Tentang Wakaf Tanah 18 Hektar

Hutan gundul di Kalimantan (sumber:ridhanu.wordpress.com)

Hutan gundul di Kalimantan (sumber:ridhanu.wordpress.com)

Seorang sahabat bercerita kepada saya. Dia mewakafkan tanah yang dibelikan suaminya seluas 18 hektar untuk ‘rumah binatang’. Wow, saya takjub dong. Saya tanya-tanya lebih lanjut. Ternyata, tanah itu dibeli dengan harga murah dari warga, terletak di tengah hutan. “Seharusnya”, sama seperti banyak orang di daerah itu (Kalimantan), tanah seluas itu digarap jadi kebun sawit supaya jadi duit banyak. Namun, teman saya ini sangat cinta lingkungan, jadi dia nggak mau suaminya bikin kebun sawit. Walhasil tanah itu dibiarkan saja, jadi tempat tinggal hewan-hewan hutan.

“Selama ini orang-orang banyak yang nggak ngerasa hutan hujan itu penting. Seakan-akan, masalah ini nggak berkaitan dengan hidup orang banyak, bahkan kelangsungan hidup di planet ini. Di sini banyak orang kaya mendadak setelah jadi tuan tanah sawit atau tanahnya dibeli ama perusahaan. Aku ngerti sepenuhnya kenapa mereka berbuat itu…semua butuh duit… Apalagi kebanyakan dari mereka nggak tau apa akibat kebun sawit ini…,” ujar sobat saya ini.

Waduh, saya jadi malu hati. Eeeer…emangnya apa sih dampak buruk dari kebun sawit, sampai-sampai sobat saya ini rela mewakafkan 18 hektar tanah biar tetap jadi hutan alami? Kalau wakaf buat masjid kan udah umum ya, ‘pahala’-nya seolah lebih ‘pasti’. Lha kalo wakaf hutan? Asli baru denger.

Akhirnya, saya browsing… kesimpulannya:

Keberadaan perkebunan kelapa sawit skala besar seperti sekarang ini, mengancam kesatuan ekologis, merusak keseimbangan alam dan lingkungan. Akar dari kelapa sawit sangat sulit untuk dibersihkan walaupun pohon sawit tersebut telah mati, namun dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar akar dan tanah yang telah ditanami kelapa sawit dapat digunakan lagi. Selain itu tanah bekas perkebunan kelapa sawit akan menjadi gersang karena unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah telah habis. Pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit kerap dilakukan dengan cara pembakaran, akibatnya terjadi pencemaran udara.

Pembukaan perkebunan sawit juga merusak tatanan sosial masyarakat adat. Perusahaan-perusahaan sawit ada yang membujuk-bujuk untuk membeli lahan (istilahnya: sosialisasi). Namun  ada yang malah melakukan penggusuran lahan. Ada banyak lahan kebun dan perkuburan keramat (kuburan tua) yang digusur untuk perkebunan sawit. Akibatnya, konflik lahan pun banyak terjadi. Salah satu contoh kasus adalah persoalan di Kawasan Hutan Adat Seruat Dua Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.  Masyarakat di sana resah karena lahan hutan yang dirambah untuk perkebunan sawit, membuat hutan jadi gundul; padahal hutan adalah sumber air tawar bagi masyarakat.

Masalah perizinan pun membuka peluang dampak buruk. Di Kalbar, misalnya, proses perizinan sudah mencapai 4,8- 4,9 juta Ha. Luas perkebunan yang masih dalam proses perizinan ini jauh lebih luas dari target 1,5 juta hektar (yang telah ditetapkan sebelumnya). Tanah 1,5 juta hektar itu sebenarnya diprioritaskan untuk lahan kritis dan tidak produktif. Tetapi jika izin yang keluar melebihi target, bisa dipastikan perusahaan akan mencaplok hutan.

(disarikan dari sini)

Peneliti Indonesia, Belinda Arunarwati Margono, menulis di jurnal Perubahan Iklim Alam mengenai situasi hutan di Indonesia.  Ternyata, RI telah kehilangan 6.02 juta hektar hutan antara tahun 2000-2012. Dengan jumlah hutan yang begitu besar dibabat habis, maka Indonesia sukses mengambil alih predikat yang sebelumnya disematkan kepada Brasil, sebagai negara yang paling cepat menggunduli hutan. Negeri Samba itu, berdasarkan data Belinda, kehilangan 460 ribu hektar hutan hujan tropisnya.

Apa akibatnya kalau hutan gundul.. aduh, semua pasti sudah tau deh, sejak SD kita sudah dicekoki pengetahuan tentang ini, ya kan? Lalu, kenapa negeri kita ini sedemikian abai terhadap hutan ya? Mungkin karena kita di sekolah tidak diajari mencintai hutan, hanya disuruh menghafal teks. Kalau mengikuti jejak sobat saya itu (mewakafkan tanah yang sudah dibeli agar tetap jadi hutan), mungkin tak setiap orang bisa. Semoga Allah melimpahkan pahala berlipat ganda buatnya. Tapi setiap kita bisa memulai dari langkah kecil: menanam pohon di halaman rumah, mengajak anak menanam sayuran, menyiraminya setiap hari, merasakan antusiasme saat bisa memanen hasil dari kebun sendiri. Semoga anak-anak kita bisa tumbuh menjadi manusia-manusia pencinta lingkungan; dan kelak jadi pemimpin yang memikirkan keselamatan alam dalam setiap keputusan yang diambilnya.

Advertisements

One thought on “Tentang Wakaf Tanah 18 Hektar

  1. maaf, saya mau bertanya mengenai opini anda (tidak nyambung dg artikel diatas). Bu Dina, Apa pendapat anda mengenai yayasan al-aqsha yang memberikan donasi pada suriah. mohon dijawab karena ini sangat menguras rasa ingin tahu saya. terimakasih. salam hangat, pembaca blog anda 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s