Pelatihan

HonorSaya terhenyak saat membaca sebuah berita. Seorang penulis yang sangat terkenal di Indonesia (tapi terkenal bukan karena karya tulisnya, melainkan karena status facebook-nya), mengadakan pelatihan menulis. Yang ikut hanya 10 orang. Yah, kalau mau dijustifikasi, memang lebih efektif melatih 10 orang daripada ratusan. Tapi, dalam ‘iklan’ pelatihan itu, tidak ditulis dibatasi 10 orang, dan kesannya ingin mencari sebanyak mungkin peserta.

Kenapa kok saya terhenyak? Karena, saya jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu. Si penulis itu kan dari golongan ‘mereka’. Yah you know who lah. Itu lho, mereka yang berada dalam barisan besar pendukung media-media takfiri yang gemar sekali menyebarkan berita fitnah. (Oya, yang saya maksud “mereka” ini juga nggak satu ‘manhaj’, tapi akar ideologinya sama; untuk isu-isu tertentu, mereka saling bekerja sama dalam menyebarkan fitnah dan kebencian; untuk isu lain, di antara mereka pun saling cela).

Ceritanya, gara-gara ‘mereka’, dua acara saya di dua universitas dibatalkan. Mereka mengintimidasi panitia. Alasan mereka, saya dikhawatirkan menyebarkan aliran sesat. Padahal saya cuma mau bicara sebatas kapasitas saya, yaitu politik Timteng (terutama konflik Suriah) dan panitianya pun sudah tahu apa isi presentasi saya (si panitia ini pernah hadir di forum saya yang sebelumnya). Saya tahu, banyak dari ‘mereka’ itu yang dirugikan karena tulisan-tulisan saya soal Suriah (bahkan salah satunya, yang mengancam kekerasan fisik ke saya melalui blognya, ternyata dosen dan ‘ustad’ yang juga menggalang dana untuk Suriah).

Nah, mereka jadi susah dapat dukungan dana (kan jualan mereka jadi ga laku toh.. sebelumnya mereka keliling dari masjid ke masjid, kampus ke kampus untuk menyebarkan foto-foto dan film-film soal Suriah, lalu menggalang dana bantuan; sementara kerjaan saya membuktikan kepalsuan foto dan film itu). Sebenarnya, bukan saya satu-satunya yang mengungkap konflik Suriah, tapi kebetulan aja, saya yang jadi sasaran kebencian mereka.

Baiklah, batal. Saya gak rugi materi (toh kalau pun dapat honor, ga seberapa. Rizki dari Allah jauh lebih luas). Sedih? Ya iyalah, emang enak ‘dibungkam’?? Tapi ada hikmahnya juga. Saya jadi tahu rasanya ‘dibungkam’. Ah, betapa banyak penulis dan pembicara yang ‘dibungkam’ di negeri ini sepanjang sejarah, dengan berbagai alasan? Rasanya ‘sesuatu’ banget, ketika saya yang bukan siapa-siapa ini tiba-tiba masuk dalam barisan mereka.

Nah, tak lama kemudian, saya diundang lagi untuk bicara. Kali ini, bukan seminar, tapi pelatihan. Pelatihan metode pendidikan Quran untuk anak (ini ‘gara-gara’ saya nulis buku ini). Saya sebenarnya tak enak hati mengiyakan. Kuatir panitianya diintimidasi juga. Tapi kalau ditolak juga rasanya salah. Eh, beneran, panitia, ibu-ibu, ditelpon sana-sini, disuruh bubarin acara. Tapi saya salut pada ibu-ibu itu, gigih dan rasional sekali. Mereka tetap berkeras meneruskan acara. Tentu saja, saya dikasih pesan-pesan, meski secara halus: “Bu Dina ngajarnya benar-benar sesuai isi makalah kan? Ngga yang lain-lain kan?” Saya sedih sekali dalam hati. Tapi ya sudah mau gimana lagi.

Dan subhanallah, yang hadir sekitar 100 orang (mereka membayar, bukan gratisan). Ruangan aula penuh. Dan sebagian besar antusias, terlihat dari air mukanya. Dan usai pelatihan, semua menyalami saya dengan senyuman. Padahal, sungguh, saya memberikan pelatihan selama sekitar lima jam itu dengan hati galau dan sedih. Itu pertama kalinya saya memberikan pelatihan, sendirian, di depan segini banyak orang. Rasanya benar-benar bantuan Allah. Dia yang memampukan saya. Saya mencari ide benar-benar sambil jalan, bagaimana caranya supaya pelatihan itu gak membosankan, supaya ada joke (gurauan), karena pada dasarnya saya bukan pembicara yang ‘rame’ (apalagi kalau lagi galau).

Membaca berita tentang pelatihan yang dihadiri hanya 10 orang itu… saya jadi menghembuskan nafas berat. Memang kemuliaan itu ga akan tertukar. Saya nggak mulia-mulia amat sih, tapi insya Allah saya nggak memfitnah orang, nggak jelek-jelekin orang. Kalaupun saya bersuara keras soal Suriah (dan menyinggung hati mereka yang merasa paling ngislam itu), itu berdasarkan data dan fakta yang bisa ditelusuri kebenarannya. Dan perkembangan akhir-akhir ini juga membuktikan kebenaran yang saya tulis dulu. Mungkin bedanya, saya dulu nulis ketika opini publik masih terkooptasi media mainstream, sementara saya (dan sebenarnya, cukup banyak juga yang lain), menulis sesuatu yang anti mainstream.

Hikmah lainnya, yang mungkin bisa ditiru para penulis (yang membaca tulisan saya ini): jangan takut menulis yang anti mainstream, selama itu benar, didukung argumen dan data yang valid, serta didasari niat tulus; bukan kebencian. Akan keliatan kok, mana tulisan yang mengkritisi, mana tulisan yang sekedar nyinyir. (Misalnya isu yang hangat sekarang, soal subsidi BBM dan soal demo mahasiswa, yang mainstream sekarang kan : mendukung pencabutan subsidi, dan mencela-cela mahasiswa yang demo, atau mencela gerakan buruh).

Insya Allah, waktu akan mengungkap apapun kebenaran yang ditutup-tutupi media mainstream (dan kroco-kroconya).

Galau di Hari Guru

sumber: fesbuknya Farid Gaban

sumber: fesbuknya Farid Gaban

Ini status seseorang di FB, yang terasa memelas:

buatku sih ga papa bensin cuma naik 2000 sj bahkan naik 10 rb jg gak masalah, asal yg lain jangan pada naik, lha tadi malam beli gas 3 kg biasane 32 rb untuk dua tabung kok tadi malam jadi 45 rb untuk dua tabung ya,

yen tak itung itung pengeluaran tambahan termasuk susu anak anak akibat naiknya BBM yg berimbas naiknya harga yang lain kurang lebih 2 jutaan,

yo wis ora popo gusti allah boten sare, mengko nak yo ditambahi penghasilane lebih dari itu, wis wayahe berhenti berharap pada pimpinan negeri ini..

Saya sedang nggak mood nulis yang berat-berat soal BBM ini (tulisan ‘berat’ bisa intip di blog saya yang satu lagi). Tapi sekedar memikirkan nasib diri sendiri. Dua hari ini berturut-turut ke kampus Jatinangor, terasa banget bedanya (sebenarnya ga ‘besar’ sih, kalau dibandingkan penghasilan kami.. mungkin faktor psikologis aja). Dari rumah ke kampus pp bisa habis 50 rb (transport becak+angkot+ojek). Angka segini masih bisa dihemat kalau saya nggak manja, mau jalan dari turun angkot sampai ke kampus. Tapi saya pikir, aduh, ‘cuma’ hemat 8000 ini (ongkos ojek).

Karena saya memang tidak terbiasa mencatat pengeluaran (pokoknya, pas butuh pas ada.. kalau ga ada ya udah gigit jari aja)., saya tidak tahu seberapa membengkaknya pengeluaran kami. Apalagi, saya bisa pusing kalau ngitung, ga bakat jadi bendahara. Allah Mahakaya.. itu mantra mujarab untuk menenangkan hati saya.

Tapi.. baca status yang saya copas di atas, membengkaknya sampai 2 juta, saya jadi mikir juga. Wow. Kalau penghasilan 10 juta, kebutuhan 8 juta, ada saving 2 juta, membengkak 2 juta ya gpp-lah (bedanya, ga bisa nabung lagi). Tapi kalau penghasilannya cuma 1-2 juta, gimana ya?

Bisa lihat tabel di atas, yang memberi gambaran betapa naiknya BBM benar-benar ngaruh buat orang miskin.

Yang jadi pikiran saya.. kebetulan kemarin kan Hari Guru.. saya tuh menanggung full gaji 3 guru di TK kecil saya. TK yang didirikan sejak 5 tahun yll, tapi gak pernah berkembang, muridnya semakin lama semakin sedikit (sekarang nyisa 8, tak terhitung yang keluar.. yang masuk pun ada yang mengadu, “Bu, saya sebelum daftar ke sini kan diomongin sama bu ***. Katanya, jangan nyekolahin anak di sini.. aliran sesat..!” Padahal ini sekolah terbuka banget, ibunya mau duduk nungguin juga boleh, biar tau anaknya diajarin kesesatan apa diajarin Quran..huh.)

Sejak awal, saya itu memang berniat sosial ya, ga cari duit dari TK, ingin berkontribusi menyebarkan metode pendidikan anak berbasis Quran. Cuma.. kalau niat sosial ini ga diterima masyarakat sini, ngapain juga cape-cape kan? Kalau mereka lebih suka memfitnah dan menerima fitnahan, ngapain juga saya ngeluarin duit? Mending duitnya saya tabung. Saya udah ngirit-ngirit beli benda-benda yang saya inginkan (kecuali buku, rasanya susah banget ngirit), demi ‘masyarakat’. Dan saya rasanya  sudah 90% yakin akan menutup TK ini di akhir tahun ajaran.

Saya membayar guru @300rb sebulan x 3 = 900.000. Pengeluaran lain, lumayan juga. Meski murid sedikit, semua tetap dibayar kan, kontrakan rumah, listrik, air, telpon, kalau ada rusak di sana-sini, bayar tukang,  perlengkapan ini-itu (kayaknya ga habis-habisnya barang yang musti dibeli). SPP murid @Rp50rb (all in, semua keperluan belajar saya yang sediakan).

Tapi… eeeh.. kok BBM malah naik. Sekarang (meski saya belum ngitung berapa persisnya) pengeluaran saya membengkak. Tapi kok malah muncul rasa ga tega. Tiga guru saya itu dari kalangan ekonomi lemah. Berkurang 300rb per bulan itu sesuatu banget. Total penghasilan mereka (ditambah dari suami mereka), 1-2 juta per bulan. Saya bisa bayangkan, betapa susahnya mereka sekarang mengatur pengeluaran. Btw, dua di antara mereka ga punya motor (kemana-mana naik sepeda atau angkot, jadi ga bisa dikasih saran “kalau ga ada duit, jual aja motornya!”–saya pernah baca saran mengerikan tak berempati ini di medsos).

Trus, ada kabar Mendikbud mau kasih standar upah minimum guru (kata pak Anies, “masa gaji guru 150 rb”… oh, artinya saya udah ngasih 2x lipat dong .. meski.. di mata saya 300rb itu dikiiiit banget.. makanya saya sering ga enak hati saat beli buku atau makan di luar yang menghabiskan ratusan ribu, inget sama guru-guru itu. Tapi masalahnya, 300rb itu kan gaji satu guru, dan hanya salah satu dari sekian banyak pengeluaran lainnya, ga sanggup saya kalau musti kasih gaji lebih besar lagi).  Lha kalau upah minimumnya besar, saya apa sanggup ya? Belum harga kontrakan, tahun depan pasti naik. Menaikkan SPP? Segini aja susah murid, apalagi kalau dimahalin lagi.

Jadi.. ah entahlah. Saya masih perang batin nih. Menuruti egoisme saya, pilihannya menutup TK itu. Peduli amat lah sama “niat baik” dan  “kerja sosial” (nah, kalimat ini lahir dari rasa sakit hati sama orang-orang ‘sok paling ngislam itu’..amit-amit, semoga Allah ngasih hidayah mereka sebelum keburu meninggal, kasian banget kalau udah terlanjur di akhirat dan menyadari dosa fitnah yang musti mereka tanggung).

Tapi… inget 3 guru itu, kasian juga…  Walhasil, saya punya satu doa khusus.. kalau terkabul.. saya akan lanjutkan TK itu. Kalau enggak, ya sudahlah. Siapa saya, yang harus menanggung nasib orang? Pemerintah aja ga peduli (dan seenaknya berkata ‘subsidi bikin rakyat malas’). Toh ada Allah yang Mahakaya…

*galau di Hari Guru…

Anak-Anak yang Dibesarkan dalam Kebencian

Speechless, tidak tahu harus bicara apa saat membaca liputan ini. Jangan dikira model pengasuhan seperti ini hanya terjadi di luar sana, jauh dari Indonesia. Di Indonesia pun terlihat gerakan seperti ini: mendoktrin anak-anak dengan kebencian pada ‘the other’. Seorang ibu menuturkan, dia menemukan beberapa akun Facebook anak-anak usia SMP, yang menjadi follower beberapa situs-situs penyeru radikalisme; dengan lugunya anak-anak ini men-share gambar-gambar brutal kepala-kepala manusia yang terpenggal dan tertancap di tonggak-tonggak pagar taman kota di Suriah.

Ini foto bocah-bocah pro ISIS Indonesia yang tersebar di facebook:

bocah isisbocah isis2

 

 

 

 

 

 

 

Ini liputan yang saya maksud, copas dari BBC Indonesia

Kisah Calon Serdadu Bocah ISIS

foto: bbc

foto: bbc

Di ruang tengah yang sempit sebuah rumah di Turki selatan, seorang bocah 13 tahun berlatih dalam persiapan bergabung dengan kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.

Saat ia menyambut wartawan BBC Mark Lowen, ia tampak seperti anak-anak pada umumnya, bocah yang tampak ceria: rambutnya kusut, senyumnya berseri-seri, ia mengenakan sweater abu-abu bertutup kepala.

Tetapi kemudian ia berjalan ke ruangan lain, untuk ganti baju, dan ketika kembali sudah mengenakan balaklava hitam dan baju atasan ala militer.

Dia ingin dipanggil sebagai “Abu Hattab”.

Lahir di Suriah, ia mengalami radikalisasi tahun lalu, dan bergabung dengan kelompok jihad Syam al-Islam.

Dia dididik hal ihwal syariah dan belajar menggunakan senjata, dan dengan bangga menunjukkan gambar ia membidik dengan senapan mesin.

Sekarang ia menghabiskan hari-harinya dengan selalu terhubung secara online, menonton video jihad dan chatting di Facebook dengan para petarung ISIS.

‘Memenggal kepala mereka’

Dalam beberapa pekan, katanya, dia akan pergi ke kubu ISIS di Raqqa di Suriah untuk menjadi seorang prajurit jihad belia.

“Saya suka ISIS karena mereka menegakkan syariah dan membunuhi orang-orang kafir, non-Sunni dan mereka yang murtad,” katanya.

“Orang-orang dibunuh oleh ISIS adalah agen Amerika. Kami harus memenggal kepala mereka sebagaimana yang dikatakan Allah dalam Alquran.”

Kepadanya ditanyakan apakah ia mengungkapkan usianya pada lawan bicaranya, petarung ISIS, dalam percakapan online.

“Awalnya sih tidak,” katanya.

“Tapi baru-baru ini saya katakan, dan justru sekarang mereka malah lebih sering lagi menghubungi saya, mengirimi foto-foto dan berita.”

Tetapi mengapa tidak menikmati saja masa kecilnya yang indah?

“Saya tidak ingin bermain dengan teman-teman atau bersenang-senang. Allah memerintahkan kita untuk bekerja dan berjuang demi kehidupan berikutnya kelak –agar masuk surga.

“Dulu saya sering pergi ke taman atau pantai.”

“Tapi kemudian saya menyadari saya salah. Kini saya sudah berada di jalan yang benar.”

‘Kekuatan jahat’
BBC Anak-anak itu mendapatkan sekitar Rp1 juta per bulan untuk bertempur bersama ISIS. Keluarganya sekarang tinggal di Turki. Apakah dia akan melancarkan serangan di Turki, atau di Inggris misalnya?

“Inggris harus diserang karena anggota NATO dan menentang ISIS,” katanya. “Tetapi kami hanya akan membunuh mereka yang layak dibunuh. Jika ISIS meminta saya untuk menyerang Turki dan memberi saya perintah suci, saya akan melakukannya. Tak lama lagi Barat akan musnah.”

Di rumah, ia dan ibunya, yang ingin dipanggil Fatima, menjalani hidup yang saleh.

Dia menghabiskan waktunya membaca Alquran dan mengaku sangat bersimpati pada kaum militan.

Tahun lalu, ia mengirim anaknya untuk mendapat pelatihan di kelompok Sham al-Islam – tapi menyangkal telah mencuci otak anaknya. “Saya tidak pernah mendorong dia untuk bergabung dengan ISIS,” katanya.

“Beberapa keyakinan ISIS, saya dukung, tetapi beberapa tidak saya dukung. Tapi menurut saya, mereka bermaksud membantu rakyat Suriah -tidak seperti kekuatan jahat di seluruh dunia”

Pemimpin Masa Depan

BBC bertanya, kalau memang tidak mendorong anak itu, untuk bergabung ISIS, apa yang ia lakukan untuk menghentikan anaknya dari kehilangan masa kecilnya oleh kekerasan dan ekstremisme?

“Saya tak akan bisa mencegahnya jika ia ingin bertempur,” katanya.

“Perang membuat anak-anak tumbuh dengan cepat, saya ingin dia menjadi pemimpin masa depan, seorang amir.”

Suaranya makin dalam, matanya menyipit oleh kemarahan di balik syal yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.

“Saya tidak akan bersedih jika ia membunuh orang Barat. Saya justru malu bahwa anak-anak saya yang lain kerja biasa saja, mereka harusnya mengangkat senjata.”

Wartawan BBC menanyakan, bagaimana perasaanya nanti, andai anaknya terbunuh saat bertempur untuk ISIS?

Dia termangu. “Saya akan sangat bahagia, ” jawabnya, lalu menundukkan kepalanya dan kemudian menangis tersedu.

Masa lugu yang terampas

Sebuah laporang PBB bulan lalu mengungkap, ISIS melakukan perekrutan secara luas di kalangan anak-anak, dan sering dengan paksaan.

Sebuah video yang diposting online, dijuduli “Anak-anak Negara Islam (ISIS),” mempertontonkan batalion bocah mengenakan baju militer, menenteng senjata dan berdiri di samping sebuah bendera hitam ISIS.

Banyak kelompok jihad lain menggunakan tentara anak-anak.

Human Rights Watch belum lama ini melaporkan bahwa para prajurit bocah itu digunakan sebagai pelaku bom bunuh diri dan penembak jitu.

Di kota Gaziantep, Turki selatan, BBC bertemu seorang aktivis masyarakat sipil Suriah yang dua adiknya, berusia 13 dan 15 tahun, menjadi korban upaya penggalangan Jabat al-Nusra, cabang Al Qaeda di Suriah.

Mohamed, 21 tahun, memperlihatkan video adik bungsunya yang menembakkan artileri berat dengan sekelompok militan.

Dalam gambar lainnya, ia berpose dengan menggenggam senapan mesin.

“Saya mencoba untuk mencegah adik-adik saya bergabung Al Nusra tapi mereka tidak peduli perasaan saya,” katanya.

“Mereka harusnya sekolah. Tapi Al Nusra memberikan sekitar dollar AS 100 per bulan bagi anak-anak yang bertempur bersama mereka. Dan mereka memberikan pelatihan senjata di sebuah kamp. Masa kanak-kanak mereka telah dirampas.”

Cita-cita pilot

Kedua adiknya baru-baru ini ditangkap oleh ISIS. Mohamed takut mereka akan segera membelot dari Al Nusra untuk bergabung dengan ISIS.

“Saya biasa bermain dengan adik bungsu saya di rumah. Tapi kemudian ia berubah. Ketika saya berkata kepadanya bahwa Al Nusra akan menghancurkan negara kita, dia bilang, ‘tutup mulut, atau aku akan membunuhmu’.”

“Saya mengucapkan selamat jalan kepada mereka berdua ketika mereka pergi untuk bergabung dengan Al Nusra, dengan pikiran bahwa saya tidak akan pernah melihat mereka lagi. Saya yakin nanti akan mendapat kabar bahwa mereka telah tewas.”

Perang Suriah telah menggelapkan pembentukan suatu generasi.

Dan militan memangsa anak-anak untuk menjadi alat perang itu, merampas keluguan masa kecil, terlalu dini.

Ketika meninggalkan rumah “Abu Hattab”, wartawan BBC Mark Lowen bertanya kepada ibunya, Fatimah, apa cita-cita anaknya yang berumur 13 tahun itu ketika ia masih kecil.

Fatimah tersenyum, “Menjadi seorang pilot.”

[Parenting] Pesan dari Kang Emil dan Pak Johari

kang emil1Jumat lalu, saya mengantar Kirana untuk show di Pendopo (rumah dinas Wali Kota Bandung). Sebenarnya, bintang utamanya Eya Grimonia, violinis muda terkenal, yang kebetulan adalah gurunya Kirana. Eya mengajak adik dan murid-muridnya untuk tampil bareng di acara Ngemil (Ngadu Ide Bareng Kang Emil).

Saya bareng Reza, ngantri dulu di meja pendaftaran (dan kemudian dapat hadiah buku gratis berjudul “Menjadi Djo”, diterbitkan oleh JNE Inspirasi). Baru ngantri sebentar, Reza sudah mengeluh laper. Yaela, baru jam 17.30 kok udah laper Jang? Saya lihat beberapa petugas sedang menyiapkan meja untuk makanan. Jadi agak lega (bisa gawat kalau ga ada makanan, Reza akan rewel terus; saya pun ga ingat bawa makanan).

Setelah melewati meja pendaftaran, saya disambut petugas JNE yang membagikan brosur ‘Pesona’, salah satu layanan dari JNE (sponsor acara ini), kita bisa pesan makanan khas dari berbagai daerah. Dan, asyik banget, ada meja buat ici-icip. Langsung deh Reza senyum lebar, melahap bolu meranti dan martabak. Ada juga carica, makanan khas Wonosobo, ada kopi dari mana gitu yang kayaknya terkenal, dll. Habis Magriban, hadirin langsung dipersilahkan makan malam.. wah.. puas banget deh, makan ini-itu. Lalu, saya dan anak-anak liat-liat produk-produk kreatif anak-anak muda Bandung yang dipamerkan di pendopo.

Lalu, Kang Emil pun tampil memberikan sambutan. Ini pertama kalinya saya lengkap mendengar pidatonya Kang Emil. Emang asyik banget ini walikota. Cocok dengan image Bandung sebagai kota anak muda dan kreativitas. Pidatonya mengalir banget, nyambung dengan hadirin yang mayoritas anak muda, diselipi joke-joke di sana-sini (misalnya: kalau kalian mau kirim mantan, silahkan pake JNE, kirim ke antartika, xixixi). Ekspresi mukanya cool saat melempar joke, senyum-senyum aja (aih, jadi ngefans :D).

Ada bagian dari pidatonya yang penting banget dicatet ibu-ibu, karena ‘parenting’ banget. Gini, kang Emil ditanyai sama wartawan asing, “Apa problem terbesar Anda dalam memimpin Bandung”

Jawab kang Emil, “Mindset” (=pola pikir)

Trus kang Emil menceritakan, selama ia jadi Walkot, ada 3000-an motor dan mobil yang digembok (karena parkir sembarangan), 4000-an spanduk liar yang diturunkan, 70-an minimarket illegal yang dibubarkan, puluhan/ratusan gedung yang melanggar IMB yang dibongkar, motor dengan knalpot berisik yang ditangkap. Denda jutaan rupiah musti dikenakan, agar warga tertib buang sampah. (joke kang Emil: buanglah sampah pada tempatnya, buanglah mantan pada temannya :D).

Ini semua bukti betapa mindset masyarakat kita itu masih mindset ‘melanggar aturan’. Kalau nggak dikerasin, ga akan taat aturan. Ga ada polisi, helm atau sabuk pengaman ga dipake. Ga ada guru, langsung keluar buku contekan. Duh.

Kang Emil ga bilang sih, bahwa itu salah ortu. Tapi saya sebagai ibu, langsung merasa sendiri. Siapa yang bertanggung jawab atas mindset ‘melanggar aturan’ ini? Ya jelas ortu dong. Kalau saja kita para ortu sejak dini melatih diri sendiri untuk taat aturan, dan memberi teladan kepada anak-anak, pastilah anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang taat aturan.

eya- kwartet1Setelah itu, Eya, Kirana, dkk tampil.

Sambil  nunggu dijemput si Akang, saya duduk-duduk di halaman pendopo yang asri itu. Tiba-tiba, samar-samar saya mendengar semacam wejangan yang amat relijius. Saya kembali ke pendopo. Ternyata pak Johari Zein, CEO JNE  sedang mengisi talkshow tentang bisnis. Semakin saya dengarkan uraiannya, semakin saya takjub. Keren banget. Ga cuma bermanfaat buat bisnis, tapi untuk kehidupan. Ini sedikit catatan saya:

-JNE didirikan jauh setelah Tiki (dan saat itu Tiki udah terkenal dan mapan banget). Tapi JNE tidak mau merebut konsumen/pasar Tiki, sehingga mencari peluang pasar yang belum tersentuh, yaitu anak muda (wah, baru denger saya, etika bisnis kayak gini, ga perlu menjegal kawan/lawan untuk sukses, rizki Allah itu luas, berbaik-baik sajalah pada semua orang)

-Keberhasilan dalam bisnis itu bisa dicapai dengan menjaga integritas (jujur) dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

-Niat awal untuk  berbisnis itu sebaiknya adalah untuk menolong orang lain. Jadi, perhatikan, apa masalah yang ada di sekitar, niatkan untuk menolong menyelesaikan masalah, dan jadilah itu peluang bisnis.

-Kalau mau melakukan sesuatu, selalu ditimbang efek jangka panjangnya, jangan terpikat keuntungan sesaat. (Pak Johari mencontohkan: jangan seperti  ibu yang menyia-nyiakan ASI-nya karena bekerja demi mendapatkan uang saat ini; tanpa memikirkan apa efeknya pada bayinya di masa depan)

-Supaya insting bisnis ga salah, carilah backing (dukungan) dari Sang Pemilik Ide Tertinggi, yaitu Allah SWT, jadi dekatkan diri pada Allah.

Nah… ini kan parenting banget tuh. Ortu memang penting untuk mendidik anak-anak agar menjadikan Allah SWT sebagai poros kehidupannya. Dan ternyata, dengan menjadikan Allah sebagai poros, bisnis (duniawi) pun bisa lancar dan sukses.