Tentang Pilpres

foto: diliputnews.com

sumber foto: diliputnews.com

Sebenarnya saya sudah  berjanji dalam hati nggak akan nulis soal pilpres di blog. Trauma. Dulu, tahun 2009, saya masih nge-blog di Multiply, untuk pertama kalinya berdebat dengan teman-teman sendiri, yang tadinya berhubungan baik, hanya gara-gara saya mengkritik Budiono. Saya menyebut Budiono berhaluan neolib. Waktu itu saya hanya mengulang pernyataan Amien Rais. Langsung deh, heboh para pendukung Budiono membanjiri postingan saya itu. Yang menarik waktu itu, mereka membela Budiono hanya berdasarkan perilakunya sehari-hari (sederhana, nyetir mobil sendiri, kalau dinas luar kota nginep di hotel sederhana, dll) dan mengecam Amien Rais berdasarkan perilakunya pula (suka mangkir jadwal ngajar di kampus, misalnya). Argumen valid atas ketidakneoliban Budiono tidak muncul.

Waktu akhirnya memberi bukti atas banyak hal. Kata Eros Djarot dalam salah satu tulisannya, “hanya waktulah yang tak dapat ditaklukan oleh kebohongan. Kalau toh kebenaran dapat ditikam setiap saat, tapi ia tetap saja takkan pernah mati.”

Saya waktu itu memang belum banyak mempelajari ekonomi politik. Jadi, ada hikmahnya juga, saya semakin banyak mempelajari dan semakin tahu bahwa salah satu pemikiran sesat yang harus saya lawan (melalui tulisan dan sikap) adalah neoliberalisme.

Nah untuk pilpres kali ini, saya diam-diam mengikuti status FB beberapa orang tertentu yang sangat menarik dalam membahas capres  (ada yang pro Jokowi, ada yang pro Prabowo). Salah satu di antaranya sangat luar biasa, membuat saya tercengang, karena banyak mengungkap hal-hal yang tak terduga terkait kedua capres ini. Saya suka sekali membaca status-status panjang beliau (sebut saja Y), dan membaca diskusi di kolom komentar. Dan sejujurnya, saya sebenarnya menempatkan diri sebagai pengamat/penstudi, bukan sebagai “orang yang musti milih”. Artinya, saya sedang berusaha mengasah intelektualitas saya dalam politik nasional. Saya selama ini jauh lebih paham soal politik internasional.

Tapi… olala… tiba-tiba saja, di antara komentator di status Y, muncul komen seseorang yang saya kenal. Sebelumnya dia tak pernah muncul di antara para komentator di wall itu, ndilalah kok tiba-tiba muncul. Sebut saja namanya X. Saya langsung il-feel lihat gayanya yang sok akrab dengan Y (padahal barangkali aja memang X dan Y ini kenalan lama ya, hehe). Karena, sebelumnya, untuk isu Suriah, X itu masuk ke barisan orang-orang pendukung ‘mujahidin’, sok taunya setengah mati (tapi mengabaikan asas-asas berpikir ilmiah, padahal dia orang yang sangat educated), bahkan akhirnya meremove saya. Orang ini adalah jenis orang yang merasa paling tahu dan paling benar, dan yakin surga itu buat dirinya dan kelompoknya aja. Pokoknya, jenis orang yang kalau lu ga bareng gue, maka lu sesat.

Terus-terang saja, saya langsung males ngikutin diskusi di status Y. Daripada saya sakit mata baca komen-komen (yang ga penting) dari si X itu, mending unfollow Y aja deh. Saya sangat respek pada Y (dan agak-agak terpengaruh juga, sempat terpikir untuk memilih capres yang didukung Y ini). Tapi karena tiba-tiba muncul si X, perasaan saya langsung berubah. Si X ini berhasil membuat saya eneg sama capres yang beberapa menit sebelumnya sebenarnya menarik simpati saya.

Saya akui, saya sedang tidak berperilaku ilmiah.

Tapi, saya jadi merenung sendiri. Inilah kekuatan media dalam menyetir opini publik. Media mampu melakukan ‘setting’, dengan cara memberikan perhatian pada isu tertentu dan mengabaikan yang lainnya. Output-nya, opini publik pun akan terseret ke arah yang diinginkan oleh media. Berpikir ilmiah? Oh nanti dulu. Saya sudah hafal situasinya untuk kasus Suriah. Berpikir ilmiah disingkirkan jauh-jauh oleh sebagian kelompok. Yang lebih ngefek pada diri mereka adalah media setting yang dilakukan media mainstream Barat yang -anehnya- bekerja sama dengan sebagian besar media berlabel Islam.

Nah, saya baru merasakan efek media setting ini secara fenomenologis (saya rasakan sendiri secara langsung). Saya sudah tidak mengikuti TV lagi, jadi saya ‘merdeka’ dari setting televisi nasional kita yang masing-masing menyuarakan apa yang dimau pemilik modal (yang masing-masingnya bekerjasama dengan capres tertentu). Jadi saya mencari informasi yang menetes dari orang-orang tertentu yang punya akses pada elit, pada buku-buku dan sumber-sumber valid (bukan tukang gosip belaka), yang menggunakan media sosial sebagai sarana berbagi informasi. Dan ya, saya akui, saya sempat terombang-ambing.

Sampai tiba-tiba, muncullah si X, menyadarkan saya akan sebuah kebenaran.

Kata Thomas Aquinas, “Veritas est adaequatio intelctus et rhei”, kebenaran adalah kesesuaian antara pikiran dan kenyataan.

Pikiran dan argumen-argumen Y (dan kawan-kawannya para komentator) memang canggih dan membuat saya hampir percaya 100%. Tapi, kenyataan menunjukkan bahwa ada orang-orang macam X yang akan merajalela di negeri ini bila seandainya capres yang mereka dukung menang.

Jadi, kesimpulannya apa?

Hm, ini cuma curhat saja kok. Gak perlu pakai kesimpulan.

Yang jelas, kini saya secara fenomenologis mengetahui alasan mengapa para capres dan partai-partai di negara-negara demokrasi-liberal menghamburkan sedemikian banyak uang untuk menguasai media, termasuk media sosial. Dalam pileg dan pilpres, mereka membentuk cyber army yang bekerja keras untuk mempengaruhi opini publik. Kemenangan dalam pileg dan pilpres pun menjadi semu: menang karena memang dikehendaki rakyat atau karena rakyat jadi korban media setting?

Dan sedihnya, di tengah kepungan perang informasi ini, berpikir merdeka memang terasa sangat sulit.

Advertisements

5 thoughts on “Tentang Pilpres

  1. Aku suka ikuti komentar kedua kubu di Twitter, Kesimpulannya kita harus pilih yang terbaik antara yang terjelek.
    Supaya gak terjadi perang saudara, kalo ada yang tanya saya bakal pilih yang mana, saya jawab: “Aku mau pilih Mr. Bean!”

  2. Maaf sebelumnya kalo tiba-tiba berkomentar dan gak tepat. Sepengetahuan saya, dari berbagai sumber yang saya baca, Media Setting sudah ada sejak adanya media itu sendiri. Kalau masa sekarang, menurut saya malah lebih parah, karena terkadang media seperti jurnal ilmiah pun di setting untuk isu tertentu. Saya ambil contoh ketika negara-negara besar seperti amerika, belanda dan jepang membutuhkan banyak bahan baku minyak kelapa (coconut oil), era 1980-1990, maka media waktu itu banyak yang mengelu-elukan kebaikan dan kegunaan dari minyak kelapa sawit (CPO), bahkan jurnal medis waktu itu juga banyak memuat keuntungan penggunaan CPO, tujuannya agar tdk ada yg melirik komoditi minyak kelapa (bukan sawit) yang pada gilirannya menyebabkan harga minyak kelapa jatuh, sehingga banyak negara besar membeli minyak kelapa dengan harga murah. Tidak heran ketika masa itu pemerintah Indonesia juga melakukan penggalakan penanaman sawit secara nasional. Namun kemudian ketika memasuki era baru, sejak tahun 2000-an, banyak media yang mulai membicarakan kebaikan dan keuntungan penggunaan minyak kelapa (coconut oil) bahkan disertai banyak pendapat medis yang membenarkan hal itu. Secara.pribadi saya tidak memutuskan benar atau tidak, layak dipercaya atau tidaknya berita tersebut, namun saya mengamati efek dari.pemberitaan itu. Terbukti, harga CPO terus menurun seiring waktu, efeknya banyak perusahaan perkebunan sawit di Indonesia yang mulai dibeli perusahaan kapital asing. Padahal sekarang terbukti CPO merupakan bahan yang dapat diperbaharui untuk produksi bahan bakar alternatif, mulai ethanol sampai aftur (bahan bakar pesawat terbang). Itu saja sekelumit (minimal gak sepanjang berita di koran) yang saya tahu tentang media setting.
    Komentar saya, media setting tidak lagi efektif dalam era keterbukaan media saat ini, JIKA, dan hanya jika, masyarakat mau berusaha untuk membaca dan manfaatkan keterbukaan media yang ada, termasuk carut-marutnya berita yang beredar, sehingga pandai membaca dan menyimpulkan berita yang ada, persis seperti empunya blog ini.
    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s