Ikut Kajian Parenting, Penting Ga?

sumber foto: blog.lib.umn.edu

sumber foto: blog.lib.umn.edu

Ilmu Parenting itu artinya ilmu pengasuhan anak, ilmu bagaimana menjadi ortu yang benar, bagaimana mengasuh anak dengan cara yang tepat. Nah, di sekitar kita banyak ‘pakar’ parenting, banyak orang yang menawarkan pelatihan atau kajian parenting. Kadang-kadang, ilmu yang disampaikan beda-beda. Apalagi kalau disampaikan sepotong-sepotong di status fesbuk. Mungkin ortu malah jadi mumet sendiri. Bagaimana cara memilihnya?

Beruntung sekali, saya itu, begitu kenal parenting, langsung ‘jatuh’ ke sekolah yang tepat, yaitu ikut pelatihannya Bunda Rani Noe’man, yang materi pelatihannya sudah digodok bertahun-tahun dan diterapkan dalam berbagai pelatihan di seluruh Indonesia, oleh Yayasan Kita dan Buah Hati (milik Bunda Elly Risman). Landasan teori-nya masuk akal dan aplikasinya pun sudah dipraktekkan oleh Bunda Rani sendiri (jadi, sebelum beliau jadi instruktur, beliau berguru dulu ke bunda Elly Risman, praktek ke anaknya, menemui berbagai masalah, lalu mencari jalan keluar, dst. Artinya, sudah teruji deh.)

Tentu saja, saya tidak mengatakan pelatihan bunda Rani itu sempurna. Tapi point-nya ada di landasan teori dan keterujiannya. Ada seseorang yang konon ahli parenting, yang ternyata isi bukunya copas-copas aja dari berbagai pelatihan yang diikutinya. Ada juga orang yang buru-buru menulis  buku parenting, hanya berbekal pengalaman pribadinya. Tidak salah. Saya juga tidak punya hak menyalahkan. Apalagi sebagian buku itu memang inspiratif. Hanya saja, sebagai “konsumen”, kita perlu punya pegangan dong, makanya, pelajari landasan teorinya. Jangan nurut begitu saja tanpa mikir.

Misal nih, kenapa kok ada pakar parenting menyebut kita harus memperhatikan bahasa tubuh anak, saat kita ingin berkomunikasi dengan anak? Wow, kalau ditelusuri, ada penjelasan teorinya, bahkan hingga ke cara kerja otak manusia.

Dengan memahami sampai ke  ‘akar’, kita ga akan mau nurut aja saat ada orang konon pakar parenting, dalam seminarnya bilang, anak bayi sudah harus diajari disiplin, dengan metode reward and punishment. Wadaw.. kasian banget si bayi kalau ibunya menuruti si ‘pakar’ itu…

Atau, ada tuh, penulis di fesbuk yang ‘mendadak parenting’ (duluuu banget, saya pernah mendebatnya, lalu dia remove saya, hehe). Dia mengkritik frasa ‘didiklah anak sesuai zamannya’, menurutnya itu ga Islami. [Ada yang bilang itu hadis (perkataan) Imam Ali, tapi si orang itu bilang, itu bukan kata-kata Imam Ali, entahlah, saya bukan ahli hadis]

“Masak zaman sekarang seks bebas merebak, trus kita bolehin anak kita seks bebas?” begitu kurang lebih kata orang itu, yang mengklaim sedang mengembangkan ‘parenting Islami’ [ehm, padahal, bahkan buku parenting yang ditulis orang barat pun -yang bagus dan benarnya, tentu saja-sebenarnya sangat-sangat ‘Islami’, nilai-nilai kebenaran kan universal, meski ga bawa ayat-ayat Quran].

Ya ela pak..pak…  Mikirnya musti dibalik atuh: kita musti mendidik anak sesuai dengan kondisi zaman ini. Ketika zaman sudah digital, semua anak punya fb dan hp, video porno dengan sangat mudah menyebar, bahkan anak SMP sudah dengan suka rela memvideokan ‘aksi’-nya sendiri, trus ibu ngomel panjang lebar “awas ya, jangan pacaran!”, ya ampun, bakal didenger gitu sama anaknya?

Bahasa anak zaman sekarang, apa yang didengar, apa yang dipahaminya, apa yang dialaminya, sudah jauh berbeda dengan zaman kita dulu. Jadi, cara kita menghadapi anak juga ga bisa pakai model cara ibu kita dulu menghadapi kita. Gitu lho, maksudnya.

Misalnya, facebook. Data Komisi Nasional Perlindungan Anak (2012) menyebutkan mereka telah menerima 100 laporan anak hilang yang diduga akibat aktivitas pada jaringan pertemanan di situs jejaring sosial.  Sekitar 53% pemakai Facebook di Indonesia adalah remaja berusia kurang dari 18 tahun.

Trus, ibu mau melarang anak main fesbuk? Darimana ibu tau anaknya fesbukan apa enggak? Siapa teman2 fesbuk anaknya? [jadi, artinya ibu juga canggih, musti tau cara-cara melacak kegiatan anak berinternet; artinya ibu ‘menyesuaikan dengan zaman’]

Lalu, mengapa banyak anak ABG kabur dengan teman fesbuknya? Nah, ibu yang ‘sesuai zaman’ akan menggali lagi dari ‘akar’nya: kenapa anak-anak itu bisa sedemikian alay sehingga dirayu sedikit oleh orang di fesbuk sampai berani kabur dari rumah? Instrospeksi diri, ada yang salah nggak dengan cara komunikasi kita selama ini? Mengapa anak memilih curhat ke temen fesbuknya daripada ke mamanya? Bagaimana caranya supaya anak tidak tertipu teman fesbuk?

Semua itu akan dipelajari oleh ibu yang ‘sadar zaman’. Kalau ibu yang ketinggalan zaman pasti akan ujug-ujug melarang anak fesbukan. Wah, nggak ngefek buuuu…

Nah, ilmu kayak gini ini yang musti dipelajari dari pelatihan parenting (yang benar, tentu saja).

Trus ada juga orang ‘mendadak parenting’ di FB yang mengkritik ‘ajaran parenting Barat’ yang melarang ortu gampangan bilang ‘jangan!’. Alasan si bapak satu itu: Al Quran aja isinya banyak larangan kok! Tepok jidat deh. Larangan di Quran itu untuk orang dewasa yang baligh, atau buat anak-anak paaaak?? Trus, berapa persen sih ayat larangan di Quran, dibanding ayat-ayat lainnya? Nah kalau Islam diajarkan dengan nuansa ‘larangan’ begitu ga heran deh kalau di sekolah berlabel Islam pun banyak anak ‘memberontak’ (pacaran, nonton video porno, dll). [dan saya bener-bener gemes saat liat ada akhwat mengaitkan kasus JIS  dengan doktrin “makanya, jangan percaya sama JIL”… ga pernah baca kasus-kasus di sekolah Islam dan pesantren ya mbak?!]

Kinerja otak (sesuai hasil penelitian) memang lebih menyukai yang dilarang kok. Misal, ke anak ngomong “jangan lari-lari!”, ngefek gitu? Mungkin nurut, atau mungkin dibentak atau dicubit dulu, baru ngefek. Tapi umumnya, anak-anak akan tetap lari-lari. Ternyata analisisnya, otak cenderung menangkap kata di belakang ‘jangan’ itu. Makanya, diubahlah caranya: “Nak, duduk tenang ya!” Juga ajarkan thinking skill ke anak, sehingga dia tahu sesuatu itu boleh dilakukan atau tidak tanpa nunggu diomelin ibu.

Aturan agama, tidak boleh ini, tidak boleh itu, jelas HARUS disampaikan kepada anak. Tapi caranya gimana supaya ngefek, supaya dituruti anak? Ini yang perlu dipelajari. Jangan ujug-ujug bilang “tidak Islami!”

Nah, ada lagi tuh saya baca di FB (saya sekarang tidak FB-an lagi, tapi sesekali masih tetap buka FB untuk cari-cari info), ada ibu yang mengeluh “Kok pelatihan parenting melarang bawa anak ya?” Intinya, dia mengkritik, parenting itu untuk mengasuh anak dengan benar, kok ini malah nyuruh anaknya ditinggal di rumah?

Begini ya bu, ada dua kemungkinan dari larangan membawa anak itu (dan tidak semua seminar/kajian parenting melarang bawa anak). Pertama, kalau mau belajar, tapi bawa anak, apa bisa maksimal belajarnya? Saya sih nggak bisa, entah yang lain. Kalau anaknya rewel, minta jalan-jalan keluar, trus ibu apa bisa tetap duduk di ruangan mendengar materi? Apalagi kalau anaknya bikin ulah, kan mengganggu konsentrasi yang lain?

Kedua, sangat mungkin materi yang akan disampaikan adalah materi dewasa, ada cuplikan visual porno (untuk ngasih tau ke ortu, dimana letak bahayanya, misalnya, ada game tertentu yang ‘hadiah’nya ‘gituan’, saya kan ga pernah main game itu, nah, sama pelatih parenting, dikasih liat tuh, game-nya kayak apa; sehingga saya benar-benar melihat bahwa itu game brengsek dan perusak nomer satu…, yang sayangnya dimainkan oleh anak-anak Indonesia mulai TK). Lha kalau ada anak kecil, gimana mau melihatkannya? Trus, kebayang ga bu, ngomongin masalah seks, tapi ada anak-anak kecil? Ampun deh…

Makanya tepok jidat banget deh, ketika teman saya menyelenggarakan seminar “pendidikan seksualitas kepada anak” atau “mendidik anak di era digital” trus peserta nanya “boleh bawa anak nggak?” Harusnya tanpa perlu nanya, juga udah bisa mikir sendiri dong, bahwa GA BOLEH!

Lha trus gimana, masa ibu2 yang punya anak kecil ga boleh ikut? Nah, di sini bu, pentingnya JIHAD, bersungguh-sungguh. Kalau niatnya nggak kuat, semua jadi susah dan ga mungkin. Saya beberapa kali bantu-bantu teman bikin pelatihan, jadi saya tau banget ‘perilaku’ ibu-ibu jenis ini: mengeluh masalah mahal duitnya, ada anak-anak ga bisa ditinggal, lama, jauh, ini-itu… Sampai akhirnya, saya menyimpulkan: semua bergantung niat. Yang sungguh-sungguh ingin belajar, akan datang. Dan saya yakin, Allah akan selalu membukakan jalan buat yang berniat kuat. “Semesta mendukung” , istilahnya. Yang niatnya angin-anginan, akan selalu menemukan alasan untuk tidak datang.

Coba diingat-ingat lagi: kalau biaya mahal, apa ibu nggak pernah beli baju yang mahal, beli ini-itu yang mahal? Bahkan, apa ibu nggak pernah ngutang? Ngutang (kredit) buat beli tas keren mau, tapi ngutang buat ikut pelatihan yang luar biasa penting, kok malu? Kalau anak ga bisa ditinggal, apa ibu ngga pernah ninggalin anak? Ga punya orang yang bisa dibayar untuk jagain anak sehari? Ga bisa kerjasama dengan suami? Atau, kompak sama beberapa peserta lain, bikin day care dadakan, patungan bayar pengasuh, dan masih banyak kemungkinan jalan keluar lainnya.

Baiklah, sekian dulu unek-unek saya. Mudah-mudahan ada manfaat buat yang baca. Kalau enggak, manfaatnya buat diri saya sendiri saja, katarsis atas kekesalan melihat perilaku beberapa oknum, hehe… 😀

Advertisements

4 thoughts on “Ikut Kajian Parenting, Penting Ga?

  1. assalamulaikum. tulisan nya sangat membuka wawasan bu. biarpun saya belum nikah dan punya anak, tapi melihat tulisan ibu bisa bikin saya bersiap – siap ilmu parenting yang benar. mengerikan melihat anak – anak sekarang, mereka seperti di kepung. bila ortu tidak mau tau, dan mengikuti arus zaman akibat sangat fatal. saya termasuk yang yang di didik ortu dengan keras ( maksudnya keras dalam mematuhi perintah dan dan larangan Allah ) tapi untuk urusan perkembangan zaman, ortu tidak sok melarang tanpa pengetahuan. seperti penggunaan internet, ortu sangat mendukung tapi hanya untuk keperluan islami.

    ibu saya selalu menekankan, bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatan kita sekecil apapun dan di jelasin juga apa – apa yang di larang dan di bolehka agama. dengan di cekoki itu setiap hari, anak juga akan akan berhati – hati setiap melakukan apa pun.

    memang tetap ada kecolongan, tetapi benar kata ibu, ortu harus tau bahasa anak. jika ortu saya sudah melihat gelagat yang tidak biasa, pasti dengan dengan cepat jalur komunikasi di tempuh dan dengan melalui perbincangan yang enak dan di isi – isi ayat Al – Qur’an.

    wasalamualaikum
    semangat ibu Dina 🙂

  2. Bu Dina, saya juga suka salah satu buku beliau (Bunda Rani Noe’mang) yang berjudul Amazing Parenting. Setelah saya baca habis isinya, ternyata prinsip-prinsip pendidikan yang diterapkan banyak mengacu pada pelatihan dan buku Dr. Thomas Gordon. Di Indonesia dulu sekitar pertengahan tahun 90-an talk shownya pernah beberapa kali disiarkan secara rutin oleh salah satu televisi swasta. Bagus sekali. Sampai sekarang buku-buku beliau (sudah meninggal) masih saya simpan dan selalu menjadi rujukan saya sehari-hari.
    Benar, penulis Barat justru banyak memengaruhi metode mendidik saya selama ini. Yang justru sesungguhnya sangat Islami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s