Sholawat Cinta

sholawatSekedar buat catatan pribadi biar nyadar dan ga lupa-lupa lagi.

Saya tadi menengok teman saya yang suaminya sakit parah. Ibu ini langsung curhat panjang lebar sambil nangis-nangis. Jadi rupanya selama ini suaminya nggak sholat dan sangat duniawi. Bertolak belakang dari si ibu yang sangat nyantri, turunan ajengan (ulama). Dalam hampir semua hal, ibu ini tidak memiliki kecocokan dengan suaminya. Duh, bisa dibayangkan betapa beratnya.

Ibu ini rutin bangun jam 2 pagi untuk tahajud, dzikir, dan wirid. Hari-harinya dipenuhi dengan dzikir dan sholawat. Caranya, dia kumpulkan 5000 butir tasbih di sebuah kotak. Lalu sambil melakukan apa saja, dia baca dzikir atau sholawat. Misalnya, sambil masak, dia baca dan hitung dalam hati sampai 10, lalu dia ambil 10 butir tasbih dari kotak, dipindahkan ke kotak lain. Ketika butiran tasbih di kotak pertama habis, berarti tamat, dia sudah baca wirid tertentu sampai 5000 kali. Sambil bepergian kemana-mana, dzikir dan sholawat diucapkannya dengan konsisten.

Yang membuat saya terkesima ada dua hal. Pertama, dia sedemikian tabah menjalani hidup dengan suami yang sangat bertolak belakang dengannya. Yang membuat dia nangis-nangis bukan karena suaminya sakit, tapi karena dia khawatir dengan nasib suaminya kelak di akhirat bila masih tetap belum mau ‘insyaf’. Doa yang dia panjatkan dalam tahajudnya adalah agar suaminya diberi hidayah. Dia nangis-nangis bilang, “Saya iri sama bu Dina, sering keliatan pergi ke pengajian bersama suami…” (waduh, saya merasa ditampar.. selama ini kenyataan bahwa saya dan suami bisa bareng-bareng ke masjid, atau ke majlis taklim, -meskipun sebenarnya ga sering- tidak terlalu saya syukuri, saya anggap sesuatu yang ‘sudah sewajarnya’.. ternyata…hiks..hiks..)

Ibu ini sudah menikah puluhan tahun dengan suaminya itu, sudah punya cucu pula. Nah, kok bisa tahan dan tabah? Sungguh kontras dengan beberapa istri yang saya kenal, ada saja perilaku suami yang dikeluhkan, kadang ujung-ujungnya minta cerai. Saya pun terus-terang dulu (duluuu… lho) sering mengeluhkan si Akang hanya karena masalah-masalah sepele. Kurang sekali rasa syukur saya, hiks.

Ibu itu bilang, “Mungkin sudah ‘bagian’ saya untuk menjadi pembimbing buat suami saya, mudah-mudahan Allah mengganti semua penderitaan saya selama ini dengan kebaikan dan keberkahan yang berlimpah..”

Bisa dilihat kan sudut pandangnya? Dia melihat dirinya ‘petugas’ dari Allah, membawa misi dari Allah. Jadi, urusan dia memang sama Allah. Dia kecewa atas perilaku suaminya, dia adukan semua kepada Allah. Ke suaminya, dia tetap sopan dan menggunakan bahasa Sunda yang sangat halus. Dan di antara berbagai hal, yang paling merisaukan dirinya adalah keimanan suaminya. Impiannya adalah punya suami yang sangat sholeh, ngaji bersama, wirid bareng, bukan hal-hal yang material. Subhanallah…

Kedua, saya terkesima pada totalitasnya dalam mewujudkan rasa cinta pada Rasulullah. Dengan berlinang-linang air mata, dia bilang rinduuuu… sekali pada Rasulullah. Dia sampai mimpi berada di depan makam Rasulullah. Dan dia sudah umroh dua kali, gratis, dibayarin temannya (tanpa disangka-sangka).

Oh ya.. ya.. saya juga sering ngaku cinta Rasulullah. Tapi… hwa.. ga ada apa-apanya saya dibanding ibu ini. Saya lihat, pikirannya terfokus pada Rasulullah, dan semua yang dilakukannya ada dalam aura ‘sholawat’. Saya kesulitan menggambarkan situasinya dengan tepat. Seperti.. apa ya.. Seolah, sholawat itu seperti udara yang menyelimuti diri ibu ini. Setiap helaan nafasnya seperti mengandung partikel-partikel cinta pada Rasulullah. Dan udara penuh cinta itulah yang memberinya kekuatan menjalani hidup selama ini.

Ibu itu bilang sambil menunjuk jari telunjuk dan jari tengahnya yang dirapatkan, “Sholawat dan Rasulullah itu seperti ini, sangat berdekatan. Kalau kita ingin mendekat pada Rasulullah, ya musti sholawat…”

Dan menariknya, dia sama sekali tidak meniatkan sholawat itu untuk dapat sesuatu (material). Hanya cinta.

Terimakasih ya bu. Padahal saya menengok ibu buat menunjukkan simpati (=memberi). Tapi akhirnya malah saya yang menerima limpahan ilmu transenden, menyadarkan saya bahwa masih terlalu banyak hijab antara saya dan Rasulullah…

Tentang Pilpres

foto: diliputnews.com

sumber foto: diliputnews.com

Sebenarnya saya sudah  berjanji dalam hati nggak akan nulis soal pilpres di blog. Trauma. Dulu, tahun 2009, saya masih nge-blog di Multiply, untuk pertama kalinya berdebat dengan teman-teman sendiri, yang tadinya berhubungan baik, hanya gara-gara saya mengkritik Budiono. Saya menyebut Budiono berhaluan neolib. Waktu itu saya hanya mengulang pernyataan Amien Rais. Langsung deh, heboh para pendukung Budiono membanjiri postingan saya itu. Yang menarik waktu itu, mereka membela Budiono hanya berdasarkan perilakunya sehari-hari (sederhana, nyetir mobil sendiri, kalau dinas luar kota nginep di hotel sederhana, dll) dan mengecam Amien Rais berdasarkan perilakunya pula (suka mangkir jadwal ngajar di kampus, misalnya). Argumen valid atas ketidakneoliban Budiono tidak muncul.

Waktu akhirnya memberi bukti atas banyak hal. Kata Eros Djarot dalam salah satu tulisannya, “hanya waktulah yang tak dapat ditaklukan oleh kebohongan. Kalau toh kebenaran dapat ditikam setiap saat, tapi ia tetap saja takkan pernah mati.”

Saya waktu itu memang belum banyak mempelajari ekonomi politik. Jadi, ada hikmahnya juga, saya semakin banyak mempelajari dan semakin tahu bahwa salah satu pemikiran sesat yang harus saya lawan (melalui tulisan dan sikap) adalah neoliberalisme.

Nah untuk pilpres kali ini, saya diam-diam mengikuti status FB beberapa orang tertentu yang sangat menarik dalam membahas capres  (ada yang pro Jokowi, ada yang pro Prabowo). Salah satu di antaranya sangat luar biasa, membuat saya tercengang, karena banyak mengungkap hal-hal yang tak terduga terkait kedua capres ini. Saya suka sekali membaca status-status panjang beliau (sebut saja Y), dan membaca diskusi di kolom komentar. Dan sejujurnya, saya sebenarnya menempatkan diri sebagai pengamat/penstudi, bukan sebagai “orang yang musti milih”. Artinya, saya sedang berusaha mengasah intelektualitas saya dalam politik nasional. Saya selama ini jauh lebih paham soal politik internasional.

Tapi… olala… tiba-tiba saja, di antara komentator di status Y, muncul komen seseorang yang saya kenal. Sebelumnya dia tak pernah muncul di antara para komentator di wall itu, ndilalah kok tiba-tiba muncul. Sebut saja namanya X. Saya langsung il-feel lihat gayanya yang sok akrab dengan Y (padahal barangkali aja memang X dan Y ini kenalan lama ya, hehe). Karena, sebelumnya, untuk isu Suriah, X itu masuk ke barisan orang-orang pendukung ‘mujahidin’, sok taunya setengah mati (tapi mengabaikan asas-asas berpikir ilmiah, padahal dia orang yang sangat educated), bahkan akhirnya meremove saya. Orang ini adalah jenis orang yang merasa paling tahu dan paling benar, dan yakin surga itu buat dirinya dan kelompoknya aja. Pokoknya, jenis orang yang kalau lu ga bareng gue, maka lu sesat.

Terus-terang saja, saya langsung males ngikutin diskusi di status Y. Daripada saya sakit mata baca komen-komen (yang ga penting) dari si X itu, mending unfollow Y aja deh. Saya sangat respek pada Y (dan agak-agak terpengaruh juga, sempat terpikir untuk memilih capres yang didukung Y ini). Tapi karena tiba-tiba muncul si X, perasaan saya langsung berubah. Si X ini berhasil membuat saya eneg sama capres yang beberapa menit sebelumnya sebenarnya menarik simpati saya.

Saya akui, saya sedang tidak berperilaku ilmiah.

Tapi, saya jadi merenung sendiri. Inilah kekuatan media dalam menyetir opini publik. Media mampu melakukan ‘setting’, dengan cara memberikan perhatian pada isu tertentu dan mengabaikan yang lainnya. Output-nya, opini publik pun akan terseret ke arah yang diinginkan oleh media. Berpikir ilmiah? Oh nanti dulu. Saya sudah hafal situasinya untuk kasus Suriah. Berpikir ilmiah disingkirkan jauh-jauh oleh sebagian kelompok. Yang lebih ngefek pada diri mereka adalah media setting yang dilakukan media mainstream Barat yang -anehnya- bekerja sama dengan sebagian besar media berlabel Islam.

Nah, saya baru merasakan efek media setting ini secara fenomenologis (saya rasakan sendiri secara langsung). Saya sudah tidak mengikuti TV lagi, jadi saya ‘merdeka’ dari setting televisi nasional kita yang masing-masing menyuarakan apa yang dimau pemilik modal (yang masing-masingnya bekerjasama dengan capres tertentu). Jadi saya mencari informasi yang menetes dari orang-orang tertentu yang punya akses pada elit, pada buku-buku dan sumber-sumber valid (bukan tukang gosip belaka), yang menggunakan media sosial sebagai sarana berbagi informasi. Dan ya, saya akui, saya sempat terombang-ambing.

Sampai tiba-tiba, muncullah si X, menyadarkan saya akan sebuah kebenaran.

Kata Thomas Aquinas, “Veritas est adaequatio intelctus et rhei”, kebenaran adalah kesesuaian antara pikiran dan kenyataan.

Pikiran dan argumen-argumen Y (dan kawan-kawannya para komentator) memang canggih dan membuat saya hampir percaya 100%. Tapi, kenyataan menunjukkan bahwa ada orang-orang macam X yang akan merajalela di negeri ini bila seandainya capres yang mereka dukung menang.

Jadi, kesimpulannya apa?

Hm, ini cuma curhat saja kok. Gak perlu pakai kesimpulan.

Yang jelas, kini saya secara fenomenologis mengetahui alasan mengapa para capres dan partai-partai di negara-negara demokrasi-liberal menghamburkan sedemikian banyak uang untuk menguasai media, termasuk media sosial. Dalam pileg dan pilpres, mereka membentuk cyber army yang bekerja keras untuk mempengaruhi opini publik. Kemenangan dalam pileg dan pilpres pun menjadi semu: menang karena memang dikehendaki rakyat atau karena rakyat jadi korban media setting?

Dan sedihnya, di tengah kepungan perang informasi ini, berpikir merdeka memang terasa sangat sulit.

Hidup Tanpa Stress

Reza Mancing

Reza Mancing

Senin-Selasa kemarin, kami sekeluarga ‘berlibur’ ke lereng gunung Salak, ke tempat kerabat, mengantar ibu mertua yang ingin berkunjung ke kampung halamannya. Sebenarnya awalnya kami hanya berniat mampir saja ke rumah kerabat di gunung ini. Tapi ternyata Rana dan Reza betah, sehingga akhirnya menginap semalam di sana. Apa yang membuat anak-anak betah? Ternyata… ada empang buat mancing. Reza penuh semangat mancing, untuk pertama kali dalam hidupnya 😀 Sementara Rana betah karena rumah dan halamannya yang luas (dia memang selalu mengimpikan punya rumah yang luas, bukan rumah mungil seperti yang kami tempati sekarang).

Ada beberapa hal menarik di rumah kerabat kami itu. Pertama, sang bapak yang kami sapa dengan “Kang Haji” itu ternyata adalah kyai. Salah satu anaknya yang sedang kuliah di UIN Jakarta sedang ada di rumah dan kami berdiskusi banyak hal. Menarik sekali, pak kyai di lereng gunung ini sangat luas wawasannya, terbuka, dan sama sekali bukan tipe takfiri yang dikit-dikit suka bid’ah-bid’ahin orang. Beliau beraliran NU, tapi anaknya malah aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, no problem.

Selama kami di sana, ada tamu-tamu yang datang untuk konsultasi. Rupanya selama ini pak kyai ini memang sering jadi tempat rujukan konsultasi untuk orang-orang kota, kebanyakan pengusaha dan politisi yang galau. Cara ngomongnya memang enak sih, menenangkan, meskipun juga ceplas-ceplos dan ‘rame’ kalau mengkritik perpolitikan di Indonesia. Mengingat perjalanan menuju rumah beliau yang jauh dari Jakarta, saya jadi mikir sendiri, betapa orang-orang kota itu memang banyak yang super galau ya, sampai bela-belain jauh-jauh ke lereng gunung ini…

Trus, yang bikin saya merenung juga adalah anaknya pak Kyai rupanya sedang Ujian Akhir kelas 6 SD (sekarang rupanya bukan UN lagi). Tapi sang anak nyantai..banget. Nonton TV, main sama kucing, mancing sama Reza. Waktu ditanya gimana ujiannya siang tadi, dia menjawab santai saja. Susah sih, tapi no problem… sama sekali ga kliatan diambil hati. Ibunya juga nggak ngomel ini-itu. Sang ibu, yang menyebut dirinya ke saya “Teh Haji” (kakak perempuan- haji) menjalani hidup  dengan ‘nrimo’, mengurus 7 anak dan tamu yang datang silih berganti. Teh Haji hanya bertanya lembut pada anaknya yang sedang ujian akhir SD itu, “Teh..biasanya teteh baca Yasin habis Subuh?” Dan sang anak menjawab, “Sudah…” sambil main sama kucingnya. Sama sekali tidak ada ketegangan pagi-hari-menjelang-sekolah.

Kok bisa ya santai begitu? Teringat betapa hebohnya anak-anak (termasuk ibu-ibunya) di kota menghadapi ulangan, apalagi ujian akhir. Yang menarik lagi, di sinilah kami sama sekali tidak mendapat tatapan heran saat menceritakan bahwa Rana dan Reza homeschooling. Dan tidak ada pertanyaan wajib yang bisa diajukan kepada kami, “Trus, ijazahnya gimana???”

Saya dan suami pun ngobrol-ngobrol. Analisis kami, mungkin karena di sini kehidupan berjalan dengan alamiah, tenang, tidak dikejar-kejar target yang muluk-muluk. Yang penting menjalani hidup sesuai aturan Allah, insya Allah semua akan dilindungi-Nya. Seperti pak Kyai, sama sekali ga neko-neko, ga berpolitik praktis, ga ngejar-ngejar uang, sehari-hari mengajar santrinya (yang cuma 7 orang, belajar kitab kuning Salafiyah), mengurusi empang dan kebun, menerima tamu-tamu galau. Tapi, eh, bisa juga punya rumah yang luas, bisa menguliahkan anak, bahkan sampai ke Yaman, dll. Sekolah pun bukan dianggap sebagai tujuan, melainkan sebagai wahana ikhtiar saja dalam mencari ilmu. Dan proses belajar yang utama dilakukan di rumah, bersama ortu. Jadi, ga perlu stress mau masuk sekolah favorit, nilai harus tinggi, dll. Dan itulah sebabnya mereka juga sama sekali tidak bertanya sebagaimana yang ditanyakan puluhan orang lainnya kepada kami selama ini, “Trus, nanti kuliahnya gimana? Ijazahnya gimana??”

Sikap santai (tapi tetap ‘bergerak) menghadapi hidup ini, terasa mahal buat saya. Pengen deh bisa kayak gitu. Padahal selama ini banyak yang mengira saya ini ‘santai’ banget (lha buktinya nekad saja tidak menyekolahkan anak secara formal). Padahal sebenarnya saya masih punya banyak keterikatan pada hal-hal formal itu. Tak heran bila saya diam-diam sering galau saat melihat Reza seharian baca buku cerita dan bikin origami. Pas ditanya cita-citanya apa, jawabnya, “Jadi agen rahasia”. Duh… mbok ya cita-cita jadi dokter apa insinyur, gitu… Saya mendesaknya belajar IXL-math dan bahasa Inggris di Raz-Kids karena galau *ntar gimana masa depannya kalau ga bisa math dan English?!* Saya semakin galau ketika Reza ogah-ogahan melakukannya.

Padahal, kalau dipikir-pikir, lumayan juga kemajuan yang didapat Reza ‘hanya’ dari origaminya itu. Antara lain, dia semakin mudah membaca instruksi di buku petunjuk origami [bahkan dia bisa paham instruksi di buku origami yang rumit berbahasa Persia; padahal dia sama sekali ga paham bahasa Persia, dia hanya mengikuti petunjuk gambar. Saya saja tidak bisa; ipar saya yang guru TK juga pernah berusaha mengikuti buku itu dan tidak bisa *artinya bukan cuma saya yang tulalit*]. Hasil origami Reza pun sudah canggih-canggih, bukan origami ala anak TK lagi.

Reza juga rajin sekali (dia menulis jadwalnya di dinding: mulai senin sampai senin lagi, ‘pelajaran’-nya adalah origami) mengikuti tutorial origami di Youtube (berbahasa Inggris). Secara teori, lambat laun dia akan bisa memahami kalimat-kalimat bahasa Inggris dengan baik ‘hanya ‘ dari ketertarikannya pada origami. Bukankah penguasaan bahasa itu sebaiknya berawal dari mendengar? Trus, kalau diingat-ingat, saya beberapa bulan yll bisa dapat skor TOEFL tinggi  (di atas 600, dan saya sendiri terheran-heran, soalnya sebelum tes saya sama sekali ga belajar) jelas bukan karena les, tapi karena banyak membaca buku-buku HI berbahasa Inggris selama kuliah.

Juga, saya pernah baca, matematika tidak hanya terkait angka, melainkan juga geometri. Bahkan, barusan saya browsing, origami sebenarnya ada kaitannya juga dengan membangun skill matematika. Benar-benar wow deh.

Well, sebenarnya saya tuh sudah lama tau bahwa belajar yang benar-benar nempel itu kalau dilakukan dengan passion, dengan minat dan ketertarikan yang tinggi. Tapi memang jadi ibu-ibu di kota itu sepertinya sulit untuk tidak galau. Saya benar-benar harus belajar hidup tenang antigalau dari Akang dan Teh Haji di lereng gunung Salak itu.

Leony

foto: bekasiraya.com

foto: bekasiraya.com

Subuh ini, saya gagal lagi menahan diri untuk tidak buka internet. Jadwal saya sekarang adalah baca buku, siap-siap untuk menghadapi ujian prelim. Tapi, saya membaca berita tentang anak itu, Leony, yang bunuh diri usai UN, yang membuat saya sangat gundah. Lalu saya tergiring membaca tulisan-tulisan lain. Duh, ternyata UN SMP juga kacau-balau, sama seperti UN SMA kemarin. Soal-soal UN sangat sulit, karena berstandar internasional (dan rupanya si pembuat soal nyontek pula dari soal-soal ujian internasional).

Anak-anak saya memang home-schooling, kami tidak mengikuti sistem. Tapi, sungguh keterlaluan kalau saya hanya bilang “Untung anakku ga sekolah.” Juga sungguh keterlaluan bila ortu lain yang anaknya baik-baik saja, memandang rendah keluhan-keluhan orang lain tentang UN dan dalam hatinya bilang, “Anakku baik-baik aja tuh, anak kalian aja yang kurang cerdas, kurang belajar baik, trus nyalah-nyalahin UN!”

Dari yang saya baca, memang UN ini keterlaluan, sebagaimana menterinya juga entahlah-harus-kusebut-apa… Saya baca surat terbuka Nurmilaty yang keren, mengharukan, dan menyebar luas itu. Dan saya benar-benar sakit hati saat membaca berita bahwa sang menteri yang berpendidikan tinggi itu berkomentar bahwa itu surat tak mungkin dibuat anak SMA [saking bagusnya]. Duh pak, kemana aja pak? Apa tidak tahu, anak-anak zaman sekarang, masih SD aja sudah menulis buku?!

Saya tak bisa menulis berpanjang kata tentang argumen mengapa UN kita ini buruk, takkan membuat anak jadi cerdas dan berbudi luhur. Sudah banyak ditulis orang yang lebih kompeten, dan saya menerima argumen mereka. Silahkan dibaca-baca saja (salah satu web khusus membahas UN: ini). Dan, ya saya setuju UN dihapus.

Lalu mengapa semua orang pintar di atas sana masih berkeras mengadakan UN? Banyak analisisnya. Tapi karena yang saya pelajari adalah ekonomi-politik, dan saya sangat yakin bahwa uang adalah driving factor dari sangat banyak keputusan politik, saya jadi sangat mencurigai faktor uang di balik UN. UN ini bisnis yang sangat-sangat besar. Bayangkan betapa banyak bimbel, percetakan, dll, yang bergantung kepada UN. Bayangkan betapa banyak uang yang dibagi-bagi kepada para pejabat di atas sana, para pembuat soal, hingga para pengangkut soal ke lokasi ujian. Untuk pelaksanaanya saja, tahun 2014 ini pemerintah keluar dana 560M. Berapa banyak dana yang dikeluarkan para ortu untuk menyiapkan anaknya agar lulus UN? Biaya bimbel, transport, dll.

Saya pernah dengar desas-desus, ada pejabat tinggi yang berkeras memuji-muji UN, sebenarnya punya saham di lembaga bimbel terkenal. Entahlah benar atau tidak, tapi sangat mungkin. Kerjaan saya tiap hari menganalisis politik luar negeri, yang sangat sering, ujung-ujungnya, kalau ditelusuri, ada korporasi yang terlibat di dalam konflik. Perang di Afrika, Suriah, Libya, Irak… kalau dilacak, semua ada perusahaan-perusahaan yang itu-itu juga yang meraup keuntungan. Jadi, saya pun memandang UN ini dengan kacamata yang sama.

Lalu, bisakah kekuatan uang itu dilawan oleh rakyat biasa seperti kita? Tentu bisa. Penggulingan beberapa rezim di Timteng, awalnya juga berawal dari protes-protes dan demo rakyatnya. Apalagi ‘cuma’ melawan sistem UN.

Tapi syaratnya, tentu saja, orang-orang tak boleh egois. Hanya mikirin diri sendiri, “Ah, anak gue baik-baik aja tuh! Anak elu aja kali yang ga bisa!”

Semua musti bergerak, minimalnya tanda tangan petisi. Minimalnya tulis status atau tweet, atau blog. Semua bicara dan melawan.

Terakhir, ini nasehat dari guru parenting saya.

Sistem pendidikan Indonesia memang buruk sekali. Tapi bila ortu tetap memilih menyekolahkan anak, pesan saya, jangan tambah anak tekanan di rumah. Di sekolah, anak sudah sangat tertekan, jadi ketika pulang, usahakan semaksimal mungkin agar anak nyaman, tidak dibebani hal-hal yang membuatnya semakin tertekan.

Perhatikan bahasa tubuh anak kalau ibu ingin bicara. Kalau dia terlihat lelah atau gundah, jangan langsung ditanya-tanya dulu. Ketika anak pulang sekolah, lelah, jangan bombardir dengan omelan. Peluk dan ciumlah dia. Yakinkan dia, bahwa dia anak istimewa buat ortu dan akan selalu dicintai. Buat hatinya tenang dan senang dulu. Setelah istirahat, suasana hatinya baik, barulah ajak ngobrol serius.

Misal, anak pulang telat. Ibu jangan langsung bentak dan marah-marah. Tunggu dulu sampai semua nyaman, anak kenyang makan, tidur sebentar, baru sampaikan baik-baik betapa ibu tadi khawatir karena anak pulang telat, lalu diskusikan dan bikin perjanjian agar tidak terulang lagi.

Nah, kisah Leony, saya baca di sini: ternyata begitu pulang ujian, si ibu langsung mengkritiknya karena Leony mengaku dapat contekan. Lalu Leony masuk kamar dan bunuh diri. Saya tidak sedang menyalahkan ibu Leony. Dan tidak bisa pula serta-merta diambil kesimpulan: oh ibunya sih yang salah! Tidak, akar keputusan Leony bunuh diri jelas bukan pada detik dia dikritik ibunya, tapi tekanan besar yang dialaminya selama ini. Jadi, ini kesalahan banyak pihak, terutama orang-orang elit di atas sana!

Tapi, sementara ini, sambil menunggu adanya pemimpin yang ‘ngerti’ dan ‘paham’ soal pendidikan, sebagai ortu kita bisa mulai melakukan berbagai langkah antisipasi. Yang utama dilakukan ya itu tadi, pesan dari guru parenting saya di atas.

Semoga jangan sampai ada Leony lain 😦

Ikut Kajian Parenting, Penting Ga?

sumber foto: blog.lib.umn.edu

sumber foto: blog.lib.umn.edu

Ilmu Parenting itu artinya ilmu pengasuhan anak, ilmu bagaimana menjadi ortu yang benar, bagaimana mengasuh anak dengan cara yang tepat. Nah, di sekitar kita banyak ‘pakar’ parenting, banyak orang yang menawarkan pelatihan atau kajian parenting. Kadang-kadang, ilmu yang disampaikan beda-beda. Apalagi kalau disampaikan sepotong-sepotong di status fesbuk. Mungkin ortu malah jadi mumet sendiri. Bagaimana cara memilihnya?

Beruntung sekali, saya itu, begitu kenal parenting, langsung ‘jatuh’ ke sekolah yang tepat, yaitu ikut pelatihannya Bunda Rani Noe’man, yang materi pelatihannya sudah digodok bertahun-tahun dan diterapkan dalam berbagai pelatihan di seluruh Indonesia, oleh Yayasan Kita dan Buah Hati (milik Bunda Elly Risman). Landasan teori-nya masuk akal dan aplikasinya pun sudah dipraktekkan oleh Bunda Rani sendiri (jadi, sebelum beliau jadi instruktur, beliau berguru dulu ke bunda Elly Risman, praktek ke anaknya, menemui berbagai masalah, lalu mencari jalan keluar, dst. Artinya, sudah teruji deh.)

Tentu saja, saya tidak mengatakan pelatihan bunda Rani itu sempurna. Tapi point-nya ada di landasan teori dan keterujiannya. Ada seseorang yang konon ahli parenting, yang ternyata isi bukunya copas-copas aja dari berbagai pelatihan yang diikutinya. Ada juga orang yang buru-buru menulis  buku parenting, hanya berbekal pengalaman pribadinya. Tidak salah. Saya juga tidak punya hak menyalahkan. Apalagi sebagian buku itu memang inspiratif. Hanya saja, sebagai “konsumen”, kita perlu punya pegangan dong, makanya, pelajari landasan teorinya. Jangan nurut begitu saja tanpa mikir.

Misal nih, kenapa kok ada pakar parenting menyebut kita harus memperhatikan bahasa tubuh anak, saat kita ingin berkomunikasi dengan anak? Wow, kalau ditelusuri, ada penjelasan teorinya, bahkan hingga ke cara kerja otak manusia.

Dengan memahami sampai ke  ‘akar’, kita ga akan mau nurut aja saat ada orang konon pakar parenting, dalam seminarnya bilang, anak bayi sudah harus diajari disiplin, dengan metode reward and punishment. Wadaw.. kasian banget si bayi kalau ibunya menuruti si ‘pakar’ itu…

Atau, ada tuh, penulis di fesbuk yang ‘mendadak parenting’ (duluuu banget, saya pernah mendebatnya, lalu dia remove saya, hehe). Dia mengkritik frasa ‘didiklah anak sesuai zamannya’, menurutnya itu ga Islami. [Ada yang bilang itu hadis (perkataan) Imam Ali, tapi si orang itu bilang, itu bukan kata-kata Imam Ali, entahlah, saya bukan ahli hadis]

“Masak zaman sekarang seks bebas merebak, trus kita bolehin anak kita seks bebas?” begitu kurang lebih kata orang itu, yang mengklaim sedang mengembangkan ‘parenting Islami’ [ehm, padahal, bahkan buku parenting yang ditulis orang barat pun -yang bagus dan benarnya, tentu saja-sebenarnya sangat-sangat ‘Islami’, nilai-nilai kebenaran kan universal, meski ga bawa ayat-ayat Quran].

Ya ela pak..pak…  Mikirnya musti dibalik atuh: kita musti mendidik anak sesuai dengan kondisi zaman ini. Ketika zaman sudah digital, semua anak punya fb dan hp, video porno dengan sangat mudah menyebar, bahkan anak SMP sudah dengan suka rela memvideokan ‘aksi’-nya sendiri, trus ibu ngomel panjang lebar “awas ya, jangan pacaran!”, ya ampun, bakal didenger gitu sama anaknya?

Bahasa anak zaman sekarang, apa yang didengar, apa yang dipahaminya, apa yang dialaminya, sudah jauh berbeda dengan zaman kita dulu. Jadi, cara kita menghadapi anak juga ga bisa pakai model cara ibu kita dulu menghadapi kita. Gitu lho, maksudnya.

Misalnya, facebook. Data Komisi Nasional Perlindungan Anak (2012) menyebutkan mereka telah menerima 100 laporan anak hilang yang diduga akibat aktivitas pada jaringan pertemanan di situs jejaring sosial.  Sekitar 53% pemakai Facebook di Indonesia adalah remaja berusia kurang dari 18 tahun.

Trus, ibu mau melarang anak main fesbuk? Darimana ibu tau anaknya fesbukan apa enggak? Siapa teman2 fesbuk anaknya? [jadi, artinya ibu juga canggih, musti tau cara-cara melacak kegiatan anak berinternet; artinya ibu ‘menyesuaikan dengan zaman’]

Lalu, mengapa banyak anak ABG kabur dengan teman fesbuknya? Nah, ibu yang ‘sesuai zaman’ akan menggali lagi dari ‘akar’nya: kenapa anak-anak itu bisa sedemikian alay sehingga dirayu sedikit oleh orang di fesbuk sampai berani kabur dari rumah? Instrospeksi diri, ada yang salah nggak dengan cara komunikasi kita selama ini? Mengapa anak memilih curhat ke temen fesbuknya daripada ke mamanya? Bagaimana caranya supaya anak tidak tertipu teman fesbuk?

Semua itu akan dipelajari oleh ibu yang ‘sadar zaman’. Kalau ibu yang ketinggalan zaman pasti akan ujug-ujug melarang anak fesbukan. Wah, nggak ngefek buuuu…

Nah, ilmu kayak gini ini yang musti dipelajari dari pelatihan parenting (yang benar, tentu saja).

Trus ada juga orang ‘mendadak parenting’ di FB yang mengkritik ‘ajaran parenting Barat’ yang melarang ortu gampangan bilang ‘jangan!’. Alasan si bapak satu itu: Al Quran aja isinya banyak larangan kok! Tepok jidat deh. Larangan di Quran itu untuk orang dewasa yang baligh, atau buat anak-anak paaaak?? Trus, berapa persen sih ayat larangan di Quran, dibanding ayat-ayat lainnya? Nah kalau Islam diajarkan dengan nuansa ‘larangan’ begitu ga heran deh kalau di sekolah berlabel Islam pun banyak anak ‘memberontak’ (pacaran, nonton video porno, dll). [dan saya bener-bener gemes saat liat ada akhwat mengaitkan kasus JIS  dengan doktrin “makanya, jangan percaya sama JIL”… ga pernah baca kasus-kasus di sekolah Islam dan pesantren ya mbak?!]

Kinerja otak (sesuai hasil penelitian) memang lebih menyukai yang dilarang kok. Misal, ke anak ngomong “jangan lari-lari!”, ngefek gitu? Mungkin nurut, atau mungkin dibentak atau dicubit dulu, baru ngefek. Tapi umumnya, anak-anak akan tetap lari-lari. Ternyata analisisnya, otak cenderung menangkap kata di belakang ‘jangan’ itu. Makanya, diubahlah caranya: “Nak, duduk tenang ya!” Juga ajarkan thinking skill ke anak, sehingga dia tahu sesuatu itu boleh dilakukan atau tidak tanpa nunggu diomelin ibu.

Aturan agama, tidak boleh ini, tidak boleh itu, jelas HARUS disampaikan kepada anak. Tapi caranya gimana supaya ngefek, supaya dituruti anak? Ini yang perlu dipelajari. Jangan ujug-ujug bilang “tidak Islami!”

Nah, ada lagi tuh saya baca di FB (saya sekarang tidak FB-an lagi, tapi sesekali masih tetap buka FB untuk cari-cari info), ada ibu yang mengeluh “Kok pelatihan parenting melarang bawa anak ya?” Intinya, dia mengkritik, parenting itu untuk mengasuh anak dengan benar, kok ini malah nyuruh anaknya ditinggal di rumah?

Begini ya bu, ada dua kemungkinan dari larangan membawa anak itu (dan tidak semua seminar/kajian parenting melarang bawa anak). Pertama, kalau mau belajar, tapi bawa anak, apa bisa maksimal belajarnya? Saya sih nggak bisa, entah yang lain. Kalau anaknya rewel, minta jalan-jalan keluar, trus ibu apa bisa tetap duduk di ruangan mendengar materi? Apalagi kalau anaknya bikin ulah, kan mengganggu konsentrasi yang lain?

Kedua, sangat mungkin materi yang akan disampaikan adalah materi dewasa, ada cuplikan visual porno (untuk ngasih tau ke ortu, dimana letak bahayanya, misalnya, ada game tertentu yang ‘hadiah’nya ‘gituan’, saya kan ga pernah main game itu, nah, sama pelatih parenting, dikasih liat tuh, game-nya kayak apa; sehingga saya benar-benar melihat bahwa itu game brengsek dan perusak nomer satu…, yang sayangnya dimainkan oleh anak-anak Indonesia mulai TK). Lha kalau ada anak kecil, gimana mau melihatkannya? Trus, kebayang ga bu, ngomongin masalah seks, tapi ada anak-anak kecil? Ampun deh…

Makanya tepok jidat banget deh, ketika teman saya menyelenggarakan seminar “pendidikan seksualitas kepada anak” atau “mendidik anak di era digital” trus peserta nanya “boleh bawa anak nggak?” Harusnya tanpa perlu nanya, juga udah bisa mikir sendiri dong, bahwa GA BOLEH!

Lha trus gimana, masa ibu2 yang punya anak kecil ga boleh ikut? Nah, di sini bu, pentingnya JIHAD, bersungguh-sungguh. Kalau niatnya nggak kuat, semua jadi susah dan ga mungkin. Saya beberapa kali bantu-bantu teman bikin pelatihan, jadi saya tau banget ‘perilaku’ ibu-ibu jenis ini: mengeluh masalah mahal duitnya, ada anak-anak ga bisa ditinggal, lama, jauh, ini-itu… Sampai akhirnya, saya menyimpulkan: semua bergantung niat. Yang sungguh-sungguh ingin belajar, akan datang. Dan saya yakin, Allah akan selalu membukakan jalan buat yang berniat kuat. “Semesta mendukung” , istilahnya. Yang niatnya angin-anginan, akan selalu menemukan alasan untuk tidak datang.

Coba diingat-ingat lagi: kalau biaya mahal, apa ibu nggak pernah beli baju yang mahal, beli ini-itu yang mahal? Bahkan, apa ibu nggak pernah ngutang? Ngutang (kredit) buat beli tas keren mau, tapi ngutang buat ikut pelatihan yang luar biasa penting, kok malu? Kalau anak ga bisa ditinggal, apa ibu ngga pernah ninggalin anak? Ga punya orang yang bisa dibayar untuk jagain anak sehari? Ga bisa kerjasama dengan suami? Atau, kompak sama beberapa peserta lain, bikin day care dadakan, patungan bayar pengasuh, dan masih banyak kemungkinan jalan keluar lainnya.

Baiklah, sekian dulu unek-unek saya. Mudah-mudahan ada manfaat buat yang baca. Kalau enggak, manfaatnya buat diri saya sendiri saja, katarsis atas kekesalan melihat perilaku beberapa oknum, hehe… 😀