[Parenting] Anak-Anak yang Terdoktrin

rantiBarusan dapat forwardan dari temen, statusnya Alfathri Adlin, beliau ini pimpinan penerbit Matahari, yang menerbitkan buku In God We Trust karya Ranti Aryani, yang pernah sedikit saya ceritakan di sini.

Saya ‘tegang’ membaca tulisan Alfathri ini, bahkan ikut ‘perih’. Soalnya saya sudah baca buku yang sangat bagus itu. Selain itu, saya pun seorang penulis dan berkali-kali diundang bedah buku. Entah apa yang terjadi kalau saya dalam situasi yang dialami mbak Ranti. Etapi, pernah ding, sekali saya mengalami situasi yang mirip, meski tak separah itu. Bisa dibaca di sini. Pernah juga yang lebih ‘parah’: acara saya di sebuah kota dibatalkan karena orang-orang ‘itu’ mengintimidasi panitia (takut boroknya ketauan rupanya, sehingga mereka bekerja keras menghalangi saya mengungkap fakta apa yang sebenarnya terjadi di Suriah, dan apa efeknya bagi Indonesia).

Postingan ini kemungkinan tidak akan dibaca oleh orang-orang ‘itu’ dan sejenisnya. Jadi saya memang tidak meniatkan postingan ini buat mereka (apalagi berniat ‘menyadarkan’, wuih, jauuuh.. hanya Allah yang bisa kayaknya). Tapi, saya ingin mengajak para ibu yang masih ‘waras’, mari kita hindarkan anak-anak kita agar kelak jangan punya perilaku seperti yang diceritakan oleh Alfathri ini.  Kalau dianalisis dari perspektif parenting, perilaku anak-anak muda yang diceritakan di tulisan berikut ini sangat berkaitan dengan pola asuh orang tua.

Mari kita bekali anak-anak dengan sikap santun dan welas asih. Caranya? Beri teladan, saat mereka menyampaikan pendapat, tanggapi dengan baik, bukan diomeli atau diejek. Ketika mereka berbeda pendapat dengan kita, jangan marah, justru bangga: anakku sudah bisa berpikir dan mengungkapkan pendapat! Bayangkan dia kelak menjadi pemimpin, direktur, atau berbagai profesi lain yang keren, mampu menyampaikan pendapat dengan elegan dan jernih.

Dengan cara ini, kita mengajarkan bahwa berbeda pendapat boleh, tapi lakukan dengan elegan, dan tidak MEMAKSAKAN pendapat. Dan yang terpenting, kita wajib membesarkan anak-anak yang cerdas, bisa mikir yang bener, berani diskusi terbuka, dan gak mempan didoktrin yang “aneh-aneh” (baik doktrin relijius-salah-kaprah, atau doktrin soal narkoba, seks bebas, dll). Caranya? Waduh panjang, coba browsing lagi di blog ini, saya berkali-kali sudah nulis soal ini.

Alfathri Adlin menulis:

Saya sebenarnya merasa geram sekali dengan tingkah laku anak-anak muda yang mempercayai bahwa puncak capaian dalam beragama itu adalah terwujudnya negara teokrasi, hingga kini mereka pun gemar jualan omongan dan ideologi semacam itu di mana-mana, mirip tukang obat yang selalu ribut sendiri dan koar-koar mempromosikan obat gadungannya saat melihat keramaian. Dan hal seperti itu selalu mereka lakukan lagi dan lagi tanpa sadar bahwa mereka cuma dididik jadi beo pemancing keributan, bahkan hingga berani mencatut nama dan berbohong; tujuan menghalalkan cara.

Awalnya begini. Saat sampai di Makassar, saya terharu sekali melihat para sahabat saya tercinta di sana sudah menyiapkan sekian jadwal acara yang padat bagi Ranti dan Rich, kami hanya cukup datang dan mereka menjamu kami sepenuh hati. Kami dibawa ke Kompas TV untuk wawancara live, lalu ke harian Fajar untuk diwawancara, dan sesudahnya siaran live di Fajar TV, lalu saat datang ke gedung acara bedah buku, kami tertegun melihat kerja keras para sahabat di Makassar. Ranti bahkan sampai menangis terharu melihat kerja keras mereka semua. Lalu kami menemui Rektor UMI yang menjamu kami makan malam bersama. Kami pun istirahat karena sangat lelah, karena baru saja mendarat di bandara sudah harus berangkat ke Kompas TV dan seterusnya.

Lalu keesokan harinya, acara pun dimulai. Saya tak menyangka bahwa peserta yang datang hingga 400an. Dekorasi dan sound sistem sangat bagus, dan sahabat saya, Riri, bersama bandnya membawakan beberapa lagu pop rohani versi akustik dengan sangat manis. Dan dimulailah acara itu. Setelah presentasi dari Ibu Rektor UMI, lalu Ranti dan Rich, maka dibukalah forum tanya jawab.

Di sinilah anak-anak muda tak tahu malu ini bikin ulah. Anda yang sudah kenal ulah mereka tentu tahu taktik mereka yang sudah didoktrinkan sedemikian rupa, lalu seperti kerbau di cocok hidungnya mereka lakoni. Mereka duduk menyebar, lalu berlomba-lomba bertanya hanya untuk menyudutkan Ranti, mulai dari tanda Allah dan Muhammad dalam buku itu yang dianggap tak sopan, jilbab Ranti yang kurang Islami menurut mereka dan gugatan yang semakin lama semakin kental bau doktrin impor tanpa akar sejarah yang jadi santapan kepala kosong anak-anak muda tuna sejarah itu. Mereka menyudutkan Ranti soal jilbabnya yang tidak panjang menjuntai!

Anak muda itu tak baca buku IN GOD WE TRUST ya? Ranti adalah generasi awal anak SMA yang memilih melawan sekolahnya, menghadap menteri dan maju ke pengadilan demi membela haknya menggunakan jilbab di sekolah (yang bagi sebagian feminis dianggap sebagai opresi terhadap perempuan). Kalau hari ini jilbab boleh dipakai di sekolah-sekolah umum, maka anak-anak muda tuna sejarah itu harus tahu bahwa ada jejak perjuangan Ranti dan kawan-kawannya di sana. Dan apabila hal serupa terjadi pada anak-anak muda tuna sejarah itu, apakah mereka berani mengambil langkah seperti Ranti dan kawan-kawannya? Lalu, saat masuk USAF, Angkatan Udara Amerika, dia mencoba melawan sekuat tenaga dan menuntut haknya untuk mengenakan jilbab di lingkungan militer Amerika. Sekian bulan dia didiskriminasi, dikucilkan dan diperlakukan tak adil, namun dia bertahan. Dan kini, kalau pun militer AS akhirnya mengizinkan jilbab boleh dikenakan di lingkungan militer AS, ingatlah, ada jejak perjuangan Ranti di sana!

Dan apabila hal serupa terjadi pada anak-anak muda tuna sejarah itu, apakah mereka berani mengambil langkah seperti Ranti? Setelah acara selesai, dengan santainya mereka mendatangi panitia, yaitu para sahabat saya tercinta di Makassar, dan memberikan buku tentang Sistem Pergaulan versi mereka beserta majalah politik dan dakwah (lihatlah beragama itu ya memupuk obsesi politik, bukan memurnikan niat untuk mencari dan bertemu Alah seraya menghisab diri sendiri terlebih dahulu…)

Tampak sekali bahwa mereka sebenarnya tak membutuhkan jawaban apa pun dari para pembicara, mereka hanya ingin memancing keributan, menyudutkan pembicara, lalu menyuarakan doktrin kebanggaan mereka. Pembicara menjawab apa pun tak penting lagi bagi mereka, karena apa pun masalahnya, khilafah solusinya! Mereka beruntung bahwa yang meladeni mereka adalah Ranti dan Rich yang sabar dan santun itu. Apabila saya yang harus meladeni mereka, saya tak tahu akan semarah apa saya. Saya marah karena mereka memandang semua perjuangan Ranti itu tak ada artinya dibanding obsesi politik mereka.

Saya marah karena mereka tak menghargai acara yang sudah disiapkan berminggu-minggu oleh para sahabat saya di Makassar, yang berlelah badan dan menyita waktunya bersama keluarga. Lalu seenaknya saja mereka merusak acara itu dengan membuka lapak dagangan obatnya melalui taktik yang sama dari tahun ke tahun, yang sudah saya kenali sejak masih mahasiswa ITB dulu.

Namun, alhamdulillah, semua kemarahan itu reda oleh pertemuan dengan sekian banyak kenalan baru di Yogya, para anak muda NU yang cerdas-cerdas dan terbuka itu, oleh pertemuan dengan Katrin Bandel sang Warga NU asal Jerman, oleh pertemuan dengan mas Hasan Basri dan Mbak Entis dari Lesbumi, oleh pertemuan dengan mas Ahmad Munjid dan Mas Rofiq, dua intelektual muda NU yang menjadi sahabat Ranti saat mereka kuliah S3 di Philadelphia.

Terima kasih teman-teman NU Yogya untuk air sejuk penawar amarah yang saya bawa dari Makassar. Semoga nanti kita segera bertemu lagi dan membuat acara bersama Insya Allah… (NB: Saran saya, kalau mereka menjalankan taktik serupa lagi di acara yang Anda adakan, tendang saja mereka keluar dari ruangan! Bikin rusak ritme diskusi!)[by Alfathri Adlin]

———

Tulisan terkait yang pernah saya tulis di blog:

Islam, Terorisme atau Cinta?

Karen Amstrong: Mengartikulasikan Islam yang Welas Asih

Advertisements

2 thoughts on “[Parenting] Anak-Anak yang Terdoktrin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s