Bingkisan Natal

farmerboySuatu hari…

Reza: Ummi, orang-orang di gereja itu ngapain aja?

Saya: Yaaa.. denger ceramah dari pendeta.

Reza: Trus, waktu dengerin ceramah, mereka nggak boleh ngapa-ngapain ya?

Saya: Maksudnya?

Reza: Iya, harus duduk diam, ga boleh gerak sedikitpun.

[Rupanya ini efek baca buku Anak Tani (Farmer Boy), Laura Ingalls Wilder, di situ kan diceritakan tentang Almanzo yang pergi ke gereja dan anak-anak disuruh duduk tenang selama di dalam gereja :D]

Hari lain…

Reza: Ummi, nanti tanggal 25 Desember kita merayakan Natal kan?

Saya: Emmm.. Natal itu perayaan orang Kristen. Kita kan muslim, jadi engga merayakan Natal…

[terlihat agak kecewa.. mungkin dipikirnya, seru, ada pohon kelap-kelip, ada hadiah, seperti yang dibacanya di buku-buku itu].

Saya: Mmm.. gimana kalau Reza menyediakan hadiah saja, buat kak Maria [bukan nama asli], tetangga kita, kan dia merayakan Natal?” kata saya.

Reza: [Wajahnya ceria kembali] Ya, nanti bungkus kadonya yang gambar pohon Natal, aku lihat dijual di warung.

Saya: Ok, nanti kita beli kadonya.

Kak Maria masih mahasiswi. Ia yatim piatu. Beberapa tahun yll, sebelum ibunya meninggal dunia, rumahnya pernah diserbu oleh beberapa ormas Islam *you know who*. Di kompleks perumnas kami [yang konon terdiri dari 10.000 unit rumah], ormas itu direncanakan menggerebek sekitar 7 rumah yang digunakan umat Kristiani untuk ‘pengajian’. Alasannya, “Ngapain bikin ‘pengajian’ di wilayah Muslim, mana jamaahnya juga bukan orang kompleks, tapi datang dari tempat-tempat jauh!”

Sebelum mereka datang ke rumah kak Maria, pengurus masjid kami segera datang untuk mengupayakan agar tidak ada kerusuhan. Intinya, ibunya kak Maria mau tanda tangan surat perjanjian, gak akan bikin ‘pengajian’ lagi di rumahnya yang sangat sederhana itu. Nah, ketika para aktivis ormas itu datang, bapak-bapak pengurus masjid langsung menenangkan. Intinya, udah, kagak usah digerebek, penghuni rumah ini sudah ‘dijinakkan’. Tapi entah mengapa tetap ada konflik, pagar dirusak, dan properti di dalam rumah juga ada yang dirusak.

Setelah kejadian itu, rasanya, saya malu saat ketemu dengan ibunya Kak Maria. Kok tega sih mereka bertindak kasar gitu ke janda, yang menanggung kehidupan anak-anak yatim? Lha kalau ibunya kak Maria bikin “pengajian” tiap hari Ahad pagi di rumahnya, apa salahnya? Toh dia juga bersabar setiap dini hari sejak jam 3 pagi mendengarkan suara-suara keras dari masjid?

Apa mereka itu gak pernah baca ya, kisah tentang Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang setiap malam mendatangi rumah janda miskin Nasrani untuk membawakan makanan? Beliau saat itu menjadi Khalifah di Kufah. Dengan mengaku bernama Illiya, Sayyidina Ali membantu memasak, lalu bermain bersama Maria, anak si janda miskin itu. Maria benar-benar bahagia, menemukan kembali sosok ayah yang menyayanginya. Hingga suatu malam, Maria menunggu-nunggu kedatangan Illiya, namun pintu rumah mereka tak kunjung diketuk. Esoknya, Illiya juga tak datang. Ibu Maria akhirnya mengetahui bahwa Illiya ternyata adalah Khalifah Ali dan saat itu terbaring sakit karena kepalanya ditikam pedang oleh seorang muslim [yang merasa sedang berjihad dengan cara membunuh Ali]. Maria pun disuruh ibunya untuk mengantar semangkuk susu ke rumah Sayyidina Ali. Sampai di sana, Maria mendapati, anak-anak yatim berbaris panjang untuk mengantarkan susu kepada ‘ayah’ mereka. Tapi, sang ayah, Illiya, Sayyidina Ali, tak pernah bisa mereguk susu itu karena akhirnya beliau meninggal dunia.

Balik lagi ke kado. Saya akhirnya membeli sekotak biskuit untuk Kak Maria. Etapi barusan pas mau dianter, ada kabar dia lagi ke Jkt sampai tahun baru. Ya udah deh, nanti saja dikasihkan. Saya juga beli sedikit sembako dan kue-kue untuk bu Grace [bukan nama sebenarnya], orang Tionghoa yang kondisi ekonominya agak kurang, tetangga saya. Kemarin, waktu Idul Adha, bu Grace yang ‘menyelamatkan’ daging kurban jatah keluarga kami. Sebelumnya, beberapa kali jatah daging saya lenyap diklaim orang. Tapi sejak bu Grace yang mengurus, aman deh. Dia menyimpankan daging itu sampai kami tiba dari luar kota (mudik).

Ada rasa canggung, saat menyerahkan bingkisan itu. Saya sudah 8 tahun bertetangga dengan bu Grace, kok baru sekarang ‘nyadar’ (itupun setelah ditanya-tanya oleh Reza). Tapi bu Grace yang ramah mencairkan suasana. Kami ngobrol ke sana-sini, termasuk berbagi resep ayam bakar (rekomendasinya buat saya, untuk hidangan tahun baruan) dan mendoakan saya supaya rizki saya lancar. *Amiiiin*

Sementara, doa saya dalam hati untuk Reza, semoga engkau kelak menjadi pemimpin muslim yang memegang teguh imanmu, Nak, tapi tetap welas asih kepada semua orang, apapun agamanya.

3 thoughts on “Bingkisan Natal

  1. Berlinang air mata saya bacany, mba. Hiks… Hiks… *usap air mata* Anw, bila berbicara tentang welas asih, saya selalu senang dgn kisah Rasulullah. Dia kerap menyuapi Yahudi buta. Tidak hanya menyuapi, dia juga melembutkan dulu makanan yang akan disuapi dengan cara mengunyahnya terlebih dahulu. Baru disuapi ke Yahudi buta tersebut. Padahal, sang Yahudi buta itu selalu memaki-maki Rasul dan menyuruh orang2 menjauhi ajaran Muhammad. Tapi tetap saja Rasul menyuapinya hingga beliau wafat. Duh, indahnya… *berlinang air mata lagi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s