Karena Bu Risma

Waspadai pornografi yang mengepung anak-anak kita… 😦

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original post 4,589 more words

Advertisements

[Parenting] Anak-Anak Narsis

siluetCatatan singkat saja. Saya kopdaran dengan teman saya, seorang psikolog. Dia cerita tentang kliennya (tentu saja, identitas ditutupinya, dia cerita ke saya juga dalam urusan ilmiah, bukan ngegosip), yang bikin saya pening.

Singkat cerita, si klien ini (sudah dewasa) suka memoto Mrs V-nya dan disebarkan ke teman-temannya. Dengan bangga dia bilang, “Temenku si X memujiku lho… Katanya “punya” saya lebih bagus dari “punya” istrinya.”

Dan, rupanya perilaku begini bukan hal yang aneh (orang-orang lain juga banyak yang melakukan hal serupa)

Saya pengen muntah (karena ini satu dari sekian banyak cerita mengerikan lainnya) dan mendoakan teman saya ini supaya tabah menghadapi klien-kliennya yang “dahsyat-dahsyat” itu.

Tentu saja pertanyaan saya adalah: mengapa ini terjadi? Mengapa orang sampai mau memotret bagian intim tubuhnya (juga, memvideokan hubungan intim, lalu mempublishnya ke teman-temannya)? Adakah kesalahan ortu dalam fenomena ini?

Jawabannya begini:

Ini adalah bentuk perilaku narsis, ingin diperhatikan, ingin dipuji. Fenomena ini terjadi seiring dengan kemajuan teknologi yang dahsyat, sehingga merebaklah foto-foto selfie porno itu.

Sebabnya bisa dua kemungkinan:

  1. Kurang perhatian: anak tumbuh menjadi pribadi yang haus perhatian dan kasih sayang; untuk mendapatkan perhatian/pujian dari orang lain, dia rela melakukan apa saja, termasuk dengan memotret bagian tubuhnya yang paling rahasia.
  2. Terlalu banyak diperhatikan: ortu membesarkan anak dengan puji-pujian berlebihan; yang paling benar adalah anak, orang lain salah semua. Akibatnya, saat tak ada yang memuji, dia jadi haus pujian.

Sering terjadi, ortu memuji anak dengan mengarah kepada ‘aku’ (egoisme). Misalnya, anak bisa jalan: ortu bilang “kamu hebat…!” (belum lagi ditambah celaan ke orang : ih, anak si anu udah usia sekian masih merangkak!”)

Padahal, yang hebat adalah Allah yang membuat kaki untuk kita. Jadi, biasakan mengaitkan Allah dalam setiap keberhasilan. Katakanlah, “Alhamdulillah, ade udah bisa jalan. Allah baik sekali sama kita ya, memberi kaki supaya kita bisa jalan…Terima kasih ya Allah…ade sudah bisa jalan…”

Dan, kata temen saya ini, orang yang narsis biasanya dibesarkan oleh ortu yang berperilaku narsis juga.

Demikian.

*masih pening*