Om Mario

mario teguh-2Saya baca di fb, beberapa pria menjelek-jelekkan Mario Teguh. Bahkan ada yang menulis ‘hidup tak semudah c*c*tnya Mario Teguh’. Waduh… kok pakai istilah mulutnya binatang ya… 😦

Tapi saya nggak akan bela-belain MT. Ntar diolok, sebagaimana dulu jaman pilpres, beredar meme: ‘Situ sodaraan sama capres yak, galak amat belainnya?!’ 😀

Saya cuma ingin cerita bahwa MT berjasa buat saya dan keluarga, dan buat seorang yang lain. Kalau cerita di keluarga saya, ga usah detil ya. Intinya, si Akang jauh lebih manis sejak rutin mendengarkan ‘ceramah’ MT, heuheuheu… Misalnya, MT kan bilang, istri-istri suka kalau suaminya minta maaf, meskipun yang salah istrinya. Dan si Akang mempraktekkannya. Apakah ini bikin saya ngelunjak? Ah enggak tuh. Saya malah meleleh kalau si Akang minta maaf, meskipun kami sama-sama tau, yang salah itu saya. Langsung deh, emosi saya cair, dan saya juga ikut minta maaf. Dan, jadi makin cintaaaa..;)

Atau, MT kan suka ngasih nasehat-nasehat soal perbaikan kualitas diri. Nah, si Akang tuh menyerapnya dengan baik, dan menyampaikan ulang ke saya pada saat-saat yang tepat. Karena ‘logika’ nasehat yang dipakai sudah nyambung antara MT-saya-si Akang, jadi ya nyaman aja… Beda dengan zaman dulu, si Akang kalau ngasih nasehat khas cowok banget, solutif, dan sama sekali nggak mikir soal perasaan orang yang dinasehati (saya baca di buku Men are from mars, women are from venus, laki-laki sering ga tau bahwa perempuan kalau lagi sedih/curhat itu sebenarnya cuma ingin didengar dan disayang; laki-laki mengira dia bertugas ngasih solusi).

Dan maaf ya, saya jadi punya tesis baru bahwa seorang cowok yang ngefans sama MT bakal jadi suami yang sangat baik ke istrinya. Hahaha.. (saya bilang gini ke seorang teman single, dia bilang, wah gw musti cari jodoh di wall-nya MT dong!)

Pagi ini saya nemu kasus menarik. Tukang pijit langganan saya (sebut saja namanya bu L) cerita, dia juga suka nonton MT. (jangan salah, bu L ini meski profesinya tukang pijit, tapi cara bicara dan mikirnya keren banget… jadi dia nyambung diajak ngobrol apa aja, termasuk politik Timur Tengah 😀 ).

Nah salah satu pasien bu L (sebut saja bu W.. saya juga tidak tau identitas aslinya, bu L menjaga kerahasiaan klien dg baik) punya problem sama suaminya dan kabur dari rumah. Bu L yang emang jenis ibu yang sangat care sama teman, berusaha sms dan telpon bu W. Tapi, tak ada balasan. Bu L ga putus asa. Dia tetap kirim sms ke bu W. Isinya…kutipan kata-kata MT. Misalnya: wanita baik itu jodohnya laki-laki baik. Ketika dia salah pilih, dan menikah dengan laki-laki jahat, sangat wajar bila dia tak tahan dan menderita. Jadi, dia bisa memilih, pergi atau bertahan menderita. (maksud L, dia memberi semangat kepada W, bahwa pilihannya untuk pergi dari suaminya yang sangat-kurang-ajar itu adalah pilihan yang benar). Atau, tentang harta. Saya lupa kutipannya secara verbatim. Tapi intinya, kadang perempuan itu ga berani pergi dari suaminya yang jahat karena pertimbangan harta. Padahal, rizki Allah itu luas. Jadi, ga perlu kuatir. Lebih baik hidup terhormat dan bahagia meski sendiri, daripada terus bersama suami yang jahat. Atau, di waktu lain, bu L mengirim sms tentang cara move on yang diajarkan MT. Caranya gimana? Kata MT: laki-laki yang jahat memang sebaiknya dilempar ke ‘pasar bebas’. Biar saja dia bersama perempuan jahat, yang memang sudah ‘sekufu’: sama-sama jahat.

Lambat laun, akhirnya W memberi respon, membalas sms, dan mengaku sangat terbantu oleh sms-sms yang dikirim bu L. Dan akhirnya, dia memantapkan diri menyewa pengacara untuk mengurus perceraian. Sebelumnya, dia masih ragu, karena banyak yang menyayangkan: suaminya kaya raya, masak ditinggal begitu aja.. keenakan dong perempuan-perempuan selingkuhan suaminya itu.

So, meski mungkin nasehat-nasehat MT dinilai sebagian pihak banyak kurangnya, saya tetap bertahan mendengarkan ceramahnya (meski ga rutin setiap pekan, kapan sempat saja). Begitu pula si Akang dan anak-anak kami. Terkadang kami terkikik-kikik geli dan saling menggoda.. “Tuh.. papa gitu tuuuh!” atau “Nah..Mama kena deh..!” atau “Kakaaak.. dengerin tuh!”

Ambillah nasehat-nasehat kebaikan dan hikmah, dari manapun 🙂

Terbit: Avalonia Castle-2

avalonia castle-2Alhamdulillah, buku terbaru Kirana sudah terbit 🙂

Judul: Avalonia Castle 2: Kembalinya Sang Raja

Penerbit: DAR! Mizan (Kecil-Kecil Punya Karya)

Buku ini sequel buku sebelumnya, Avalonia Castle “Misteri Kalung Kerajaan” yang sempat cetak ulang 3 kali (atau lebih ya, lupa lagi tepatnya).

Di buku ini, Rana menuntaskan kisah misteri keberadaan ayahnya Princess Fiona, Raja Ederic, yang sebelumnya disangka sudah meninggal.

Ini sinopsisnya:

Peristiwa aneh kembali terjadi di Avalonia Castle!
Hana yang menjadi pelupa setelah meminum ramuan cantik. Makan Raja Ederic yang tidak mengeluarkan sinar ketika disentuh Princess Fiona. Aneh! Siapakah yang berada di dalam makam itu sebenarnya? Benarkah bukan Raja Ederic? Lalu di mana Raja Ederic sekarang berada? Siapakah Ellen dan pria tua yang terdampar di pertambangan emas pinggir sungai? Baca yuk, kelanjutan kisah seru Princess Fiona. Hana, dan Anne hanya di buku ini!

Dendeng Batokok @Dago

dendeng batokok dago1Saya rasanya belum pernah ya, promosiin tempat makan di blog. Tapi yang ini istimewa banget, sampai saya merasa ‘wajib’ nulis tentangnya. Enak dan murah (sampai takjub).

Ceritanya, hari Minggu kemarin, anak-anak ikut acara Bandung Sketchwalk di Pasar Baru. Setelah membuat sketsa sekitar dua jam, Reza mulai bosan, lalu kami jalan-jalan di lantai 6. Sempet beli sepatu dan tas. Lalu, naik becak ke Sarasvati Art Gallery, tempat pertemuan para peserta Bandung Sketchwalk. Semua karya ditaruh di lantai, untuk dinikmati sama-sama. Keren-keren deh…  (baca ceritanya di blog Kirana). Sekitar sejam kemudian, kami dijemput sama si Akang yang habis menjemput Rika (adik saya) di Batununggal (pool bis Primajasa khusus Bandara). Nah, Rika ini ada perlu ke Dago, ke rumah dosennya. Jadilah kami nyimpang ke Dago dulu sebelum pulang.

Rika di-drop di Kanayakan dan naik ojek ke dosennya, kami nungguin sambil makan siang. Saya sebelumnya, tiap pulang-pergi kampus, sering melirik-lirik restoran sederhana ini. Tapi belum pernah mampir. Kemarin itu, kesempatan deh, saya ajak si Akang dan anak-anak makan di sana.

Ternyata.. wow banget.. Ga nyangka saya: uenaaak…! (Karena ga nyangka, dikirain ini resto biasa-biasa aja, makanya ga sempet difoto tuh makanannya). Kalau istilahnya si Akang: ‘ini restoran niat banget jualannya’. Satu paket makanan tuh lengkap, nasi, sop (yang enak banget, sop asli Padang ini mah), lalapan sepiring (dan keliatan bersih banget serta ditata rapi di piring), sambel merah, plus lauk yang dipilih.  (Jadi, bayangkan penuhnya meja kami, masing-masing orang dapat paket lengkap begitu). Pilihannya selain dendeng batokok, ada soto, sop, ayam bakar, dll.

Saya pesan dendeng batokok, yang ternyata itu dendeng paling enak yang pernah saya rasakan selama ini *duh, ini nulis sambil ngiler.. ntar kalau ke kampus, mampir ke sana lagi aaah..* Dagingnya ukuran cukup besar, lembut, dan dilumuri sambel ijo yang enak banget. (Kalaupun ada kekurangan, sambel merahnya menurut saya terlalu asin).

Rana dan Reza pilih ayam bakar, yang juga enak, dilengkapi sambel kacang. Si Akang beli sop. Beberapa lama kemudian, Rika datang, dan pesen dendeng batokok juga.

Dan pas bayar… saya bener-bener takjub. Makanan lengkap berlima, plus masing-masing pesan juice, hanya 127.000! Ya ampun… makanan seenak dan selengkap itu, satu porsinya berarti cuma 15 ribuan – di luar juice (tapi ada pajak 10%). Mantap deh… 🙂

Poin plus lainnya.. kebersihannya.  Di sudut ruangan restoran (yang emang ga besar itu) disediakan mushola, westafel, dan toilet yang bersih. Dan, antara musholla dengan dapur dibatasi oleh kaca bening. Artinya, semua kegiatan di dapur bisa diamati dari mushola. Bersih. Trus ya, pelayannya selalu senyum. Ga dibuat-buat, kliatan enjoy gitu, ngurusin restoran ini.

Nah yang mau wisata kuliner ke daerah Dago, jangan lupa mampir ke sana ya.. hehe.. Lokasinya di sebelah toko swalayan Borma, dari arah bawah/simpang Dago, sebelah kanan jalan.

*suer saya ga kenal sama pemilik restoran itu, dan ga dibayar… ini murni apresiasi karena puas banget kemarin makan di sana 🙂

(re-blog): Kader PKS, Mari Belajar Bersama

sumber foto: lazyturtle.in

sumber foto: lazyturtle.in

Terus-terang saja, saya berhutang budi pada akhwat-ikhwan PKS yang dulu (duluu.. sebelum ada partai PKS, yang saya maksud adalah mereka yang aktif berdakwah di sekolah dan kampus). Saya pakai jilbab kan setelah didakwahi mereka. Saya peduli Palestina, rajin ngaji, rajin beli dan baca buku-buku agama, juga berkat ustazah dan kakak mentor.  Saya peduli pada ‘agama’, berpikir lebih luas daripada sekedar sholat dan puasa, juga berkat mereka. Bahkan saat saya pulang dari Iran pun, saya sempat ikut majlis ta’lim rutin dengan ustazah PKS. Saya senang  berada di antara mereka, karena jadi termotivasi untuk rajin beribadah.

Tapiiii.. setelah suatu peristiwa menimpa saya.. wow.. semakin lama, saya semakin ilfil. Apalagi saat pilpres kemarin. Waduh, tak terhitung dari mereka yang saya unfriend (kalau tidak saya kenal pribadi; saya unfollow kalau orangnya kenal pribadi, supaya tidak memutus silaturahim). Bukan..bukan karena pilihan politiknya. Tapi karena saya sangat sensi sama orang-orang yang dengan mudahnya menggunakan isu SARA untuk menjatuhkan lawan. Terlebih, saya tahu sendiri pahitnya menjadi korban ‘pembunuhan karakter’. Bukankah lebih elegan bila ‘menjatuhkan’ lawan dengan mengkritisi visi-misi, track record kinerja, dengan argumen yang valid, bukan dengan ‘katanya’ yang entah benar-entah tidak? Mengapa harus menyebarluaskan fitnahan berbau SARA dan menyebarluaskan kebencian? Jijik sekali saya membaca postingan seperti itu.

Tulisan ini, benar-benar pas dengan pikiran saya. Semoga saja mereka itu mau membaca. Tapi kalau tidak mau membaca, saya tidak heran sama sekali. Yang penting, kita (saya dan Anda yang mau membacanya) mengambil pelajaran dari sini, bahwa fanatik pada afiliasi politik terbukti bisa merusak cara berpikir ilmiah (ini kata-kata dari Syekh Syaltut; terbukti bahwa  dulu sebelum ada partai, para akhwat-ikhwan itu sungguh teman yang menyejukkan… tapi setelah jadi partai.. wadaw..). Jangan sampai kita mengorbankan keselamatan akhirat tapi merasa sedang berbuat kebaikan; ini sungguh sebuah ilusi yang berbahaya.

Kader PKS, Mari Belajar Bersama

Oleh: Sigit Kamseno

Teman-teman kader PKS,  selepas  Ashar ini di beranda rumah, mari kita minum teh hangat sembari sharing dari hati ke hati. Semoga angin sepoi-sepoi nan lembut dan hamparan rumput di depan beranda mungil ini bisa menemani obrolan ringan kita. Saya ingin sedikit curhat, terutama tentang aktivitas kader-kader PKS belakangan di dunia maya, yang tentu saja baik, namun pada beberapa hal nampak berlebihan.

Perjuangan kader PKS di Indonesia tentu baik. Dulu, melihat muslimah mengenakan jilbab sangatlah sulit. Di sekolah-sekolah, apalagi instansi pemerintah, jilbab menjadi hal yang tabu. Waktu itu di media massa bahkan wanita berhijab acap diilustrasi secara buruk. Saya masih ingat betul ketika masih SMP, bagaimana sebuah surat kabar nasional memuat ilustrasi pencurian di swalayan dengan gambar wanita berjilbab dengan tudingan kain penutup aurat itu adalah sarana utk sembunyikan hasil kutilan jajanan supermarket. Atau, ilustrasi nonsense lainnya dimana tampak seorang ibu yang mengenakan jilbab sedang menyusui anaknya, namun dengan dada terbuka. Belum lagi tudingan aliran sesat dan seterusnya. Saya, ‘diusiaku yang 29th my age’ ini (huft!) masih merasakan ujung dari perjuangan perempuan-perempuan itu utk diberi kebebasan mengenakan hijab di ijazah SMP dan SMA: kakak angkatan saya masih membukanya lantaran represifitas pemerintah terhadap selembar kain penutup aurat itu.  Bayangkan, demikian sulitnya sekadar untuk tunaikan perintah agama.

Dan adalah kader PKS, antara lain almarhumah Yoyoh Yusroh (semoga Allah menempatkan beliau pada tempat terindah di sisi-Nya) bersama rekan-rekannya seperti Wirianingsih, dan kader-kader gerakan tarbiyah (cikal bakal PKS) lainnya yang berdarah-darah memperjuangkan kebebasan agar wanita muslimah dibebaskan untuk menutup aurat, sebab ia panggilan agama. Utk keyakinan ini, mari kita abaikan celotehan anak-anak Islam liberal yang selalu nyinyir anggap jilbab sebagai tradisi Arab. Kita katakan, “Tradisi Arab itu tari perut, bung! Aurat terbuka bebas kemana-mana.” Justru ketika turun kewajiban berjilbab sebagai perintah Tuhan, wanita-wanita Arab yang bertaqwa bergegas menutup kepalanya meski harus kenakan tirai yang masih menggantung.

Kini, perjuangan untuk mengenakan hijab telah menemukan buahnya. Mata kita haru dan basah ketika pemerintah akhirnya membolehkan jilbab digunakan di instansi-instansi plat merah, juga dibolehkannya foto berjilbab pada ijazah sekolah-sekolah menengah. Sekarang sangatlah mudah menemukan wanita berjilbab di mana-mana, mulai instansi pemerintah hingga perbankan, dari buruh-buruh pabrik garmen hingga anak-anak pra sekolah, mulai tukang jamu gendong hingga eksekutif muda di perusahaan multinasional, semua kenakan jilbab.

Untuk membaca selengkapnya silahkan langsung ke Kompasiana: Kader PKS, Mari Belajar Bersama