Sholawat Cinta

sholawatSekedar buat catatan pribadi biar nyadar dan ga lupa-lupa lagi.

Saya tadi menengok teman saya yang suaminya sakit parah. Ibu ini langsung curhat panjang lebar sambil nangis-nangis. Jadi rupanya selama ini suaminya nggak sholat dan sangat duniawi. Bertolak belakang dari si ibu yang sangat nyantri, turunan ajengan (ulama). Dalam hampir semua hal, ibu ini tidak memiliki kecocokan dengan suaminya. Duh, bisa dibayangkan betapa beratnya.

Ibu ini rutin bangun jam 2 pagi untuk tahajud, dzikir, dan wirid. Hari-harinya dipenuhi dengan dzikir dan sholawat. Caranya, dia kumpulkan 5000 butir tasbih di sebuah kotak. Lalu sambil melakukan apa saja, dia baca dzikir atau sholawat. Misalnya, sambil masak, dia baca dan hitung dalam hati sampai 10, lalu dia ambil 10 butir tasbih dari kotak, dipindahkan ke kotak lain. Ketika butiran tasbih di kotak pertama habis, berarti tamat, dia sudah baca wirid tertentu sampai 5000 kali. Sambil bepergian kemana-mana, dzikir dan sholawat diucapkannya dengan konsisten.

Yang membuat saya terkesima ada dua hal. Pertama, dia sedemikian tabah menjalani hidup dengan suami yang sangat bertolak belakang dengannya. Yang membuat dia nangis-nangis bukan karena suaminya sakit, tapi karena dia khawatir dengan nasib suaminya kelak di akhirat bila masih tetap belum mau ‘insyaf’. Doa yang dia panjatkan dalam tahajudnya adalah agar suaminya diberi hidayah. Dia nangis-nangis bilang, “Saya iri sama bu Dina, sering keliatan pergi ke pengajian bersama suami…” (waduh, saya merasa ditampar.. selama ini kenyataan bahwa saya dan suami bisa bareng-bareng ke masjid, atau ke majlis taklim, -meskipun sebenarnya ga sering- tidak terlalu saya syukuri, saya anggap sesuatu yang ‘sudah sewajarnya’.. ternyata…hiks..hiks..)

Ibu ini sudah menikah puluhan tahun dengan suaminya itu, sudah punya cucu pula. Nah, kok bisa tahan dan tabah? Sungguh kontras dengan beberapa istri yang saya kenal, ada saja perilaku suami yang dikeluhkan, kadang ujung-ujungnya minta cerai. Saya pun terus-terang dulu (duluuu… lho) sering mengeluhkan si Akang hanya karena masalah-masalah sepele. Kurang sekali rasa syukur saya, hiks.

Ibu itu bilang, “Mungkin sudah ‘bagian’ saya untuk menjadi pembimbing buat suami saya, mudah-mudahan Allah mengganti semua penderitaan saya selama ini dengan kebaikan dan keberkahan yang berlimpah..”

Bisa dilihat kan sudut pandangnya? Dia melihat dirinya ‘petugas’ dari Allah, membawa misi dari Allah. Jadi, urusan dia memang sama Allah. Dia kecewa atas perilaku suaminya, dia adukan semua kepada Allah. Ke suaminya, dia tetap sopan dan menggunakan bahasa Sunda yang sangat halus. Dan di antara berbagai hal, yang paling merisaukan dirinya adalah keimanan suaminya. Impiannya adalah punya suami yang sangat sholeh, ngaji bersama, wirid bareng, bukan hal-hal yang material. Subhanallah…

Kedua, saya terkesima pada totalitasnya dalam mewujudkan rasa cinta pada Rasulullah. Dengan berlinang-linang air mata, dia bilang rinduuuu… sekali pada Rasulullah. Dia sampai mimpi berada di depan makam Rasulullah. Dan dia sudah umroh dua kali, gratis, dibayarin temannya (tanpa disangka-sangka).

Oh ya.. ya.. saya juga sering ngaku cinta Rasulullah. Tapi… hwa.. ga ada apa-apanya saya dibanding ibu ini. Saya lihat, pikirannya terfokus pada Rasulullah, dan semua yang dilakukannya ada dalam aura ‘sholawat’. Saya kesulitan menggambarkan situasinya dengan tepat. Seperti.. apa ya.. Seolah, sholawat itu seperti udara yang menyelimuti diri ibu ini. Setiap helaan nafasnya seperti mengandung partikel-partikel cinta pada Rasulullah. Dan udara penuh cinta itulah yang memberinya kekuatan menjalani hidup selama ini.

Ibu itu bilang sambil menunjuk jari telunjuk dan jari tengahnya yang dirapatkan, “Sholawat dan Rasulullah itu seperti ini, sangat berdekatan. Kalau kita ingin mendekat pada Rasulullah, ya musti sholawat…”

Dan menariknya, dia sama sekali tidak meniatkan sholawat itu untuk dapat sesuatu (material). Hanya cinta.

Terimakasih ya bu. Padahal saya menengok ibu buat menunjukkan simpati (=memberi). Tapi akhirnya malah saya yang menerima limpahan ilmu transenden, menyadarkan saya bahwa masih terlalu banyak hijab antara saya dan Rasulullah…

Advertisements

3 thoughts on “Sholawat Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s