Anak-Anak yang Dibesarkan dalam Kebencian

Speechless, tidak tahu harus bicara apa saat membaca liputan ini. Jangan dikira model pengasuhan seperti ini hanya terjadi di luar sana, jauh dari Indonesia. Di Indonesia pun terlihat gerakan seperti ini: mendoktrin anak-anak dengan kebencian pada ‘the other’. Seorang ibu menuturkan, dia menemukan beberapa akun Facebook anak-anak usia SMP, yang menjadi follower beberapa situs-situs penyeru radikalisme; dengan lugunya anak-anak ini men-share gambar-gambar brutal kepala-kepala manusia yang terpenggal dan tertancap di tonggak-tonggak pagar taman kota di Suriah.

Ini foto bocah-bocah pro ISIS Indonesia yang tersebar di facebook:

bocah isisbocah isis2

 

 

 

 

 

 

 

Ini liputan yang saya maksud, copas dari BBC Indonesia

Kisah Calon Serdadu Bocah ISIS

foto: bbc

foto: bbc

Di ruang tengah yang sempit sebuah rumah di Turki selatan, seorang bocah 13 tahun berlatih dalam persiapan bergabung dengan kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.

Saat ia menyambut wartawan BBC Mark Lowen, ia tampak seperti anak-anak pada umumnya, bocah yang tampak ceria: rambutnya kusut, senyumnya berseri-seri, ia mengenakan sweater abu-abu bertutup kepala.

Tetapi kemudian ia berjalan ke ruangan lain, untuk ganti baju, dan ketika kembali sudah mengenakan balaklava hitam dan baju atasan ala militer.

Dia ingin dipanggil sebagai “Abu Hattab”.

Lahir di Suriah, ia mengalami radikalisasi tahun lalu, dan bergabung dengan kelompok jihad Syam al-Islam.

Dia dididik hal ihwal syariah dan belajar menggunakan senjata, dan dengan bangga menunjukkan gambar ia membidik dengan senapan mesin.

Sekarang ia menghabiskan hari-harinya dengan selalu terhubung secara online, menonton video jihad dan chatting di Facebook dengan para petarung ISIS.

‘Memenggal kepala mereka’

Dalam beberapa pekan, katanya, dia akan pergi ke kubu ISIS di Raqqa di Suriah untuk menjadi seorang prajurit jihad belia.

“Saya suka ISIS karena mereka menegakkan syariah dan membunuhi orang-orang kafir, non-Sunni dan mereka yang murtad,” katanya.

“Orang-orang dibunuh oleh ISIS adalah agen Amerika. Kami harus memenggal kepala mereka sebagaimana yang dikatakan Allah dalam Alquran.”

Kepadanya ditanyakan apakah ia mengungkapkan usianya pada lawan bicaranya, petarung ISIS, dalam percakapan online.

“Awalnya sih tidak,” katanya.

“Tapi baru-baru ini saya katakan, dan justru sekarang mereka malah lebih sering lagi menghubungi saya, mengirimi foto-foto dan berita.”

Tetapi mengapa tidak menikmati saja masa kecilnya yang indah?

“Saya tidak ingin bermain dengan teman-teman atau bersenang-senang. Allah memerintahkan kita untuk bekerja dan berjuang demi kehidupan berikutnya kelak –agar masuk surga.

“Dulu saya sering pergi ke taman atau pantai.”

“Tapi kemudian saya menyadari saya salah. Kini saya sudah berada di jalan yang benar.”

‘Kekuatan jahat’
BBC Anak-anak itu mendapatkan sekitar Rp1 juta per bulan untuk bertempur bersama ISIS. Keluarganya sekarang tinggal di Turki. Apakah dia akan melancarkan serangan di Turki, atau di Inggris misalnya?

“Inggris harus diserang karena anggota NATO dan menentang ISIS,” katanya. “Tetapi kami hanya akan membunuh mereka yang layak dibunuh. Jika ISIS meminta saya untuk menyerang Turki dan memberi saya perintah suci, saya akan melakukannya. Tak lama lagi Barat akan musnah.”

Di rumah, ia dan ibunya, yang ingin dipanggil Fatima, menjalani hidup yang saleh.

Dia menghabiskan waktunya membaca Alquran dan mengaku sangat bersimpati pada kaum militan.

Tahun lalu, ia mengirim anaknya untuk mendapat pelatihan di kelompok Sham al-Islam – tapi menyangkal telah mencuci otak anaknya. “Saya tidak pernah mendorong dia untuk bergabung dengan ISIS,” katanya.

“Beberapa keyakinan ISIS, saya dukung, tetapi beberapa tidak saya dukung. Tapi menurut saya, mereka bermaksud membantu rakyat Suriah -tidak seperti kekuatan jahat di seluruh dunia”

Pemimpin Masa Depan

BBC bertanya, kalau memang tidak mendorong anak itu, untuk bergabung ISIS, apa yang ia lakukan untuk menghentikan anaknya dari kehilangan masa kecilnya oleh kekerasan dan ekstremisme?

“Saya tak akan bisa mencegahnya jika ia ingin bertempur,” katanya.

“Perang membuat anak-anak tumbuh dengan cepat, saya ingin dia menjadi pemimpin masa depan, seorang amir.”

Suaranya makin dalam, matanya menyipit oleh kemarahan di balik syal yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.

“Saya tidak akan bersedih jika ia membunuh orang Barat. Saya justru malu bahwa anak-anak saya yang lain kerja biasa saja, mereka harusnya mengangkat senjata.”

Wartawan BBC menanyakan, bagaimana perasaanya nanti, andai anaknya terbunuh saat bertempur untuk ISIS?

Dia termangu. “Saya akan sangat bahagia, ” jawabnya, lalu menundukkan kepalanya dan kemudian menangis tersedu.

Masa lugu yang terampas

Sebuah laporang PBB bulan lalu mengungkap, ISIS melakukan perekrutan secara luas di kalangan anak-anak, dan sering dengan paksaan.

Sebuah video yang diposting online, dijuduli “Anak-anak Negara Islam (ISIS),” mempertontonkan batalion bocah mengenakan baju militer, menenteng senjata dan berdiri di samping sebuah bendera hitam ISIS.

Banyak kelompok jihad lain menggunakan tentara anak-anak.

Human Rights Watch belum lama ini melaporkan bahwa para prajurit bocah itu digunakan sebagai pelaku bom bunuh diri dan penembak jitu.

Di kota Gaziantep, Turki selatan, BBC bertemu seorang aktivis masyarakat sipil Suriah yang dua adiknya, berusia 13 dan 15 tahun, menjadi korban upaya penggalangan Jabat al-Nusra, cabang Al Qaeda di Suriah.

Mohamed, 21 tahun, memperlihatkan video adik bungsunya yang menembakkan artileri berat dengan sekelompok militan.

Dalam gambar lainnya, ia berpose dengan menggenggam senapan mesin.

“Saya mencoba untuk mencegah adik-adik saya bergabung Al Nusra tapi mereka tidak peduli perasaan saya,” katanya.

“Mereka harusnya sekolah. Tapi Al Nusra memberikan sekitar dollar AS 100 per bulan bagi anak-anak yang bertempur bersama mereka. Dan mereka memberikan pelatihan senjata di sebuah kamp. Masa kanak-kanak mereka telah dirampas.”

Cita-cita pilot

Kedua adiknya baru-baru ini ditangkap oleh ISIS. Mohamed takut mereka akan segera membelot dari Al Nusra untuk bergabung dengan ISIS.

“Saya biasa bermain dengan adik bungsu saya di rumah. Tapi kemudian ia berubah. Ketika saya berkata kepadanya bahwa Al Nusra akan menghancurkan negara kita, dia bilang, ‘tutup mulut, atau aku akan membunuhmu’.”

“Saya mengucapkan selamat jalan kepada mereka berdua ketika mereka pergi untuk bergabung dengan Al Nusra, dengan pikiran bahwa saya tidak akan pernah melihat mereka lagi. Saya yakin nanti akan mendapat kabar bahwa mereka telah tewas.”

Perang Suriah telah menggelapkan pembentukan suatu generasi.

Dan militan memangsa anak-anak untuk menjadi alat perang itu, merampas keluguan masa kecil, terlalu dini.

Ketika meninggalkan rumah “Abu Hattab”, wartawan BBC Mark Lowen bertanya kepada ibunya, Fatimah, apa cita-cita anaknya yang berumur 13 tahun itu ketika ia masih kecil.

Fatimah tersenyum, “Menjadi seorang pilot.”

Advertisements

3 thoughts on “Anak-Anak yang Dibesarkan dalam Kebencian

  1. Assalamualaikum mbak, perkenalkan saya bima dari Karanganyar, Jateng. Saya mencari buku Journey To Iran dan Pelangi di Persia di toko2 buku sudah tidak ada dan saya kesulitan dmn lg saya harus mencari, ini untuk keperluan tugas kuliah Sejarah Perkotaan, mengambil kota Teheran, mbak. Maka dari itu saya email mbak untuk memesan 2 buku tersebut apakah masih ada. Saya sangat butuh untuk keperluan tugas, deadline tugas tsb tgl 26 November 2014 atau rabu minggu depan maka dari itu saya harus segera mendapat buku tsb.Ini alamat saya Jl.Tengger B2/7 Perumahan Josroyo Indah, Jaten, Karanganyar, Jateng-57771. CP saya 089710129132, jika ada mohon saya dihubungi mbak. Terima kasih

  2. Bunda… (boleh kah saya menyebut anda bunda?!) Saya menangis baca artikel yang ini. Di kalangan teman-teman saya sendiri pun mulai sering terjumpai pemikiran-pemikiran yang kaku serta keras, menunjukkan keengganan untuk mengikuti ulama dan menyatakan pentingnya untuk mampu berijtihad sendiri. Bahkan kalau sudah mulai parno, kadang nama-nama alias dengan kata depan ‘abu’ sudah membuat saya cemas duluan….
    Ah semoga Allah senantiasa menjaga Indonesia ini. Aamiin.
    Kalau peristiwa Charlie Hebdo saja digadang-gadang menunjukkan tajamnya pena, mengapa umat Islam justru memilih cara ‘barbar’ sebatas angkat senjata?!

    PS: Saya pembaca baru di blog bunda, tapi rasanya nama bunda cukup familiar. Kalau tidak salah memang pernah membaca nama bunda dalam kaitan pro syiah, ‘seangkatan’ dengan nama-nama Haddad Alwi dan Haidar bagir sepertinya 😀
    Semangat, Bun!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s