Puisi 15 Tahun, 1999-2014

15yrs

Puisi 15 Tahun

15 tahun bersama, mengapa sulit untuk membuat puisi?

Mengharapkanmu membuat puisi untukku, juga adalah sia-sia saja.

Jangankan puisi, berharap kau memanggilku ‘Honey’ pun seperti mengharap pohon sirsak berbuah nangka (?!)

(ehm, sama sih, aku juga merasa wagu kalau harus memanggilmu dengan ‘Yang’ .. jadi biarlah kita jadi pasangan konvensional saja.. saling memanggil mama-papa)

Mengapa puisi-puisi itu mudah tercipta saat kita belum bersama?

Ah, mungkin karena ketika itu masing-masing kita sedang berimajinasi tentang satu sama lain.

Lalu, setelah kita bersama, yang kita perlukan kemudian bukan lagi puisi, tapi rasionalitas: berjuang menjaga komitmen kuat-kuat.

Kita harus bertahan, berusaha tetap berjalan berdampingan (bukan berhadapan dan saling mengkritisi), menjaga langkah agar tetap seiring, memaklumi perbedaan isi otak (karena aku dari Venus, sementara kamu dari Mars, ya kan?), memahami bahasa satu sama lain (bahkan sampai hari ini pun kita terkadang masih berdebat hanya karena kau menggunakan bahasa yang tak kupahami, atau kamu yang tak memahami bahasaku).

Dan, kupikir-pikir lagi, sepertinya, kau telah menjelma menjadi puisi itu sendiri (ehm).

Puisimu menjelma menjadi perlindungan di sepanjang waktu dan sikap siaga di saat-saat sulitku,

atau sekedar sikap ‘remeh’, yang (lambat laun kusadari, maafkan atas ketelmianku) sebenarnya jauh lebih berharga dari ribuan puisi :

-membuang sampah, mengunci pagar, dan mengunci pintu depan setiap malam, sehingga aku bisa tidur duluan tanpa memikirkan apapun (dan eh, teman-temanku ada yang heran, saat tau bahwa kamu yang melakukannya; aku jadi heran, mengapa mereka harus heran?)

buru-buru memasang obat nyamuk elektrik saat terlihat tanda-tanda aku akan tertidur sambil baca buku (ah, pasti temanku itu akan heran juga kalau tau.. aku juga heran, mengapa aku tidak pasang sendiri obat nyamuk itu ya?)

-mencerewetiku untuk sholat tepat waktu atau minum obat (ketika sakit)

-mengantarkanku ke warung, hanya untuk membeli berbagai keperluan dapur dan rumah (dan waduh, kamu yang lebih tau apa –sabun-odol-tisu — yang sudah habis)

-membuatkan jus buah tiap hari (eh, bila sempat)

menyetel lagu-lagu kesukaanku di mobil saat kita bepergian (dan karena kita semakin sama-sama menua, aku jadi suka lagu ini: Saat Aku Lanjut Usia, Sheila on 7)

Dan… seribu satu aksi tanpa puisi; namun sejatinya menumbuhkan bunga di taman kita.

15 tahun

Terimakasih atas kebaikanmu selama ini

Dan aku berjanji untuk lebih baik lagi,

Tapi bukan buatmu, karena seperti katamu:

“Kalau mama berupaya menjadi pribadi yang lebih baik,jangan niatkan buat papa, tapi demi Allah”

😉

4 thoughts on “Puisi 15 Tahun, 1999-2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s