Om Mario (2)

mario2Barusan membaca sebuah tulisan yang mengkritisi pemikiran Mario Teguh yang dianggapnya mendukung neolib. Wew. Bukan apa-apa, saya kan penulis yang sering sekali mengkritik neolib. Di sisi lain, saya demen juga dengerin khutbahnya Om Mario 😀 Jadi gimana?

Argumen si penulis, kurang lebih, “Nasehat-nasehat MT itu mengabaikan persoalan kemiskinan struktural, seolah-olah orang itu miskin karena kesalahan sendiri. Ini kan pandangan orang neolib. Padahal, kemiskinan itu akibat sistem ekonomi neoliberal, yang meminimalkan peran negara. Karena itu seharusnya dikritisi juga soal persoalan kebijakan-kebijakan yang membuat orang miskin terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan.”

Tentang kemiskinan struktural, ya, saya sepakat. Rakyat Indonesia ini lebih dari 50%-nya miskin (kalau pakai standar Bank Dunia ya.. kalau pakai standar BPS mah beda lagi, cuma ‘dikit’) dan itu semua karena sistem ekonomi neolib yang dianut negeri ini, termasuk dengan korupsi, kolusi, dll. (Baca deh bukunya Andre Vltchek, atau Economic Hit Man, pasti terkaget-kaget)

Lalu, apakah nasehat-nasehat Om Mario soal memperbaiki diri, etos kerja, sikap hidup, adalah salah?

Menurut saya, ini amat bergantung kasusnya. Biar bagaimanapun MT bukan Nabi. Saya tidak membenarkan semua yang dikatakannya. Tapi, ada sebagian yang dikatakannya, menurut saya benar sekali dan saya temui dalam kehidupan.

Kasus pertama, kasus petani.  Secara umum, petani di Indonesia dimiskinkan struktur neolib. (Saya pernah nulis: Shiva, Pangan, dan Perdamaian Dunia dan Timur Tengah dan Kejahatan Industri Pertanian). Tapi, apakah petani benar-benar 100% tidak berdaya? Suatu hari, saya bertemu dengan dua petani yang raut mukanya segar, penuh optimisme, dan dengan penuh semangat menceritakan bagaimana mereka bertani dengan zero input (seperti yang sering dikemukakan Vandana Shiva). Mau pupuk mahal, pestisida mahal, ga ada subsidi pemerintah, ga ngefek buat mereka. Kenapa? Karena mereka tak pakai pupuk kimia dan pestisida. Mereka (dengan bantuan ilmu dari LSM-LSM) memanfaatkan apa yang disediakan alam untuk bertani. Hasilnya? Makmur, dong.

Cuma, apakah semudah itu? Ternyata tidak. Saya cross-check ke petani lain yang pakai cara konvensional (pakai pupuk kimia dan pestisida), ternyata, problemnya di MENTAL. Susah, repot, dan perlu kerja sangat keras untuk bertani zero input. Bayangin aja, kalau kasih pupuk urea, hanya butuh sedikit, pupuk ditebar, beres. Pakai pupuk kandang? Wah, menggotong pupuknya (volume yang dibutuhkan juga berkali-kali lipat dari urea), menebarnya, itu  butuh kerja keras beberapa kali lipat. Tapi, efek jangka panjangnya jauh lebih bagus.  Dengan bertani zero input, meski repot dan musti kerja keras, mereka akan terbebas dari utang, tanah mereka terjaga kesuburannya, hasil panen jauh lebih mahal (karena organik), dll. Sayangnya, tidak banyak yang mau repot dan bekerja keras seperti itu.

Di titik ini, bisa saja muncul argumen: lha ini kan salah pemerintah juga, kok ga menggalakkan pertanian zero input? Kok penyuluh pertanian selalu menganjurkan pupuk dan pestisida kimia? Jawaban saya: terserah lu deh.. kalau mau nyalahin pemerintah melulu tapi diam dan tidak berbuat apa-apa, ya silahkan saja.

Kasus kedua, sebut saja X. Si X ini saya lihat pinter banget, lulusan univ terkenal. Tapi entah mengapa hidupnya susah melulu. Saat saya mengajaknya kerjasama dalam sebuah proyek, barulah saya tau apa jawaban keheranan saya itu. Ternyata etos kerjanya payah banget. Pasif, sama sekali ga ada rasa kebersamaan dalam tim, nggak mau kerja lebih dari yang seharusnya, menganggap gajinya kecil, ga ada inisiatif untuk membuat terobosan baru (yang dikerjakan ya apa yang jadi tugasnya aja, sudah dikasih saran berkali-kali ga peduli), kalau dikritik ngeyel, cara pandangnya juga fanatik banget; kalau udah percaya sama satu hal, ga mau denger pendapat yang lain, dll. Jadi, mau nggak mau akhirnya saya bilang “pantesaaaan…!” Kalau saja dia bersikap sebaliknya, sangat mungkin dia akan dikejar kerjaan dari sana-sini (duit/kerjaan yang ngejar dia). Lha kalau situasinya begini, saya (atau siapapun yang pernah setim dengannya) tentu tidak mau merekomendasikan dia ke orang lain yang butuh skillnya.

Kasus ketiga, sebut saja Y. Si bapak tua ini, hidupnya sengsara banget. Di usianya yang senja dia masih cari kerja serabutan ke sana-sini. Saya terharu banget… kok ada orang yang susah begitu. Harusnya kakek-kakek kayak dia mah udah ongkang-ongkang kaki menikmati hidup. Karena kasian, ya saya kasihlah kerjaan beresin taman, cuci mobil, atau saya suruh dia kerja di tempat kolega saya. Eh, lama-lama kliatan aslinya, bahwa dia ga bener. Pernah saya kasih honor duluan, karena saya mau pergi. Ternyata, tugasnya ga dikerjakan. Pas dia datang lagi, saya omelin, banyak alasan. Masih saya kasih kesempatan, ada-ada saja ulahnya. Ya sudahlah kek, gudbay aja, masih banyak orang lain yang mau ngegantiin kakek. Dan sayangnya, kelakuan kayak si kakek ini berkali-kali saya temukan: orang miskin, butuh kerja, pas dikasih kerja, malah menjengkelkan luar biasa. Jadi saya musti gimana coba?!

Nah, kalau saya sudah ngomel-ngomel gara-gara kelaukan mereka itu, si Akang selalu menasehati, “Mereka bersikap gitu karena pendidikannya kurang, jadi tidak tahu bagaimana bersikap profesional… Nah kenapa kok kurang pendidikan, ya karena miskin.. Nah sistem pendidikan dan kemiskinan ini kan masalah struktural… Jadi ga bisa mereka disalahin seratus persen…”

Eaaa.. intinya sih, balik lagi, kita musti liat kasus per kasus dong ya. Yang jelas, untuk mereka yang mampu mengakses televisi, internet, dan buku-buku, motivasi-motivasi memperbaiki etos kerja, perilaku, dan sikap itu penting untuk diikuti. Jangan sampai nyalahin bos, pemerintah, atau siapa saja yang bisa disalah-salahin, padahal dirinya sendiri emang ga bener kerja. Bahkan petani yang lulusan SMA aja bisa kok menjelaskan dengan fasih soal pertanian zero input dan bisa meraih kehidupan yang mapan dengan cara mendobrak mental malas; masak yang berpendidikan lebih tinggi enggak bisa? Di titik inilah, nasehat Om Mario terasa penting buat saya dan keluarga. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s