Pernikahan adalah Transaksi (?)

Beberapa waktu yang lalu, saya, suami, dan beberapa teman, nonton bareng film Iran berjudul “She was an Angel”. Salah satu bagian menceritakan bahwa si tokoh pria jatuh cinta lagi pada perempuan lain. Istrinya ga terima dan minta cerai. Si pria lalu menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian itu, dan tanya si pengacara, “Kamu punya uang untuk bayar mahar istrimu?”

Di bagian ini, suami saya menjelaskan ke temen-temennya, bahwa yang dimaksud adalah, hutang mahar si cowok ke istrinya dulu saat nikah. Sudah tradisi di Iran: perempuan minta mahar sangat mahal ke laki-laki (dalam film ini, maharnya sekitar 500 juta rupiah), tapi diberikan dalam bentuk hutang. Kalau di tengah masa perkawinan, si laki-laki berbuat buruk dan istri minta cerai, maka mahar itu harus dilunasi. Bila tidak, si laki-laki akan dipenjara (dan negara benar-benar melaksanakan hukuman ini). Maka, tak heran bila biasanya laki-laki Iran (apalagi yang duitnya pas-pasan), ga berani macem-macem ke istrinya. Dan biasanya, kalau pernikahan damai-damai saja sampai tua, si istri merelakan mahar itu (tidak dibayar pun tak apa). Mahar itu seolah jaminan buat istri

Seorang teman nyeletuk, “Lho, bisa dibisniskan tuh, sama perempuan nakal?”

Suami saya nyengir, “Memang pada dasarnya pernikahan kan ‘transaksi’/ akad. Jadi si laki-laki musti hati-hati saat menjalin akad, jangan sampai dikibulin perempuan nakal.”

(Prosesnya sih lewat pengadilan ya. Hakim akan memutuskan, apakah perceraian itu sah atau tidak. Jadi bisa saja mahar itu hanya dibayarkan setengah, karena beberapa alasan, misal bila alasan istri minta cerai kurang kuat, hanya sekedar ga cinta lagi, dll).

Nah saya jadi inget di salah satu acara Mario Teguh, ada seorang perempuan yang curhat tentang perilaku buruk suaminya. Si perempuan ini rupanya sudah beli rumah dengan uangnya sendiri, sebelum nikah. Om Mario bertanya, “Ibu lebih teliti mana, beli rumah atau saat memilih suami?”

Setelah terdiam sesaat, si perempuan menjawab, “Lebih teliti saat beli rumah…”

Kata om Mario, “Ya, karena saat memutuskan menikah biasanya perempuan dibutakan oleh cinta..”

Pagi ini saya pikir-pikir lagi, benar juga ya… Pernikahan itu kan akad, transaksi, kontrak.. kan harusnya kita bener-bener mengkaji “pasal per pasal”-nya dengan cermat, sebagaimana kita mencermati pasal-pasal perjanjian untuk urusan lain. Tapi kenyataannya, dalam pernikahan seringkali cerewet pada pasal-pasal itu justru menimbulkan ketakutan tersendiri, “Ntar kalau aku terlalu cerewet, si dia malah takut dan ga jadi nikahin aku deh…”

Perempuan-termasuk saya sendiri- sepertinya cenderung terima saja. Apalagi kalau umur udah sampai di masa kritis, wah, tambah ga berani pasang syarat ini-itu.

Pernikahan saya pun, karena ga terlalu dikaji baik-baik, kayak nyemplung ke “medan pertempuran” tanpa persiapan. Untung aja si Akang tipe penyabar ketika tingkat toleransi saya -duluuu..lho, sekarang mah udah ‘sembuh’– sangat rendah. Saya dulu sulit bersabar atas berbagai perbedaan persepsi di antara kami, jadinya sering ngomel dan berantem deh. Di titik ini, saya pikir lagi, kalau seandainya dulu si Akang tau sifat saya ini, tentu dia ga mau dong nikahin saya, hehehe. Ada untungnya juga kali ya, kami tidak terlalu saling kenal sebelum nikah. Tapi, yang jelas, ini gambling (taruhan) banget sih. Coba kalau sifat saya dan suami sama, kayaknya sudah bubar dari dulu deh *naudzubillah

Lalu, saya dapat ‘hidayah’ untuk ikut berbagai pelatihan parenting dan self healing, saya berdiskusi intens dengan psikolog, dan perlahan saya menyadari memang ada yang salah dari diri saya. Salah satu pertanyaan teman psikolog itu, “Yang bikin kamu marah, sebenarnya bukan suami kamu kan? Tapi orang atau faktor di luar diri kalian berdua, iya kan?”

Artinya, ketika saya dan suami baik-baik saja, mengapa harus memperdulikan hal-hal eksternal dan membawanya ke dalam interaksi internal? (Contoh kasus: saya kesal atas perilaku saudara suami, atau temannya suami; nah, harusnya saya abaikan saja, toh itu kan orang lain.. yang penting suami saya orang baik, memperlakukan saya dengan baik.. rugi amat saya berantem sama suami karena orang lain).

Upaya saya untuk mengubah sudut pandang dan cara berkomunikasi pun mendatangkan hasil –alhamdulillah. Hubungan saya dan suami bisa sampai pada level ‘persahabatan’. Menurut bukunya John Gottmann, “pernikahan bahagia didasarkan pada persahabatan yang erat.. saling menghargai dan senang ditemani pasangannya.. saling mengenal dengan akrab, mereka tahu benar kesukaan, ketidaksukaan, kekhasan kepribadian, harapan, dan impian pasangannya…”

(baca review bukunya di sini, saya juga merekomendasikan buku ini)

Lalu, apakah sekarang rumah tangga saya aman dan damai selalu? Ah tidak juga. Soalnya, kayaknya “sudah bawaan” saya untuk protes *ngelap keringet* 😀 Jadi, perdebatan selalu saja muncul dalam hari-hari kami, dan seringkali -lagi-lagi hanya karena masalah eksternal yang sebenarnya ga ngefek buat kami. Contohnya, saya nulis sebuah artikel, dan suami saya ga setuju isinya, lalu kami berdebat *sok ilmiah ni ye*  (atau sebaliknya, saya ga setuju melihat keputusan yang diambil suami saya terkait kerjaannya.. duh padahal itu kan urusannya dia tho, ngapain juga saya ikut campur).

Tapi, karena kami ‘bersahabat’, kami tahu bahwa yang kami perdebatkan itu sebenarnya memang ga penting dan ga perlu diambil hati. Yang penting itu kau dan aku, gitu… *hoek..

Oh iya, akhir-akhir ini kalau kami berdebat lagi, ada satpam yang ngomelin:

“Hush diam, jangan bertengkar!” kata Kirana dengan cueknya.

“Kalau kalian bertengkar lagi, aku marahin ya!” ucap Reza dengan gayanya yang menggemaskan.

Saya dan suami pun jadi ketawa.

(Dari sisi parenting, apakah bertengkar di depan anak baik atau buruk? Tergantung sikon sih, menurut saya. Kalau dalam kasus saya, karena kami berdebat bukan dilandasi kebencian, tapi emang sama-sama kritis aja, saya pikir, malah melatih anak-anak untuk punya argumen dan kritis. Terbukti, menurun ke anak-anak, mereka ga terima kalau disalahkan begitu saja, selalu adu argumen dulu. Dan saya menerima protes mereka dengan senang hati, malah bangga melihat kekritisan mereka)

Balik lagi ke pernikahan = transaksi. Sebagaimana kita cermat meneliti barang yang akan dibeli, manusia pun mustinya cermat memilih pasangan hidup. Saya tidak menyarankan, laki–laki dan perempuan menikah begitu aja, tanpa terlalu kenal orangnya.. ini kan untung-untungan banget ?!

Saran saya, laki-laki atau perempuan yang akan menikah, meneliti baik-baik pasangannya, tapi tidak harus melalui pacaran. Cara yang dipakai orang Iran cukup menarik. Saat sepasang manusia berniat menikah, keluarga dari masing-masing pihak akan mengirim mata-mata. Si mata-mata ini akan mencari informasi ke tetangga, teman, guru, dll. (ya kalau nanya langsung ke si cowok: kamu rajin sholat nggak, pastilah jawabnya ‘iya’).

Contoh kasus, ada istri yang tersiksa karena suaminya mukulin dia. Seandainya dia dulu mengirim mata-mata, mungkin dia akan tahu bahwa bapaknya si cowok dulu suka mukulin anaknya.. perilaku KDRT umumnya menurun karena tertanam di alam bawah sadar. Temen saya psikolog menemukan kasus, seorang suami menangis karena menyesal sudah mukulin anaknya (dia merasa itu di luar kontrol dirinya, pokoknya kalau marah, dia refleks menggebukin anaknya). ternyata, dulu si bapak ini juga digebukin ayahnya).

Terakhir, faktor cinta memang sangat besar perannya dalam pernikahan (karena ada cinta, kesulitan relatif lebih ringan dijalani, ya nggak?) Nah, supaya nggak dibutakan oleh cinta, seorang perempuan memang perlu musyawarah dan mau mendengar kata-kata ortunya. Karena, ‘mata’ orang yang jatuh cinta itu beda dengan mata orang normal. Pernah nggak kamu merasa gini, “Heran, tuh cewe bego banget sih, mau-mau aja sama cowo ga jelas gitu?” Padahal, di mata si “cewe bego” itu, si “cowo ga jelas” ini luar biasa lho.. soalnya ‘mata’-nya beda.

Kesimpulan saya, pernikahan memang transaksi, jadi musti teliti;  tapi dilandasi cinta dan keimanan. Dan kalau sudah terlanjur ada konflik, cari jalan keluar, temui konsultan pernikahan, psikolog, atau baca buku-buku psikologi pernikahan. Insya Allah bisa kok, diselesaikan asal kedua pihak sama-sama mau membuka diri.

Advertisements

2 thoughts on “Pernikahan adalah Transaksi (?)

  1. masyaAllah iya…barusan tadi pas kupas walnut dengan kekuatan lengan berokolku…aku lagi mbatin, ternyata begini toh menikah itu, Allah sungguh adil memberikan jodoh disaat usia kami sudah umur. Disaat ego dan emosi kami insyaAllah sudah mulai ‘memudar’ masyaAllah…berusaha nginget puisi Hafez yang kami bahas disaat ta’aruf dan ternyata kami sama-sama gagal mengingat dan membiarkan berlalu….ternyata seorang teman mengupload tulisan ini. He never gives something without a reason, and this upload from You might be the reason to ease my worries. Romance is not everything when You have Him in Your marriage, since it will bloom naturally.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s