Kisah Mawar Biru

Suatu hari, saat pulang kuliah saya melewati seorang ibu penjual bunga. Sejak lama saya memperhatikan para penjual bunga di pinggiran jalan Dago itu. Dan sejak lama pula saya sudah jatuh hati pada mawar berwarna biru. Jadi hari itu, karena tak tergesa, saya sempatkan berhenti sejenak dan membeli sekuntum mawar biru. Saya ingin menghadiahkannya untuk suami saya. Dia bukan tipe romantis, dan saya sudah lama membuang harapan bahwa dia akan menghadiahi saya bunga. Tapi, saya pikir, lebih baik saya yang pro-aktif, ya kan?

Saat saya serahkan mawar itu, dia menatap dengan heran dan hanya berkata, “Buat papa? Oooh…”  Sama sekali tak ada tatapan mesra atau ucapan terimakasih. Bagaimana perasaan saya? Tentu saja sakit hati. Dan saat saya kecewa atau sakit hati, semua orang yang menatap saya akan segera bisa mengetahuinya. Saya memang bukan jenis orang yang bisa menutup rapat-rapat perasaan. Senang atau sedih, biasanya akan langsung terlihat di wajah saya. Begitupun suami saya, dengan heran bertanya, “Mama kok cemberut?”

Ya’ela.. ya iyalah gw cemberut! teriak saya dalam hati. Tapi saya diam saja.  Setelah kejadian itu, begitu banyak urusan kami, dan ada banyak orang di sekitar kami, jadi tak ada waktu buat bicara serius. Sampai suatu pagi, muncul sms romantis darinya (cuma satu baris, huh, jadi saya pikir tidak terlalu memenuhi syarat untuk dikategorikan romantis), dan saya jawab dengan satu kata ‘thanks’. Saya sedang tidak berselera romantis-romantisan. Masih sakit hati.

Lalu, hari itu juga saya bertemu dengan seorang perempuan. Dengan berlinangan air mata dia menceritakan perilaku suaminya yang berpoligami dengan perempuan  yang selama ini track record-nya buruk, suka menggoda suami orang. Saya tidak anti poligami ya (bagaimana bisa anti pada sesuatu yang dibolehkan Quran?). Tapi kalau diawali dengan kebohongan, pengkhianatan, dan berlanjut dengan KDRT terhadap istri pertama, baik verbal maupun fisik, apa ini poligami yang benar?  Saya semalaman resah memikirkan masalah ini. Saat sholat, dengan berlinangan air mata mendoakan perempuan itu, dan mendoakan pernikahan saya sendiri.

Tragedi mawar biru seharga lima ribu perak yang saya beli di pinggir jalan itu, terasa seperti setetes kecil masalah yang seharusnya segera menguap dalam hitungan detik; bila dibandingkan dengan badai besar yang menimpa perempuan itu.

Dan, mawar biru itu pun saya lempar saja ke tong sampah. Sebelumnya, saya tatap bunga yang sudah mulai layu itu. Kirana menaruhnya di sebuah botol bekas sirup. Saya tertawa sendiri. Bahkan di rumah kami tidak ada vas bunga satupun. Dan selain si mawar-biru-hampir-layu-ini, tidak ada sekuntum bunga pun di dalam rumah kami. Hey,  kamu juga ternyata bukan perempuan romantis! kata hati saya.

mawarbiru

si mawar biru di tempat sampah

Ehm, baiklah. Mari kita redefinisi keromantisan. John Gottman dalam bukunya The Seven Principles for Making Marriage Work hlm 81 menulis:

..turning toward your spouse in the little ways is also the key to long-lasting romance. Many people think that the secret to reconnecting with their partner is a candlelit dinner or a by-the-sea vacation. But the real secret is to turn toward each other in little ways every day.

Maksudnya, kunci menumbuhkan romantis yang ‘abadi’ itu justru dengan memperhatikan hal-hal ‘kecil’ dari pasangan kita setiap hari; bukan dengan candlelit dinner, liburan mahal, atau setangkai mawar biru (ehm). Jadi, sesungguhnya suamiku itu romantis dengan kesetiaannya membuatkan jus tiap pagi, mengantar-jemput saya ke sana-sini, membantu cuci piring, membiarkan saya berjam-jam membaca novel.. dst. Dan sebaliknya, saya juga musti melakukan hal-hal ‘kecil’ yang disukai suami.. misalnya, instead of memberikan bunga biru yang baginya tak ada maknanya, lebih baik saya mengurangi sikap ngambekan saya yang membuat dia pusing; lebih ‘tahu diri’ saat membaca novel (sehingga tidak mencuekinya selama belasan jam), lebih banyak tertawa bersamanya (dan mengurangi kritik/omelan), dst.

Ya..ya.. saya akan kembali sadar untuk memperhatikan satu demi satu kebaikan hati suami saya. Justru saya yang bodoh, sudah tahu punya suami orang Indonesia super asli, yang tidak terbiasa dengan bunga atau keromantisan ala novel-novel orang bule, mengapa saya gaya-gayaan beli bunga?

Nanti ya, bersambung deh. Bukunya John Gottman ini asyik banget. Kapan-kapan saya bahas lagi kutipannya.

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Mawar Biru

  1. Bukan senyum simpul lagi baca ini, senyum lebar bngt,, krn pernah ky gini juga, meski bukan krn mawar biru,, 🙂 so sweet deh.. kl sy baca novel berjam-jam pasti udh diprotes..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s