[Parenting] Andy Garcia & Little Brother Complex

andyKemarin sore di kawasan sekitar kampus Jatinangor, tak sengaja saya melihat DVD (bajakan *glek*) film Middleton, dibintangi oleh Andy Garcia. Saya belum pernah mendengar film itu, juga belum pernah baca reviewnya. Tapi saya tetap membeli dan menonton DVD itu, semata-mata karena dibintangi Andy Garcia. Dulu, waktu ABG, saya sempat tergila-gila pada Andy, bahkan saya beli posternya, ditempel di dinding; memfotokopinya dan saya jadikan sampul buku. Padahal, saya tak mengikuti filmnya (satu-satunya film yang dibintangi Andy, yang saya tonton, adalah the Godfather). Dulu juga tidak ada internet yang bisa memudahkan saya melacak ‘jejak’-nya. Entahlah, waktu itu saya jatuh cinta begitu saja. Aneh banget.

Lalu semua itu hilang (yah, namanya juga ABG). Sampai sore kemarin. Andy sekarang jauh lebih memesona. Pokoknya wow deh, xixixi. Isi fimnya emang seru, lucu, dan mengharukan, (sampai 2x saya tonton). Tapi secara umum saya tidak merekomendasikan film itu karena banyak bagian di film ini yang nggak ‘bener’ (dari sisi nilai; dengan standar Islam). Meski, ada hal-hal yang berhasil membuat saya merenung.

Pertama, tentang hubungan George (diperankan Andy) dan Edith (diperankan Vera Farmiga). Masing-masing sudah menikah, lalu saling jatuh cinta. Rupanya, pernikahan masing-masing sudah sampai tahap ‘jenuh’. Memang akhirnya mereka kembali ke keluarga masing-masing. Tapi apakah semudah itu? Entah buat laki-laki. Tapi buat perempuan, selingkuh hati itu malah membawa rasa sakit dan sulit sekali menyembuhkannya. Saya pernah nulis sedikit di sini. Hikmahnya, pasutri musti waspada dan melakukan berbagai hal supaya pernikahannya nggak sampai ke tahap jenuh itu.

Kedua, George (Andy) menyebut kata ‘little brother complex’ yang ‘selalu ingin membuat bangga ayahnya’. Rupanya George sebenarnya tidak terlalu berminat jadi dokter tapi dia ingin membuat bangga ayahnya. Dan itulah sepertinya yang membuat George tidak terlalu menikmati hidupnya.

Waduh, kok pas banget. Saya memang lama memikirkan masalah ini, berkaitan dengan Reza. Saya sudah browsing istilah ‘little brother complex’ ini, ada beberapa versi penjelasan. Tapi secara umum, saya memaknainya sebagai ‘keinginan seorang adik untuk menyaingi kakaknya’. Si kakak yang hebat dan cemerlang, akan jadi kebanggaan ortu. Tapi bagaimana bila si adik ‘biasa-biasa saja’? Dia akan berusaha tampil hebat juga, meski mungkin melawan kehendak hatinya sendiri, supaya ortunya juga bangga padanya.

Hiks, saya mendeteksi ada problem seperti ini yang melanda Reza. Kakaknya, Kirana, alhamdulillah sejauh ini banyak prestasi. Juara sekolah, penulis buku, punya uang cukup banyak dari royalti buku, berkali-kali tampil untuk roadshow buku KKPK, pintar main piano dan biola, tampil di beberapa konser musik. Reza adalah fans nomer satu kakaknya. Dia sangat antusias membaca buku kakaknya, dan sangat antusias menunggu-nunggu jadwal konser kakaknya. Saat konser, dia duduk paling depan, siap-siap merekam penampilan kakak.

Tapi, sesekali terlontar ucapan sedih dari Reza, “Aku satu-satunya di rumah ini yang belum punya piala ya?” (di rak kami ada beberapa piala Rana dan piagam milik saya dan suami) atau “Aku juga pingin punya uang sendiri. Bagaimana kalau aku jualan aja?” atau “Aku juga ingin nulis buku kayak kakak” (dan beneran dia hingga kini berusaha menulis buku, tapi sudah berbulan-bulan belum selesai juga). Dan terakhir, dia ngotot ingin les biola juga. Padahal, Reza itu sepertinya menuruni bakat saya, yaitu: tidak cerdas musik. Kami bisa sangat menikmati musik, tapi tidak sampai ke tahap ‘cerdas musik’. Rana dan papa-nya lah yang cerdas musik. Mereka sangat nyambung saat mendiskusikan berbagai hal ‘tinggi’ tentang musik (saya sebut ‘tinggi’, karena saya benar-benar ga paham mereka ngobrolin apa).

Sungguh ini alarm yang harus saya waspadai. Duh, padahal rasanya saya –dan suami— berusaha sesantai mungkin menghadapi Reza, tidak membanding-bandingkan dengan kakaknya, selalu berusaha membesarkan hatinya. Kami selalu menyebutkan berbagai kelebihan yang dimiliki Reza: dia pembaca yang sangat kritis (saya sering menyebutnya ‘editor cilik’) dan mampu menceritakan ulang isi buku dengan caranya sendiri yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Tapi, mungkin ada hal-hal yang secara tidak sadar kami lakukan; atau bahasa tubuh kami yang memperlihatkan kebanggaan kami pada Rana, yang membuat Reza merasa kecil hati.

Apa yang harus dilakukan? Kalau saya ingat-ingat pelajaran parenting dari Bunda Rani, tentu saja saya harus memperbaiki cara bicara saya. Saya musti benar-benar menjauhi gaya bicara ‘membandingkan’ dan ‘mengkritik’. Selain itu, ketika Reza ngotot mau les biola, tidak ada jalan lain: saya harus biarkan dia les; saya tidak boleh mematahkan semangatnya, apalagi sampai memvonis ‘kamu ga bakal bisa!’ Ini bisa dimanfaatkan sebagai scaffolding (kerangka) untuk menumbuhkan sikap-sikap baik. Sangat mungkin dia akan sangat kesulitan mempelajari biola (karena konon ini memang alat musik tersulit, sangat mengandalkan kepekaan musik), tapi tekadnya untuk belajar biola bisa dimanfaatkan untuk melatih sikap kerja keras, pantang menyerah, disiplin, dll.  Bukankah kata Einstein, jenius itu 1% bakat dan sisanya 99% adalah kerja keras?

Saya benar-benar musti waspada. Saya tidak ingin kelak Reza seperti George (Andy), yang memilih bidang karir  ‘demi kebanggaan ortu’, bukan sesuatu yang benar-benar dia minati.

Thanks for reminding me, Andy…

NB: term little brother complex ternyata juga bisa diaplikasikan dalam menganalisis isu Hubungan Internasional lho, bisa dibaca di sini.

Advertisements

[Parenting] Anak-Anak yang Terdoktrin

rantiBarusan dapat forwardan dari temen, statusnya Alfathri Adlin, beliau ini pimpinan penerbit Matahari, yang menerbitkan buku In God We Trust karya Ranti Aryani, yang pernah sedikit saya ceritakan di sini.

Saya ‘tegang’ membaca tulisan Alfathri ini, bahkan ikut ‘perih’. Soalnya saya sudah baca buku yang sangat bagus itu. Selain itu, saya pun seorang penulis dan berkali-kali diundang bedah buku. Entah apa yang terjadi kalau saya dalam situasi yang dialami mbak Ranti. Etapi, pernah ding, sekali saya mengalami situasi yang mirip, meski tak separah itu. Bisa dibaca di sini. Pernah juga yang lebih ‘parah’: acara saya di sebuah kota dibatalkan karena orang-orang ‘itu’ mengintimidasi panitia (takut boroknya ketauan rupanya, sehingga mereka bekerja keras menghalangi saya mengungkap fakta apa yang sebenarnya terjadi di Suriah, dan apa efeknya bagi Indonesia).

Postingan ini kemungkinan tidak akan dibaca oleh orang-orang ‘itu’ dan sejenisnya. Jadi saya memang tidak meniatkan postingan ini buat mereka (apalagi berniat ‘menyadarkan’, wuih, jauuuh.. hanya Allah yang bisa kayaknya). Tapi, saya ingin mengajak para ibu yang masih ‘waras’, mari kita hindarkan anak-anak kita agar kelak jangan punya perilaku seperti yang diceritakan oleh Alfathri ini.  Kalau dianalisis dari perspektif parenting, perilaku anak-anak muda yang diceritakan di tulisan berikut ini sangat berkaitan dengan pola asuh orang tua.

Mari kita bekali anak-anak dengan sikap santun dan welas asih. Caranya? Beri teladan, saat mereka menyampaikan pendapat, tanggapi dengan baik, bukan diomeli atau diejek. Ketika mereka berbeda pendapat dengan kita, jangan marah, justru bangga: anakku sudah bisa berpikir dan mengungkapkan pendapat! Bayangkan dia kelak menjadi pemimpin, direktur, atau berbagai profesi lain yang keren, mampu menyampaikan pendapat dengan elegan dan jernih.

Dengan cara ini, kita mengajarkan bahwa berbeda pendapat boleh, tapi lakukan dengan elegan, dan tidak MEMAKSAKAN pendapat. Dan yang terpenting, kita wajib membesarkan anak-anak yang cerdas, bisa mikir yang bener, berani diskusi terbuka, dan gak mempan didoktrin yang “aneh-aneh” (baik doktrin relijius-salah-kaprah, atau doktrin soal narkoba, seks bebas, dll). Caranya? Waduh panjang, coba browsing lagi di blog ini, saya berkali-kali sudah nulis soal ini.

Alfathri Adlin menulis:

Saya sebenarnya merasa geram sekali dengan tingkah laku anak-anak muda yang mempercayai bahwa puncak capaian dalam beragama itu adalah terwujudnya negara teokrasi, hingga kini mereka pun gemar jualan omongan dan ideologi semacam itu di mana-mana, mirip tukang obat yang selalu ribut sendiri dan koar-koar mempromosikan obat gadungannya saat melihat keramaian. Dan hal seperti itu selalu mereka lakukan lagi dan lagi tanpa sadar bahwa mereka cuma dididik jadi beo pemancing keributan, bahkan hingga berani mencatut nama dan berbohong; tujuan menghalalkan cara.

Awalnya begini. Saat sampai di Makassar, saya terharu sekali melihat para sahabat saya tercinta di sana sudah menyiapkan sekian jadwal acara yang padat bagi Ranti dan Rich, kami hanya cukup datang dan mereka menjamu kami sepenuh hati. Kami dibawa ke Kompas TV untuk wawancara live, lalu ke harian Fajar untuk diwawancara, dan sesudahnya siaran live di Fajar TV, lalu saat datang ke gedung acara bedah buku, kami tertegun melihat kerja keras para sahabat di Makassar. Ranti bahkan sampai menangis terharu melihat kerja keras mereka semua. Lalu kami menemui Rektor UMI yang menjamu kami makan malam bersama. Kami pun istirahat karena sangat lelah, karena baru saja mendarat di bandara sudah harus berangkat ke Kompas TV dan seterusnya.

Lalu keesokan harinya, acara pun dimulai. Saya tak menyangka bahwa peserta yang datang hingga 400an. Dekorasi dan sound sistem sangat bagus, dan sahabat saya, Riri, bersama bandnya membawakan beberapa lagu pop rohani versi akustik dengan sangat manis. Dan dimulailah acara itu. Setelah presentasi dari Ibu Rektor UMI, lalu Ranti dan Rich, maka dibukalah forum tanya jawab.

Di sinilah anak-anak muda tak tahu malu ini bikin ulah. Anda yang sudah kenal ulah mereka tentu tahu taktik mereka yang sudah didoktrinkan sedemikian rupa, lalu seperti kerbau di cocok hidungnya mereka lakoni. Mereka duduk menyebar, lalu berlomba-lomba bertanya hanya untuk menyudutkan Ranti, mulai dari tanda Allah dan Muhammad dalam buku itu yang dianggap tak sopan, jilbab Ranti yang kurang Islami menurut mereka dan gugatan yang semakin lama semakin kental bau doktrin impor tanpa akar sejarah yang jadi santapan kepala kosong anak-anak muda tuna sejarah itu. Mereka menyudutkan Ranti soal jilbabnya yang tidak panjang menjuntai!

Anak muda itu tak baca buku IN GOD WE TRUST ya? Ranti adalah generasi awal anak SMA yang memilih melawan sekolahnya, menghadap menteri dan maju ke pengadilan demi membela haknya menggunakan jilbab di sekolah (yang bagi sebagian feminis dianggap sebagai opresi terhadap perempuan). Kalau hari ini jilbab boleh dipakai di sekolah-sekolah umum, maka anak-anak muda tuna sejarah itu harus tahu bahwa ada jejak perjuangan Ranti dan kawan-kawannya di sana. Dan apabila hal serupa terjadi pada anak-anak muda tuna sejarah itu, apakah mereka berani mengambil langkah seperti Ranti dan kawan-kawannya? Lalu, saat masuk USAF, Angkatan Udara Amerika, dia mencoba melawan sekuat tenaga dan menuntut haknya untuk mengenakan jilbab di lingkungan militer Amerika. Sekian bulan dia didiskriminasi, dikucilkan dan diperlakukan tak adil, namun dia bertahan. Dan kini, kalau pun militer AS akhirnya mengizinkan jilbab boleh dikenakan di lingkungan militer AS, ingatlah, ada jejak perjuangan Ranti di sana!

Dan apabila hal serupa terjadi pada anak-anak muda tuna sejarah itu, apakah mereka berani mengambil langkah seperti Ranti? Setelah acara selesai, dengan santainya mereka mendatangi panitia, yaitu para sahabat saya tercinta di Makassar, dan memberikan buku tentang Sistem Pergaulan versi mereka beserta majalah politik dan dakwah (lihatlah beragama itu ya memupuk obsesi politik, bukan memurnikan niat untuk mencari dan bertemu Alah seraya menghisab diri sendiri terlebih dahulu…)

Tampak sekali bahwa mereka sebenarnya tak membutuhkan jawaban apa pun dari para pembicara, mereka hanya ingin memancing keributan, menyudutkan pembicara, lalu menyuarakan doktrin kebanggaan mereka. Pembicara menjawab apa pun tak penting lagi bagi mereka, karena apa pun masalahnya, khilafah solusinya! Mereka beruntung bahwa yang meladeni mereka adalah Ranti dan Rich yang sabar dan santun itu. Apabila saya yang harus meladeni mereka, saya tak tahu akan semarah apa saya. Saya marah karena mereka memandang semua perjuangan Ranti itu tak ada artinya dibanding obsesi politik mereka.

Saya marah karena mereka tak menghargai acara yang sudah disiapkan berminggu-minggu oleh para sahabat saya di Makassar, yang berlelah badan dan menyita waktunya bersama keluarga. Lalu seenaknya saja mereka merusak acara itu dengan membuka lapak dagangan obatnya melalui taktik yang sama dari tahun ke tahun, yang sudah saya kenali sejak masih mahasiswa ITB dulu.

Namun, alhamdulillah, semua kemarahan itu reda oleh pertemuan dengan sekian banyak kenalan baru di Yogya, para anak muda NU yang cerdas-cerdas dan terbuka itu, oleh pertemuan dengan Katrin Bandel sang Warga NU asal Jerman, oleh pertemuan dengan mas Hasan Basri dan Mbak Entis dari Lesbumi, oleh pertemuan dengan mas Ahmad Munjid dan Mas Rofiq, dua intelektual muda NU yang menjadi sahabat Ranti saat mereka kuliah S3 di Philadelphia.

Terima kasih teman-teman NU Yogya untuk air sejuk penawar amarah yang saya bawa dari Makassar. Semoga nanti kita segera bertemu lagi dan membuat acara bersama Insya Allah… (NB: Saran saya, kalau mereka menjalankan taktik serupa lagi di acara yang Anda adakan, tendang saja mereka keluar dari ruangan! Bikin rusak ritme diskusi!)[by Alfathri Adlin]

———

Tulisan terkait yang pernah saya tulis di blog:

Islam, Terorisme atau Cinta?

Karen Amstrong: Mengartikulasikan Islam yang Welas Asih

Dina Kecil

Waktu saya kuliah di Iran, saya sempat hidup terpisah dengan suami: kami kuliah di dua kota berbeda, berjarak empat jam perjalanan dengan bis. Wadaw, buat pengantin baru, tentu repot banget ya 😉  Buat pengantin lama juga ini bukan sikon yang menyenangkan.

Saya tinggal di asrama putri di kampus saya, suami saya tinggal di asrama putra di kampusnya. Seharusnya, kami berhak dapat apartemen khusus suami istri. Tapi pihak universitas saling lempar, siapa yang musti kasih apartemen, kampus saya, atau kampus suami. Dan kami menghadapi persoalan birokrasi yang sangat-sangat menjengkelkan. Saat itu saya sempet sakit hati banget sama seorang pejabat di kementerian pendidikan tinggi Iran, yang mempersulit urusan kami… ih amit-amit banget itu orang.

Anyway, setiap kesulitan selalu saja membawa serta kemudahan dan hikmah bersamanya. Dalam situasi kacau itu, seorang dosen menawarkan rumah singgah *tepok jidat* untuk kami. Itu rumah pamannya si dosen, dan rumah besar tiga lantai itu ditunggui oleh kerabatnya si dosen dan keluarganya. Nah, saat weekend, saya dan suami rendezvous di rumah itu *suit-suit* 😀

Singkat cerita, saya segera akrab dengan ibu penunggu rumah beserta anak-anaknya (kerabat si dosen ini). Sekalian saya belajar memperlancar bahasa Persia dan belajar masak (saat itu saya masak nasi pun belum bisa; soalnya, waktu itu belum musim magic com kayak sekarang; kalau masak nasi musti diliwet, padahal ibu saya tidak pernah masak nasi dengan cara begini -biasanya pakai dandang).

Singkat cerita lagi (sebenarnya kisah saya dengan keluarga ini sudah saya ceritakan panjang lebar di buku saya, Journey to Iran), saya merasa benar-benar bagian dari keluarga itu; dan begitu pun mereka menganggap saya bagian dari keluarga. Setelah saya pulang di Indonesia, kami terpisah begitu saja. Menelpon mahal (jadi selama 7 tahun di Indonesia, baru sekali saya nekad nelpon ke Iran, dengan tagihan rekening ratusan ribu),  kirim email pun repot (sepertinya mereka tidak terbiasa dengan email).

Sampai 10 Januari lalu, tiba-tiba saja masuk message ke WhatsApp (WA) saya. Wow..wow.. dari salah satu ‘adik’ saya (salah satu anak dari keluarga tersebut). Kejutan besar. WA benar-benar membawa keajaiban. Kenapa saya nggak pasang WA dari dulu ya..?! Lalu, kami ngobrol sana-sini. Besoknya, muncul lagi WA dari ‘adik’ yang lain. Dan akhirnya, muncul WA dari ‘kakak’ (keluarga itu punya  6 anak perempuan; dan si ibu menyatakan bahwa saya juga anaknya, jadi dia merasa punya anak 7 perempuan, hehe..).

Kami pun saling kirim foto dan saya takjub sekali, betapa mudahnya kirim foto dengan WA *ckckck.. kemane aje buuu*  Saat Indonesia dilanda musibah banjir, beritanya juga sampai ke Iran. Saudari saya itu langsung kirim WA nanyain kabar saya. Saya jawab: air nggak masuk rumah, cuma menggenang di jalan depan rumah aja. Jawaban inipun lengkap dengan foto: Reza lagi main air di depan rumah.

Subhanallah, teknologi memang luar biasa ya 🙂

Yang bikin saya terharu, si kakak ternyata sudah punya anak (dulu dia lambat menikah), dan salah satunya perempuan berusia dua tahun… dan… ini yang membuat saya sangat terharu, anaknya itu diberi nama DINA. Sengaja, buat mengenang saya, katanya. Oh so sweeet…

Nama Dina memang tidak umum dipakai di Iran, juga tidak ada arti/makna kata ‘Dina’. Tapi, seseorang di Iran pernah mengatakan bahwa dalam hikayat kuno Persia (Shahnameh), disebut nama Dina, nama seekor burung kecil. Lalu, ada yang bilang, Dina adalah nama lain dari Nargis, ibunda Imam Mahdi, salah satu keturunan Rasulullah generasi ke-11.

Padahal, dulu papi saya kasih nama Dina hanya dengan alasan sederhana: mudah disebut (tanpa ada filosofi apapun), sementara ibu saja sebenarnya memilihkan nama lain untuk saya, yaitu Ratih.

Dan, ini dia foto Dina kecil… cantik dan gemesin banget… ingin rasanya memeluk dan menciumi pipinya..

little-dina

 

 

Tiga Ojek

Kemarin benar-benar hari yang full. Diawali dengan naik kereta api patas ke Bandung. Judulnya patas, tapi di jalan berkali-kali berhenti. Jarak tempuh yang biasanya 25 menit, kini jadi satu jam. Penumpang hanya bisa menggerutu. Ah PT KAI, … mau kita ngamuk pun, apa yang bisa diharapkan komen dari mereka? Penumpang di sebelah saya juga agak stress, karena dia ngejar ke bandara. Coba, kalau ga keburu, tiket mahal hangus, apa PT KAI mau tanggung jawab..??

“Untung”-nya, kereta Argo Parahyangan yang akan saya tumpangi ke Jakarta juga telat, jadi, begitu saya turun dari kereta lokal, saya masih sempat lari-lari untuk naik ke Argo; begitu saya naik, jalan deh tu kereta. Selamet, saya jadi juga ke Jakarta.

Di sepanjang jalan, saya baca novel The Lost Symbol-nya Dan Brown yang setebal bantal itu. Novelnya seru banget. Tapi sebenarnya saya ‘terpaksa’ saja baca, karena novel itu mau dibaca Kirana, anak saya (13 th). Sebelum dia baca, saya harus baca dulu, supaya saya bisa menyortir bagian yang kurang pas buat anak. Sebenarnya saya suka banget baca novel. Cuma, ketika sedang banyak kerjaan, baca novel memang terasa membuang waktu. Etapi, karena ‘jadi ibu’ kan sebenarnya kerjaan utama saya, maka membaca novel ini pun bisa disebut sebagai bagian dari pekerjaan utama itu (kok enak?! :D)

Sampai di stasiun Gambir, masih jam 11. Padahal acara saya di sebuah kementerian, baru dimulai jam 14. Saya berjalan, mencari tempat duduk yang enak buat nerusin baca novel. Ga ada 😦 Kalau mau, ya duduk di warung franchise. Saya jalan terus, diikuti tukang ojek yang menawarkan jasa. Saya bilang, “Saya ga sekarang kok, mau dudukp-duduk dulu…” Kata si pemuda ojeker itu, “Bu, warung-warung murah udah ga ada lagi… Yang ada ini nih..yang buat orang kaya..” (dia menunjuk dua resto franchise itu).

Karena si pemuda terus ngikutin, saya jelaskan baik-baik, kalau saya mau ke kementerian XYZ, jam 13. Jadi sekarang mau duduk-duduk dulu. Trus, ya udah saya masuk ke salah satu warung franchise, beli menu funmeal (biar dapet hadiah robot, buat Reza, heuheuheu) dan zuppa soup. Lalu duduk di pojok, baca novel lagi deh. Setelah sejam, dinding kaca di dekat saya duduk diketuk pelan. Yaela.. si pemuda ojeker tadi. Rupanya dia ngotot nungguin saya. Ya udah lah. Saya pun keluar, dan naik ojek bersamanya. Ga taunya deket. Tapi saya kasih uang lebih ke si ojeker. Pertama karena dia setia nungguin saya sejam. Kedua, dia mendesahkan ucapan bismilllah saat akan berangkat. Subhanallah deh.

Di kementerian XYZ, saya ke gedung yang sudah ditentukan. Saya diundang jadi narasumber untuk sebuah diskusi terbatas. [Karena diskusi terbatas, materi diskusi tidak boleh disebarluaskan ke luar (kata pak moderator), jadi saya juga ga bisa cerita di sini. Padahal seru banget, heuheuheu.] Nah, saya ke toilet dan mushola-nya dulu. Ya ampun, itu kementerian di pusat lho ya, kok toiletnya menyedihkan begitu.. masih kalah sama kamar mandi kami, di rumah sederhana-di-pelosok-kampung ini.

Yang hadir di forum diskusi, adalah pejabat-pejabat di kementerian tersebut, dengan penampilan yang keren, high class gitu deh. Saya jadi terheran-heran dengan nasib saya sendiri. Kok bisa ya, saya ada di sini, diberi kehormatan, dimintai masukan, atas sebuah urusan negara. Saya diperkenalkan sebagai ‘cendekiawati yang sedang naik daun’ oleh moderator. Saya hanya senyum-senyum saja. Takjub. Saat saya habis-habisan dihina dan difitnah orang, begitu mudahnya Allah menaikkan ‘derajat’ .. subhanallah.

Sebelum dan sesudah acara, saya ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak pejabat itu, membicarakan beberapa hal terkait disertasi saya. Memang ini topik di luar diskusi terbatas, tapi ga ada salahnya toh saya membuka ‘jaringan’, mudah-mudahan nanti pas penelitian jadi lancar karena sudah kenal dengan beliau-beliau itu 🙂

Lalu, saya dianter sopir kantor ke travel terdekat. Eala.. mobilnya ga ada, konon karena macet parah, keberangkatan dibatalkan. Duh, panik deh. Sopir kantor itu sudah pergi, coba kalau engga kan saya bisa minta dianter ke gambir. (Sejak awal saya memilih pulang naik travel karena bbrp pertimbangan, tapi saya sadari kemudian, pertimbangan saya salah, saya lupa kalau Jkt itu pasti macet, hiks). Petugas travel itu menyarankan saya ke travel sebelah. Saya pun ke gedung sebelah, berjalan cukup jauh ke basement-nya. Sama, hiks, mobilnya ga ada lagi. Saya panik banget. Waduh gawat. Si petugas travelnya, masih muda, melihat kepanikan saya, mikir sejenak. “Gini aja bu, sekarang kan macet ya, saya ojekin aja ibu ke pool di Pramuka. Pasti keburu dah.”

(Saya agak tulalit, lalu nanya-nanya lagi. Ternyata, maksudnya, mobil travel yang baru berangkat, akan ke pool di Jl Pramuka, baru masuk tol. Jadi, dengan motor, saya akan dianter ke Jl Pramuka sama si pemuda ini. Benar saja, di jalan, kami menyalip mobil travel tsb. Jadi kami duluan sampai di Pramuka, baru 20 mnt kemudian  mobil travel itu tiba)

Nah, sepanjang jalan dari Cikini ke Pramuka, si pemuda ojeker ngobrooool.. terus. Soal macet Jakarta, Jokowi, soal kerjaannya..dll. Saya menanggapi dengan antuasias, jadi dia juga tambah semangat ngobrolnya.

“Wah, jauh banget bu, bedanya Jokowi ama yang laen! Mana ada pejabat mau blusukan kayak dia? Masuk ke got-got. Ketua RW aja ga mau tuh kayak gitu!”

“SBY aja kalah sama Jokowi. Tapi kasian juga tuh liat SBY. Dulu kan gagah dan seger banget. Eh sekarang udah loyo kayak orang tua. Keliatan banget banyak pikiran tuh.”

“Tapi kalau jadi presiden sih mendingan militer aja bu, biar kuat. Kan jadi presiden musti urusan sama orang luar negerti tuh. Jokowi jadi wapresnya aja. ”

“Saya ga mau bu pacaran serius. Kasian ceweknya. Soalnya saya belum siap  nikah. Mau cari duit dulu.  Kalau udah banyak duit, gampang deh cari istri.Saya mau cari istri orang jawa aja, ga banyak nuntut. Saya pernah tuh deket sama cewek Jawa, baik banget. Tapi dia pengennya serius, cepet dikawinin. Saya lepas aja.”

“Selain di travel, saya juga usaha rental mobil bu. Mobilnya temen saya, saya cariin pelanggan. Lumayan, satu mobil dirental, saya bisa dapat 100rb.”

(Di sela-sela kemacetan Jkt, di meliuk-liukkan motornya, membuat saya agak-agak tegang dan terus baca-baca sholawat dlm hati; lalu kami berpapasan dengan dua pengamen)

“Saya juga ngamen bu. Habis ini saya kayaknya juga bakal ngamen deh di…” *lupa, dia sebut daerah apa*

“Saya nyicil tanah bu di Tangerang..buat ternak bebek..”

Dst.. dst..

Akhirnya, sampai juga di pool Jl Pramuka. Punggung saya pegal banget. Saya perhatikan raut muka si pemuda. Tipikal anak muda Indonesia, perawakan kecil, murah senyum, lumayan tampan. Salut deh, pada kegigihannya mencari uang halal. Saya kasih uang cukup banyak, membuat senyumnya semakin lebar.

Di mobil travel, saya cuma bisa internetan, ngobrol di telpon dengan suami dan papi saya, lalu menerima wawancara dari sebuah media ttg terorisme (duh mudah-mudahan penumpang di mobil ga bete banget tuh, dengerin saya ngobrol di telpon, ngomongin isi diskusi -ke papi saya yang memang antusias pengen tau- dan ngomong soal terorisme di Timteng sama si wartawan itu, meski suara saya usahakan sepelan mungkin)

Sampai di Bandung, waduh, di kawasan antah berantah. Sudah jam 9 malam pula. Saya bimbang, mau naik taksi ke rumah, atau angkot.. atau.. ojek..hehe.. Soalnya begitu turun dari travel, langsung disambut sama tukan ojek lagi.. ya elaaaa… Akhirnya, ya sutralah, naik ojek lagi. Dan, di sepanjang jalan ya ngobrol lagi. Bedanya sekarang tukang ojeknya memanggil saya ‘Neng’ bukan ‘ibu’ lagi, hahaha… Dan dari pembicaraannya dia seperti memperlakukan saya kayak ‘anak’, makanya mau nganterin saya ke rumah, yang jauuuh banget dari lokasi tempat saya turun dari mobil tadi. Punggung saya sampai pegal sekali, hiks.

Walhasil, hari itu saya dikenalkan Allah dengan 3 tukang ojek. Dan alhamdulillah, hari itu saya memilih kostum blazer dan celana panjang (jadi emang cocok buat naik ojek). Lha coba kalau saya pakai kostum gamis (terkadang untuk acara resmi saya suka pakai gamis juga).

Dan entah keberapa kalinya saya menghela nafas: menyadari betapa hidup saya ini benar-benar penuh warna. Terkadang warnanya hitam dan bikin down, tapi di saat yang sama Allah memberi begitu banyak warna yang cerah yang membuat saya mengucap syukur.

 

 

 

Ayo Bantu Korban Banjir Indonesia!

korban banjir (foto: kompas)

korban banjir (foto: kompas)

Sedih sekali menyaksikan berita banjir di mana-mana. Saya pun sebenarnya tinggal di daerah rawan banjir. Kalau hujan deras di wilayah yang lebih tinggi, mengalirnya biasanya ke daerah saya. Daerah rumah saya itu cukup terkenal, sering masuk Metro TV karena… banjir!

Alhamdulillah hingga detik ini belum pernah air banjir itu masuk rumah, hanya lewat di depan rumah: jalanan di depan rumah kami bagaikan air sungai. Baru ‘segitu’ saja, rasanya ingin pindah saja dari sini. Entah apa yang dirasakan oleh mereka yang benar-benar kebanjiran, harus mengungsi  berhari-hari… :((

Sudah begitu, semakin sedih pula menyaksikan pemimpin kita malah sibuk mengurusi partai, istrinya sibuk komen di instagram.Konon, malah ada yang menyalahkan alam, “lha sudah fenomena alam kok, pemerintah musti gimana lagi..?” seolah-olah begitulah katanya. Oya..?

Saya baca ulasan menarik di sini: apakah banjir itu salah alam, atau salah manusia? Lalu bila kita salahin manusia, apa enggak artinya malah ‘menyalah-nyalahin’ korban..? Tentu saja tidak demikian maksudnya.

Tuhan menciptakan makhluk hidup dan benda mati. Secara teologis, beragam persoalan besar yang terkait dengan fenomena ekologis seperti yang kita lihat sekarang ini, tidak terkait dengan alam. Alam tak akan pernah dimintai pertanggungjawaban secara teologis oleh Tuhan. Bagaimana mungkin meminta pertanggungjawaban kepada benda mati?

Secara teologis pula, jika ada fenomena bencana alam, seperti banjir masif yang terjadi akhir-akhir ini, ada beberapa sebab kemungkinan. Pertama, mungkin karena ulah manusia yang telah merusak ekosistem. Di sini, alam hanyalah merespons. Bencana hanyalah pantulan atas perilaku ekologis manusia. Karena alam disakiti, maka ia balas manyakiti. Perilaku yang direspons bisa jadi bukan tanggung jawab manusia generasi sekarang. Kebanyakan malah ulah orang terdahulu. Jika ini yang terjadi, para perusak ekosistem harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Hati-hatilah para pembabat hutan, pembangun vila di kawasan perbukitan tadah hujan, para pembangun mal di daerah resapan, juga orang-orang serakah yang mendesak kaum marjinal hingga tidak punya pilihan, kecuali membangun pemukiman di bantaran sungai, agar bisa bertahan hidup! Hati-hatilah, karena kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap nyawa yang melayang dan kerugian lainnya yang diakibatkan oleh bencana banjir. Kalian akan dikejar sampai ke liang kubur!

(analisis selanjutnya baca saja di artikel Teologi Banjir: Alam Tak Pernah Salah)

Nah, sambil introspeksi, merenungi ini semua salah siapa, sementara ini tentu saja kita ‘wajib’ mengirimkan bantuan kepada mereka yang mendapatkan musibah banjir. Ada banyak organisasi yang mengelola bantuan. Beda kalau mengirim bantuan ke Palestina atau penggalangan dana untuk pengungsi Suriah, kita perlu check dan recheck karena penyaluran bantuan tidak kelihatan di depan mata. Untuk  bantuan banjir ini, dengan mudah kita bisa melihat realisasinya.

Mari kita ingat hadis Rasulullah, sedekah itu menolak bala. Sebagai bentuk syukur kita tidak kebanjiran, juga sebagai penolak bala, mari sumbangkan kelebihan rizki untuk membantu korban banjir. Ingat, mereka juga ‘yatim’ sama seperti kita: pemimpin kita sibuk mengurusi dirinya, dan melupakan kita, rakyat,  ‘anak-anak-nya’

“..sayangi yang ada di bumi, yang di langit akan menyayangi kalian..” 

[Parenting] Mendidik Anak Gemar Membaca

Mendidik anak supaya gemar membaca itu penting banget. Dan itu tidak bisa dilakukan instan. Kesalahan metode pengajaran baca di saat kecil, sangat berpengaruh pada kemampuan anak membaca. Anak yang bisa membaca (mampu membunyikan huruf-huruf), jelas berbeda dengan anak yang gemar membaca, menikmatinya, mampu menceritakan ulang, dan bahkan mampu menangkap inspirasi dari buku-buku yang dibacanya.

Ada sebuah buku  bagus yang mengupas tuntas masalah membaca ini, judulnya Endangered Minds. Kita beruntung karena mbak Ellen Kristi bersedia merangkumkan isinya untuk kita, bisa dibaca langsung di webnya, cmindonesia.com

Ada beberapa poin yang menyentak perhatian  saya antara lain:

Survei membuktikan, anak yang suka baca kini terbilang makhluk langka. Riset terhadap para siswa kelas 5 SD mendapati bahwa 50% anak hanya membaca selama 4 menit atau kurang per hari, 30% membaca 2 menit atau kurang, dan 10% tidak membaca sama sekali, sementara durasi harian mereka menonton televisi terus meningkat. Makin sedikit anak muda yang meminati karya sastra berbobot.

Apa sih standar anak ‘bisa membaca’ itu? Di  buku itu disebutkan,

Banyak anak, mulai dari jenjang SD sampai perguruan tinggi, yang bilang membaca buku itu terlalu membosankan dan sulit. Mereka tak sabar mengikuti urutan ide yang disajikan pengarang. Jane Healy menduga bahwa mereka tak terlatih secara mental untuk menggarap bacaan, tak terbiasa berkonsentrasi dalam rentang waktu panjang.

“Agar bisa membaca dengan baik, benak harus terlatih menggunakan bahasa, berefleksi, dan tekun mengatasi kesulitan. [Sebelum siswa berhasil] menangkap makna bacaan, bagi mereka membaca itu tetap terasa hampa dan tak memuaskan,” kata Jane. Maka, jangan keburu puas melihat anak bisa membunyikan kalimat. Kita baru boleh puas atas kemampuan membaca anak kita kalau dia sudah mampu ‘menaklukkan’ teks sungguhan dengan tata bahasa, kosakata, dan mutu literer yang tinggi.

 

Saya bersyukur bahwa meskipun saya pernah berbuat kesalahan besar terhadap  Kirana (mengajarinya baca saat ia berusia 4 tahun; dan karena sama-sama frustasi, saat itu saya sering marah, dan Kirana sering menangis), kini Kirana sudah menyukai buku-buku yang sangat tebal, misalnya karya-karya Dan Brown. Kesalahan saya mengajarinya baca membuatnya lambat menikmati buku. Dia baru bisa menikmati membaca buku Harry Potter kelas 5 SD. Untuk sampai ke sana, saya perlu ‘perjuangan’ juga, membujuknya membaca, membelikan berbagai jenis buku, yang seringkali biasanya ditaruh begitu saja tanpa minat. Sampai akhirnya, dia bertemu buku tentang Barbie (oh no..) dan mulai suka membaca. Lalu, pindah ke buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya), lalu, mulai saya dorong untuk membaca Harry Potter, dan berlanjut ke buku-buku tebal lainnya. Alhamdulillah sekarang ‘trauma’-nya sembuh.

Situasi berbeda terlihat pada Reza. Untungnya saya sudah dapat ilmu soal mengajari baca. Jadi Reza belajar secara sangat santai, semaunya saja. Sampai usia 6 tahun, dia masih belum lancar membaca. Yang kami lakukan adalah membacakannya buku dan mendiskusikan berbagai hal di buku itu. Papa-nya membacakan sampai tamat Harry Potter 1-7 (!). Dan… seperti saya kecil dulu, di usia 7 tahun, Reza sudah keranjingan baca Lima Sekawan dan sejenisnya (Kirana sama sekali tak melewati masa ini; usia 7 tahun, dia belum suka membaca; jadi Lima Sekawan ‘lewat’ dari daftar bacaannya). Dia dengan antuasias dan bergaya pendongeng juga mampu menceritakan ulang isi buku-buku tersebut.

Apakah perjuangan saya selesai? Tidak juga. Gempuran game, tivi, internet sangat deras, yang setiap saat memalingkan anak-anak dari buku. Apalagi, kami memang keluarga yang sangat bergantung ke internet. Untuk TV, kami melakukan program No TV (tapi bahkan dengan itupun, anak-anak saya tetap hafal lagu-lagu YKS, hiks… ). Tapi apa yang terjadi ketika teman-temannya cerita ini-itu soal game terbaru atau film seru di TV? Akhirnya, ya sesekali kami nonton TV bareng, atau membiarkan anak-anak main game. Trus..? Ya lewat lagi deh baca bukunya. Sementara saya sibuk, anak-anak keasyikan main game atau internetan. Lalu saya nyadar lagi, dan mencoba menata lagi.

Perjuangan jadi ibu yang baik memang ga pernah usai. Membaca artikel-artikel mencerahkan seperti yang ditulis di cmindonesia.com  ini merupakan salah satu cara efektif untuk kembali ke “jalur yang benar.” Jangan sampai anak-anak kita jadi aliterate, yaitu:

“orang yang tahu cara membaca, tapi memilih untuk tidak membaca” – mereka tidak menganggap membaca itu sumber kesenangan, lebih suka mencari informasi dari media audiovisual daripada tulisan. Karena akhirnya hanya memperoleh informasi secara dangkal, seorang yang enggan membaca secara substansial tidak lebih hebat dari mereka yang belum mampu membaca.

Belajar dari Poligaminya Anis

Saya barusan baca di Detik.com soal cuitan Fahri Hamzah yang menceritakan panjang lebar proses pernikahan kedua Anis Matta. Meski saya bukan simpatisan PKS, Anis, atau Fahri (dan sejujurnya sangat sinis pada mereka dalam berbagai kasus politik, karena saya pengamat politik Timteng), dalam hati saya mengucap subhanallah

Ada beberapa poin yang menurut saya luar biasa:

  1. Istri pertama dilibatkan dalam proses pernikahan. Tidak seperti yang banyak terjadi: suami-suami sembunyi-sembunyi pacaran dengan perempuan lain (dan tentu saja, pastilah banyak kebohongan yang dilakukan), lalu diam-diam kawin lagi, lalu setelah ketahuan, ribut, berantem, KDRT, dst.
  2. Istri pertama dan istri kedua diperlakukan adil: ditaruh di rumah yang sama, dan artinya tentu saja (kemungkinan besar lho ya, kan saya ga liat sendiri) dapat fasilitas yang sama. Tidak seperti yang banyak terjadi: suami-suami belum bisa mencukupi kebutuhan istri pertama dan anak-anaknya, sudah gatel mau kawin lagi. Akhirnya, mereka terlantar, hak-haknya tak terpenuhi.
  3. Istri pertama terlihat ikhlas dan baik-baik saja. Jauh sebelum baca cerita Fahri Hamzah di Detik.com ini, saya sudah dapat cerita dari teman saya, teman saya ini dapat langsung dari ibu Ana (istri pertama Anis), dengan nyantainya bu Ana bilang, “kan udah ada si bulbul…” saat ada yang nanya, gimana kok bu Ana bisa sangat aktif berdakwah padahal anaknya banyak banget. Ternyata, dia malah seneng karena ada bantuan dari si bule (istri kedua yang asli Hungaria itu) untuk ngurusin rumah tangga. Ada lagi cerita saksi mata yang melihat dua istri ini ketawa-ketawa bareng; semua terlihat baik-baik saja.
  4. Anis dengan terbuka menginformasikan bahwa dirinya punya istri dua di profile keanggotaan DPR. Jadi, ga main kucing-kucingan kayak sebagian orang. Ga jaim kayak sebagian orang, di depan sok iye, membela kaum tertindas, di belakang main perempuan. Anis memperlihatkan cara berpoligami yang gentelmen.

Mungkin ada yang membantah, “Mana ada perempuan yang mau dimadu?!”  atau “Itu sih politiknya si Anis aja, karena mau nyapres, dia bikin pencitraan baru supaya rakyat ga ngeributin masalah poligaminya dia!”

Untuk bantahan pertama, saya jawab:  jangan salah, banyak juga kok poligami yang berhasil (minim konflik). Dan yang saya lihat, poligami yang berhasil ya seperti yang dilakukan Anis Matta ini, melibatkan istri pertama di dalam prosesnya. Enggak main kucing-kucingan, enggak berkhianat. Dalam proses ini, istri pertama tidak disakiti. Kata suami saya, duluuu…, saat mengomentari poligaminya Aa Gym, bilang begini, “Poligaminya sih sah. Tapi, yang dosa adalah menyakiti hati istri pertama.” [waktu itu kan, ada berita-berita di balik layar bahwa Teh Ninih tau belakangan, dan sangat sakit hati, meski di depan umum kayak baik-baik aja]

Untuk bantahan kedua… no comment deh. Kalau urusan politik, beda lagi ya analisisnya. Di sini, fokus saya pada poligaminya aja kok. Saya sedang prihatin mendapati kasus-kasus poligami yang menyakitkan: pengkhianatan, kebohongan, KDRT pada istri pertama, dll. Jadi, saya pikir, kasus Anis Matta ini perlu dijadikan ‘pelajaran’ buat mereka yang memang sudah berniat poligami. Ingat ya, menyakiti hati istri itu hukumannya sangat besar. Ada hadisnya, tapi saya lupa teks lengkapnya. Sebelum istri pertama mengikhlaskan rasa sakit hatinya, para suami-suami zalim itu ga akan masuk surga, yakin deh.

Dan inilah yang perlu diketahui pula oleh istri-istri yang terzalimi: daripada kalian memelihara rasa sakit hati yang akan menghancurkan diri kalian sendiri (sementara suami brengsek kalian sedang bersenang-senang dengan perempuan lain), lebih baik cari cara untuk menyembuhkan sakit hati itu. Serahkan suami kalian itu kepada Allah. Allah tidak tidur. Kejahatan sebesar biji zarah sekalipun, pasti akan dibalas-Nya. Apalagi kejahatan besar: menyakiti amanah Allah (istri-anak itu kan amanah Allah untuk para suami). Jadi daripada kalian gila karena sakit hati, lebih baik sembuhkan diri sendiri. Bisa dengan baca Quran, tahajud, menemui psikolog, atau dengan terapi emotional freedom.