[Parenting] Andy Garcia & Little Brother Complex

andyKemarin sore di kawasan sekitar kampus Jatinangor, tak sengaja saya melihat DVD (bajakan *glek*) film Middleton, dibintangi oleh Andy Garcia. Saya belum pernah mendengar film itu, juga belum pernah baca reviewnya. Tapi saya tetap membeli dan menonton DVD itu, semata-mata karena dibintangi Andy Garcia. Dulu, waktu ABG, saya sempat tergila-gila pada Andy, bahkan saya beli posternya, ditempel di dinding; memfotokopinya dan saya jadikan sampul buku. Padahal, saya tak mengikuti filmnya (satu-satunya film yang dibintangi Andy, yang saya tonton, adalah the Godfather). Dulu juga tidak ada internet yang bisa memudahkan saya melacak ‘jejak’-nya. Entahlah, waktu itu saya jatuh cinta begitu saja. Aneh banget.

Lalu semua itu hilang (yah, namanya juga ABG). Sampai sore kemarin. Andy sekarang jauh lebih memesona. Pokoknya wow deh, xixixi. Isi fimnya emang seru, lucu, dan mengharukan, (sampai 2x saya tonton). Tapi secara umum saya tidak merekomendasikan film itu karena banyak bagian di film ini yang nggak ‘bener’ (dari sisi nilai; dengan standar Islam). Meski, ada hal-hal yang berhasil membuat saya merenung.

Pertama, tentang hubungan George (diperankan Andy) dan Edith (diperankan Vera Farmiga). Masing-masing sudah menikah, lalu saling jatuh cinta. Rupanya, pernikahan masing-masing sudah sampai tahap ‘jenuh’. Memang akhirnya mereka kembali ke keluarga masing-masing. Tapi apakah semudah itu? Entah buat laki-laki. Tapi buat perempuan, selingkuh hati itu malah membawa rasa sakit dan sulit sekali menyembuhkannya. Saya pernah nulis sedikit di sini. Hikmahnya, pasutri musti waspada dan melakukan berbagai hal supaya pernikahannya nggak sampai ke tahap jenuh itu.

Kedua, George (Andy) menyebut kata ‘little brother complex’ yang ‘selalu ingin membuat bangga ayahnya’. Rupanya George sebenarnya tidak terlalu berminat jadi dokter tapi dia ingin membuat bangga ayahnya. Dan itulah sepertinya yang membuat George tidak terlalu menikmati hidupnya.

Waduh, kok pas banget. Saya memang lama memikirkan masalah ini, berkaitan dengan Reza. Saya sudah browsing istilah ‘little brother complex’ ini, ada beberapa versi penjelasan. Tapi secara umum, saya memaknainya sebagai ‘keinginan seorang adik untuk menyaingi kakaknya’. Si kakak yang hebat dan cemerlang, akan jadi kebanggaan ortu. Tapi bagaimana bila si adik ‘biasa-biasa saja’? Dia akan berusaha tampil hebat juga, meski mungkin melawan kehendak hatinya sendiri, supaya ortunya juga bangga padanya.

Hiks, saya mendeteksi ada problem seperti ini yang melanda Reza. Kakaknya, Kirana, alhamdulillah sejauh ini banyak prestasi. Juara sekolah, penulis buku, punya uang cukup banyak dari royalti buku, berkali-kali tampil untuk roadshow buku KKPK, pintar main piano dan biola, tampil di beberapa konser musik. Reza adalah fans nomer satu kakaknya. Dia sangat antusias membaca buku kakaknya, dan sangat antusias menunggu-nunggu jadwal konser kakaknya. Saat konser, dia duduk paling depan, siap-siap merekam penampilan kakak.

Tapi, sesekali terlontar ucapan sedih dari Reza, “Aku satu-satunya di rumah ini yang belum punya piala ya?” (di rak kami ada beberapa piala Rana dan piagam milik saya dan suami) atau “Aku juga pingin punya uang sendiri. Bagaimana kalau aku jualan aja?” atau “Aku juga ingin nulis buku kayak kakak” (dan beneran dia hingga kini berusaha menulis buku, tapi sudah berbulan-bulan belum selesai juga). Dan terakhir, dia ngotot ingin les biola juga. Padahal, Reza itu sepertinya menuruni bakat saya, yaitu: tidak cerdas musik. Kami bisa sangat menikmati musik, tapi tidak sampai ke tahap ‘cerdas musik’. Rana dan papa-nya lah yang cerdas musik. Mereka sangat nyambung saat mendiskusikan berbagai hal ‘tinggi’ tentang musik (saya sebut ‘tinggi’, karena saya benar-benar ga paham mereka ngobrolin apa).

Sungguh ini alarm yang harus saya waspadai. Duh, padahal rasanya saya –dan suami— berusaha sesantai mungkin menghadapi Reza, tidak membanding-bandingkan dengan kakaknya, selalu berusaha membesarkan hatinya. Kami selalu menyebutkan berbagai kelebihan yang dimiliki Reza: dia pembaca yang sangat kritis (saya sering menyebutnya ‘editor cilik’) dan mampu menceritakan ulang isi buku dengan caranya sendiri yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Tapi, mungkin ada hal-hal yang secara tidak sadar kami lakukan; atau bahasa tubuh kami yang memperlihatkan kebanggaan kami pada Rana, yang membuat Reza merasa kecil hati.

Apa yang harus dilakukan? Kalau saya ingat-ingat pelajaran parenting dari Bunda Rani, tentu saja saya harus memperbaiki cara bicara saya. Saya musti benar-benar menjauhi gaya bicara ‘membandingkan’ dan ‘mengkritik’. Selain itu, ketika Reza ngotot mau les biola, tidak ada jalan lain: saya harus biarkan dia les; saya tidak boleh mematahkan semangatnya, apalagi sampai memvonis ‘kamu ga bakal bisa!’ Ini bisa dimanfaatkan sebagai scaffolding (kerangka) untuk menumbuhkan sikap-sikap baik. Sangat mungkin dia akan sangat kesulitan mempelajari biola (karena konon ini memang alat musik tersulit, sangat mengandalkan kepekaan musik), tapi tekadnya untuk belajar biola bisa dimanfaatkan untuk melatih sikap kerja keras, pantang menyerah, disiplin, dll.  Bukankah kata Einstein, jenius itu 1% bakat dan sisanya 99% adalah kerja keras?

Saya benar-benar musti waspada. Saya tidak ingin kelak Reza seperti George (Andy), yang memilih bidang karir  ‘demi kebanggaan ortu’, bukan sesuatu yang benar-benar dia minati.

Thanks for reminding me, Andy…

NB: term little brother complex ternyata juga bisa diaplikasikan dalam menganalisis isu Hubungan Internasional lho, bisa dibaca di sini.

Advertisements

9 thoughts on “[Parenting] Andy Garcia & Little Brother Complex

  1. wah teh dina, baru tau kalo handle-nya adalah dengan cara ngikutin aja maunya untuk les biola…kirain diarahin untuk alat musik lain yang kira-kira dia suka aja.. atau kalo bukan alat musik mungkin diarahin ke kegiatan lain misalnya berenang atau apalah gitu.. ternyata emang mestinya biarin aja ya?? trus kalo ternyata nih, ga bisa juga biolanya gimana teh? apa ntar ga sedih gitu rezanya???

    • Kan Reza ‘suka’-nya biola. kalau saya arahkan ke alat musik lain, alasannya apa? Kan nanti dia malah berkecil hati, ‘dituduh’ ga bakal bisa biola (padahal belum dicoba).
      Kalau pun nanti dia kesulitan dan ingin berhenti, keputusannya harus muncul dari dirinya sendiri. Jadi.. ya..jalani aja. Siapa tahu ternyata malah bisa, hehe 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s