yang nyaman.

Nah inilah yang dimaksud berpikir sistemik itu: mampu melihat segala sesuatunya interdependen. Bahwa kalau buang sampah sembarangan selembar plastik kecil saja, efeknya akan sangat besar. Bahwa menyerobot antrian itu ada efeknya, misalnya, ada orang dalam antrian itu yang gak kebagian karcis, terlambat pulang, anaknya di rumah kelaparan karena ibunya pulang telat, lalu sakit, lalu bla..bla.. Berpikir sistemik tidak berhenti pada ego pribadi dan mengira bahwa yang dilakukannya hanya berdampak pada dirinya saja.

Dalam perjalanan pulang dari kampus, saya pun mulai mikir-mikir berbagai rencana. Sepertinya saya harus meniru prof itu: mulai mantengin Air Asia supaya dapat tiket super murah dan mengajak anak-anak saya jalan-jalan ke berbagai negara untuk memperluas wawasan mereka. Dan kalau suami saya yang selalu sibuk itu menolak, fine, saya jalan sama anak-anak aja deh. Hm, tujuan pertama kemana ya? Mungkin Singapura dulu deh… trus.. trus…*gagal fokus* 😀

Advertisements

One thought on “Berpikir Sistemik

  1. owhh.. keren banget mbak.. berarti ini yang lupa diajarin di sekolah ya… berpikir sistemik! padahal kalau sejak dini diajarin, gak akan carut marut nih negara.. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s