Cerita dari Stand By Me Doraemon

reza panahanAkhirnya, Kamis kemarin kesampaian juga nonton film Stand By Me Doraemon, setelah berkali-kali didesak Reza. Bioskopnya di Blitz, Paris van Java, mall mewah yang letaknya jauh banget dari rumah. Ampun dah. Mana harganya mahal amir. Berdua dengan Reza, tiket plus popcorn dan minuman, habis 145rb. Kalo ditambah tiket kereta dan angkot dan jajanan lain, totalnya, melayang Rp200rb lebih. Rasa bersalah agak menyergap saya. Saya bukan sok zuhud, tapi ini efek penelitian saya yang seputar pangan, neolib, dan kemiskinan di Indonesia; jadi eneg rasanya melihat semua kemewahan di mall-mall mewah. Saya bagai sedang berada di planet antah berantah. Kok bisa orang jualan dan beli barang-barang super mahal begitu..? Sweater anak kecil di sebuah etalase tertera harga 500rb lebih. Ckckck…

Paling asyik itu ke Jatos, mall di Jatinangor, dekat kampus-kampus, yang kayaknya memang didesain untuk kalangan sederhana dan mahasiswa, harga-harganya ga mahal, serasa di kampung sendiri, bukan di planet asing. Sayang film Doraemon ga diputar di Jatos.

Setelah ngantri setengah jam lebih (gile, rame banget yang nonton; ini antrian khusus film Doraemon aja lho, penonton film lainnya ngantri di tempat lain lagi), alhamdulillah dapat tiket. Masih ada waktu untuk sholat zuhur. Saya dan Reza buru-buru ke masjid. Bukan apa-apa, saya emang lagi nadzar, sholat tepat waktu plus sholat-sholat sunnah-nya, selama 7 hari berturut-turut. Selama ini nadzar itu tak tertunaikan, karena belum genap 7 hari, ada saja yang terlewat. Hari ini, hari ke 5. Mudah-mudahan bisa tamat sampai 7 hari. (Nadzar biar lulus ujian prelim..hwaaa.. itu ujian tersulit dalam hidup saya.. mission impossible rasanya. Bayangkan, dalam 2,5 jam (dikali 4 sesi, artinya 10 jam), saya harus menulis jawaban dari sekian banyak pertanyaan, dengan tulisan tangan, dan jawaban yang harus ditulis itu banyaaaak.. banget. Maksud saya, 1 pertanyaan itu harus dijawab dengan seluas-luasnya dan detil, minimalnya 1 soal dijawab dengan 2-3 halaman folio bergaris. Saya sudah lama nggak nulis tangan, terbiasa ngetik, jadi selain persoalan menjawabnya –lebih banyak yang lupa, daripada yang inget—juga ada masalah menulis… saya nggak bisa nulis cepat. Ujian kali pertama, saya ga lulus. Ujian kedua kalinya, setelah nadzar, tahajud, puasa, minta doa dari sana-sini, berdiskusi berjam-jam dengan sobat saya yang dosen HI, latihan menulis di kertas folio, akhirnya lulus juga…fyuuuh….)

Habis nonton, saya ngetes Reza, apa yang dia tangkap dari film itu?

Reza terdiam.

Saya pancing. “Nobita kan lelet, pelupa, ga pinter, lemah… trus masa depannya jelek ya? Miskin, .. trus..?”

“Kawin sama Jaiko,” sambung Reza sambil tertawa. [jadi, Nobita dengan bantuan Doraemon bisa melihat masa depannya, yang ternyata suram banget. Antara lain, ternyata di masa depan ia menikah dengan Jaiko yang galak, padahal Nobi kan cintanya sama Shizuka yang manis. Nobita menangis, tapi kemudian diberi tahu bahwa dia bisa mengubah masa depannya.]

“Nobita tadinya masa depannya suram ya? Miskin, gagal. Tapi, masa depan itu bisa diubah. Ya kan?” pancing saya lagi.

“Iya.. kayak tulisan di toilet tadi ya Mi, jangan katakan gimana nanti, tapi katakan nanti gimana,” jawab Reza spontan.

Oh, saya sekilas juga melihat tulisan di toilet itu, ga nyangka Reza memperhatikan. Tulisan itu terpampang besar-besar di toilet yang luas dan mewah itu.

“Makna kalimat itu apa?” kejar saya.

Reza terdiam sejenak.

“Orang yang berkata gimana nanti, artinya dia nggak memikirkan masa depannya. Orang yang berkata nanti gimana, berarti orang itu mulai memikirkan masa depannya,” kata Reza.

Karena salah satu ‘kekurangan’ Reza saat ini adalah di fisiknya yang ‘lemes’ [dia males olahraga, disuruh ikut bela diri ga mau; dia maunya cuma renang dan panahan—padahal kami sulit mengantarnya secara rutin..kalau les karate kan bisa di deket rumah aja], langsung saya ‘sambar’ deh…

”Nah.., kalau Reza ingin jadi orang kuat di masa depan, bisa membela kebenaran…berarti harus gimana hari ini?”

“Olahraga…,” jawab Reza.

“Ikut les karate yuk?”

“Gak mauuuuu…! Aku kan pinginnya jadi intel, jadi aku olahraganya jogging aja, kan kalau aku dikejar penjahat aku bisa lari dengan cepat!”

*tepok jidat*

Komentar saya tentang filmnya.. mmm.. biasa aja.. nggak heboh kayak yang diceritain orang di internet (kan ada yang bilang mengharukan, sampai musti siap-siap tisu. Saya lupa bawa tisu, trus kata Reza, ntar kalau aku nangis, dilap pake lengan baju aja ya? Saya sih ga terharu sama sekali, tapi Reza bilang dia sempat sekali hampir nangis.). Trus, padahal kami kan nonton yang 3D, ternyata ga terlalu exciting, ga jauh beda dengan bioskop biasa.  Reza pun nggak banyak ngobrol di rumah soal film itu. Biasanya, kalau dia terkesan sesuatu, baik film atau buku, dia gak habis-habisnya berceloteh. Buat saya, jauh lebih seru film How to Train Your Dragon. 🙂

7 thoughts on “Cerita dari Stand By Me Doraemon

  1. “Orang yang berkata gimana nanti, artinya dia nggak memikirkan masa depannya. Orang yang berkata nanti gimana, berarti orang itu mulai memikirkan masa depannya,” kata Reza.

    Reza cerdas!

  2. ah reza… persis mamanya..:)

    btw.. dian juga bingung perihal terharu dan sedih tuh film. soalnya dian malah merasa film itu gak cocok utk anak2. lebih cocok buat mantan anak2 penggemar doraemon kayak dian..hehehe

    tapi si kak billa nangis tersedu2…sampe dian kira dia kejepit sesuatu..hihihi..

    • wow.. apa reaksi anak perempuan memang beda ya sama anak laki-laki.. Kalo Reza malah ga terkesan.. mungkin karena jalan ceritanya terlalu dewasa.. si Nobi mikirin nikah sama Shizu melulu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s