[Parenting] Pesan dari Kang Emil dan Pak Johari

kang emil1Jumat lalu, saya mengantar Kirana untuk show di Pendopo (rumah dinas Wali Kota Bandung). Sebenarnya, bintang utamanya Eya Grimonia, violinis muda terkenal, yang kebetulan adalah gurunya Kirana. Eya mengajak adik dan murid-muridnya untuk tampil bareng di acara Ngemil (Ngadu Ide Bareng Kang Emil).

Saya bareng Reza, ngantri dulu di meja pendaftaran (dan kemudian dapat hadiah buku gratis berjudul “Menjadi Djo”, diterbitkan oleh JNE Inspirasi). Baru ngantri sebentar, Reza sudah mengeluh laper. Yaela, baru jam 17.30 kok udah laper Jang? Saya lihat beberapa petugas sedang menyiapkan meja untuk makanan. Jadi agak lega (bisa gawat kalau ga ada makanan, Reza akan rewel terus; saya pun ga ingat bawa makanan).

Setelah melewati meja pendaftaran, saya disambut petugas JNE yang membagikan brosur ‘Pesona’, salah satu layanan dari JNE (sponsor acara ini), kita bisa pesan makanan khas dari berbagai daerah. Dan, asyik banget, ada meja buat ici-icip. Langsung deh Reza senyum lebar, melahap bolu meranti dan martabak. Ada juga carica, makanan khas Wonosobo, ada kopi dari mana gitu yang kayaknya terkenal, dll. Habis Magriban, hadirin langsung dipersilahkan makan malam.. wah.. puas banget deh, makan ini-itu. Lalu, saya dan anak-anak liat-liat produk-produk kreatif anak-anak muda Bandung yang dipamerkan di pendopo.

Lalu, Kang Emil pun tampil memberikan sambutan. Ini pertama kalinya saya lengkap mendengar pidatonya Kang Emil. Emang asyik banget ini walikota. Cocok dengan image Bandung sebagai kota anak muda dan kreativitas. Pidatonya mengalir banget, nyambung dengan hadirin yang mayoritas anak muda, diselipi joke-joke di sana-sini (misalnya: kalau kalian mau kirim mantan, silahkan pake JNE, kirim ke antartika, xixixi). Ekspresi mukanya cool saat melempar joke, senyum-senyum aja (aih, jadi ngefans :D).

Ada bagian dari pidatonya yang penting banget dicatet ibu-ibu, karena ‘parenting’ banget. Gini, kang Emil ditanyai sama wartawan asing, “Apa problem terbesar Anda dalam memimpin Bandung”

Jawab kang Emil, “Mindset” (=pola pikir)

Trus kang Emil menceritakan, selama ia jadi Walkot, ada 3000-an motor dan mobil yang digembok (karena parkir sembarangan), 4000-an spanduk liar yang diturunkan, 70-an minimarket illegal yang dibubarkan, puluhan/ratusan gedung yang melanggar IMB yang dibongkar, motor dengan knalpot berisik yang ditangkap. Denda jutaan rupiah musti dikenakan, agar warga tertib buang sampah. (joke kang Emil: buanglah sampah pada tempatnya, buanglah mantan pada temannya :D).

Ini semua bukti betapa mindset masyarakat kita itu masih mindset ‘melanggar aturan’. Kalau nggak dikerasin, ga akan taat aturan. Ga ada polisi, helm atau sabuk pengaman ga dipake. Ga ada guru, langsung keluar buku contekan. Duh.

Kang Emil ga bilang sih, bahwa itu salah ortu. Tapi saya sebagai ibu, langsung merasa sendiri. Siapa yang bertanggung jawab atas mindset ‘melanggar aturan’ ini? Ya jelas ortu dong. Kalau saja kita para ortu sejak dini melatih diri sendiri untuk taat aturan, dan memberi teladan kepada anak-anak, pastilah anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang taat aturan.

eya- kwartet1Setelah itu, Eya, Kirana, dkk tampil.

Sambil  nunggu dijemput si Akang, saya duduk-duduk di halaman pendopo yang asri itu. Tiba-tiba, samar-samar saya mendengar semacam wejangan yang amat relijius. Saya kembali ke pendopo. Ternyata pak Johari Zein, CEO JNE  sedang mengisi talkshow tentang bisnis. Semakin saya dengarkan uraiannya, semakin saya takjub. Keren banget. Ga cuma bermanfaat buat bisnis, tapi untuk kehidupan. Ini sedikit catatan saya:

-JNE didirikan jauh setelah Tiki (dan saat itu Tiki udah terkenal dan mapan banget). Tapi JNE tidak mau merebut konsumen/pasar Tiki, sehingga mencari peluang pasar yang belum tersentuh, yaitu anak muda (wah, baru denger saya, etika bisnis kayak gini, ga perlu menjegal kawan/lawan untuk sukses, rizki Allah itu luas, berbaik-baik sajalah pada semua orang)

-Keberhasilan dalam bisnis itu bisa dicapai dengan menjaga integritas (jujur) dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

-Niat awal untuk  berbisnis itu sebaiknya adalah untuk menolong orang lain. Jadi, perhatikan, apa masalah yang ada di sekitar, niatkan untuk menolong menyelesaikan masalah, dan jadilah itu peluang bisnis.

-Kalau mau melakukan sesuatu, selalu ditimbang efek jangka panjangnya, jangan terpikat keuntungan sesaat. (Pak Johari mencontohkan: jangan seperti  ibu yang menyia-nyiakan ASI-nya karena bekerja demi mendapatkan uang saat ini; tanpa memikirkan apa efeknya pada bayinya di masa depan)

-Supaya insting bisnis ga salah, carilah backing (dukungan) dari Sang Pemilik Ide Tertinggi, yaitu Allah SWT, jadi dekatkan diri pada Allah.

Nah… ini kan parenting banget tuh. Ortu memang penting untuk mendidik anak-anak agar menjadikan Allah SWT sebagai poros kehidupannya. Dan ternyata, dengan menjadikan Allah sebagai poros, bisnis (duniawi) pun bisa lancar dan sukses.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s