All of Me

Ini sekedar cerita tentang hari kemarin kami, 30 Juli. Hari ulang tahun saya. Pagi-pagi, Reza sudah menyerahkan kado, dari Papa, Rana, dan Reza. Seperti biasanya, hiks, kado dari mereka selalu saja salah. Pengen nangis deh. Kali ini, mereka beliin baju motif bunga-bunga warna pink. Bagus sih. Tapiiii..ukuran 3L ! Gubraks. Apalagi, pas liat harganya (mereka lupa merobek tempelan harganya), glek, pengen banget ngomel, “mendingan duitnya kasih aja ke mama!” Di telpon, saya mengeluh ke adik saya. Dia tertawa terbahak, “Berarti di mata mereka Mbak itu gendut bangeeet!” Hwaaaa…. (Info: saya masih cukup kalo pake baju ukuran M)

Positive thinking: yang penting mereka ingat ultah saya, mereka mencintai saya… dan that’s enough for me 🙂

Siangnya, kami berangkat pulang ke Bandung (cerita di atas setting-nya di rumah mertua, di Majalengka). Di mobil, selain kami sekeluarga, ada adik ipar dan dua ponakan saya. Saya dan adik ipar ngobrol ke sana-sini. Tiba-tiba, Rana dan sepupunya nyanyi-nyanyi sambil dengerin lagu di tablet. Saya rasanya sudah berulang-ulang mendengar mereka menyenandungkan lagu itu, jadi penasaran.

“Lagu apa sih itu?” tanya saya.

Ga taunya, itu lagunya John Legend, All of Me. Saya dengarkan dengan seksama liriknya.  Cinta-cintaan. Saya ngomelin anak-anak, itu kan lagu orang dewasa.

Trus saya dan adik ipar mulai membahas anak-anak sekolah jaman sekarang yang sudah mulai melupakan lagu-lagu nasional. Apalagi, ada kecenderungan, sebagian sekolah-sekolah berlabel Islam tidak lagi mengadakan upacara di sekolah (apalagi lagu-lagu nasional), bahkan menolak Pancasila sebagai dasar negara yang bisa menyatukan semua agama, ras, dan golongan. Padahal, nasionalisme itu kan penting banget. Gimana bangsa kita mau maju kalau rasa cinta tanah air ga dipupuk sejak kecil? Duh, saya jadi agak merasa bersalah nih. Reza (karena sejak kelas 1 SD homeschooling) ga hafal lagu Indonesia Raya, ga hafal teks Pancasila dan lagu-lagu nasional. Saya terlewat memasukkannya dalam jadwal pelajaran Reza.

Ujung dari obrolan kami adalah.. nyanyi bareng! Adik ipar saya, ponakan saya, Rana, dan papanya, bersuara merdu. Mereka dengan bersemangat menyanyikan lagu Indonesia Raya, Satu Nusa Satu Bangsa, Halo-Halo Bandung, Hari Kemerdekaan, Maju Tak Gentar, dan Garuda Pancasila (dan tertawa terbahak-bahak saat ponakan saya melafalkan frasa ‘pribadi bangsaku’ menjadi ‘pribang pribangsaku’… hahaha.. ini kayaknya kesalahan sejak zaman dulu ya.. dulu saya waktu SD juga salah sebut begini wkwkw). Dalam hati saya berjanji akan mengenalkan lagu-lagu nasional kepada Reza dan berusaha menumbuhkan rasa cinta kedua anak saya pada Indonesia.

Tak terasa, perjalanan 3 jam yang penuh nyanyian itu pun berakhir, kami sampai di rumah dengan selamat.

Di rumah, dengan nada protes dan ‘ambil kesempatan’, saya bilang “Pa, sebenarnya Mama tuh pengennya kado anting-anting emas. Soalnya anting Mama kan patah.”

Si akang (mungkin karena merasa bersalah atas insiden baju 3L itu), langsung mengiyakan. Oh.. oh..   all of me is yours, Sir.

*istri mata duitan* :p

Advertisements

Tentang Wakaf Tanah 18 Hektar

Hutan gundul di Kalimantan (sumber:ridhanu.wordpress.com)

Hutan gundul di Kalimantan (sumber:ridhanu.wordpress.com)

Seorang sahabat bercerita kepada saya. Dia mewakafkan tanah yang dibelikan suaminya seluas 18 hektar untuk ‘rumah binatang’. Wow, saya takjub dong. Saya tanya-tanya lebih lanjut. Ternyata, tanah itu dibeli dengan harga murah dari warga, terletak di tengah hutan. “Seharusnya”, sama seperti banyak orang di daerah itu (Kalimantan), tanah seluas itu digarap jadi kebun sawit supaya jadi duit banyak. Namun, teman saya ini sangat cinta lingkungan, jadi dia nggak mau suaminya bikin kebun sawit. Walhasil tanah itu dibiarkan saja, jadi tempat tinggal hewan-hewan hutan.

“Selama ini orang-orang banyak yang nggak ngerasa hutan hujan itu penting. Seakan-akan, masalah ini nggak berkaitan dengan hidup orang banyak, bahkan kelangsungan hidup di planet ini. Di sini banyak orang kaya mendadak setelah jadi tuan tanah sawit atau tanahnya dibeli ama perusahaan. Aku ngerti sepenuhnya kenapa mereka berbuat itu…semua butuh duit… Apalagi kebanyakan dari mereka nggak tau apa akibat kebun sawit ini…,” ujar sobat saya ini.

Waduh, saya jadi malu hati. Eeeer…emangnya apa sih dampak buruk dari kebun sawit, sampai-sampai sobat saya ini rela mewakafkan 18 hektar tanah biar tetap jadi hutan alami? Kalau wakaf buat masjid kan udah umum ya, ‘pahala’-nya seolah lebih ‘pasti’. Lha kalo wakaf hutan? Asli baru denger.

Akhirnya, saya browsing… kesimpulannya:

Keberadaan perkebunan kelapa sawit skala besar seperti sekarang ini, mengancam kesatuan ekologis, merusak keseimbangan alam dan lingkungan. Akar dari kelapa sawit sangat sulit untuk dibersihkan walaupun pohon sawit tersebut telah mati, namun dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar akar dan tanah yang telah ditanami kelapa sawit dapat digunakan lagi. Selain itu tanah bekas perkebunan kelapa sawit akan menjadi gersang karena unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah telah habis. Pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit kerap dilakukan dengan cara pembakaran, akibatnya terjadi pencemaran udara.

Pembukaan perkebunan sawit juga merusak tatanan sosial masyarakat adat. Perusahaan-perusahaan sawit ada yang membujuk-bujuk untuk membeli lahan (istilahnya: sosialisasi). Namun  ada yang malah melakukan penggusuran lahan. Ada banyak lahan kebun dan perkuburan keramat (kuburan tua) yang digusur untuk perkebunan sawit. Akibatnya, konflik lahan pun banyak terjadi. Salah satu contoh kasus adalah persoalan di Kawasan Hutan Adat Seruat Dua Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.  Masyarakat di sana resah karena lahan hutan yang dirambah untuk perkebunan sawit, membuat hutan jadi gundul; padahal hutan adalah sumber air tawar bagi masyarakat.

Masalah perizinan pun membuka peluang dampak buruk. Di Kalbar, misalnya, proses perizinan sudah mencapai 4,8- 4,9 juta Ha. Luas perkebunan yang masih dalam proses perizinan ini jauh lebih luas dari target 1,5 juta hektar (yang telah ditetapkan sebelumnya). Tanah 1,5 juta hektar itu sebenarnya diprioritaskan untuk lahan kritis dan tidak produktif. Tetapi jika izin yang keluar melebihi target, bisa dipastikan perusahaan akan mencaplok hutan.

(disarikan dari sini)

Peneliti Indonesia, Belinda Arunarwati Margono, menulis di jurnal Perubahan Iklim Alam mengenai situasi hutan di Indonesia.  Ternyata, RI telah kehilangan 6.02 juta hektar hutan antara tahun 2000-2012. Dengan jumlah hutan yang begitu besar dibabat habis, maka Indonesia sukses mengambil alih predikat yang sebelumnya disematkan kepada Brasil, sebagai negara yang paling cepat menggunduli hutan. Negeri Samba itu, berdasarkan data Belinda, kehilangan 460 ribu hektar hutan hujan tropisnya.

Apa akibatnya kalau hutan gundul.. aduh, semua pasti sudah tau deh, sejak SD kita sudah dicekoki pengetahuan tentang ini, ya kan? Lalu, kenapa negeri kita ini sedemikian abai terhadap hutan ya? Mungkin karena kita di sekolah tidak diajari mencintai hutan, hanya disuruh menghafal teks. Kalau mengikuti jejak sobat saya itu (mewakafkan tanah yang sudah dibeli agar tetap jadi hutan), mungkin tak setiap orang bisa. Semoga Allah melimpahkan pahala berlipat ganda buatnya. Tapi setiap kita bisa memulai dari langkah kecil: menanam pohon di halaman rumah, mengajak anak menanam sayuran, menyiraminya setiap hari, merasakan antusiasme saat bisa memanen hasil dari kebun sendiri. Semoga anak-anak kita bisa tumbuh menjadi manusia-manusia pencinta lingkungan; dan kelak jadi pemimpin yang memikirkan keselamatan alam dalam setiap keputusan yang diambilnya.

@Gramedia Padang

Punya anak demen baca, kadang bingung juga.. bingung duitnya..hiks.. secara harga buku kan mahal-mahal. Kalau beli satu sih nggak mahal. Kalau beli langsung setumpuk? Wow banget dong. Salah satu trik saya supaya lebih ‘untung’ adalah meminta Reza membaca satu atau dua buku sampai tamat di toko buku. Kalau baca di toko bukunya, kan gratis 🙂 Trik ini saya pelajari dari Papi saya.. duluuu.. waktu saya kecil, Papi juga gitu, menyuruh saya membaca dulu satu Lima Sekawan sampai tamat, dan beli satu judul lainnya untuk dibawa pulang. Jadi nostalgia deh… dulu untuk bisa beli buku cerita di Gramedia saya harus menunggu terima raport dulu, sebagai hadiah kalau jadi juara kelas.

Dan inilah penampilan Reza di Gramedia Padang, hari ini.

reza-gramedia-padang

 

Sebenarnya, dua hari sebelumnya kami sudah ke sana, dan Reza beli enam judul buku (komik Tintin). Tapi karena semua sudah tamat (plus buku setebal 586 halaman The Lost Hero-nya Rick Riordan, yang dibawa dari Bandung, juga sudah tamat), terpaksa beli lagi deh.

Kali ini, lucunya, bukan saya yang nyuruh, tapi Reza. “Ummi, kita masih punya banyak waktu kan? Aku mau baca buku dulu ya?” [jangan heran dengan kalimat ‘formal’ Reza ini :D]

Dan setelah tamat satu buku, dia bilang lagi, “Kalau kita masih ada waktu, aku mau baca satu lagi.”

Tapi saya sudah capek nungguin. Jadi, saya ajak pulang saja.  Kami membawa pulang 3 buku: Imung (Arswendo Atmowiloto; ini saya yang rekomendasikan ke Reza.. saya bilang, “Reza ini bacaan Ummi waktu kecil dulu, seru lho!) dan Misteri Kota Topeng Angker (Yovita Siswati; Reza baca ‘iklan’ buku ini di majalah Bobo) [keduanya buku ‘misteri’ karena Reza bercita-cita jadi detektif], dan novel Love Interrupted (Maya Lestari Gf; saya beli karena kenal dengan penulisnya, orang Padang juga :D)..ini sih buat bekal bacaan saya di pesawat, nanti malam 🙂