Mbak Ning, In Memoriam

Hari ini, sejak pagi, pikiran saya dikacaukan oleh banyak hal. Dan tiba-tiba Bunda Rosmadewi mengirim SMS, mengabarkan kepergian mbak Ning Surachman, sahabat FB kami. Lalu barusan saya membuka FB mbak Ning, dan juga timeline saya… subhanallah, banyak sekali yang menulis status tentangnya; kenangan atas kebaikan-kebaikannya…

Ternyata, mbak Ning sangat dekat di hati banyak orang, meski sepertinya mereka pun seperti saya, ‘hanya’ berkenalan via FB. Dia dengan setia memberi komen, atau minimalnya like pada hampir setiap status saya; dan bahkan ‘hafal’ dengan cerita-cerita saya. Suatu saat, dia posting kutipan kalimat dari buku Inferno (Dan Brown), saya lupa persisnya, tapi intinya adalah: ketika kebenaran dan kesalahan sudah terlihat jelas; maka bersikap netral adalah kejahatan.

Kamipun berbalas komen, antara lain, Mbak Ning menanyakan kabar anak saya Kirana dan bertanya, apa Kirana sudah jadi membaca buku Da Vinci Code? Luar biasa, mbak Ning ingat cerita saya, di status saya dulu, entah kapan, tentang upaya saya mengontrol buku bacaan anak saya; di komen-komen terdiskusikan buku Dan Brown dan saya ceritakan bahwa Kirana sangat ingin membacanya, tetapi belum saya izinkan; semata-mata karena saya belum punya waktu luang untuk membacanya (saya harus baca dulu, menyensor bagian yang kurang cocok untuk anak, baru saya berikan pada Kirana).

Saya jawab, “Belum.” Mbak Ning spontan menyatakan akan mengirim buku itu untuk Kirana. Dan memang buku itu sampai beberapa hari kemudian, dikirim via pos. Saya pun ‘terpaksa’ membaca buku itu secara cepat, dan menemukan ada bagian yang memang perlu saya selotip, baru kemudian saya serahkan kepada Kirana yang membacanya dengan antusias. Kirana membalas kebaikan mbak Ning dengan mengirim buku karyanya, Adventure in Flower City, yang berisi cerita traveling keliling Bandung. Setelah membacanya, Mbak Ning mengirim sms, memuji tulisan Kirana dan menyatakan ingin jalan-jalan ke Bandung mengikuti rute yang ditulis di buku Kirana. Dan itulah SMS terakhirnya untuk saya.

Dan rupanya, saya baca dari berbagai status duka-cita teman-teman mbak Ning di FB, demikianlah Mbak Ning memperlakukan teman-teman FB-nya. Dia selalu penuh perhatian dan sangat peduli. Tak heran bila sedemikian banyak yang secara khusus menulis status tentangnya. Bunda Rosma, di smsnya bercerita bahwa dia menangis sejak pagi, saat mendapat kabar kepergian Mbak Ning. Rupanya mbak Ning sudah menyatakan akan ke Bandung untuk ketemu dengan Bunda Rosma (padahalΒ  mereka sama-sama hadir di launching buku saya, tapi tak saling bersua). Tapi takdir berkehendak lain.

Dan kehadiran mbak Ning adalah salah satu bentuk ‘keajaiban’ dunia maya bagi saya. Saya ‘lahir’ menjadi penulis adalah berkat aktif di dunia maya. Di sini saya juga menemukan banyak teman baru, orang Indonesia yang tinggal di berbagai kota/negara. Namun, dunia maya pula yang hampir ‘menghancurkan’ saya.

Suatu saat, dunia seperti terjungkir balik buat saya. Sebuah blog anonim di wordpress menaruh foto saya sekeluarga dengan judul ‘tokoh syiah Indonesia’; (bersama foto lima orang lainnya). Beberapa waktu kemudian, foto saya (kali ini sendirian) muncul lagi bersama foto lima orang lainnya di sebuah situs berita berlabel Islam yang selama ini terbukti sangat sering berbohong/memfitnah. Dan dengan segera, dan sangat masif, link berita itu diforward ke sana-sini. Caci-maki dilemparkan kepada saya, mulai dari kafir, sesat, sampai babi betina. Ratusan teman-teman FB saya meremove saya; (ratusan orang pengecut tidak berani remove, tapi unfollow). Tapi anehnya, yang antri meng-add saya di atas 1000 orang (sayangnya tidak bisa diconfirm karena kuota FB hanya 5000) dan follower saya membengkak jadi 3000 lebih.

Tak banyak yang tahu betapa saya sangat down. Saya bukan orang yang suka tampil di depan umum. Saya selalu merasa sebagai ibu RT biasa yang memang sehari-hari di rumah, tinggal di sebuah kampung yang kondisi jalannya sangat buruk dan menyedihkan, tiap hujan lebat jalanan di depan rumah saya akan menjelma sungai (dan terus-terang, ini membuat saya merasa sebagai orang yang sangat-sangat biasa). Tapi tiba-tiba saja saya menjadi orang ‘terkenal’, nama saya ramai dibicarakan di FB dan twitter, dan dengan konotasi negatif pula, dengan tambahan kalimat ‘layak dibakar hidup-hidup!’. Bahkan baru-baru ini spanduk besar dipampang di pinggir jalan di sebuah kota di Jateng, dengan judul “Syiah Bukan Islam” dan foto saya ada di spanduk itu! 😦

Semua tulisan saya masih tersimpan rapi di dua blog saya, blog ini dan blog Kajian Timur Tengah. Tak ada satupun tulisan saya yang mendiskreditkan sahabat, menuhankan Ali, atau apapun yang dituduhkan kepada Syiah.Β  Saya menulis tentang Iran sejak tahun 2005 di blog dan media massa. Bahkan saya menulis dua buku tentang Iran, Ahmadinejad on Palestine dan Journey to Iran. Tak pernah ada masalah sebelumnya menimpa saya. Juga, tak ada yang aneh bila saya menulis tentang Iran. Betapa banyak orang yang tinggal di Eropa, Jepang, atau Amerika yang menulis artikel/buku tentang negara yang mereka tinggali? Dalam tulisan-tulisan saya, saya hanya menceritakan apa yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri selama di Iran, bahwa orang Syiah Iran tidak ‘sesat’ sebagaimana yang dituduhkan (Quran mereka sama dengan Quran sunni; saya tak pernah sekalipun mendengar mereka melaknat sahabat -saya kadang sholat di masjid dekat rumah saya di Teheran, jadi saya cukup gaul juga dengan warga- mereka menuhankan Allah, bukan Ali, dst.)

Apalagi, saya memang sudah memilih ‘karir’ untuk jadi analis politik Timur Tengah; bagaimana mungkin tidak menyertakan Iran dalam analisis saya? Chossudovsky, Escobar, Phelan, Nazemroaya, Meyssan, Barret, Petras, dan para analis politik bule -entah apa agamanya, sepertinya non-muslim- juga menulis analisis senada dengan saya (dan saya memang sering belajar dari analisis-analisis mereka).

Lalu mengapa caci-maki terhadap saya itu muncul belakangan? Menurut analisis saya pribadi, ini semua gara-gara saya membongkar masalah Suriah; yang ternyata (tanpa saya sadari sebelumnya) sangat ‘melukai’ perasaan kelompok-kelompok pendukung pemberontak (yang mengaku mujahidin) Suriah. Kalau kata suami saya, tulisan saya tentang Suriah tepat ke jantung masalah dan membongkar apa yang selama ini ditutup-tutupi media mainstream. (Padahal inti analisis saya sebenarnya sama saja dengan yang ditulis analis bule – independen, seperti Chossudovsky, Nazemroaya, Meyssan, atau Barret)

Lalu, tibalah hari itu, tanggal 3 Juli 2013. Hari itu acara launching buku saya, Prahara Suriah, yang saya selesaikan dalam kondisi tertekan. Sejak saya menulis tentang Suriah, saya memang sering diintimidasi (yang puncaknya adalah berita ‘penobatan’ saya sebagai tokoh Syiah itu). Dan sejak itu berbagai masalah muncul, tak perlulah berpanjang-panjang diceritakan di sini. Yang jelas, sepekan sebelum acara saya, Dr Joserizal membuat acara diskusi Suriah, dan mendapat intimidasi dari orang-orang takfiri. Ini membuat saya khawatir. (Dr. Jose bukan penulis politik seperti saya. ‘Dosa’-nya hanya satu: menolak mengirim relawan ke Suriah dan menyebut konflik Suriah sebenarnya adalah agenda Israel yang menggunakan tangan umat muslim sendiri. Atas ‘dosa’ ini, Dr Jose juga dituduh Syiah).

Saya berangkat ke Jakarta ditemani suami, dengan perasaan kacau balau. Di jalan, tiba-tiba sekretaris Dr Joserizal, salah satu narasumber launching buku saya, menelpon dan mengabari bahwa Dr Jose tidak bisa hadir. Perasaan saya tambah kacau. Saya merasa ‘ditinggal’.

Dan saya mulai bicara dengan kepala blank. Untung saja saya masih bisa bicara. Tapi saya hanya sedikit bicara. Saat para pembicara lain yang berkenan hadir, Bpk Agus Nizami (blogger yang sangat-sangat aktif berdakwah lewat blognya),Β  Bpk Very Aziz (dosen HI Paramadina), dan Prof Abdul Hadi WM memaparkan pendapat mereka; ditambah dengan wakil Dubes Suriah yang juga hadir memberi sambutan; pelan-pelan suasana hati saya mulai membaik.

Dan ketika acara ditutup, Mbak Ning pun mendekati saya. Inilah pertama kalinya kami bertemu. Sosoknya mungil, wajahnya ayu, sikapnya sangat tenang.

dina-ning

ki-ka: dina-ning

Kami tak banyak bicara, karena banyak orang yang mengerumuni saya waktu itu. Tapi hadir dan senyumnya menenangkan hati saya. Bunda Rosma dan Uni Yonita juga datang dan memberi pelukan, membuat saya semakin tenang.

Kelak, dalam komen-komen di FB, mbak Ning cerita bahwa dia bisa menangkap kegundahan saya saat acara launching itu. Dengan komen-komennya yang menenangkan, dia selalu memberi dukungan pada saya. Dia kutipkan kalimat Dan Brown itu, bahwa ketika kebatilan-kebenaran sudah tampak bedanya, bersikap netral adalah kejahatan.

Sebagai analis politik Timteng, wajar bila saya lebih cepat menangkap situasi (karena memang saya consern di sini) dan pengetahuan saya tentu saja jauh berbeda dari mereka yang hanya membaca info sepotong-sepotong dari status FB atau analisis media takfiri. Saya sejak akhir 2011 sudah menulis, ada keterlibatan AS dan Israel dalam kekacauan Suriah, dan baru akhir-akhir ini fakta ini semakin terang-benderang. Tapi inipun sampai sekarang masih ditutup-tutupi oleh media-media takfiri. Di hadapan orang-orang takfiri (dan sayangnya banyak juga orang Indonesia yang begini, indikasinya terlihat dari betapa info-info bohong soal Suriah dengan cepat di-like dan di-share oleh ratusan bahkan ribuan orang) ini, apapun data dan argumen yang diberikan, selama analisis yang kita tulis tidak berpihak pada “mujahidin”, maka komen mereka tetap satu: syiah lu!

Tapi untungnya saya bisa bangkit dari rasa down itu dan tetap menulis analisis Timteng (meski akhir-akhir ini jarang karena ruwet ngurusin proposal disertasi). Banyak alasannya, salah satunya adalah karena saya punya teman-teman yang menyemangati saya. Mereka saya kenal via FB/blog. Jadi, meski saya “habis-habisan” dibully di FB/twitter (dan dalam kondisi begini ‘seharusnya’ seorang perempuan biasa seperti saya akan menangis, deactivate FB, lalu mogok menulis),Β  di saat yang sama saya menemukan teman-teman setia. Dan salah satunya, mbak Ning.

Selamat jalan Mbak.

😦

Advertisements

13 thoughts on “Mbak Ning, In Memoriam

  1. Turut berduka cita atas kepergian mbak ning 😦 semoga seluruh amal ibadahnya diterima disisi Allah…amienn!
    Buat bu dina tetap semangat nulisnya πŸ™‚ meski puluhan org diluar sana trus menfitnah tp masih ada ribuan org juga yg masih trus menanti tulisan2 bu yg luar biasa dan terus mendukung bu dina πŸ™‚

  2. Sy di antara yg mengikuti tuliusan ibu di dunia maya akhir-akhir ini. Semangat terus bu, kita mendukung sepenuhnya. Dan selalu menunggu gagasan ibu. Selamt jalan jug buat mbak Ning,,,smg

  3. salam kenal mbak Dina.

    Prihatin saya untuk orang-orang yang mudah menghakimi sesuatu yg sesungguhnya mereka sendiri tak pasti mengetahui. Betapa mudahnya orang2 dibuat saling membenci. saya bersedih untuk umat Nabi yg sangat pengasih.
    Mb Dina, saya tak menyangka proses kreatif menulis bisa berakibat begitu besar, mgkn karena selama ini saya menulis hanya hal2 yg biasa,Tapi saya yakin, apa yg kita tulis akan tetap bermanfaat.Para pembaca tulisan mb Dina datang dgn paradigmanya sendiri2, biarlah Allah sendiri yg memilah.

    Turut berduka juga atas wafatnya mbak Ning, orang yg baik terlihat di akhir hayatnya. Semoga beliau mendapat kebahagiaan sejati kini bersama Rabbnya. Aamiin.

  4. Selamat jalan bu Ning, Smoga Allah menerima amal ibadahnya dan dosa-dosanya di ampuni Allah…Amin.

    Salam, Bu Dina teruslah berkarya dan sukses selalu….

  5. Selamat jalan Bu Ning. Imam Ma’sumin tersenyum menyambut kepulanganmu ke haribaan Allah Swt. Semoga Dia mengampuni dosa-dosamu. Menerima amal ibadahmu. Menjadikan kuburmu bagian dari Taman-taman Surga-Nya.

  6. Bagaimana mungkin tulisan-tulisan yang memberikan pencerahan akan dihentikan, tegakah membiarkan masyarakat hanya akan mengkonsumsi info-info rekayasa yang menyesatkan. Mbak,………..bukankah pena ilmuwan( yang mencerahkan) itu lebih mulia dari darah syuhada. Turut berduka cita atas wafatnya mbak Ning, semoga Allah meridhainya. Amiin.

  7. terus berkarya Bu Dina,karena bu Dina wawasan saya jd lbh luas dan lebih tau isi Iran yg dulunya saya pikir negatif saja,saya pernah langsung meremove teman fb yg terang2an menuduh dan menyesatkan Bu Dina
    semangat!

  8. walau belum sempat berteman dengan almarhumah mbak Ning di FB, tapi saya sering melihat komentar beliau muncul atas status teman. komentar beliau lewat kalimat singkat berupa nada bertanya dan pernyataan. ternyata masa pengabdiannya di dunia ini “sesingkat” komentarnya yang teduh. selamat jalan mbak Ning Surachman menuju Kekasih Kecintaan Sejati, semoga Nabi Suci Muhammad saw beserta keluarganya menjemputmu dan mengulurkan tangan kasih sayangnya. al fatihah ma’a shalawat 😦

  9. Terus menulis ya Mbak Dina πŸ™‚ saya silent reader sejak di multiply, dan saat itu senang sekali membaca tulisan Mbak Dina (atau teh dina ya?) tentang kehidupan sehari-hari di Iran..

    Makin ke sini saya makin kagum dengan kegigihan Mbak Dina untuk meneruskan pendidikan sampai S3.. wow! keren banget… pasti pinter pisan Mbak Dina teh ya… heheheh.. gak kayak saya yang pemalesan..

    Saya juga sempat baca tentang Mbak Dina yang kabarnya salah satu tokoh syiah di Indonesia πŸ˜€ which is I don’t care if it’s right.. karena yang saya ambil dari apa yang saya baca dari postingan-postingan Mbak Dina, seperti parenting dsb, lebih banyak manfaatnya…

    Jadi terus nulis ya Mbak… πŸ™‚ kapan-kapan ketemuan dong, saya sudah pindah ke Bandung bulan ini setelah sebelumnya 9 tahun di Jakarta πŸ™‚

  10. Selamat Jalan Mbk Ning…

    Dan tetap Semangat untuk Bu Dina… Allah akan selalu melindungi dan menyertai Bu Dina sekeluarga.
    Saya salah satu orang yang beruntung krn mengikuti kuliah Parenting Bu Dina
    Syukron Jazillan atas banyak masukan pencerahannya…

    Fatihah ma’a shalawat…. Allahumma saali ala Muhammad wa aali Muhammad

  11. Semangat mbak dina.. sebenarnya saya tau mbak dina dr orang2 yang bilang sesat, penasaran saya ikutin tulisan2 mbak dina, sampe sekarang malah sy jadi bersimpati..
    Salam kenal,
    Jajat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s