[Parenting] Better Late than Early?

Di sebuah TK, pernah ada seorang ibu yang marah-marah kepada anaknya yang nempel terus, dan tak mau ditinggal. Dia mungkin memakai standar: anak lain bisa ditinggal di TK, kenapa anak saya tidak? Saya jadi ingat, dulu, waktu Kirana masih balita, saya juga pernah kesaaal… sekali padanya. Pasalnya, dia selalu menangis saat saya tinggal di penitipan anak sementara saya kuliah (waktu itu saya masih di Iran). Setelah berlalu seminggu, dan selama seminggu itu dia nangis terus berjam-jam, akhirnya sakit, dan saya memutuskan berhenti kuliah. Saya benar-benar kesal dan merasa ‘tidak beruntung’. Mengapa anak-anak orang baik-baik saja di penitipan? Mengapa anak saya tidak?

Waktu Reza kecil, kejadian yang sama terulang. Dia sama sekali tidak mau ditinggal di TK-nya Jadi saya memang benar-benar menungguinya di TK, benar-benar duduk di sampingnya selama hampir dua tahun. Kalau dulu Rana usia 3 tahun akhirnya ‘normal’, mau dititipkan di penitipan anak (waktu itu saya dapat kerjaan sebagai jurnalis di Iran Broadcasting) dan bisa bergaul dengan baik dengan teman-temannya yang sebagian besarnya orang Iran. Kalau Reza… oh no.. sampai usia 6 tahun pun masih nempel ke saya. Bahkan dia menolak keras untuk masuk ke SD. Saya pun baca-baca buku soal homeschooling (HS), berdiskusi dengan beberapa teman, dan akhirnya Reza ber-HS.

Bukan hanya ‘lambat’ dari sisi kemandirian. Reza juga lambat dari sisi kemauan untuk membaca, menghafal Quran, dll. Intinya, dia menolak belajar membaca (termasuk Iqra), setelah dibujuk-bujuk, baru mau memperhatikan, tapi cuma sebentar. Untungnya saya menghadapi perilaku Reza ini setelah kenal ilmu parenting dan sudah banyak membaca buku-buku pendidikan anak. Jadi engga terlalu panik.

Suatu saat saya mengeluhkan perilaku Reza ini ke teman saya (lho, tetep ngeluh ya..? ya iyalah.. saya ini perempuan biasa kok..hahaha.. wajar banget deh ibu-ibu curhat dan galaw), dia mengenalkan istilah ‘better late than early’… lebih baik lambat daripada kecepetan. Saya pun mulai browsing-browsing. Ternyata ini konsep yang diperkenalkan oleh seorang penulis AS bernama Moore. Bisa browsing sendiri deh, gimana jelasnya. 

Yang ingin saya ceritakan adalah bahwa kalimat itu (better late than early) semakin mensugesti saya untuk mengubah mindset : saya tidak membanding-bandingkan anak saya dengan yang lain, juga dengan kakaknya. Setiap anak punya kecepatan dan kesiapannya sendiri. Dan ternyata lambat-laun terbukti, berbagai kekhawatiran saya sebenarnya justru muncul ketika membandingkan dengan anak lain.

Misalnya, kenapa saya kesal saat Reza nempel sama saya di TK-nya? Tentu saja, karena saya lihat anak lain nyantai-nyantai aja ketika jauh dari ibunya. Padahal, sebenarnya, kalau baca tulisannya Moore (saya belum baca bukunya, hanya baca-baca artikel lepas di internet), memang sangat wajar kok kalau anak kecil nempel pada ibunya. Ada anak yang cepat mandiri, ada yang tidak. Ya sudah, nikmati saja.

Lalu, mengapa saya sempat khawatir saat Reza (dulu) tak mau membaca? Karena saya bandingkan dia dengan kakaknya yang usia 4 tahun sudah bisa baca latin (Indonesia) dan Iqra, sekaligus bisa bahasa Persia. Padahal saya kurang apa ya..? Sejak dia bayi, di sekelilingnya ada buku; ortunya gemar membaca, kakaknya juga. Di rumah kami yang mungil, di setiap sudut ada buku.

Mengapa Reza (dulu) tak mau menghafal Quran? Padahal sejak bayi sudah dikenalkan metode Rumah Qurani, sejak kecil sudah ikut gabung dengan dalam klub tahfiz keluarga kami (tapi prakteknya: kakak dan sepupu2nya ngapalin Quran, dia main di luar :D).  Sepupunya sudah sangat banyak hafalannya, sementara dia masih Al Ikhlas melulu.

Belum lagi urusan naik sepeda: anak lain sudah lancar, ini mencoba pun tidak. Kenapa dia penakut dan nggak mau gaul sama orang lain (kecuali kalau sudah lama kenal), padahal sepupunya berani banget dan pintar bergaul? Bla..bla.. pokoknya kalau membandingkan dengan anak lain, emang ibu-ibu malah jadi resah.

Nah, saya selama ini selalu berusaha menanamkan mindset ke diri sendiri: biarlah Reza berkembang sesuai kecepatannya sendiri. Alhamdulillah, sampai hari ini saya mendapati bahwa semua kekhawatiran saya itu tidak beralasan.

Ketika sudah tiba masanya (kadang disebut ‘a-ha moment’), kemampuan-kemampuan itu muncul sendiri kok. Misalnya, Reza akhirnya mau membaca pada usia 6 tahun. Dan sekarang (usia 7 tahun), dia sangat kutu buku, lebih kutu buku dibanding kakaknya. Dia bahkan ingat dengan detil buku yang disukainya, lalu mampu menceritakan ulang dan mengomentari/mengkritisi beberapa bagiannya. Saya ingat, suatu hari kami ke Gramedia dan membeli buku. Sejak di angkot, sampai di atas kereta, dia terus membaca sampai diliatin orang-orang. Saya pelanggan kereta, dan selama ini belum pernah liat anak seusia Reza asyik membaca di kereta.

Lalu, akhirnya, baru-baru ini, dia pun menunjukkan antusiasme untuk menghafal Quran dan hafalannya mulai banyak, mencapai 10 surat pendek (jangan bandingin sama anak orang yang udah 10 juz, hehe :D). Lalu, berani naik sepeda, dan bahkan sudah bisa dimintai tolong ke warung yang agak jauh. Kepercayaan dirinya juga tumbuh baik: mulai mudah bergaul dengan orang lain (ibu tetangga dengan takjub cerita bahwa Reza sekarang mau ngobrol panjang lebar dengannya, hehehe.. dulu kan dieeeem.. aja). Terakhir, yang membuat saya terharu banget, dia berhasil mengatasi ketakutannya dan main ice-skating tanpa putus asa, meski berulang kali terjatuh (dan dua pekan lalu, saat kembali ber-ice-skating, ternyata kemajuannya sangat pesat, sudah jarang jatuh).

ice skating

Apa sudah sempurna? Tentu saja belum. Masih banyak ‘kekurangan’-nya yang lain. Apalagi kalau saya membandingkan dengan anak-anak lain yang (keliatan) ‘wah’ itu. Untungnya, saya sudah lama (berusaha) berhenti membandingkan (artinya: kadang-kadang membanding-bandingkan juga sih..kadang-kadang minder juga sih.. wajarlah kalau terjadi demikian; yang penting segera saja kembali ke akal sehat :D).

Jadi, kalau teman-teman membaca cerita-cerita saya tentang anak-anak saya yang keliatannya keren (misalnya, Rana yang jadi penulis cilik), tak perlulah terpesona. Yakinlah bahwa setiap anak punya kelemahan dan kelebihan. Tugas kita adalah mendorong potensi-potensi baik  yang dimiliki anak agar berkembang pada waktunya: bisa cepat, bisa lambat. Ikuti saja ‘kecepatan’ anak. Mereka punya waktunya masing-masing.

Dari perspektif ini, saya cocok banget dengan istilah ‘better late than early’ ini. Memang ada anak-anak yang cepat kemajuannya, mereka anak-anak istimewa yang sah-sah saja dikagumi. Tapi jangan paksa anak kita maju melebihi kecepatan yang dimilikinya, karena nantinya malah jadi ‘anak karbitan’.

(Silahkan baca tulisan bagus-terkenal ini, karena sudah sering sekali di-share ulang: Anak-anak Karbitan)

NB: kadang yang suka banding2in anak itu justru ortu, mertua, ipar, dll. Nah, sikapi dengan bijaksana, ‘lawan’ dengan baik. Kalau di depan umum mereka bilang, “Kok anakmu belum bisa baca… itu si Amat udah…”. Jawab aja dengan nyantai, “Ah, biarinlah, ntar juga bisa. Tapi alhamdulillah, kalau main lego, dia jago banget lho!” 😀 Jangan biarkan anak kita jadi minder saking seringnya dikritik orang (dan orang Indonesia kayaknya emang hobi ngritik ya…).

Advertisements

4 thoughts on “[Parenting] Better Late than Early?

  1. Aku pun sedang menghadapi itu, Din meskipun kasusnya berbeda. Tapiiii … teuteup aku fokus sama K dan biarkan orang lain bilang apa. Dan yang penting lagiii aku punya Dina yang menginspirasiku untuk banyak hal. (Alhamdulillah… pagi-pagi langsung dapet sarapan yang nikmat he he 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s