Leony

foto: bekasiraya.com

foto: bekasiraya.com

Subuh ini, saya gagal lagi menahan diri untuk tidak buka internet. Jadwal saya sekarang adalah baca buku, siap-siap untuk menghadapi ujian prelim. Tapi, saya membaca berita tentang anak itu, Leony, yang bunuh diri usai UN, yang membuat saya sangat gundah. Lalu saya tergiring membaca tulisan-tulisan lain. Duh, ternyata UN SMP juga kacau-balau, sama seperti UN SMA kemarin. Soal-soal UN sangat sulit, karena berstandar internasional (dan rupanya si pembuat soal nyontek pula dari soal-soal ujian internasional).

Anak-anak saya memang home-schooling, kami tidak mengikuti sistem. Tapi, sungguh keterlaluan kalau saya hanya bilang “Untung anakku ga sekolah.” Juga sungguh keterlaluan bila ortu lain yang anaknya baik-baik saja, memandang rendah keluhan-keluhan orang lain tentang UN dan dalam hatinya bilang, “Anakku baik-baik aja tuh, anak kalian aja yang kurang cerdas, kurang belajar baik, trus nyalah-nyalahin UN!”

Dari yang saya baca, memang UN ini keterlaluan, sebagaimana menterinya juga entahlah-harus-kusebut-apa… Saya baca surat terbuka Nurmilaty yang keren, mengharukan, dan menyebar luas itu. Dan saya benar-benar sakit hati saat membaca berita bahwa sang menteri yang berpendidikan tinggi itu berkomentar bahwa itu surat tak mungkin dibuat anak SMA [saking bagusnya]. Duh pak, kemana aja pak? Apa tidak tahu, anak-anak zaman sekarang, masih SD aja sudah menulis buku?!

Saya tak bisa menulis berpanjang kata tentang argumen mengapa UN kita ini buruk, takkan membuat anak jadi cerdas dan berbudi luhur. Sudah banyak ditulis orang yang lebih kompeten, dan saya menerima argumen mereka. Silahkan dibaca-baca saja (salah satu web khusus membahas UN: ini). Dan, ya saya setuju UN dihapus.

Lalu mengapa semua orang pintar di atas sana masih berkeras mengadakan UN? Banyak analisisnya. Tapi karena yang saya pelajari adalah ekonomi-politik, dan saya sangat yakin bahwa uang adalah driving factor dari sangat banyak keputusan politik, saya jadi sangat mencurigai faktor uang di balik UN. UN ini bisnis yang sangat-sangat besar. Bayangkan betapa banyak bimbel, percetakan, dll, yang bergantung kepada UN. Bayangkan betapa banyak uang yang dibagi-bagi kepada para pejabat di atas sana, para pembuat soal, hingga para pengangkut soal ke lokasi ujian. Untuk pelaksanaanya saja, tahun 2014 ini pemerintah keluar dana 560M. Berapa banyak dana yang dikeluarkan para ortu untuk menyiapkan anaknya agar lulus UN? Biaya bimbel, transport, dll.

Saya pernah dengar desas-desus, ada pejabat tinggi yang berkeras memuji-muji UN, sebenarnya punya saham di lembaga bimbel terkenal. Entahlah benar atau tidak, tapi sangat mungkin. Kerjaan saya tiap hari menganalisis politik luar negeri, yang sangat sering, ujung-ujungnya, kalau ditelusuri, ada korporasi yang terlibat di dalam konflik. Perang di Afrika, Suriah, Libya, Irak… kalau dilacak, semua ada perusahaan-perusahaan yang itu-itu juga yang meraup keuntungan. Jadi, saya pun memandang UN ini dengan kacamata yang sama.

Lalu, bisakah kekuatan uang itu dilawan oleh rakyat biasa seperti kita? Tentu bisa. Penggulingan beberapa rezim di Timteng, awalnya juga berawal dari protes-protes dan demo rakyatnya. Apalagi ‘cuma’ melawan sistem UN.

Tapi syaratnya, tentu saja, orang-orang tak boleh egois. Hanya mikirin diri sendiri, “Ah, anak gue baik-baik aja tuh! Anak elu aja kali yang ga bisa!”

Semua musti bergerak, minimalnya tanda tangan petisi. Minimalnya tulis status atau tweet, atau blog. Semua bicara dan melawan.

Terakhir, ini nasehat dari guru parenting saya.

Sistem pendidikan Indonesia memang buruk sekali. Tapi bila ortu tetap memilih menyekolahkan anak, pesan saya, jangan tambah anak tekanan di rumah. Di sekolah, anak sudah sangat tertekan, jadi ketika pulang, usahakan semaksimal mungkin agar anak nyaman, tidak dibebani hal-hal yang membuatnya semakin tertekan.

Perhatikan bahasa tubuh anak kalau ibu ingin bicara. Kalau dia terlihat lelah atau gundah, jangan langsung ditanya-tanya dulu. Ketika anak pulang sekolah, lelah, jangan bombardir dengan omelan. Peluk dan ciumlah dia. Yakinkan dia, bahwa dia anak istimewa buat ortu dan akan selalu dicintai. Buat hatinya tenang dan senang dulu. Setelah istirahat, suasana hatinya baik, barulah ajak ngobrol serius.

Misal, anak pulang telat. Ibu jangan langsung bentak dan marah-marah. Tunggu dulu sampai semua nyaman, anak kenyang makan, tidur sebentar, baru sampaikan baik-baik betapa ibu tadi khawatir karena anak pulang telat, lalu diskusikan dan bikin perjanjian agar tidak terulang lagi.

Nah, kisah Leony, saya baca di sini: ternyata begitu pulang ujian, si ibu langsung mengkritiknya karena Leony mengaku dapat contekan. Lalu Leony masuk kamar dan bunuh diri. Saya tidak sedang menyalahkan ibu Leony. Dan tidak bisa pula serta-merta diambil kesimpulan: oh ibunya sih yang salah! Tidak, akar keputusan Leony bunuh diri jelas bukan pada detik dia dikritik ibunya, tapi tekanan besar yang dialaminya selama ini. Jadi, ini kesalahan banyak pihak, terutama orang-orang elit di atas sana!

Tapi, sementara ini, sambil menunggu adanya pemimpin yang ‘ngerti’ dan ‘paham’ soal pendidikan, sebagai ortu kita bisa mulai melakukan berbagai langkah antisipasi. Yang utama dilakukan ya itu tadi, pesan dari guru parenting saya di atas.

Semoga jangan sampai ada Leony lain 😦

Advertisements

3 thoughts on “Leony

  1. Pingback: Leony | #RIPLeonyAlvionita | Tolak Ujian Nasional

  2. walaikumsalam
    miris mendengar berita tentang Leony, kebetulan saya juga dari daerah yang sama tapi saya di denpasar ( tapi kami perantauan dari Sumatra Barat – Minang ).

    keluarga kami juga termasuk yang tidak setuju dengan sistem pendidik indonesia. saya dari TK – SMP mengikuti pendidikan formal, tapi SMA saya sudah tidak. selama sekolah formal pun ortu tidak mengizinkan saya mengikuti semua aktivitas sekolah, seperti les dan kegiatan tambahan lainnya. menurut ibu saya, sistem sekolah sekarang tidak efisien, karena terlalu banyak pelajaran.

    menurut ibu Dina apa yang salah dari pendidikan Indonesia ? kenapa bisa terjadi kasus bunuh diri seperti ini ? karena yang psti faktorny bukan terjadi sehari atau dua hari sebelumnya ? lalu pendidikan seperti apa yang musti ada untuk anak – anak yang beragama kuat dan berbangsa ?

    mohon berbagi ilmunya

    wasalamualaikum
    semangat bu Dina 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s