Ikut Bandung Historical Study Games, Yuk?

Seperti pernah saya posting di sini, Museum Konperensi Asia Afrika mau mengadakan peringatan hari besar bangsa Asia Afrika selama sepekan, yaitu 18 – 24 April 2014. Acara itu antara lain dilakukan dengan merekrut ratusan relawan yang akan bergotong-royong menyukseskan acara.

Dengan berbagai latar belakang idealisme *jiyaaaaah* saya mendorong Kirana untuk mendaftar jadi relawan. Pertama, biar dapat wawasan baru, terutama mengenai sejarah Asia-Afrika. Kedua, biar dapat pengalaman baru dalam memberikan ‘pelayanan masyarakat’. Ketiga, biar tau cara bekerja dalam tim, Keempat, biar rasa cinta bangsa-nya semakin terpupuk.. dan lain-lain deh, banyak.

Apakah Rana dengan sukarela ikut? Hoho..tentu saja tidak. Rana masih 13 tahun dan langsung membelalakkan mata, “Apa?! Trus aku nanti ngapain di sana?” Saya jelaskan sebisanya. Dia sama sekali ga tertarik. Saya bujuk, “Ya minimalnya dicoba dulu dong, Sayang…”  Akhirnya Rana pun mendaftar dan  terdaftar resmi jadi relawan deh 🙂

Dengan ogah-ogahan, pada hari Ahad yll, dia datang ke acara pembekalan para relawan, ditemani Papa dan Reza (Mama sedang ada kerjaan lain). Yang datang banyak sekali. (Rana kemudian mengomel, “Cuma aku yang masih anak-anak!”–padahal meski usianya baru 13 tahun, tingginya udah melebihi para mahasiswi :D) Acaranya pun di ruang utama Gedung Merdeka, tempat para pemimpin dunia dulu bersidang, tempat dulu bung Karno menyerukan kebangkitan bangsa-bangsa Asia-Afrika.  Dan kalau baca buku “The Bandung Connection”, wah mengharukan dan heroik sekali upaya para negarawan kita dulu dalam melaksanakan konperensi ini.

IMG_20140323_120338

Rana paling belakang, jilbab putih

Pas pulang, saya tanya-tanya. Katanya, yang seru pidatonya pak Desmond, staf di MKAA dan pembina aktif Sahabat MKAA. “Kok bisa ya, dia hafal segitu banyak info tentang sejarah dunia?” kata Rana.   Lumayanlah, Rana sekarang mulai antusias. Hehe.. berkat pak Desmond teaaa… 🙂

Rana nanti kebagian tugas di pelaksanaan BHSG (Bandung Historical Study Games), yaitu kegiatan jalan sehat dalam bentuk permainan yang edukatif. Para peserta akan dibawa menjelajah sejumlah monumen di kota Bandung dan menjawab pertanyaan mengenai monumen tersebut.

Ada hadiahnya ga..?? Ada dooong.. Lumayan banget, yang juara I aja 1,5 juta plus trophy dan voucher menginap di hotel Savoy Homan (ini hotel bersejarah panjang lho…). Juara II 1 juta + trophy + voucher makan di hotel Savoy Homann. Juara III 750rb+ trophy + voucher makan di hotel Savoy Homann. Info selengkapnya, silahkan meluncur ke situs Museum Asia Afrika.

Advertisements

‘Jihad’ Ga Beli Buku

Hari ini dimulai dengan rasa shock dan galau karena suatu kasus, yang bikin saya pusing sejak malam. Hiks, pokoknya ceritanya serem deh. Nah, di kampus, seperti  biasa, jadi seneng lagi dong. Ketemu dengan dosen dan teman-teman yang meminati bidang ilmu yang sama, benar-benar memberi semangat baru.

Trus, saya ada waktu sekitar 2 jam sebelum ketemuan sama suami dan anak-anak, di tempat Reza les komik: di BCCF (Bandung Creative City Forum), Jalan Purnawarman.

“Mama di kampus aja deh, di perpus. Kalau langsung ke BCCF, kan lewat Gramedia.. Nah, Mama pasti tergoda beli buku!” kata saya ke suami, via hp.

“Iya, itu memang jihad Mama!” gurau suami.

Jadi begini, buku di rumah kami itu udah kebanyakan banget. Rak buku sampai ga cukup, sebagian masuk ke lemari pajangan (yang kalo di rumah orang mah diisi barang-barang pajangan), sebagian dikardusin. Ada juga sekardus penuh yang siap disumbangin. Udah cari info rumah baca ke dua temen di FB yang dulu beberapa aktif nulis status soal rumah baca, belum ada jawaban. Akhirnya ya sudahlah. Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah memberi kami rizki yang banyaaak.. supaya bisa merenovasi rumah, dan lantai atasnya ada ruangan luaaas… buat perpustakaan. Nah, atas dasar itu, seharusnya saya memang lebih selektif beli buku.Masalahnya, saya selalu tak tahan untuk tak beli buku, kalau ke toko buku (atau baca iklan toko buku online). Makanya suami sampai bilang, tidak beli buku itu justru ‘jihad’ buat saya.

Nah, akhirnya sekitar sejam di perpus (dan tergoda pinjam bukunya Amy Chua –Word on Fire: How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethnic Hatred & Global Instability-, saya baca pendahuluannya menarik banget.. padahal… hwaa..harusnya nggak usah pinjam, ada buku lain yang lebih urgen saya baca), perut saya terasa mual (kayaknya, efek shock saya yang semalam itu masih ada). Akhirnya makan soto deh, di kantin. Seger lagi. Di tengah rintik hujan, saya berangkat ke BCCF.

Nah, turun angkot di depan Gramedia jalan Merdeka, saya menguatkan hati, pokoknya jangan mampir! Tapi, saya musti nembus ke Gramedia, sampai ke jalan Purnawarman. Pas di depan pintu toko, ealaaa.. teringat edisi baru majalah Time memuat artikelnya Robert Kaplan yang penting buat saya. Saya udah coba browsing, cuma member yang bisa baca. Jadi, saya pun masuk, dengan niat beli Time. Tapi, ternyata yang terbaru belum ada. Nah, mau keluar, melirik deh ke sebuah buku yang diinginkan Reza. Masih bisa ditahan. Reza masih banyak bukunya yang belum sempat dibaca. Lalu lewat deh ke bagian buku obral. Lirik-lirik sebentar. Akhirnya ga tahan, masuk deh. Dan.. ya sudahlah… ambil satu.. ambil satu lagi.. trus satu lagi.. Tobaaat..!

buku murahAgaknya, justru karena murah-murah itulah nafsu beli jadi tambah meningkat ya, hiks. Emang sih murah banget. Buku P3K, 10rb (soalnya, mau ikut FESPER / kemping keluarga homeschooling se-Indonesia, dan saya  jadi petugas P3K, padahal saya ga begitu paham soal ini). Buku berkebun 10rb (ehm, kan lagi nanam sayuran, biar ilmunya mantap gitu…). Buku ‘wisata kuliner di Jogja’ 5rb (kan mau jalan-jalan ke Jogja bentar lagi). Trus, buku karya Tan Malaka, “Dari Penjara ke Penjara” (nah, ini WOW banget. Sudah lama saya ingin tau  banget, apa sih yang ditulis sama Tan Malaka selama ini, kok beliau sedemikian dikagumi banyak orang?), cuma 15rb.  Lalu, bukunya kang Ali Muakhir @7rb (saya borong 18 buah, sebagian buat perpustakaan di TK saya, sebagian untuk hadiah anak-anak TK di akhir tahun nanti). Dan beberapa buku lain untuk Rana (nemu bukunya CS Lewis!), Reza, dan Fadhli ponakan saya. Total 218rb.

Saya pun jalan sampai ke BCC sambil agak deg-degan. Duh pasti diomelin deh. Suami ga galak sih. Cuma ga enak aja, lagi-lagi gagal ‘menahan diri’. Dan emang bener, si Akang geleng-geleng kepala melihat tas kresek besar berisi buku yang saya tenteng. Saya senyum-senyum aja. Komentar Reza, “Lho buku aku cuma satu?!” (yaela, padahal baru kemarin -bener-bener kemarin-dibeliin dua buku).

Nah, sambil nunggu Reza selesai les komik (senengnya, liat Reza menyukai lesnya ini… sudah lama saya mencari-cari les gambar yang bagus) saya ngobrol-ngobrol sama istri guru les Reza, namanya teh Sri. Eh, rupanya beliau punya sanggar kreativitas di Ujung Berung. Wow.. asyik, emang ini yang saya cari selama ini. Insya Allah, kalau les komik beres, Reza akan saya bawa berkegiatan di sana deh.

Lalu, nganterin Kirana audisi biola, tahapan sebelum mengikuti ujian ABRSM beberapa bulan mendatang. Habis itu.. ya pulang deh. Sampai di rumah, memegang dan membaca-baca sekilas buku-buku baru  itu.. melihat Reza tekun membaca buku barunya, mendengar Kirana dengan kritis mengomentari buku yang sedang dibacanya, benar-benar membahagiakan.  Apalagi, tiba-tiba Reza mendekat dan memeluk, “Aku sayaaang umi.. besaaar sekali, sebesar bumi sampai pluto!”

Walhasil, tiada kata selain alhamdulillah. Duka dan suka memang silih berganti. Seperti kata om Mario (dan beliau pastinya terinspirasi dari ayat Quran): kalau kesedihan datang, pasti saudara kembarnya (yaitu kesenangan) juga datang bersamanya. That’s life, anyway.

PeDe Bicara Seks pada Anak SD Anda

indexBerikut ini resume Seminar Ibu Elly Risman yang saya copas dari live-tweet Rumah Parenting Depok, lalu saya jadikan satu tulisan, dengan ditambahin sedikit penjelasan di sana-sini (karena, meski ga ikut seminar bu Elly ini, saya sudah pernah ikut seminar beliau dulu ttg mendidik anak di era digital, lalu seminar pendidikan seksualitas dg bunda Rani Razak Noeman, yang isinya mirip). Yg terungkap di sini baru sebagian saja, banyak yg musti digali lagi, jadi sebaiknya ikut deh kalau ada lagi seminar dari bunda Elly atau bunda Rani. OK?

Materi #PeDebicaraSeks bertujuan supaya para ortu PD ketika ditanya oleh anaknya, “Ma, sodomi dan sotomi bedanya apa sih Ma?” Supaya juga ortu tau aspek apa saja yang harus dikembangkan pada anak.  Juga, supaya ortu mengerti tahapan perkembangan seksual anak.Dan yang paling penting adalah agar ortu siap menemani anaknya dalam menemukan identitas seksualnya

Ok, kita mulai dgn usia brp anak kita masuk SD? Ternyata banyak ortu yg tdk tau kapan kematangan diri anak u/ masuk sekolah . Datanya, anak berada dlm situasi belajar lebih dr 8 jam/hari. Bayangkan, anak 8 jam di sekolah pdhl otaknya blm bersambungan. Apalagi dgn kurikulum DikNas yang tidak ramah dgn perkembangan otak anak. Artinya? Otak anak sangat lelah. Pdhl, anak menghadapi bahaya luarbiasa : Predator Bisnis Pornografi. Anak yg mana? LAKI-LAKI.

Kenapa anak laki2? karena otak laki-laki adlh otak kiri, shg mudah fokus. Fokus pada? Produk Pornografi! Anak laki yg mana? yang BELUM BALIGH. Karena pada masa ini anak sangat kritis dalam perkembangan seksualnya. Yang mana lg? Anak yg BLASTed : Boring,Lonely,Angry/Afraid,Stress,Tired (bosan, kesepian, marah/takut, stres, lelah). Siapakah anak yg BLASTed? Adalah anak yg otaknya LELAH.

Anak kita, mengalami beban luar biasa. Tidak hanya beban fisiknya karena lamanya waktu di sekolah, tapi juga beban jiwanya. FAKTANYA : Data Divisi Anak&Remaja @kitadanbuahhati : menurut 23% anak SD kelas 4,5,6 berpendapat bhw pacaran adlh hal wajar. 15% anak SD kls 4,5,6 bpendapat bhw aktifitas yg boleh dilakukan saat pacaran adlh : berpelukan,ciuman, dan pegangan tangan. Pernahkah Anda menyatakan dengan JELAS pendapat anda tentang PACARAN pada anak Anda?

Apa yg terjadi pd anak kita? Mereka sdg dlm perkembangan seksualitas yg pesat + stimulus (pornografi + sexting) = hasilnya?  Kasus SMP 4 JakPus seharusnya menjadi tamparan keras bagi para ortu untuk #PeDeBicaraSeks pada anak2 kita. [kasusnya: anak2 SMP memvideokan hubungan seks mereka]

Kapan ortu perlu mengatakan pendapatnya tentang pacaran? SEBELUM BALIGH! Kenapa? Karena ketika sudah terlanjur baligh, testosteron dalam tubuhnya bekerja 20x lebih besar = anak kita sudah sexually active21. Anak sudah sexually active + gadget [hape/tab/iPad] di tangannya. Data @kitadanbuahhati : 95% anak kelas 4,5,6 SD sudah terpapar pornografi.

Umur berapa Anda memberikan gadget pada anak Anda? Sudah sampaikan belum ttg dampak pornografi pada anak pdhl gadget di tangannya? sdh sampaikan belum aturan Allah AnNur 21?

Pornografi merusak otak pd bagian PreFrontal Cortex (PFC) : bagian yg membedakan manusia dg makhluk lainnya. Jika rusak? Tahukah Anda, sekali anak melihat brosur pakaian dalam sengaja atau tidak sengaja, lampu pornografi di otaknya SUDAH ON.

OK. Kita sama2 tau banyak salahnya kita pada anak kita selama ini karena kita tidak tau. MAAFKAN DIRI SENDIRI, lalu:

  1. SADARI keadaan genting ini, sadari anak adlh tanggungjawab pd Allah. Kita terima baik2, jgn kembalikan ke Allah kelak dlm keadaan bonyok (hancur secara moral, otak rusak, dll).
  2. SEPAKATI dgn pasangan tentang kegentingan : pornografi dari gadget anak kita dpt mengakibatkan kerusakan otak.
  3. Buat daftar dari apa yg luput selama ini ttg hal2 yg harus diajarkan pada anak mengenai seksualitas. Buat kurikulum kecil. Dari daftar itu,tentukan apa aja materi yang akan diajarkan pada anak, apa yg menjadi prioritas apa, siapa (ayah/ibu) yg sampaikan, kapan? Persiapkan materinya, tentukan cara menyampaikannya, dan pilih situasinya.

Situasi yang nyaman bicara dengan anak: duduk menyamping [berdampingan, bukan berhadapan secara frontal yang akan membuat anak merasa sedang diinterogasi/dihakimi].

TIPS :

a. Mulai ngobrol ttg issue genting, misal ttg pacaran, kasus di TV yang sedang hot. Obrolkan dg santai.

b. Cerita pengalaman ortu (anak suka dgn pengalaman orangtuanya, jadi dia akan antusias mendengar), dari situ masukkan nasehat/nilai/hikmah.

Continue reading

Jalan-Jalan Ke Sekolah Perempuan

Ceritanya begini. Saya sadar sepenuhnya bahwa berkebun itu sangat penting dalam proses pendidikan anak. Silahkan browsing saja, gimana pentingnya. Apalagi kalau baca-baca metode pendidikan Charlotte Mason (misalnya, buku ‘Cinta yang Berpikir’ karya Ellen Kristi), wah, pasti deh, merasa bersalah banget kalo engga mengajak anak mencintai alam, tumbuhan, dan kebun.

Masalahnya, saya TIDAK suka berkebun. Males banget. Tapi sebagai ibu yang bertanggung jawab *amin* saya berusaha menumbuhkan tekad untuk berkebun. Setelah lama tertunda, akhirnya, pak tukang pun datang, membuat rak untuk pot-pot yang KELAK (lama banget?) akan ditanami sayuran. Lalu, selama berhari-hari,  rak itu nganggur. Berkebunnya masih wallahu a’lam, saya masih mencari inspirasi (dan motivasi) dulu. Padahal bibit sudah ada beberapa jenis, dikasih temen-temen (antara lain hasil jalan-jalan ke Pesantren Babussalam, duluuu banget…sampai sekarang blm ditanam).

Nah, seperti biasa, ketika saya butuh inspirasi, saya browsing-browsing, ketemu deh sumber inspirasinya. Awalnya, saya baca tulisan teh Indari Mastuti (Iin) di Kompasiana, trus saya ‘kejar’ ke facebooknya (selama ini kami berteman di FB tapi belum pernah saling sapa :D). Eh, pas baca wallnya, beliau menawarkan bibit cabe dan mempersilahkan siapa aja yang minat datang ke rumahnya. Langsung deh, saya inbox, ngajak ngobrol. Ternyata orangnya ramah banget. Padahal, beliau ini ibu terkenal lho, founder grup Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), Ibu-Ibu Doyan Bisnis (IIDB), dan yang sedang naik daun, Sekolah Perempuan. Wah, kayaknya emang wajib dikunjungi nih. Saya selalu kagum pada aktivis sosial yang punya sumbangsih nyata ke masyarakat, secara saya susah banget kalau diajak aktif sosial (saya tipe rumahan dan agak-agak susah bersosialisasi).

Akhirnya, karena diniatin banget, jadi juga deh, hari Ahad sore, saya, Rana, dan Reza main ke rumah teh Iin. Subhanallah, masuk ke rumah, yang sekaligus difungsikan sebagai Sekolah Perempuan (SP) itu, saya langsung takjub lihat deretan buku-buku yang tersusun rapi. IIDN dan SP berhasil melahirkan ratusan penulis perempuan (targetnya: 1 juta!), dan kini sudah terbit 500-an judul buku karya mereka. Kata teh Iin, yang belajar nulis di IIDN / SP itu bahkan ada yang belum kenal word, masih ngetik pake HP. Tapi, akhirnya bisa nerbitkan buku juga. Saya bahkan ketemu dengan ibu mertua teh Iin, yang ternyata WOW… sudah menerbitkan 40 (gak salah baca: EMPAT PULUH) judul buku resep masakan!

Jadi, ibu-ibu, never give up ya.. Kalau sudah berniat menulis, ada minat (dan sedikit bakat pun cukuplah), insya Allah bisa kok jadi penulis, asal rajin berlatih nulis. Cara ampuh jadi penulis adalah.. dengan MENULIS. Minimalnya, mulailah nulis di blog atau note FB (jangan puas hanya nulis 2-3 kalimat curhat di FB ya).

Seiring waktu, di SP tidak hanya fokus pada belajar nulis. Ibu-ibu yang punya minat dan bakat di bidang lain pun diberi keterampilan, misalnya bikin kerajinan tangan yang laku dijual, bikin baju, dll. Gak heran kalau SP berkali-kali di-studi-bandingi pejabat dan peneliti (atau ibu-ibu biasa kayak saya). Soalnya, ini memang gerakan yang unik: berawal dari komunitas di FB, akhirnya berkembang menjadi persahabatan di dunia nyata dan bergerak nyata mengembangkan potensi kaum perempuan.

Rana dan tante Iin; Rana pegang boneka lucu karya anggota Sekolah Perempuan

Rana dan tante Iin; Rana pegang boneka lucu karya anggota Sekolah Perempuan

Eh, trus berkebunnya gimana?  Ya gitu deh… saya nanya-nanya soal cara menanam, kapan disiram (sekalian, ‘menasehati tak langsung’ ke Rana dan Reza, kan mereka mendengar percakapan saya dengan teh Iin).

“Tanaman itu makhluk hidup lho.. Harus disayang, dikasih air, dikasih pupuk… Kalau enggak, kan kasihan…” kata tante Iin.

(Rana dan Reza awalnya cuek aja sambil makan baso yang enak, suguhan tante Iin. Tapi, akhirnya Reza nyeletuk juga, merencanakan pembagian tugas menyiram kebun :D)

salah satu sudut kebun mungil teh Iin

salah satu sudut kebun mungil teh Iin

Pulangnya… waduh, jadi malu, dikasih banyak oleh-oleh.Mulai dari buku karya anggota IIDN: Womenpreneur Checklist (karya Dian Akbas) dan Ketika Jodoh Menghampiri (Ida Fauziah). Buku Womenpreneur adalah panduan memulai usaha untuk perempuan, menjawab berbagai pertanyaan: bisnis apa yang cocok untukku, bagaimana memulainya, bagaimana mendapatkan modal, dll. Sedangkan buku Ketika Jodoh Menghampiri berisi tips inspiratf mewujudkan keluarga sakinah,mawaddah, wa rahmah. Wah, penting dibaca nih..;)

hadiah buku

hadiah buku

Trus ya, teh Iin membekali kami dengan sekarung…kompos! Waduh, senengnya.. (dan sekaligus: jadi ada tanggung jawab moral dong, hahaha.. masa udah dimodalin kompos dan beberapa bibit tumbuhan, berkebunnya kaga mulai-mulai?!)

Lalu, hari tadi, akhirnya, kegiatan berkebun dimulai, dengan menyaring tanah (jadi, ada tanah bekas bangunan gitu deh..cuma banyak campuran batu, jadi disaring dulu pake kawat kasa yang agak besar ukuran lubangnya, habis itu dicampur sama kompos). Jujur saja, memulainya tuh.. MALES banget! Ini bener-bener perjuangan deh buat saya. Tapi melihat Reza yang antuasias (kayaknya, nasehat tante Iin-nya ngefek banget tuh), rasanya ga tega kalau saya tetep males. Rana sih agak males-malesan (nah, ini turunan mama-nya banget deh), tapi tetap mau bekerja.

Lumayanlah, sore tadi selesai ngurusin tanah. Disambung besok lagi deh. Mudah-mudahan kebunnya jadi dan kapan-kapan fotonya bisa dipamerkan di blog ini 😀

With millions thanks to teh Indari Mastuti. Semoga Allah selalu memudahkan langkahnya bersama Sekolah Perempuan.