[Parenting] Better Late than Early for Gadget

kanvas lukisan ini dibeli di Gramedia, sudah dikasih pola (anak tinggal mengecat sesuai nomer yang ada di pola); catnya dan kuas juga sudah lengkap dalam satu paket. Reza menyelesaikannya dalam 1 bulan.

Kanvas lukisan ini dibeli di Gramedia, sudah dikasih pola (anak tinggal mengecat sesuai nomer yang ada di pola); cat akrilik dan kuas sudah lengkap dalam satu paket. Reza menyelesaikannya dalam 1 bulan.

Berita tentang Steve Jobs yang oh-oh-oh melarang anaknya menggunakan iPad dan iPhone, mungkin sudah banyak yang baca ya? Saya benar-benar tercenung waktu itu. Kok bisa, orang yang bikin iPad dan iPhone, menjadi kaya raya dengan menjualnya ke seluruh dunia (Jobs orang terkaya di dunia urutan ke-42), justru di rumahnya serba low-technology? Pahit sekali, kita rupanya sedang dibodoh-bodohi, dikeruk kantongnya (beli gadget buat orang biasa kayak kita, kan musti nabung, musti menyisihkan anggaran ini-itu), sementara mereka hidup kaya dari ‘kebodohan’ kita membeli barang produk mereka. Masalahnya, hari gini, apa bisa melepaskan diri dari gadget? Anak-anak, apa harus sama sekali tidak pakai gadget?

Saya pun, sebenarnya memang merasa terganggu oleh smartphone saya. Kadang -tapi jarang banget- saya kalau bepergian memang sengaja membawa hp jadul, supaya di jalan tidak tergoda terus chat di WA atau buka internet. Jauh lebih manfaat baca Quran atau buku selama perjalanan, ya kan?  Awal bulan September lalu, saya menantang diri sendiri untuk tidak internetan di pagi hari. Hasilnya: GAGAL! Hanya 15 hari saya taat janji, sisanya lewat, dengan berbagai alasan. Betapa beratnya melepaskan diri dari ketergantungan internet. Saya tidak ingin anak saya tumbuh besar seperti saya.

Sebuah tulisan dari mba Ellen Kristi, membuat saya semakin mantap untuk menjauhkan gadget dari anak-anak saya. Tulisan yang sangat bagus, silahkan dibaca selengkapnya di sini. Berikut kutipannya:

Penulis buku Grown Up Digital Don Tapscott mengatakan, pada usia 20 tahun, rata-rata remaja telah menghabiskan waktu 20 ribu jam menyelusur internet. Dibombardir terus-menerus oleh bit demi bit informasi, dengan sendirinya otak mereka menyesuaikan diri. Jalur-jalur syaraf otak untuk mengelola informasi digital diperkuat, tetapi di sisi lain, sepertinya ada jalur-jalur syaraf otak lain yang dikorbankan, tak sempat berkembang, sebagai kompensasinya.

Barbara Arrowsmith Young merasakan adanya perbedaan kentara pada anak-anak masa kini. Sebagai pendidik yang telah menterapi sejumlah besar siswa yang mengalami kesulitan belajar sejak era 70-an, Young melihat bahwa banyak anak muda sekarang punya masalah dengan fungsi eksekutif, yakni kemampuan berpikir dan menggeluti problem sampai tuntas. “Defisit perhatian,” katanya. “Mereka bisa mengawali suatu tugas, tapi tidak bisa menjaga orientasi. Perhatian mereka terpecah, tapi tak bisa berkonsentrasi ulang pada tugas semula.” Tiga dekade lalu, fenomena ini langka sekali. Tetapi sekarang, “Sepertinya 50% siswa mengalami masalah ini,” sesal Young.

….

Dr. Small mengadakan eksperimen. Timnya mengamati konfigurasi otak pada dua kelompok: kelompok digital natives yang sudah mahir berkegiatan online, dan kelompok digital naives yang sama sekali belum pernah berkegiatan online. Saat awal di-scan, didapati bahwa dalam berkegiatan online, bagian dorsolateral otak kelompok pertama bekerja aktif, sementara dorsolateral kelompok kedua diam saja. Namun, hanya dengan lima jam latihan (satu jam sehari), bagian dorsolateral otak kelompok kedua yang semula pasif, telah menjadi sama aktifnya dengan kelompok pertama. Small sendiri terkagum-kagum. “Lima jam!” katanya. “Hanya lima jam berinternet dan otak sudah langsung terprogram ulang.”

Namun, tetap ada perbedaan. Baru mulai belajar internet usia 30-an membuat otak seseorang sudah lebih dahulu matang sebelum diprogram ulang. Kalau dibandingkan dengan anak-anak digital natives, dampak internet terhadap otak kelompok kedua ini lebih terbatas, sebab proses penyusunan otak mereka mendapatkan titik tolak yang berbeda.

Otak anak-anak usia remaja ke bawah jauh lebih mudah dibentuk, sekaligus jauh lebih rentan. Perbedaan konfigurasi otak dan kapasitas mental inilah yang melatarbelakangi kebijakan mengapa kita melarang anak “belum cukup umur” untuk ikut Pemilu, menyetir kendaraan bermotor, atau (kalau di Barat) minum vodka, walaupun mungkin badan mereka sudah sebesar orangtuanya.

Pada usia remaja, wilayah amygdala yang mengatur keterampilan berempati dan otak depan (frontal lobe) sebagai pusat keterampilan menalar secara kompleks belum berkembang sepenuhnya. Jadi, jangan heran jika para remaja cenderung egois, suka cari enaknya sendiri, suka yang instan, dan sulit memahami sudut pandang orang lain. Mereka harus belajar mematangkan itu seiring matangnya otak dan lewat kontak sosial yang bermakna.

Apa yang terjadi ketika pada usia rentan ini, anak-anak menggunakan terlalu banyak teknologi? Para peneliti otak punya dugaan, hal itu bisa mengganggu perkembangan frontal lobe dan akhirnya menghambat proses pendewasaan diri. Seolah-olah otak mereka dibekukan dalam modus remaja untuk seterusnya. Sebuah studi kontroversial tahun 2002 oleh Dr. Akio Mori dari Tokyo’s Nihon University mendapati: makin panjang waktu yang anak habiskan bermain video games, makin tertekan perkembangan area-area kunci frontal lobe yang mengatur pembelajaran, memori, emosi, dan kendali naluri.

Jadi, intinya, mengenalkan teknologi/gagdet kepada anak sebaiknya memang tidak sedini mungkin. Anak-anak Steve Jobs yang dilarang pakai iPhone dan iPad itu, tau berapa usianya? 19, 15, 12 tahun! Sementara kita, masih anak usia  dua tahun pun sudah dibiarkan memainkan smartphone/tablet. Dan kita dengan nada bangga pamer, “Si adek udah ngerti cara pakai tablet..kok  bisa ya? Anak-anak emang canggih ya?”

Lalu, Apa yang Saya Lakukan?

Saya sebelumnya pernah cerita soal Scaffolding. Yang tidak saya sebutkan di tulisan itu, saya ‘menghukum’ Reza tidak menggunakan gadget selama setahun penuh. Kesalahannya memang sangat berat, dan Reza menerimanya dengan tanpa protes (karena dia tahu dia benar-benar salah).

Tapi, saya tidak membiarkannya begitu saja. Saya mendampinginya. Saya tahu berat buat Reza, jadi saya mengajaknya bermain, berkbun, jalan-jalan, membaca buku bersama, masak-masak, menghafal Quran, dan… mendengarkannya bercerita panjang lebar tentang isi buku yang sudah dibacanya. Kami sering tertawa terpingkal-pingkal bersama saat Reza menceritakan isi buku. Saya merasa diri saya juga mulai berubah. Saya bisa lebih sabar dan menikmati cerita Reza selama berjam-jam. Saya rela duduk berjam-jam di lantai Gramedia (sampai dilarang oleh petugas) nungguin Reza membaca buku di sana. “Resikonya” tentu ada:  banyak urusan kuliah saya yang tertunda, entah sampai kapan. Tapi, anak lebih penting.

Yang saya amati setelah berlalu sebulan lebih, ada tiga kemajuan penting:

1. Reza semakin mampu bercerita panjang lebar (dulu, dia menolak kalau diminta cerita isi buku, alasannya lupa)

2. Reza semakin bersemangat, mudah, dan nyaman menghafalkan Quran (dulu, banyak alasan, dan gampang lupa)

3. Waktu efektif Reza lebih banyak. Dia benar-benar menggambar, sampai selesai (kalau dulu, dia berjam-jam menatap Youtube untuk mempelajari cara menggambar, tapi keasyikan browsing, sampai menggambarnya sendiri terlupa)

Saya pun menyampaikan ‘prestasi’ Reza ini, untuk memberinya semangat, bahwa tanpa gadget ternyata justru dia jauh lebih baik. Dia tersenyum senang. Dan yang saya rasakan, anak yang tidak kecanduan gadget, lebih mudah diajak diskusi dan berbuat baik.

Sekarang.. pe-ernya adalah, saya -ibunya- tidak  boleh terlalu banyak pakai gadget juga dong. Duh, memang sih sudah sangat dikurangi. Tapi masih harus lebih baik lagi. Saya berusaha mengatur waktu, saya menggunakan laptop saat Reza tidur dan kalau Reza sudah nyaman (saya negosiasi dulu dengan Reza, saya jelaskan bahwa saya harus nulis makalah sampai jam sekian, setelah itu saya akan bermain bersama Reza). Juga, sekarang ada negosiasi baru: Reza diizinkan pakai komputer untuk belajar online di zenius.net dan ixl-math, serta menulis untuk blognya tapi didampingi penuh oleh saya.

Being a mom…is a lifelong learning…

NB: untuk Kirana yang sudah remaja, pendekatannya lain lagi; intinya, saya mendorongnya untuk mengurangi pemakaian tablet dan laptop dengan kesadaran penuh, bukan dengan ancaman (Rana penggemar tulisan mbak Ellen, jadi tanpa saya suruh dia sudah baca tulisan yang saya link di atas)

Advertisements

One thought on “[Parenting] Better Late than Early for Gadget

  1. Saya juga kadang kalau mau nulis malah keasyikan browsing atau yutuban. Cuma masalahnya sekarang saya kalau nulis lebih senang nyimpan di dropbox jadinya tetap harus nyambung ke internet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s