Topeng Penulis

sumber foto: lazyturtle.in

sumber foto: lazyturtle.in

Berkali-kali saya menemukan bahwa sering tidak ada kaitan antara penulis dan apa yang ditulisnya.

Saya menemukan orang yang tulisan-tulisannya keren, dinamis, heroik, dan cerdas. Pas kenal orangnya, ow..ow.. jauh banget.

Ada juga yang dari tulisannya kelihatan soleh dan Islami banget. Pas kenal, aduh, serem deh.

Ada yang rajin nulis tentang kebaikan dan ketulusan. Eh.. ga taunya, wow.. wow.. banget dah (kebalikannya).

Ada yang saya kagumi tulisannya sejak lama. Saya hormati sejak lama, karena dia termasuk guru agama saya zaman kuliah S1 dulu, mengenalkan saya tentang esensi Islam. Tapi, agaknya karena uang, dia berubah. Waduh.

Saya tak habis pikir, bahkan sampai sekarang, betapa tulisan bisa sangat ‘menipu’. Isi tulisan benar, tapi tak terbayangkan bahwa orang di balik tulisan itu beda banget dengan karakter tulisannya.

Tentu saja, ada juga yang saya kenal, bersesuaian antara yang ditulis dengan kepribadiannya sehari-hari.

Tapi, akhirnya saya memutuskan untuk memisahkan antara yang ditulis dan kepribadian si penulis. Bukan urusan saya. Kalau tulisannya bermanfaat, pake. Kalau enggak, cuekin. Titik.

*sedang kecewa*

Advertisements

Politik dan Sepiring Nasi Kuning

Dua hari kemarin (Jumat-Sabtu), puas deh kuliah. Belajar dari dosen-dosen yang hebat, dan sekelas dengan bapak-bapak pejabat senior dari berbagai institusi negara. Berbagai cerita di balik layar tentang politik nasional dan internasional diobrolkan dan didiskusikan (sambil tertawa-tawa karena jokes dari beberapa bapak). Tentu saja, off the record. Hanya saja, semakin membuat saya prihatin melihat pilpres 2014 ini. Betapa banyak fakta sejarah yang terkaburkan. Betapa banyak yang diyakini masyarakat (setidaknya, mereka yang saya lihat di medsos, atau yang ngobrol langsung dengan saya), ternyata bohong belaka. Sungguh sayang (dan mengerikan), bila hanya untuk sesuatu yang ‘dunia’ ini, orang-orang menyebarluaskan berita-berita yang sebenarnya belum terverifikasi (hanya “kata orang”), tapi ternyata bohong dan berimbas pada ‘akhirat’. Naudzubillah min dzalik.

Lalu, apakah artinya kita harus diam? Tentu saja tidak, penyampaian aspirasi politik itu dijamin dalam demokrasi kok. Tapi, manusia berhati nurani akan tahu bagaimana cara menyampaikan aspirasi politik tanpa terjebak pada penyebaran kebohongan dan kebencian.

Usai kuliah, saya dijemput sahabat saya sejak lama (sejak zaman nge-blog di Multiply dulu), bunda Intan Rosmadewi. Beliau kebetulan mau ngajar ngaji di rumah temannya, tak jauh dari kampus saya. Karena ‘aura’-nya politik (maklum, saya kan baru keluar kelas), jadilah kami (saya, bunda, dan teman bunda) ngobrol rame soal pilpres. Kaditu-kadieu lah (kesana-sini deh). Saya takjub, dua ibu yang ngobrol sama saya ini, ternyata gaul banget ya, soal pilpres, hehehe. Dan yang membuat saya lebih takjub lagi, ‘analisis’ mereka mantap juga, padahal ga pake teori-teori ilmu politik, ga pake “akses ke sumber informasi dari elit”, hanya dibimbing ‘intuisi keibuan’. Isi obrolan, tak usahlah di-share di sini ya. Salam kampred deh-lah ya.. (kampred: kampanye presiden damai).

Tapi saya sempet kesel juga. Saat kedua ibu itu ngaji (dan saya menunggu di ruang tamu), tiba-tiba ada telepon dari seseorang. Awalnya cuma silaturahmi. Tapi kemudian nyerempet soal pilpres  dan beliau membombardir saya dengan berbagai cerita bohong soal seorang capres. Dengan baik-baik saya jelaskan bahwa cerita yang disampaikan itu salah, tapi ga ngefek. Beliau ngotot banget. Ya sudahlah, mau gimana lagi kan? Fitnah yang tersebar memang sulit diklarifikasi.

Ada sebuah kisah, seorang sufi ditanyai tentang fitnah. Sufi itu menyuruh si penanya untuk menyebarkan bulu ayam di pasar. Bulu-bulu itu berterbangan ke sana-kemari. Lalu, sang sufi menyuruh orang ini mengumpulkan kembali bulu ayam itu. Bisakah? Tentu tak mungkin, entah kemana terbangnya bulu-bulu itu. Tak akan bisa dikumpulkan utuh kembali. Itulah fitnah. Sekali tersebar, tak mungkin lagi bisa diklarifikasi secara utuh. Akan terus disampaikan, turun-temurun, sampai hari kiamat; hari ketika semua kebohongan dibuka di Padang Mahsyar.

Dan sebagai orang yang pernah mengalami nasib dibully oleh berita fitnah di medsos, lalu  berimbas ke banyak hal dalam kehidupan nyata, saya tau gimana efek keji sebuah fitnah. Kecenderungan  umum pembaca internet adalah membaca sekilas, menelannya mentah-mentah, dan tak berusaha mencari lebih dalam. Artinya, meski ada klarifikasi dari berita yang pertama, umumnya akan ‘lewat’, tak terbaca oleh orang itu. Ini umumnya lho. Selalu ada segelintir orang yang berbeda dari ‘umumnya’. Bunda Intan salah satunya. Setia mendampingi saya (meski lewat telepon) di masa-masa sulit saya. Bener-bener sahabat sejati dan tempat curhat yang keren deh.

Usai ngaji, saya dianter bunda Intan ke Baltos; saya mau naik travel (shuttle) menuju Jatinangor. Yang nyetir suami bunda, yang dengan setia nunggu di mobil, selama istrinya ngajar ngaji (plus ngobrol kaditu-kadieu.. hehe.. toplah, ayah Eko memang suami siaga! :D). Dan ternyata, saya dibekelin makanan. Jadilah menu makan malam saya dan keluarga adalah nasi kuning buatan bunda. Enaaaak… 🙂

nasi kuning bunda

nasi kuning buatan bunda Intan

 

Hm, alhamdulillah… Kata hadis, silaturahmi bikin umur panjang dan rizki luas. Amiiin. Hatur nuhun ya bundaaaa..love you full 🙂

Editor Cilik

Buat semua ibu, anaknya tentu saja istimewa (dan bahkan, ‘wajib’ menganggap setiap anak istimewa untuk kemudian dididik sebaik mungkin). Jadi kalau saya merasa anak saya juga istimewa, insya Allah bukan riya atau ujub 🙂

Nah, ini cerita soal Reza (8 thn) yang sering bikin saya bersyukur, tapi sekaligus pusing, kesel, dan tak jarang ngomel panjang-pendek (duh, kapan tobatnya buuu..).

Perilaku Reza ini unik, antitesis dari banyak perilaku ‘wajar’. Dia mudah sekali marah (dan ini salah satu peer terbesar saya: melatihnya mengendalikan kemarahan). Saya sangat yakin, ini gara-gara saya waktu hamil pernah maraaaah..sekali sama suami. Ga pernah saya semarah itu dalam hidup saya. Tapi rasanya, memang waktu itu di luar kontrol. Penyebabnya sepele (jadi bukan masalah ‘perempuan lain’ lho ya, hiks), tapi saya benar-benar super sakit hati. Si Akang berkali-kali minta maaf, tapi saya gak bisa meredakan kemaarahan itu. Akhirnya, papi saya yang turun tangan, menelpon dan menenangkan saya.

Nah, padahal itu kejadian sekali saja. Tapi hwaaaa.. ternyata berbekas sekali pada Reza. Waktu kecil, masya Allah, Reza sering sekali tantrum (ngamuk). Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik. [moral of the story: bapak2, kalau istrinya hamil, jaga baik-baik emosinya ya..]

Trus, dia memilih sendiri pangilan untuk saya: ummi. Ya ngga apa sih.. cuma aneh aja, beda sama kakaknya yang memanggil saya ‘mama’. Dan banyak sekali perilakunya yang beda sendiri; kemauannya keras, negosiator yang ga kenal kalah (kalau kalah debat, senjatanya: nangis ngamuk). Duh, beda sekali dengan kakaknya yang kalem, manis, dan penurut.

Yang paling bikin pusing: dia menolak sekolah. Bayangin, gimana pusingnya saya. Dibujuk-bujuk dengan berbagai cara, dia menolak. Walhasil, sekarang homeschooling. Nah, persoalan belum selesai. Dia menolak belajar sebagaimana yang ‘seharusnya’. Dia belajar dengan caranya sendiri.  Jadi, kalau ditanya apa saja kegiatan Reza selama 24 jam, jawabnya: membaca, membaca, membaca, membaca, bikin origami, origami, origami (jadwal origaminya: 7 hari dalam sepekan), ngobrol, main.

Mungkin ada yang bilang: wah bagus dong, hobi membaca? Betul, saya bersyukur untuk itu. Tapi saya tetep ibu-ibu biasa yang galau banget melihatnya menolak belajar ‘normal’ : membaca buku pelajaran, mendiskusikannya, menjawab soal, dst. Yang dia baca adalah buku cerita. Anggaran saya tiap bulan cukup besar untuk membeli buku, karena dia membaca sangat cepat. Ujug-ujug sudah tamat lagi. Jadi, kalau saya belanja buku, bisa sekaligus 600-800 ribu rupiah (ini cukup untuk bacaan sekitar 2 bulan).

buku reza

koleksi novel karya Rick Riordan Reza, sebagian masih di plastik (belum dibaca)

Perilaku Reza pun jadi terlihat beda: kemanapun dia pergi, selalu membawa buku. Bahkan hanya pergi makan pun (kadang saya ga sempet masak, jadi makan bareng aja di restoran kecil dekat rumah kami) dia membawa setumpuk buku. Segitu banyak bukunya yang belum selesai dibaca dia tetap merengek mampir ke Gramedia kalau bepergian.

Alasannya, “Buku itu teman setiaku. Satu-satunya teman kalau aku kesepian.”

(Jiaaah.. bahasanya juga udah ‘membuku’ banget…)

Dan bacaannya juga sangat beragam, mulai dari Doraemon, KKPK, komik sains terjemahan dari Korea, buku anak-anak karya penulis Indonesia (misal Dian Onasis, Ary Nilandari, Ali Muakhir, Benny Rhamdani, dll), Enid Blyton, sampai ke… buku-buku Rick Riordan *tepok jidat*. Saya sekarang sudah tidak bisa lagi melakukan apa yang pernah saya sampaikan di blog ini: kalau beli buku untuk anak, baca dulu, setelah yakin aman, baru dikasih ke anak. Ga keburu. Saya hanya bisa baca review dan kalau kelihatannya ‘aman’ ya sudahlah. Saya hanya ngecek, “Ada yang ‘jelek’ nggak di buku itu?” (Yang dimaksud ‘jelek’ : terkait masalah seksualitas; dalam konteks Reza: ada pacaran laki-laki&perempuan; ada gambar perempuan pakai baju ‘nggak bener’).

Baru-baru ini, saya menemukan bakatnya yang membuat saya takjub: Reza editor yang kritis. Dulu sih memang beberapa kali dia mampu menghubung-hubungkan beberapa bacaan yang mirip (sampai-sampai pernah bilang, kayaknya Enid Blyton meniru JK Rowling ya? Saya jawab: gak mungkin, kan Enid Blyton lebih duluan nulis dan sudah meninggal… saya lupa apa yang menyebabkan dia bilang demikian, tapi ada kejadian kecil yang sekilas mirip di karya keduanya, dan saya yakin itu hanya kebetulan belaka). Lalu, pernah dia membaca draft novel kakaknya dan memberikan masukan penting (ada nama tokoh yang salah tulis).

Tapi kemarin, saya bener-bener takjub. Jam 5 sore, dia membangunkan saya yang lagi tidur, lemes banget karena puasa. “Mi..mi.. aku tau ada buku yang nyontek buku ini!”  Saya nggak terlalu perhatian karena ngantuk.

Setelah saya buka puasa dan seger lagi, barulah dia membombardir saya dengan penilaiannya atas buku X yang menurutnya nyontek buku Sapta Siaga (karya Enid Blyton yang sedang dibacanya). Dengan detil dia tunjukkan ke saya, di mana letak kemiripannya. Dia bukan hanya mendeteksi dari kemiripan kalimat (kalimat di buku X sudah diubah-ubah, jadi ga persis plek), tapi juga dari kemiripan plot. Saya nggak habis pikir, dari segitu banyak buku yang dibacanya, kok bisa ingat, di halaman mana kalimat di buku X yang mirip dengan buku Sapta Siaga ini.

Akhirnya, setelah menasehati kedua anak saya, supaya jangan meniru perilaku buruk (plagiat), saya pun merenung sendiri. Minimalnya ada dua hikmah di sini. Pertama, buat para ortu, ga perlulah terlalu berambisi anaknya jadi penulis (yang karyanya diterbitkan). Jangan terlalu ikut trend lah. Biasa saja, mengalir saja. Kalau anaknya memang bisa nulis untuk tujuan komersil (diterbitkan, dijual), ya alhamdulillah. Kalau enggak.. ya biar saja, jangan sampai membuat anak terbebani dan kemudian menghalalkan segala cara (termasuk plagiat). Yang penting adalah berlatih menulis, menuangkan isi pikiran dengan bahasa yang baik dan bisa dipahami pembaca. Ini modal besar dalam kehidupannya kelak.

Kedua, buat saya sendiri, alhamdulillah, akhirnya kelihatan bakat Reza di mana. Kayaknya dia memang cocok jadi editor. Bacaan yang sangat banyak adalah modal besar untuk menjadi editor. Kalau saja editor buku X dulu suka membaca Sapta Siaga, pastilah dia tahu bahwa buku X itu plagiasi. Tapi karena si editor ini ga baca Sapta Siaga, jadi lolos deh itu buku. Jadi, ya sudahlah, sementara ini, biar saja Reza kerjaannya membacaaaa.. terus. Kalau dia memang ga minat belajar akademis, mau gimana lagi. Dipaksa juga ga ada gunanya. Target saya, usia 11 atau 12 Reza ikut ujian paket A supaya punya ijazah SD, jadi mungkin setahun sebelumnya baru saya ‘paksa’ untuk belajar akademis. Sekarang ini, toh umurnya masih 8 tahun, biarlah dia melakukan yang diminatinya dulu, sepuas-puasnya: membaca.

Setiap anak istimewa, ga perlu dibandingkan dengan yang lain.  Tugas ortu adalah menggali keistimewaannya itu, mengembangkannya dengan maksimal, supaya kelak dia mampu menghidupi dirinya sendiri dengan skillnya itu.

Aku Rindu Kamu yang Dulu

Saya dulu, duluuu sekali, punya teman diskusi yang sangat menyenangkan. Kami cocok membicarakan banyak hal. Selera bacaan kami sama, selera topik diskusi sama, selera musik juga nggak jauh-jauh lah. Sampai suatu saat muncul konflik, ternyata ada perbedaan prinsip di antara kami saat mendiskusikan sebuah isu internasional (yaelaaa.. sok banget deh yaaaa :D). Dan lamaaa.. kami tidak kontak. Tiba-tiba muncul sms darinya: aku rindu kamu yang dulu. Jiaaah.. maksudnya: rindu saya yang dulu, waktu masih ‘cocok’ 😀

Dan tiba-tiba beberapa hari ini saya juga rindu pada beberapa orang yang dulu cocok banget sama saya. Tapi, ya ampun… dalam hiruk-pikuk pilpres ini, mereka kok berubah ya…? Mana kecerdasan dan kejelian yang dulu? Kok sekarang jadi suka menyebar gosip dari media-media yang sering ketahuan menebar gosip atas nama agama? Kok sekarang dengan gampangnya klik share sebuah artikel yang belum terverifikasi, padahal di timeline saya, langsung ada bantahan dari berita yang di-share itu (mungkin inilah keuntungannya saya punya friend sangat banyak, hampir 5000 orang dan berasal dari dua kubu). Kok kalian sekarang nyinyir dengan kalimat-kalimat ga mutu? Kemana itu ketajaman analisis kalian?

Posisi saya yang ga fanatik ke satu pun di antara dua capres, serta bacaan saya yang cukup banyak dari dua kubu (artinya, cukup mendapatkan dua versi informasi), rasanya membuat saya mampu menilai, mana yang analisis (dari kubu manapun), mana yang nyinyir karena emosi dan fanatisme…

Aih benar juga kata Syekh Syaltut, “Fanatik kepada afiliasi politik dapat merusak cara berpikir ilmiah.”

Duh, beneran deh, aku rindu sama kalian yang dulu… Plis deh, ingatlah wejangan Imam Ali ra berikut: “Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja; siapa tahu – pada suatu hari kelak – ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya saja; siapa tahu – pada suatu hari kelak – ia akan menjadi orang yang kaucintai.

kampred

sumber foto:nemu di fb orang, lupa lagi siapa

Surabi Cinta

sumber foto: info-bdg.blogspot.com

sumber foto: info-bdg.blogspot.com

Pagi hari yang sibuk, perempuan itu tidak sempat membuatkan sarapan untuk keluarganya. Sejak dini hari, dia hanya sempat membuka laptop, menyelesaikan sejumlah pekerjaan. Lalu buru-buru bersiap pergi ke kampus. Suaminya dengan tanpa beban, mengantarnya ke stasiun kereta. Untung saja, kereta belum datang. Perempuan itu mengeluh pelan. Perutnya memberontak. Malam hari, dia hanya minum jus. Dan pagi ini belum ada seteguk air pun yang melewati kerongkongannya.

“Aku ingin surabi [serabi]. Tapi.. kalau kereta keburu datang, gimana ya?”

“Tunggu di sini sebentar, aku belikan. Kalau keburu, alhamdulillah. Mau yang mana?”

“Yang pake telor dan oncom.”

Suaminya pun melajukan motor menuju tukang surabi, sekitar 200 meter dari stasiun. Tak lama kemudian, dia kembali.

“Tak ada yang telor. Cuma ada ini.”

“Ga apa-apa, terimakasih ya.”

Sang suami pun berlalu, pulang. Perempuan itu duduk di ruang tunggu, melahap surabi itu sambil browsing di hape androidnya. Tak lama kemudian, kereta pun datang. Dia tetap duduk, tak terburu-buru. Setelah semua penumpang di ruang tunggu itu pergi mendekati kereta, barulah dia bergerak.

Tiba-tiba, di dekat kereta, dia bertemu kembali dengan suaminya. Rupanya sang suami kembali lagi ke stasiun, dan dari tadi mencari-cari istrinya ke dekat kereta; padahal si istri masih duduk tenang di ruang tunggu.

“Ini, ada surabi telor,” dengan tenang dia mengeluarkan surabi itu dari plastiknya, hendak dipindahkan ke plastik surabi yang sedang dipegang istrinya.

Perempuan itu tersipu malu. Merasa sedang ditatap orang-orang banyak di kereta. Ah, apa yang mereka pikirkan melihat adegan ini.

“Ah tidak, aku sudah kenyang. Ini, surabiku masih ada satu lagi, bawa saja pulang ya?” katanya.

“Bener, ga mau?” jawab suaminya. “Ayo, ini, bawa.”

Perempuan itu menggeleng dan bergegas menaiki kereta.

Di atas kereta, ditatapnya punggung suaminya hingga menghilang dengan motornya.

Kereta pun melaju. Mata perempuan itu mendadak panas, menahan genangan air mata.

Segera diambilnya hape androidnya dan mengetik sebaris kata,

“I love you so much…”