Om Mario (2)

mario2Barusan membaca sebuah tulisan yang mengkritisi pemikiran Mario Teguh yang dianggapnya mendukung neolib. Wew. Bukan apa-apa, saya kan penulis yang sering sekali mengkritik neolib. Di sisi lain, saya demen juga dengerin khutbahnya Om Mario 😀 Jadi gimana?

Argumen si penulis, kurang lebih, “Nasehat-nasehat MT itu mengabaikan persoalan kemiskinan struktural, seolah-olah orang itu miskin karena kesalahan sendiri. Ini kan pandangan orang neolib. Padahal, kemiskinan itu akibat sistem ekonomi neoliberal, yang meminimalkan peran negara. Karena itu seharusnya dikritisi juga soal persoalan kebijakan-kebijakan yang membuat orang miskin terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan.”

Tentang kemiskinan struktural, ya, saya sepakat. Rakyat Indonesia ini lebih dari 50%-nya miskin (kalau pakai standar Bank Dunia ya.. kalau pakai standar BPS mah beda lagi, cuma ‘dikit’) dan itu semua karena sistem ekonomi neolib yang dianut negeri ini, termasuk dengan korupsi, kolusi, dll. (Baca deh bukunya Andre Vltchek, atau Economic Hit Man, pasti terkaget-kaget)

Lalu, apakah nasehat-nasehat Om Mario soal memperbaiki diri, etos kerja, sikap hidup, adalah salah?

Menurut saya, ini amat bergantung kasusnya. Biar bagaimanapun MT bukan Nabi. Saya tidak membenarkan semua yang dikatakannya. Tapi, ada sebagian yang dikatakannya, menurut saya benar sekali dan saya temui dalam kehidupan.

Kasus pertama, kasus petani.  Secara umum, petani di Indonesia dimiskinkan struktur neolib. (Saya pernah nulis: Shiva, Pangan, dan Perdamaian Dunia dan Timur Tengah dan Kejahatan Industri Pertanian). Tapi, apakah petani benar-benar 100% tidak berdaya? Suatu hari, saya bertemu dengan dua petani yang raut mukanya segar, penuh optimisme, dan dengan penuh semangat menceritakan bagaimana mereka bertani dengan zero input (seperti yang sering dikemukakan Vandana Shiva). Mau pupuk mahal, pestisida mahal, ga ada subsidi pemerintah, ga ngefek buat mereka. Kenapa? Karena mereka tak pakai pupuk kimia dan pestisida. Mereka (dengan bantuan ilmu dari LSM-LSM) memanfaatkan apa yang disediakan alam untuk bertani. Hasilnya? Makmur, dong.

Cuma, apakah semudah itu? Ternyata tidak. Saya cross-check ke petani lain yang pakai cara konvensional (pakai pupuk kimia dan pestisida), ternyata, problemnya di MENTAL. Susah, repot, dan perlu kerja sangat keras untuk bertani zero input. Bayangin aja, kalau kasih pupuk urea, hanya butuh sedikit, pupuk ditebar, beres. Pakai pupuk kandang? Wah, menggotong pupuknya (volume yang dibutuhkan juga berkali-kali lipat dari urea), menebarnya, itu  butuh kerja keras beberapa kali lipat. Tapi, efek jangka panjangnya jauh lebih bagus.  Dengan bertani zero input, meski repot dan musti kerja keras, mereka akan terbebas dari utang, tanah mereka terjaga kesuburannya, hasil panen jauh lebih mahal (karena organik), dll. Sayangnya, tidak banyak yang mau repot dan bekerja keras seperti itu.

Di titik ini, bisa saja muncul argumen: lha ini kan salah pemerintah juga, kok ga menggalakkan pertanian zero input? Kok penyuluh pertanian selalu menganjurkan pupuk dan pestisida kimia? Jawaban saya: terserah lu deh.. kalau mau nyalahin pemerintah melulu tapi diam dan tidak berbuat apa-apa, ya silahkan saja.

Kasus kedua, sebut saja X. Si X ini saya lihat pinter banget, lulusan univ terkenal. Tapi entah mengapa hidupnya susah melulu. Saat saya mengajaknya kerjasama dalam sebuah proyek, barulah saya tau apa jawaban keheranan saya itu. Ternyata etos kerjanya payah banget. Pasif, sama sekali ga ada rasa kebersamaan dalam tim, nggak mau kerja lebih dari yang seharusnya, menganggap gajinya kecil, ga ada inisiatif untuk membuat terobosan baru (yang dikerjakan ya apa yang jadi tugasnya aja, sudah dikasih saran berkali-kali ga peduli), kalau dikritik ngeyel, cara pandangnya juga fanatik banget; kalau udah percaya sama satu hal, ga mau denger pendapat yang lain, dll. Jadi, mau nggak mau akhirnya saya bilang “pantesaaaan…!” Kalau saja dia bersikap sebaliknya, sangat mungkin dia akan dikejar kerjaan dari sana-sini (duit/kerjaan yang ngejar dia). Lha kalau situasinya begini, saya (atau siapapun yang pernah setim dengannya) tentu tidak mau merekomendasikan dia ke orang lain yang butuh skillnya.

Kasus ketiga, sebut saja Y. Si bapak tua ini, hidupnya sengsara banget. Di usianya yang senja dia masih cari kerja serabutan ke sana-sini. Saya terharu banget… kok ada orang yang susah begitu. Harusnya kakek-kakek kayak dia mah udah ongkang-ongkang kaki menikmati hidup. Karena kasian, ya saya kasihlah kerjaan beresin taman, cuci mobil, atau saya suruh dia kerja di tempat kolega saya. Eh, lama-lama kliatan aslinya, bahwa dia ga bener. Pernah saya kasih honor duluan, karena saya mau pergi. Ternyata, tugasnya ga dikerjakan. Pas dia datang lagi, saya omelin, banyak alasan. Masih saya kasih kesempatan, ada-ada saja ulahnya. Ya sudahlah kek, gudbay aja, masih banyak orang lain yang mau ngegantiin kakek. Dan sayangnya, kelakuan kayak si kakek ini berkali-kali saya temukan: orang miskin, butuh kerja, pas dikasih kerja, malah menjengkelkan luar biasa. Jadi saya musti gimana coba?!

Nah, kalau saya sudah ngomel-ngomel gara-gara kelaukan mereka itu, si Akang selalu menasehati, “Mereka bersikap gitu karena pendidikannya kurang, jadi tidak tahu bagaimana bersikap profesional… Nah kenapa kok kurang pendidikan, ya karena miskin.. Nah sistem pendidikan dan kemiskinan ini kan masalah struktural… Jadi ga bisa mereka disalahin seratus persen…”

Eaaa.. intinya sih, balik lagi, kita musti liat kasus per kasus dong ya. Yang jelas, untuk mereka yang mampu mengakses televisi, internet, dan buku-buku, motivasi-motivasi memperbaiki etos kerja, perilaku, dan sikap itu penting untuk diikuti. Jangan sampai nyalahin bos, pemerintah, atau siapa saja yang bisa disalah-salahin, padahal dirinya sendiri emang ga bener kerja. Bahkan petani yang lulusan SMA aja bisa kok menjelaskan dengan fasih soal pertanian zero input dan bisa meraih kehidupan yang mapan dengan cara mendobrak mental malas; masak yang berpendidikan lebih tinggi enggak bisa? Di titik inilah, nasehat Om Mario terasa penting buat saya dan keluarga. 🙂

[Parenting] Scaffolding

si Cimut di atas pot bayam

si Cimut di atas pot bayam

Suatu hari ada yang pernah bilang sama saya, saat dia membaca tulisan saya tentang parenting, dia malah merasa gagal dan bukan ibu yang baik. Saya katakan padanya, bahwa tidak ada ibu yang sempurna, tapi ibu yang baik adalah ibu yang mau terus belajar dan berupaya memperbaiki diri. Lagi pula, yang saya tulis kan tidak melulu tentang kesuksesan, malah lebih sering ‘curhat’ kegagalan saya. Nah ini satu lagi cerita kegagalan saya, semoga ada hikmahnya.

Suatu saat, saya mendapati Reza melakukan kesalahan yang menurut saya memalukan sekali. Untungnya saya saat itu mampu mengendalikan diri, tidak marah padanya. Saya hanya menangis, dan Reza pun ikut menangis sambil meminta maaf. Buat sebagian orang, mungkin apa yang dilakukan Reza ‘biasa’ atau diabaikan saja, tapi tidak bagi saya. Buat saya itu tamparan keras sekali. Saya pikir, percuma saja saya ikut kelas-kelas parenting ke sana-sini, kasih ceramah parenting ke banyak orang, tapi kok anaknya melakukan kesalahan itu. Saya bahkan sempat memikirkan beberapa keputusan ekstrim, mau berenti kuliah, mau berenti melakukan berbagai kegiatan. Pokoknya mau di rumah full 100% mencurahkan perhatian pada anak. Saya merasa ini benar-benar murni kesalahan saya, seharusnya saya menjaga Reza baik-baik dan mengontrol semua perilakunya.

Tapi kemudian, setelah diskusi dengan si Akang (alhamdulillah-nya, si Akang juga pernah 2x ikut pelatihan parenting dengan Bunda Rani, jadi dia punya konsep yang sama). Dia mengingatkan saya soal scaffolding (materi di pelatihan ‘Disiplin dengan Kasih Sayang’). Kalau yang kami pahami, scaffolding itu menjadikan setiap momen yang tepat untuk menjadi pijakan/pondasi untuk pemahaman yang lebih dalam bagi si anak. Dalam kasus Reza, meski saya benar-benar terpukul, justru ini adalah momen yang sangat berharga untuk jadi scaffolding dalam memperbaiki perilaku Reza (dan perilaku saya, ibunya). Rasa bersalah membuat Reza dengan penuh kerelaan menjalani hukuman* dari saya; menjalani program-program  homeschooling-nya dengan disiplin, dan bahkan dia termotivasi untuk melakukan banyak aktivitas yang baik untuk membuktikan bahwa dia sebenarnya anak yang baik.

Di sisi saya, rasa bersalah juga membuat saya semakin serius memperbaiki diri (jadi, ini proses timbal-balik). Mungkin ada yang heran (termasuk saya juga heran sendiri), bukankah saya ini ibu RT, sebagian besar waktu saya di rumah, Reza pun homeschooling (ini atas kehendaknya sendiri, bukan keputusan saya), kok bisa  ‘kurang perhatian’?? Tapi, setelah saya introspeksi lagi, ya saya akui, ada banyak momen di mana saya membiarkan Reza sendirian beraktivitas (sementara saya sibuk dengan menulis). Tak jarang Reza kesal dan berbuat ulah, misalnya menolak mandi, atau makan. Ketika saya omelin, jawabannya, “Oke, tapi Ummi matiin dulu laptopnya!” Dia seolah benci banget sama laptop saya.

Si Akang berkali-kali mengingatkan agar saya benar-benar memprioritaskan Reza; sampai Reza yakin bahwa dirinya adalah prioritas saya. Insya Allah hanya butuh waktu sebentar, lalu Reza akan beraktivitas sendiri dan saya pun bisa melanjutkan menulis. Trik ini sudah sejak lama dilakukan si Akang, dan itulah jawabannya mengapa kalau Reza dijaga papanya (saat saya pergi), dia sama sekali tidak rewel. Kerjaan si Akang pun bisa selesai meski sambil ngurusin Reza. Tapi, selama ini, saya merasa sulit melakukannya. Saya merasa, kalau saya nulis terputus-putus, malah hilang ide. Jadi, yang saya lakukan seringkali menyuruh Reza menunggu saya selesai nulis, baru saya main bersamanya.

Kali ini, setelah ‘ditampar’ dengan keras, saya dengan serius menjalankan trik dari si Akang. Saya benar-benar memprioritaskan Reza. Seasyik apapun menulis, saya langsung berhenti saat Reza memanggil. Sebenarnya dia sudah sangat mandiri dalam banyak hal. Jadi, kalau Reza memanggil saya, artinya memang sesuatu yang ‘penting’, bukan kemanjaan. Misalnya, mengajak saya membaca buku bersama, memintanya untuk menemani saat membuat komik (dan dia akan sibuk bercerita tentang isi komiknya), mengajarinya matematika, atau sekedar Reza hanya ingin ‘melaporkan’ penemuannya saat membaca buku. Kalau dipikir-pikir lagi, semua perhatian yang dimintanya dari saya itu penting sekali. Momen-momen yang bisa jadi scaffolding untuk perbaikan kualitas dirinya.

Melewati masa-masa ‘shock’ itu, saya berhutang budi pada tiga hal. Yang pertama, buku Komik 99 Pesan Nabi. Reza suka komik, jadi komik ini pun amat disukai Reza, dia membacanya berulang-ulang dan antusias mendiskusikannya. Isinya semacam ‘cerita yang mengimplementasikan’ hadis-hadis Nabi. Misalnya, ada hadis soal 5 bagian tubuh yang harus dijaga oleh setiap mukmin, yaitu mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki. Nah si komikus membuat cerita berdasarkan hadis itu, seringnya sih ceritanya kocak, tapi ada juga cerita sendu yang bikin saya menangis. Ini menjadi momen untuk ‘mendoktrin’ (tanpa terasa) Reza tentang kewajiban menjaga mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki, agar tidak melakukan maksiat.

Biar bagaimanapun, mendidik akhlak anak (dan diri kita) harus mengaitkannya dengan Allah. Kita ortu tidak mungkin terus-terusan menjaga anak. Suatu saat mereka akan pergi, menuntut ilmu ke kota lain, misalnya. Nah, kesadaran bahwa Allah selalu melihat, bahwa ada malaikat di kiri-kanan yang selalu mencatat setiap amal, adalah pondasi penting yang harus ditanamkan ke anak. Nah, gimana caranya supaya ‘nempel’, itulah momen ‘scaffolding’ itu, yang harus dicari dan diciptakan.

Kedua, si Cimut, kelinci yang kami beli tak lama setelah peristiwa itu. Secara ajaib, si Cimut yang lucu banget itu mendatangkan kesegaran dan kebahagiaan dalam rumah kami. Anak-anak antusias sekali mengurusnya, sejak bangun pagi sampai menjelang tidur. Cimut menjadi prioritas baru dan menjadi ‘guru’ disiplin untuk anak-anak (misal, disiplin karena harus menjaga makanan dan minuman si Cimut). Sambil mengurus Cimut di taman belakang, anak-anak juga semakin dekat dengan tanaman (kami saat ini berkebun sayur di pot).

Ketiga, pada guru komik anak saya, kak Syahril. Setelah saya benar-benar memperhatikan Reza, saya baru ngeh kalau kak Syahril dalam mengajari gambar, mengenalkan juga tentang karakter negatif dan positif (jadi si tokoh komik ada ‘ruh’ atau karakter khas masing-masing). Nah, itu jadi ‘sarana’ juga buat saya, untuk menanamkan sikap-sikap positif.

Alhamdulillah setelah sekian waktu, keadaan membaik. Terlihat banyak perubahan dalam sikap Reza, lebih bergegas dalam kebaikan, lebih disiplin, lebih termotivasi untuk berkarya. Kepercayaan dirinya juga semakin muncul. Sementara saya, yah..memang sangat parah dalam urusan menulis, semua target bubar. Tapi ya sudah, dijalani saja. Saya yakin, pasti Insya Allah suatu saat akan ada waktunya  buat saya menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.

Kesimpulan yang saya ambil dari peristiwa ini:

-Bila anak berbuat salah, segera instrospeksi diri. Anak itu cermin. Jadi, kesalahan dia adalah cermin dari kesalahan ortu. Jadi, dalam upaya memperbaiki sikap anak, perbaiki juga sikap diri sendiri.

-Karena kesalahan anak sumbernya adalah kesalahan ortu, maka sikap ortu adalah: semakin menyayangi anak, semakin mencurahkan perhatian padanya (bukan malah marah-marah dan menghukum tanpa strategi). Bahkan dalam kasus-kasus ekstrim, segera ambil tindakan ekstrim, misalnya berhenti bekerja dan full mendampingi anaknya sampai ‘sembuh’ (ada kasus, seorang anak remaja kecanduan game online, bahkan sampai bolos sekolah; si ayah segera berhenti kerja-kebetulan istrinya juga kerja jadi tetap ada pemasukan- lalu minta bantuan pakar parenting, dan mendampingi anaknya sampai sembuh dan akhirnya diterima di universitas yang bagus).

-Upaya memperbaiki sesuatu yang ‘rusak’ itu adalah aksi-reaksi. Semakin tercurahkan rasa sayang pada target, si target akan memberikan reaksinya. Misalnya, hubungan suami-istri atau ortu-anak yang bermasalah, salah satu pihak bisa melakukan tindakan ‘penyembuhan’ dengan mencurahkan perhatian total dan kasih sayang yang tulus. Mungkin dalam kasus-kasus yang parah, reaksinya muncul agak lama, tapi dengan kesabaran, sangat mungkin berhasil.

-Konsep mendisiplinkan anak adalah membuat ‘jalur’ atau ‘sambungan’ syaraf baru dalam otak, supaya ‘sambungan’  yang lama tidak terpakai lagi. Misal, anak terbiasa bangun siang,  nah itu artinya sambungan syarafnya memang sudah membuatnya terbiasa bangun siang. Yang harus dilakukan, membuat ‘sambungan’ baru (secara konsisten selama 30 hari, anak dipaksa -tapi dengan cara yang baik tentusaja- bangun pagi). Artinya, menghilangkan kebiasaan buruk bukan dengan memarahi anak, tetapi dengan membiasakan anak melakukan hal-hal lain yang baik. Contoh: anak kecanduan main game, percuma dilarang dan dimarah-marahi. Yang harus dilakukan: dampingi anak agar terbentuk sambung syaraf baru di otaknya yang terbiasa dengan kegiatan lain.  Misalnya, upayakan agar si anak lari ke buku tiap kali dia bosan (sehingga syarafnya menjadi ‘tenang’ lewat baca buku, bukan lewat main game).

Ini pas dengan ayat Quran : innal hasanaat yuzhibna sayyiaat..sesungguhnya kebaikan akan menolak keburukan.

Semoga catatan ini bermanfaat buat saya sendiri, dan buat pembaca 🙂

 

*memberi hukuman: lakukan sesuai kesepakatan bersama, bukan sepihak (artinya, sebelumnya anak sudah diberi tahu bahwa suatu perbuatan itu salah, dan kalau itu dilakukan, dia akan mendapatkan sanksi); bentuk hukuman adalah ‘mengurangi kesenangan’; misalnya anak suka main game, maka hukumannya tidak main game; anak suka jajan, maka hukumannya tidak jajan.

Puisi 15 Tahun, 1999-2014

15yrs

Puisi 15 Tahun

15 tahun bersama, mengapa sulit untuk membuat puisi?

Mengharapkanmu membuat puisi untukku, juga adalah sia-sia saja.

Jangankan puisi, berharap kau memanggilku ‘Honey’ pun seperti mengharap pohon sirsak berbuah nangka (?!)

(ehm, sama sih, aku juga merasa wagu kalau harus memanggilmu dengan ‘Yang’ .. jadi biarlah kita jadi pasangan konvensional saja.. saling memanggil mama-papa)

Mengapa puisi-puisi itu mudah tercipta saat kita belum bersama?

Ah, mungkin karena ketika itu masing-masing kita sedang berimajinasi tentang satu sama lain.

Lalu, setelah kita bersama, yang kita perlukan kemudian bukan lagi puisi, tapi rasionalitas: berjuang menjaga komitmen kuat-kuat.

Kita harus bertahan, berusaha tetap berjalan berdampingan (bukan berhadapan dan saling mengkritisi), menjaga langkah agar tetap seiring, memaklumi perbedaan isi otak (karena aku dari Venus, sementara kamu dari Mars, ya kan?), memahami bahasa satu sama lain (bahkan sampai hari ini pun kita terkadang masih berdebat hanya karena kau menggunakan bahasa yang tak kupahami, atau kamu yang tak memahami bahasaku).

Dan, kupikir-pikir lagi, sepertinya, kau telah menjelma menjadi puisi itu sendiri (ehm).

Puisimu menjelma menjadi perlindungan di sepanjang waktu dan sikap siaga di saat-saat sulitku,

atau sekedar sikap ‘remeh’, yang (lambat laun kusadari, maafkan atas ketelmianku) sebenarnya jauh lebih berharga dari ribuan puisi :

-membuang sampah, mengunci pagar, dan mengunci pintu depan setiap malam, sehingga aku bisa tidur duluan tanpa memikirkan apapun (dan eh, teman-temanku ada yang heran, saat tau bahwa kamu yang melakukannya; aku jadi heran, mengapa mereka harus heran?)

buru-buru memasang obat nyamuk elektrik saat terlihat tanda-tanda aku akan tertidur sambil baca buku (ah, pasti temanku itu akan heran juga kalau tau.. aku juga heran, mengapa aku tidak pasang sendiri obat nyamuk itu ya?)

-mencerewetiku untuk sholat tepat waktu atau minum obat (ketika sakit)

-mengantarkanku ke warung, hanya untuk membeli berbagai keperluan dapur dan rumah (dan waduh, kamu yang lebih tau apa –sabun-odol-tisu — yang sudah habis)

-membuatkan jus buah tiap hari (eh, bila sempat)

menyetel lagu-lagu kesukaanku di mobil saat kita bepergian (dan karena kita semakin sama-sama menua, aku jadi suka lagu ini: Saat Aku Lanjut Usia, Sheila on 7)

Dan… seribu satu aksi tanpa puisi; namun sejatinya menumbuhkan bunga di taman kita.

15 tahun

Terimakasih atas kebaikanmu selama ini

Dan aku berjanji untuk lebih baik lagi,

Tapi bukan buatmu, karena seperti katamu:

“Kalau mama berupaya menjadi pribadi yang lebih baik,jangan niatkan buat papa, tapi demi Allah”

😉

30 Hari Tak Buka Internet di Pagi Hari

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel blog berjudul ‘kenapa saya tidak internetan di pagi hari‘. Si penulis mengutip hadis yang membuat saya tercenung dan mikir cukup lama:

Saya terbiasa bangun dini hari, untuk sholat, dll, dan kemudian… apa lagi kalau bukan internetan. Saya berusaha menjustifikasi: toh saya internetan dengan tujuan untuk menulis, dan insya Allah tujuan saya untuk menulis kan untuk kebaikan (semoga Allah meridhoi). Saya buka fb juga tidak untuk fb-an (berinteraksi, berdebat, dll), tapi sekedar untuk memonitor perkembangan, karena terkait dengan materi tulisan saya.

Tapi, saya pikir-pikir lagi, seandainya saya tidak internetan di pagi hari, waktu menulis saya jauh lebih efektif dan pikiran saya tidak terdistraksi oleh hal-hal lain. Misalnya, saya sebenarnya sedang ada tugas bikin paper tentang X, tapi karena ngecek facebook, tiba-tiba saja muncul ide tulisan tentang Y. Jadilah saya nulis tentang Y (karena, kalau saya sedang ada ide yang menggebu-gebu, sulit bagi saya untuk berhenti). Atau, saya buka email dan ada yang harus dijawab segera (sebenarnya, tidak segera sih, tapi kalau saya tunda, biasanya malah lupa sama sekali). Akibatnya, tugas utama saya untuk nulis tentang X jadi tertunda. Padahal, waktu saya sedikit. Ada anak-anak yang harus diurus (apalagi, saya sudah komitmen untuk mendidik anak-anak sendiri melalui homeschooling).

Saya pernah baca juga artikel ini yang intinya:

Konsultan bisnis sejumlah perusahaan ternama berskala global, Julie Morgenstern mengatakan, hampir semua orang sukses tidak pernah mengecek email di pagi hari. Padahal, itu merupakan kegiatan harian yang umum dilakukan sebagian besar masyarakat sebelum memulai aktivitas di rumah dan di kantor.

Jadi, kesimpulan saya, waktu saya memang banyak terbuang gara-gara internetan di pagi hari. Yang saya lakukan itu memang ‘penting’ dan ‘baik’, tapi membuat tertundanya sesuatu yang ‘lebih penting’ dan ‘lebih baik’. Dan ini mengingatkan saya pada tafsir ayat alhaakumut-takaatsur (bermegah-megahan telah melalaikanmu). Awalnya, ayat ini saya pikir cocoknya buat orang-orang kaya dan elit. Ternyata, ayat ini bisa menyentil kita semua, di setiap level. Alhaa bermakna lalai. Dan lalai bisa berbagai level. Level terendah adalah lalai yang ‘cemen’ banget. Misalnya, antara sholat dan nonton tivi (sudah jelas sekali, sholat harus didahulukan). Tapi pada tahap berikutnya, ada pula sikap melalaikan yang ‘lebih baik’ gara-gara melakukan sesuatu yang ‘baik’. Dan segala sesuatu yang ‘lalai’ itu, bila dipikir-pikir lagi dengan jujur, ujung-ujungnya duniawiah juga (takaatsur).

Misalnya, saya sebenarnya sedang punya pe-er nulis tentang X, tapi tergoda nulis tentang Y yang sedang trend, dengan harapan bisa dimuat di media (kalau udah ‘basi’ topiknya, tentu ga akan dimuat). Apakah sebenarnya motivasi saya menulis tentang Y? Sungguh-sungguh ingin berbuat baikkah, atau ada terselip keinginan untuk eksis (dimuat di media) atau lebih parah lagi, mengharap honornya?

Ah, betapa jalan ke surga memang liciiiin banget… di setiap kelokan selalu ada peluang untuk terpeleset.

Karena itu, mulai hari ini, 1 September, saya menetapkan hati untuk menantang diri sendiri: tidak membuka email, WA, blog, atau medsos mulai dari dini hari hingga pukul 8 pagi. Dini hari hingga pagi hari diisi khusus untuk ibadah, menulis paper, membaca jurnal atau buku, serta jalan pagi dan berkebun bersama anak-anak, lalu menyiapkan sarapan.

Batas waktu akhir ‘ujian’ ini adalah tanggal 30 September. Saya menandai kalender yang ada tepat di depan laptop saya, seperti ini:

no fb

Nanti laporan keberhasilan (atau kegagalan–jangan sampai deh :D) saya menjalani tantangan ini, saya tulis di blog ini tanggal 1 Oktober ya, insya Allah 😀