Pernikahan adalah Transaksi (?)

Beberapa waktu yang lalu, saya, suami, dan beberapa teman, nonton bareng film Iran berjudul “She was an Angel”. Salah satu bagian menceritakan bahwa si tokoh pria jatuh cinta lagi pada perempuan lain. Istrinya ga terima dan minta cerai. Si pria lalu menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian itu, dan tanya si pengacara, “Kamu punya uang untuk bayar mahar istrimu?”

Di bagian ini, suami saya menjelaskan ke temen-temennya, bahwa yang dimaksud adalah, hutang mahar si cowok ke istrinya dulu saat nikah. Sudah tradisi di Iran: perempuan minta mahar sangat mahal ke laki-laki (dalam film ini, maharnya sekitar 500 juta rupiah), tapi diberikan dalam bentuk hutang. Kalau di tengah masa perkawinan, si laki-laki berbuat buruk dan istri minta cerai, maka mahar itu harus dilunasi. Bila tidak, si laki-laki akan dipenjara (dan negara benar-benar melaksanakan hukuman ini). Maka, tak heran bila biasanya laki-laki Iran (apalagi yang duitnya pas-pasan), ga berani macem-macem ke istrinya. Dan biasanya, kalau pernikahan damai-damai saja sampai tua, si istri merelakan mahar itu (tidak dibayar pun tak apa). Mahar itu seolah jaminan buat istri

Seorang teman nyeletuk, “Lho, bisa dibisniskan tuh, sama perempuan nakal?”

Suami saya nyengir, “Memang pada dasarnya pernikahan kan ‘transaksi’/ akad. Jadi si laki-laki musti hati-hati saat menjalin akad, jangan sampai dikibulin perempuan nakal.”

(Prosesnya sih lewat pengadilan ya. Hakim akan memutuskan, apakah perceraian itu sah atau tidak. Jadi bisa saja mahar itu hanya dibayarkan setengah, karena beberapa alasan, misal bila alasan istri minta cerai kurang kuat, hanya sekedar ga cinta lagi, dll).

Nah saya jadi inget di salah satu acara Mario Teguh, ada seorang perempuan yang curhat tentang perilaku buruk suaminya. Si perempuan ini rupanya sudah beli rumah dengan uangnya sendiri, sebelum nikah. Om Mario bertanya, “Ibu lebih teliti mana, beli rumah atau saat memilih suami?”

Setelah terdiam sesaat, si perempuan menjawab, “Lebih teliti saat beli rumah…”

Kata om Mario, “Ya, karena saat memutuskan menikah biasanya perempuan dibutakan oleh cinta..”

Pagi ini saya pikir-pikir lagi, benar juga ya… Pernikahan itu kan akad, transaksi, kontrak.. kan harusnya kita bener-bener mengkaji “pasal per pasal”-nya dengan cermat, sebagaimana kita mencermati pasal-pasal perjanjian untuk urusan lain. Tapi kenyataannya, dalam pernikahan seringkali cerewet pada pasal-pasal itu justru menimbulkan ketakutan tersendiri, “Ntar kalau aku terlalu cerewet, si dia malah takut dan ga jadi nikahin aku deh…”

Perempuan-termasuk saya sendiri- sepertinya cenderung terima saja. Apalagi kalau umur udah sampai di masa kritis, wah, tambah ga berani pasang syarat ini-itu.

Pernikahan saya pun, karena ga terlalu dikaji baik-baik, kayak nyemplung ke “medan pertempuran” tanpa persiapan. Untung aja si Akang tipe penyabar ketika tingkat toleransi saya -duluuu..lho, sekarang mah udah ‘sembuh’– sangat rendah. Saya dulu sulit bersabar atas berbagai perbedaan persepsi di antara kami, jadinya sering ngomel dan berantem deh. Di titik ini, saya pikir lagi, kalau seandainya dulu si Akang tau sifat saya ini, tentu dia ga mau dong nikahin saya, hehehe. Ada untungnya juga kali ya, kami tidak terlalu saling kenal sebelum nikah. Tapi, yang jelas, ini gambling (taruhan) banget sih. Coba kalau sifat saya dan suami sama, kayaknya sudah bubar dari dulu deh *naudzubillah

Lalu, saya dapat ‘hidayah’ untuk ikut berbagai pelatihan parenting dan self healing, saya berdiskusi intens dengan psikolog, dan perlahan saya menyadari memang ada yang salah dari diri saya. Salah satu pertanyaan teman psikolog itu, “Yang bikin kamu marah, sebenarnya bukan suami kamu kan? Tapi orang atau faktor di luar diri kalian berdua, iya kan?”

Artinya, ketika saya dan suami baik-baik saja, mengapa harus memperdulikan hal-hal eksternal dan membawanya ke dalam interaksi internal? (Contoh kasus: saya kesal atas perilaku saudara suami, atau temannya suami; nah, harusnya saya abaikan saja, toh itu kan orang lain.. yang penting suami saya orang baik, memperlakukan saya dengan baik.. rugi amat saya berantem sama suami karena orang lain).

Upaya saya untuk mengubah sudut pandang dan cara berkomunikasi pun mendatangkan hasil –alhamdulillah. Hubungan saya dan suami bisa sampai pada level ‘persahabatan’. Menurut bukunya John Gottmann, “pernikahan bahagia didasarkan pada persahabatan yang erat.. saling menghargai dan senang ditemani pasangannya.. saling mengenal dengan akrab, mereka tahu benar kesukaan, ketidaksukaan, kekhasan kepribadian, harapan, dan impian pasangannya…”

(baca review bukunya di sini, saya juga merekomendasikan buku ini)

Lalu, apakah sekarang rumah tangga saya aman dan damai selalu? Ah tidak juga. Soalnya, kayaknya “sudah bawaan” saya untuk protes *ngelap keringet* 😀 Jadi, perdebatan selalu saja muncul dalam hari-hari kami, dan seringkali -lagi-lagi hanya karena masalah eksternal yang sebenarnya ga ngefek buat kami. Contohnya, saya nulis sebuah artikel, dan suami saya ga setuju isinya, lalu kami berdebat *sok ilmiah ni ye*  (atau sebaliknya, saya ga setuju melihat keputusan yang diambil suami saya terkait kerjaannya.. duh padahal itu kan urusannya dia tho, ngapain juga saya ikut campur).

Tapi, karena kami ‘bersahabat’, kami tahu bahwa yang kami perdebatkan itu sebenarnya memang ga penting dan ga perlu diambil hati. Yang penting itu kau dan aku, gitu… *hoek..

Oh iya, akhir-akhir ini kalau kami berdebat lagi, ada satpam yang ngomelin:

“Hush diam, jangan bertengkar!” kata Kirana dengan cueknya.

“Kalau kalian bertengkar lagi, aku marahin ya!” ucap Reza dengan gayanya yang menggemaskan.

Saya dan suami pun jadi ketawa.

(Dari sisi parenting, apakah bertengkar di depan anak baik atau buruk? Tergantung sikon sih, menurut saya. Kalau dalam kasus saya, karena kami berdebat bukan dilandasi kebencian, tapi emang sama-sama kritis aja, saya pikir, malah melatih anak-anak untuk punya argumen dan kritis. Terbukti, menurun ke anak-anak, mereka ga terima kalau disalahkan begitu saja, selalu adu argumen dulu. Dan saya menerima protes mereka dengan senang hati, malah bangga melihat kekritisan mereka)

Balik lagi ke pernikahan = transaksi. Sebagaimana kita cermat meneliti barang yang akan dibeli, manusia pun mustinya cermat memilih pasangan hidup. Saya tidak menyarankan, laki–laki dan perempuan menikah begitu aja, tanpa terlalu kenal orangnya.. ini kan untung-untungan banget ?!

Saran saya, laki-laki atau perempuan yang akan menikah, meneliti baik-baik pasangannya, tapi tidak harus melalui pacaran. Cara yang dipakai orang Iran cukup menarik. Saat sepasang manusia berniat menikah, keluarga dari masing-masing pihak akan mengirim mata-mata. Si mata-mata ini akan mencari informasi ke tetangga, teman, guru, dll. (ya kalau nanya langsung ke si cowok: kamu rajin sholat nggak, pastilah jawabnya ‘iya’).

Contoh kasus, ada istri yang tersiksa karena suaminya mukulin dia. Seandainya dia dulu mengirim mata-mata, mungkin dia akan tahu bahwa bapaknya si cowok dulu suka mukulin anaknya.. perilaku KDRT umumnya menurun karena tertanam di alam bawah sadar. Temen saya psikolog menemukan kasus, seorang suami menangis karena menyesal sudah mukulin anaknya (dia merasa itu di luar kontrol dirinya, pokoknya kalau marah, dia refleks menggebukin anaknya). ternyata, dulu si bapak ini juga digebukin ayahnya).

Terakhir, faktor cinta memang sangat besar perannya dalam pernikahan (karena ada cinta, kesulitan relatif lebih ringan dijalani, ya nggak?) Nah, supaya nggak dibutakan oleh cinta, seorang perempuan memang perlu musyawarah dan mau mendengar kata-kata ortunya. Karena, ‘mata’ orang yang jatuh cinta itu beda dengan mata orang normal. Pernah nggak kamu merasa gini, “Heran, tuh cewe bego banget sih, mau-mau aja sama cowo ga jelas gitu?” Padahal, di mata si “cewe bego” itu, si “cowo ga jelas” ini luar biasa lho.. soalnya ‘mata’-nya beda.

Kesimpulan saya, pernikahan memang transaksi, jadi musti teliti;  tapi dilandasi cinta dan keimanan. Dan kalau sudah terlanjur ada konflik, cari jalan keluar, temui konsultan pernikahan, psikolog, atau baca buku-buku psikologi pernikahan. Insya Allah bisa kok, diselesaikan asal kedua pihak sama-sama mau membuka diri.

[Parenting] Better Late than Early for Gadget

kanvas lukisan ini dibeli di Gramedia, sudah dikasih pola (anak tinggal mengecat sesuai nomer yang ada di pola); catnya dan kuas juga sudah lengkap dalam satu paket. Reza menyelesaikannya dalam 1 bulan.

Kanvas lukisan ini dibeli di Gramedia, sudah dikasih pola (anak tinggal mengecat sesuai nomer yang ada di pola); cat akrilik dan kuas sudah lengkap dalam satu paket. Reza menyelesaikannya dalam 1 bulan.

Berita tentang Steve Jobs yang oh-oh-oh melarang anaknya menggunakan iPad dan iPhone, mungkin sudah banyak yang baca ya? Saya benar-benar tercenung waktu itu. Kok bisa, orang yang bikin iPad dan iPhone, menjadi kaya raya dengan menjualnya ke seluruh dunia (Jobs orang terkaya di dunia urutan ke-42), justru di rumahnya serba low-technology? Pahit sekali, kita rupanya sedang dibodoh-bodohi, dikeruk kantongnya (beli gadget buat orang biasa kayak kita, kan musti nabung, musti menyisihkan anggaran ini-itu), sementara mereka hidup kaya dari ‘kebodohan’ kita membeli barang produk mereka. Masalahnya, hari gini, apa bisa melepaskan diri dari gadget? Anak-anak, apa harus sama sekali tidak pakai gadget?

Saya pun, sebenarnya memang merasa terganggu oleh smartphone saya. Kadang -tapi jarang banget- saya kalau bepergian memang sengaja membawa hp jadul, supaya di jalan tidak tergoda terus chat di WA atau buka internet. Jauh lebih manfaat baca Quran atau buku selama perjalanan, ya kan?  Awal bulan September lalu, saya menantang diri sendiri untuk tidak internetan di pagi hari. Hasilnya: GAGAL! Hanya 15 hari saya taat janji, sisanya lewat, dengan berbagai alasan. Betapa beratnya melepaskan diri dari ketergantungan internet. Saya tidak ingin anak saya tumbuh besar seperti saya.

Sebuah tulisan dari mba Ellen Kristi, membuat saya semakin mantap untuk menjauhkan gadget dari anak-anak saya. Tulisan yang sangat bagus, silahkan dibaca selengkapnya di sini. Berikut kutipannya:

Penulis buku Grown Up Digital Don Tapscott mengatakan, pada usia 20 tahun, rata-rata remaja telah menghabiskan waktu 20 ribu jam menyelusur internet. Dibombardir terus-menerus oleh bit demi bit informasi, dengan sendirinya otak mereka menyesuaikan diri. Jalur-jalur syaraf otak untuk mengelola informasi digital diperkuat, tetapi di sisi lain, sepertinya ada jalur-jalur syaraf otak lain yang dikorbankan, tak sempat berkembang, sebagai kompensasinya.

Barbara Arrowsmith Young merasakan adanya perbedaan kentara pada anak-anak masa kini. Sebagai pendidik yang telah menterapi sejumlah besar siswa yang mengalami kesulitan belajar sejak era 70-an, Young melihat bahwa banyak anak muda sekarang punya masalah dengan fungsi eksekutif, yakni kemampuan berpikir dan menggeluti problem sampai tuntas. “Defisit perhatian,” katanya. “Mereka bisa mengawali suatu tugas, tapi tidak bisa menjaga orientasi. Perhatian mereka terpecah, tapi tak bisa berkonsentrasi ulang pada tugas semula.” Tiga dekade lalu, fenomena ini langka sekali. Tetapi sekarang, “Sepertinya 50% siswa mengalami masalah ini,” sesal Young.

….

Dr. Small mengadakan eksperimen. Timnya mengamati konfigurasi otak pada dua kelompok: kelompok digital natives yang sudah mahir berkegiatan online, dan kelompok digital naives yang sama sekali belum pernah berkegiatan online. Saat awal di-scan, didapati bahwa dalam berkegiatan online, bagian dorsolateral otak kelompok pertama bekerja aktif, sementara dorsolateral kelompok kedua diam saja. Namun, hanya dengan lima jam latihan (satu jam sehari), bagian dorsolateral otak kelompok kedua yang semula pasif, telah menjadi sama aktifnya dengan kelompok pertama. Small sendiri terkagum-kagum. “Lima jam!” katanya. “Hanya lima jam berinternet dan otak sudah langsung terprogram ulang.”

Namun, tetap ada perbedaan. Baru mulai belajar internet usia 30-an membuat otak seseorang sudah lebih dahulu matang sebelum diprogram ulang. Kalau dibandingkan dengan anak-anak digital natives, dampak internet terhadap otak kelompok kedua ini lebih terbatas, sebab proses penyusunan otak mereka mendapatkan titik tolak yang berbeda.

Otak anak-anak usia remaja ke bawah jauh lebih mudah dibentuk, sekaligus jauh lebih rentan. Perbedaan konfigurasi otak dan kapasitas mental inilah yang melatarbelakangi kebijakan mengapa kita melarang anak “belum cukup umur” untuk ikut Pemilu, menyetir kendaraan bermotor, atau (kalau di Barat) minum vodka, walaupun mungkin badan mereka sudah sebesar orangtuanya.

Pada usia remaja, wilayah amygdala yang mengatur keterampilan berempati dan otak depan (frontal lobe) sebagai pusat keterampilan menalar secara kompleks belum berkembang sepenuhnya. Jadi, jangan heran jika para remaja cenderung egois, suka cari enaknya sendiri, suka yang instan, dan sulit memahami sudut pandang orang lain. Mereka harus belajar mematangkan itu seiring matangnya otak dan lewat kontak sosial yang bermakna.

Apa yang terjadi ketika pada usia rentan ini, anak-anak menggunakan terlalu banyak teknologi? Para peneliti otak punya dugaan, hal itu bisa mengganggu perkembangan frontal lobe dan akhirnya menghambat proses pendewasaan diri. Seolah-olah otak mereka dibekukan dalam modus remaja untuk seterusnya. Sebuah studi kontroversial tahun 2002 oleh Dr. Akio Mori dari Tokyo’s Nihon University mendapati: makin panjang waktu yang anak habiskan bermain video games, makin tertekan perkembangan area-area kunci frontal lobe yang mengatur pembelajaran, memori, emosi, dan kendali naluri.

Jadi, intinya, mengenalkan teknologi/gagdet kepada anak sebaiknya memang tidak sedini mungkin. Anak-anak Steve Jobs yang dilarang pakai iPhone dan iPad itu, tau berapa usianya? 19, 15, 12 tahun! Sementara kita, masih anak usia  dua tahun pun sudah dibiarkan memainkan smartphone/tablet. Dan kita dengan nada bangga pamer, “Si adek udah ngerti cara pakai tablet..kok  bisa ya? Anak-anak emang canggih ya?”

Lalu, Apa yang Saya Lakukan?

Saya sebelumnya pernah cerita soal Scaffolding. Yang tidak saya sebutkan di tulisan itu, saya ‘menghukum’ Reza tidak menggunakan gadget selama setahun penuh. Kesalahannya memang sangat berat, dan Reza menerimanya dengan tanpa protes (karena dia tahu dia benar-benar salah).

Tapi, saya tidak membiarkannya begitu saja. Saya mendampinginya. Saya tahu berat buat Reza, jadi saya mengajaknya bermain, berkbun, jalan-jalan, membaca buku bersama, masak-masak, menghafal Quran, dan… mendengarkannya bercerita panjang lebar tentang isi buku yang sudah dibacanya. Kami sering tertawa terpingkal-pingkal bersama saat Reza menceritakan isi buku. Saya merasa diri saya juga mulai berubah. Saya bisa lebih sabar dan menikmati cerita Reza selama berjam-jam. Saya rela duduk berjam-jam di lantai Gramedia (sampai dilarang oleh petugas) nungguin Reza membaca buku di sana. “Resikonya” tentu ada:  banyak urusan kuliah saya yang tertunda, entah sampai kapan. Tapi, anak lebih penting.

Yang saya amati setelah berlalu sebulan lebih, ada tiga kemajuan penting:

1. Reza semakin mampu bercerita panjang lebar (dulu, dia menolak kalau diminta cerita isi buku, alasannya lupa)

2. Reza semakin bersemangat, mudah, dan nyaman menghafalkan Quran (dulu, banyak alasan, dan gampang lupa)

3. Waktu efektif Reza lebih banyak. Dia benar-benar menggambar, sampai selesai (kalau dulu, dia berjam-jam menatap Youtube untuk mempelajari cara menggambar, tapi keasyikan browsing, sampai menggambarnya sendiri terlupa)

Saya pun menyampaikan ‘prestasi’ Reza ini, untuk memberinya semangat, bahwa tanpa gadget ternyata justru dia jauh lebih baik. Dia tersenyum senang. Dan yang saya rasakan, anak yang tidak kecanduan gadget, lebih mudah diajak diskusi dan berbuat baik.

Sekarang.. pe-ernya adalah, saya -ibunya- tidak  boleh terlalu banyak pakai gadget juga dong. Duh, memang sih sudah sangat dikurangi. Tapi masih harus lebih baik lagi. Saya berusaha mengatur waktu, saya menggunakan laptop saat Reza tidur dan kalau Reza sudah nyaman (saya negosiasi dulu dengan Reza, saya jelaskan bahwa saya harus nulis makalah sampai jam sekian, setelah itu saya akan bermain bersama Reza). Juga, sekarang ada negosiasi baru: Reza diizinkan pakai komputer untuk belajar online di zenius.net dan ixl-math, serta menulis untuk blognya tapi didampingi penuh oleh saya.

Being a mom…is a lifelong learning…

NB: untuk Kirana yang sudah remaja, pendekatannya lain lagi; intinya, saya mendorongnya untuk mengurangi pemakaian tablet dan laptop dengan kesadaran penuh, bukan dengan ancaman (Rana penggemar tulisan mbak Ellen, jadi tanpa saya suruh dia sudah baca tulisan yang saya link di atas)

Pening @Haji Backpacker

dizzyLiat trailler-nya, kayaknya ok. Lagu soundtrack dari alm Uje, juga syahdu banget. Ditambah lagi, iming-iming ‘perjalanan melewati 9 negara’. Sungguh cocok buat ‘misi’  saya untuk mengenalkan dunia kepada anak-anak saya. Selama ini saya mengoleksi cukup  banyak buku traveling dan mengajak Kirana membacanya. Kalau Reza, ya masih sebatas diceritain saja, atau beli buku-buku bergambar tentang negara-negara asing. Saya sendiri pernah nulis buku traveling untuk anak-anak (Azka Keliling Dunia). Jadi, saya putuskan mengajak anak-anak menontonnya.

Film dibuka dengan bentakan kasar dari seseorang (yang kemudian, di bagian menjelang akhir, disebut sebagai orang Iran), “Are you moslem?!” Sial. Mengapa Islam yang ditonjolkan adalah yang identik dengan kekasaran seperti itu? Terlepas bahwa memang ada muslim yang jenis ISIS dan sepupu-sepupunya itu, tapi adegan awal itu mengganggu sekali. Sangat menganggu.

Saya berusaha nggak rugi-rugi amat. Saya bisikkan ke Reza beberapa pencerahan. Apalagi dia juga bertanya kritis, misalnya, “Ummi, dari mana kita bisa tahu ini orang negara ini, itu orang negara itu…”

“Allah menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, supaya kita saling mengenal. Setiap bangsa punya ciri khas wajah, jadi kita bisa menebak darimana asal mereka…” jawab saya.

Saat adegan berpindah ke Tibet, Reza langsung senyum.

“Tintin di Tibet ya?” kata saya. Dia mengangguk. Kami sedang teringat pada komik  Tintin kegemaran Reza (dan saya). Reza sempat memamerkan pengetahuannya, menyebut nama hewan di Tibet, yak (ini hasil belajar dari Tintin).

Saat melihat orang beribadah dengan cara ‘beda’, kami sedikit mendiskusikan tentang cara-cara orang menyembah Tuhan.

Lalu tibalah pada adegan si tokoh (Mada) sampai ke wilayah Iran, tepatnya di Balochestan (yang potongan adegannya ditaruh di awal). Bendera hitam ala ISIS terlihat di dinding sebuah bangunan. Tapi anehnya: yang tertera Laa ilaaha illallah, trus ada dua pedang, trus di bawahnya “Jumhuri-ye Islami-ye Iran” (semua dengan huruf Arab, syukurlah saya bisa membacanya). Kesalahan fatal banget, bikin bendera ngawur begitu.

Trus, ada militan (teroris?) menenteng senjata (jelas mereka bukan pasukan resmi pemerintah Iran -kalau pasukan resmi tentu pakai seragam, dan gaya tentara Iran jauh banget dibanding yang tampil di film ini). Si militan menghentikan bis umum yang ditumpangi Mada. Mada digamparin si militan itu, dituduh agen Israel. Ampun deh, bikin skenario kok norak begini, kliatan banget ga paham geopolitik. Apa alasan Mada dicurigai sebagai Mossad? Sama sekali ga ada indikasi apapun, kecuali -kata si militan- tuduhan itu gara-gara Mada berkunjung ke beberapa negara sebelum masuk ke Balochestan. *tepok jidat keras-keras*

FYI, Indonesia itu negara muslim Sunni, Balochestan juga provinsi di Iran dengan mayoritas Sunni. Saya pernah ke Kurdistan, provinsi yang juga mayoritasnya Sunni. Pas tau saya dari Indonesia, mereka seneng banget. Apalagi pas dikasih tau kalau presiden Indonesia itu muslim Sunni, langsung ketawa lebar mereka. Jadi, adegan yang lebih tepat untuk Mada adalah, dia langsung disambut meriah oleh orang Balochestan, begitu mereka tau Mada itu orang Indonesia.  Lebih jauh lagi, kalau paham politik Timteng, mengaitkan isu Israel di kawasan Balochestan, benar-benar menggelikan.

Setelah dites baca Quran, langsung si militan yakin bahwa Mada itu muslim (yaela masbrow, kalau beneran Mada itu agen Mossad dan menyamar jadi muslim, pastilah dilatih baca Quran dulu, gampang amat lu ketipunya ye). Trus, kalau Mada -in case- ga bisa ngaji (banyak juga kok muslim ga bisa ngaji), apa mau dibunuh?! Di film itu sih kliatannya Mada akan ditembak seandainya dia ga bisa ngaji. Seolah-olah Mada sedang berada di lawless country.

Saya langsung berbisik pada Reza, “Bagian film ini bohong. Kalau kita ke Iran, gak kayak gini kejadiannya.”

Trus ada adegan si Mada mimpi naik balon udara, lalu balonnya tergores ujung kubah masjid (kayaknya masjid di India gitu), lalu ia jatuh.

Reza spontan komentar, “Wah, keliatan banget animasi-nya ya Mi?” (Reza baru usia 8 tahun lho). Usai film, Kirana juga menyatakan kesel liat animasi yang ‘enggak banget itu’, juga animasi planet dan galaksi yang ngawur.  (Ternyata mata anak-anak cukup tajam juga).

Trus, belum lagi kalau dibahas masalah ‘sebab-akibat’ yang membuat saya heran. Mengapa kondisi A membuat si tokoh mengambil sikap B, misalnya. Biar kata ini film-fiksi, tapi harusnya kan tetap masuk akal dong. Tapi sudahlah, saya cukupkan saja sampai di sini. Rugi juga mau mengomel lebih panjang lebar lagi. Pokoknya, pening deh. Saya sih sudah panjang lebar menceritakan keanehan-keanehan film itu kepada si Akang yang datang menjemput (supaya anak-anak juga bisa denger, dan mereka pun ikut mengkritisi…  ini kan proses belajar juga).

Ini ada ringkasan cerita yang ditulis Tribunnews, kalau pingin tau sumber “kepeningan” lainnya.