[Parenting] Scaffolding

si Cimut di atas pot bayam

si Cimut di atas pot bayam

Suatu hari ada yang pernah bilang sama saya, saat dia membaca tulisan saya tentang parenting, dia malah merasa gagal dan bukan ibu yang baik. Saya katakan padanya, bahwa tidak ada ibu yang sempurna, tapi ibu yang baik adalah ibu yang mau terus belajar dan berupaya memperbaiki diri. Lagi pula, yang saya tulis kan tidak melulu tentang kesuksesan, malah lebih sering ‘curhat’ kegagalan saya. Nah ini satu lagi cerita kegagalan saya, semoga ada hikmahnya.

Suatu saat, saya mendapati Reza melakukan kesalahan yang menurut saya memalukan sekali. Untungnya saya saat itu mampu mengendalikan diri, tidak marah padanya. Saya hanya menangis, dan Reza pun ikut menangis sambil meminta maaf. Buat sebagian orang, mungkin apa yang dilakukan Reza ‘biasa’ atau diabaikan saja, tapi tidak bagi saya. Buat saya itu tamparan keras sekali. Saya pikir, percuma saja saya ikut kelas-kelas parenting ke sana-sini, kasih ceramah parenting ke banyak orang, tapi kok anaknya melakukan kesalahan itu. Saya bahkan sempat memikirkan beberapa keputusan ekstrim, mau berenti kuliah, mau berenti melakukan berbagai kegiatan. Pokoknya mau di rumah full 100% mencurahkan perhatian pada anak. Saya merasa ini benar-benar murni kesalahan saya, seharusnya saya menjaga Reza baik-baik dan mengontrol semua perilakunya.

Tapi kemudian, setelah diskusi dengan si Akang (alhamdulillah-nya, si Akang juga pernah 2x ikut pelatihan parenting dengan Bunda Rani, jadi dia punya konsep yang sama). Dia mengingatkan saya soal scaffolding (materi di pelatihan ‘Disiplin dengan Kasih Sayang’). Kalau yang kami pahami, scaffolding itu menjadikan setiap momen yang tepat untuk menjadi pijakan/pondasi untuk pemahaman yang lebih dalam bagi si anak. Dalam kasus Reza, meski saya benar-benar terpukul, justru ini adalah momen yang sangat berharga untuk jadi scaffolding dalam memperbaiki perilaku Reza (dan perilaku saya, ibunya). Rasa bersalah membuat Reza dengan penuh kerelaan menjalani hukuman* dari saya; menjalani program-program  homeschooling-nya dengan disiplin, dan bahkan dia termotivasi untuk melakukan banyak aktivitas yang baik untuk membuktikan bahwa dia sebenarnya anak yang baik.

Di sisi saya, rasa bersalah juga membuat saya semakin serius memperbaiki diri (jadi, ini proses timbal-balik). Mungkin ada yang heran (termasuk saya juga heran sendiri), bukankah saya ini ibu RT, sebagian besar waktu saya di rumah, Reza pun homeschooling (ini atas kehendaknya sendiri, bukan keputusan saya), kok bisa  ‘kurang perhatian’?? Tapi, setelah saya introspeksi lagi, ya saya akui, ada banyak momen di mana saya membiarkan Reza sendirian beraktivitas (sementara saya sibuk dengan menulis). Tak jarang Reza kesal dan berbuat ulah, misalnya menolak mandi, atau makan. Ketika saya omelin, jawabannya, “Oke, tapi Ummi matiin dulu laptopnya!” Dia seolah benci banget sama laptop saya.

Si Akang berkali-kali mengingatkan agar saya benar-benar memprioritaskan Reza; sampai Reza yakin bahwa dirinya adalah prioritas saya. Insya Allah hanya butuh waktu sebentar, lalu Reza akan beraktivitas sendiri dan saya pun bisa melanjutkan menulis. Trik ini sudah sejak lama dilakukan si Akang, dan itulah jawabannya mengapa kalau Reza dijaga papanya (saat saya pergi), dia sama sekali tidak rewel. Kerjaan si Akang pun bisa selesai meski sambil ngurusin Reza. Tapi, selama ini, saya merasa sulit melakukannya. Saya merasa, kalau saya nulis terputus-putus, malah hilang ide. Jadi, yang saya lakukan seringkali menyuruh Reza menunggu saya selesai nulis, baru saya main bersamanya.

Kali ini, setelah ‘ditampar’ dengan keras, saya dengan serius menjalankan trik dari si Akang. Saya benar-benar memprioritaskan Reza. Seasyik apapun menulis, saya langsung berhenti saat Reza memanggil. Sebenarnya dia sudah sangat mandiri dalam banyak hal. Jadi, kalau Reza memanggil saya, artinya memang sesuatu yang ‘penting’, bukan kemanjaan. Misalnya, mengajak saya membaca buku bersama, memintanya untuk menemani saat membuat komik (dan dia akan sibuk bercerita tentang isi komiknya), mengajarinya matematika, atau sekedar Reza hanya ingin ‘melaporkan’ penemuannya saat membaca buku. Kalau dipikir-pikir lagi, semua perhatian yang dimintanya dari saya itu penting sekali. Momen-momen yang bisa jadi scaffolding untuk perbaikan kualitas dirinya.

Melewati masa-masa ‘shock’ itu, saya berhutang budi pada tiga hal. Yang pertama, buku Komik 99 Pesan Nabi. Reza suka komik, jadi komik ini pun amat disukai Reza, dia membacanya berulang-ulang dan antusias mendiskusikannya. Isinya semacam ‘cerita yang mengimplementasikan’ hadis-hadis Nabi. Misalnya, ada hadis soal 5 bagian tubuh yang harus dijaga oleh setiap mukmin, yaitu mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki. Nah si komikus membuat cerita berdasarkan hadis itu, seringnya sih ceritanya kocak, tapi ada juga cerita sendu yang bikin saya menangis. Ini menjadi momen untuk ‘mendoktrin’ (tanpa terasa) Reza tentang kewajiban menjaga mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki, agar tidak melakukan maksiat.

Biar bagaimanapun, mendidik akhlak anak (dan diri kita) harus mengaitkannya dengan Allah. Kita ortu tidak mungkin terus-terusan menjaga anak. Suatu saat mereka akan pergi, menuntut ilmu ke kota lain, misalnya. Nah, kesadaran bahwa Allah selalu melihat, bahwa ada malaikat di kiri-kanan yang selalu mencatat setiap amal, adalah pondasi penting yang harus ditanamkan ke anak. Nah, gimana caranya supaya ‘nempel’, itulah momen ‘scaffolding’ itu, yang harus dicari dan diciptakan.

Kedua, si Cimut, kelinci yang kami beli tak lama setelah peristiwa itu. Secara ajaib, si Cimut yang lucu banget itu mendatangkan kesegaran dan kebahagiaan dalam rumah kami. Anak-anak antusias sekali mengurusnya, sejak bangun pagi sampai menjelang tidur. Cimut menjadi prioritas baru dan menjadi ‘guru’ disiplin untuk anak-anak (misal, disiplin karena harus menjaga makanan dan minuman si Cimut). Sambil mengurus Cimut di taman belakang, anak-anak juga semakin dekat dengan tanaman (kami saat ini berkebun sayur di pot).

Ketiga, pada guru komik anak saya, kak Syahril. Setelah saya benar-benar memperhatikan Reza, saya baru ngeh kalau kak Syahril dalam mengajari gambar, mengenalkan juga tentang karakter negatif dan positif (jadi si tokoh komik ada ‘ruh’ atau karakter khas masing-masing). Nah, itu jadi ‘sarana’ juga buat saya, untuk menanamkan sikap-sikap positif.

Alhamdulillah setelah sekian waktu, keadaan membaik. Terlihat banyak perubahan dalam sikap Reza, lebih bergegas dalam kebaikan, lebih disiplin, lebih termotivasi untuk berkarya. Kepercayaan dirinya juga semakin muncul. Sementara saya, yah..memang sangat parah dalam urusan menulis, semua target bubar. Tapi ya sudah, dijalani saja. Saya yakin, pasti Insya Allah suatu saat akan ada waktunya  buat saya menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.

Kesimpulan yang saya ambil dari peristiwa ini:

-Bila anak berbuat salah, segera instrospeksi diri. Anak itu cermin. Jadi, kesalahan dia adalah cermin dari kesalahan ortu. Jadi, dalam upaya memperbaiki sikap anak, perbaiki juga sikap diri sendiri.

-Karena kesalahan anak sumbernya adalah kesalahan ortu, maka sikap ortu adalah: semakin menyayangi anak, semakin mencurahkan perhatian padanya (bukan malah marah-marah dan menghukum tanpa strategi). Bahkan dalam kasus-kasus ekstrim, segera ambil tindakan ekstrim, misalnya berhenti bekerja dan full mendampingi anaknya sampai ‘sembuh’ (ada kasus, seorang anak remaja kecanduan game online, bahkan sampai bolos sekolah; si ayah segera berhenti kerja-kebetulan istrinya juga kerja jadi tetap ada pemasukan- lalu minta bantuan pakar parenting, dan mendampingi anaknya sampai sembuh dan akhirnya diterima di universitas yang bagus).

-Upaya memperbaiki sesuatu yang ‘rusak’ itu adalah aksi-reaksi. Semakin tercurahkan rasa sayang pada target, si target akan memberikan reaksinya. Misalnya, hubungan suami-istri atau ortu-anak yang bermasalah, salah satu pihak bisa melakukan tindakan ‘penyembuhan’ dengan mencurahkan perhatian total dan kasih sayang yang tulus. Mungkin dalam kasus-kasus yang parah, reaksinya muncul agak lama, tapi dengan kesabaran, sangat mungkin berhasil.

-Konsep mendisiplinkan anak adalah membuat ‘jalur’ atau ‘sambungan’ syaraf baru dalam otak, supaya ‘sambungan’  yang lama tidak terpakai lagi. Misal, anak terbiasa bangun siang,  nah itu artinya sambungan syarafnya memang sudah membuatnya terbiasa bangun siang. Yang harus dilakukan, membuat ‘sambungan’ baru (secara konsisten selama 30 hari, anak dipaksa -tapi dengan cara yang baik tentusaja- bangun pagi). Artinya, menghilangkan kebiasaan buruk bukan dengan memarahi anak, tetapi dengan membiasakan anak melakukan hal-hal lain yang baik. Contoh: anak kecanduan main game, percuma dilarang dan dimarah-marahi. Yang harus dilakukan: dampingi anak agar terbentuk sambung syaraf baru di otaknya yang terbiasa dengan kegiatan lain.  Misalnya, upayakan agar si anak lari ke buku tiap kali dia bosan (sehingga syarafnya menjadi ‘tenang’ lewat baca buku, bukan lewat main game).

Ini pas dengan ayat Quran : innal hasanaat yuzhibna sayyiaat..sesungguhnya kebaikan akan menolak keburukan.

Semoga catatan ini bermanfaat buat saya sendiri, dan buat pembaca 🙂

 

*memberi hukuman: lakukan sesuai kesepakatan bersama, bukan sepihak (artinya, sebelumnya anak sudah diberi tahu bahwa suatu perbuatan itu salah, dan kalau itu dilakukan, dia akan mendapatkan sanksi); bentuk hukuman adalah ‘mengurangi kesenangan’; misalnya anak suka main game, maka hukumannya tidak main game; anak suka jajan, maka hukumannya tidak jajan.

2 thoughts on “[Parenting] Scaffolding

  1. Pingback: [Parenting] Better Late than Early for Gadget | Dina Y. Sulaeman

  2. Ya Allah bunda baca ini saya jadi nangis,karena ngerasa sering marah2 ga jelas ke anak2 ketika mereka ga nurut atau melakuka sesuatu hal yang g bagus,padahal sebenarnya kata bunda mereka hanya butuh perhatian :(( jadi ngerasa bersalah bgt trutama ke si sulung,hiks jadi curhat:(( ,doakan ya bund biar bisa lebih sabar n bisa fokus ke anak2,makasih bunda atas tips n triknya,amat sangat bermanfaat bagi saya, luv u full 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s