Hidup Tanpa Stress

Reza Mancing

Reza Mancing

Senin-Selasa kemarin, kami sekeluarga ‘berlibur’ ke lereng gunung Salak, ke tempat kerabat, mengantar ibu mertua yang ingin berkunjung ke kampung halamannya. Sebenarnya awalnya kami hanya berniat mampir saja ke rumah kerabat di gunung ini. Tapi ternyata Rana dan Reza betah, sehingga akhirnya menginap semalam di sana. Apa yang membuat anak-anak betah? Ternyata… ada empang buat mancing. Reza penuh semangat mancing, untuk pertama kali dalam hidupnya šŸ˜€ Sementara Rana betah karena rumah dan halamannya yang luas (dia memang selalu mengimpikan punya rumah yang luas, bukan rumah mungil seperti yang kami tempati sekarang).

Ada beberapa hal menarik di rumah kerabat kami itu. Pertama, sang bapak yang kami sapa dengan “Kang Haji” itu ternyata adalah kyai. Salah satu anaknya yang sedang kuliah di UIN Jakarta sedang ada di rumah dan kami berdiskusi banyak hal. Menarik sekali, pak kyai di lereng gunung ini sangat luas wawasannya, terbuka, dan sama sekali bukan tipe takfiri yang dikit-dikit suka bid’ah-bid’ahin orang. Beliau beraliran NU, tapi anaknya malah aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, no problem.

Selama kami di sana, ada tamu-tamu yang datang untuk konsultasi. Rupanya selama ini pak kyai ini memang sering jadi tempat rujukan konsultasi untuk orang-orang kota, kebanyakan pengusaha dan politisi yang galau. Cara ngomongnya memang enak sih, menenangkan, meskipun juga ceplas-ceplos dan ‘rame’ kalau mengkritik perpolitikan di Indonesia. Mengingat perjalanan menuju rumah beliau yang jauh dari Jakarta, saya jadi mikir sendiri, betapa orang-orang kota itu memang banyak yang super galau ya, sampai bela-belain jauh-jauh ke lereng gunung ini…

Trus, yang bikin saya merenung juga adalah anaknya pak Kyai rupanya sedang Ujian Akhir kelas 6 SD (sekarang rupanya bukan UN lagi). Tapi sang anak nyantai..banget. Nonton TV, main sama kucing, mancing sama Reza. Waktu ditanya gimana ujiannya siang tadi, dia menjawab santai saja. Susah sih, tapi no problem… sama sekali ga kliatan diambil hati. Ibunya juga nggak ngomel ini-itu. Sang ibu, yang menyebut dirinya ke saya “Teh Haji” (kakak perempuan- haji) menjalani hidupĀ  dengan ‘nrimo’, mengurus 7 anak dan tamu yang datang silih berganti. Teh Haji hanya bertanya lembut pada anaknya yang sedang ujian akhir SD itu, “Teh..biasanya teteh baca Yasin habis Subuh?” Dan sang anak menjawab, “Sudah…” sambil main sama kucingnya. Sama sekali tidak ada ketegangan pagi-hari-menjelang-sekolah.

Kok bisa ya santai begitu? Teringat betapa hebohnya anak-anak (termasuk ibu-ibunya) di kota menghadapi ulangan, apalagi ujian akhir. Yang menarik lagi, di sinilah kami sama sekali tidak mendapat tatapan heran saat menceritakan bahwa Rana dan Reza homeschooling. Dan tidak ada pertanyaan wajib yang bisa diajukan kepada kami, “Trus, ijazahnya gimana???”

Saya dan suami pun ngobrol-ngobrol. Analisis kami, mungkin karena di sini kehidupan berjalan dengan alamiah, tenang, tidak dikejar-kejar target yang muluk-muluk. Yang penting menjalani hidup sesuai aturan Allah, insya Allah semua akan dilindungi-Nya. Seperti pak Kyai, sama sekali ga neko-neko, ga berpolitik praktis, ga ngejar-ngejar uang, sehari-hari mengajar santrinya (yang cuma 7 orang, belajar kitab kuning Salafiyah), mengurusi empang dan kebun, menerima tamu-tamu galau. Tapi, eh, bisa juga punya rumah yang luas, bisa menguliahkan anak, bahkan sampai ke Yaman, dll. Sekolah pun bukan dianggap sebagai tujuan, melainkan sebagai wahana ikhtiar saja dalam mencari ilmu. Dan proses belajar yang utama dilakukan di rumah, bersama ortu. Jadi, ga perlu stress mau masuk sekolah favorit, nilai harus tinggi, dll. Dan itulah sebabnya mereka juga sama sekali tidak bertanya sebagaimana yang ditanyakan puluhan orang lainnya kepada kami selama ini, “Trus, nanti kuliahnya gimana? Ijazahnya gimana??”

Sikap santai (tapi tetap ‘bergerak) menghadapi hidup ini, terasa mahal buat saya. Pengen deh bisa kayak gitu. Padahal selama ini banyak yang mengira saya ini ‘santai’ banget (lha buktinya nekad saja tidak menyekolahkan anak secara formal). Padahal sebenarnya saya masih punya banyak keterikatan pada hal-hal formal itu. Tak heran bila saya diam-diam sering galau saat melihat Reza seharian baca buku cerita dan bikin origami. Pas ditanya cita-citanya apa, jawabnya, “Jadi agen rahasia”. Duh… mbok ya cita-cita jadi dokter apa insinyur, gitu… Saya mendesaknya belajar IXL-math dan bahasa Inggris di Raz-Kids karena galau *ntar gimana masa depannya kalau ga bisa math dan English?!* Saya semakin galau ketika Reza ogah-ogahan melakukannya.

Padahal, kalau dipikir-pikir, lumayan juga kemajuan yang didapat Reza ‘hanya’ dari origaminya itu. Antara lain, dia semakin mudah membaca instruksi di buku petunjuk origami [bahkan dia bisa paham instruksi di buku origami yang rumit berbahasa Persia; padahal dia sama sekali ga paham bahasa Persia, dia hanya mengikuti petunjuk gambar. Saya saja tidak bisa; ipar saya yang guru TK juga pernah berusaha mengikuti buku itu dan tidak bisa *artinya bukan cuma saya yang tulalit*]. Hasil origami Reza pun sudah canggih-canggih, bukan origami ala anak TK lagi.

Reza juga rajin sekali (dia menulis jadwalnya di dinding: mulai senin sampai senin lagi, ‘pelajaran’-nya adalah origami) mengikuti tutorial origami di Youtube (berbahasa Inggris). Secara teori, lambat laun dia akan bisa memahami kalimat-kalimat bahasa Inggris dengan baik ‘hanya ‘ dari ketertarikannya pada origami. Bukankah penguasaan bahasa itu sebaiknya berawal dari mendengar? Trus, kalau diingat-ingat, saya beberapa bulan yll bisa dapat skor TOEFL tinggiĀ  (di atas 600, dan saya sendiri terheran-heran, soalnya sebelum tes saya sama sekali ga belajar) jelas bukan karena les, tapi karena banyak membaca buku-buku HI berbahasa Inggris selama kuliah.

Juga, saya pernah baca, matematika tidak hanya terkait angka, melainkan juga geometri. Bahkan, barusan saya browsing, origami sebenarnya ada kaitannya juga dengan membangun skill matematika. Benar-benar wow deh.

Well, sebenarnya saya tuh sudah lama tau bahwa belajar yang benar-benar nempel itu kalau dilakukan dengan passion, dengan minat dan ketertarikan yang tinggi. Tapi memang jadi ibu-ibu di kota itu sepertinya sulit untuk tidak galau. Saya benar-benar harus belajar hidup tenang antigalau dari Akang dan Teh Haji di lereng gunung Salak itu.

Advertisements

3 thoughts on “Hidup Tanpa Stress

  1. Assalamulaikum, bu Dina. maaf sebelumnya saya komen di lain tempat. saya penyuka blog bu dina yang kajian timur tengah, tapi beberapa kali mau komen di sana tapi tidak di sediakan kolom komen, maaf sekali lagi.
    saya dan kelurga selalu suka mengikuti perkembangan islam dalam berbagai bentuk, termasuk islam di dalam dan luar negeri. dan kami mendapat informasi melalui pengajian, majalah islam dll. tapi memang selalu ada mengganjal yaitu simpang siur informasi. saya ( 21 tahun ) terkadang bingung harus mempercayai informasi yang mana ? kalau boleh berbagai info, menurut ibu dina media mana yang dapat memberi informasi yang benar dan bagaimana cara mengetahui salah benar sebuah innformasi ? satu lagi menurut ibu dina, apa yang harus dilakukan seorang muslim untuk kondisi islam yang sekarang ?

    oy, mohon bersedia berbagai ilmunya. agar saya bisa berbagai semangat berislam yaig benar ke teman – teman lain.

    ini email saya : pemikiranremaja@gmail.com

    walaikumsalam

  2. Pingback: Editor Cilik | Dina Y. Sulaeman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s