Hidup Tanpa Berita

sumber foto: wldywjbl.co

sumber foto: wldywjbl.co

Akhir-akhir ini berita nasional semakin membingungkan. Untuk satu isu yang sama, beberapa media akan memberitakan dengan cara yang berbeda, bahkan ada yang benar-benar bertolak belakang. Preferensi politik sangat berpengaruh pada penulisan berita. Khusus media-media tertentu yang hobi sekali memfitnah dan membuat berita dengan judul sangat negatif (dan dengan cara itu mereka mendapat trafik tinggi), sudah pasti tidak akan saya klik (bukan karena saya pro ini atau itu, karena amit-amit, saya dulu juga pernah jadi korban media-media pemfitnah itu, pantang buat saya mengklik situs-situs itu). Tapi sayangnya saat saya buka FB, ada saja orang-orang yang share berita-berita dari situs-situs itu. Sering, kalau orangnya tidak saya kenal (dari 4800-an friend FB saya, sebagian besar sebenarnya tidak saya kenal secara pribadi), saya langsung unfriend. Amit-amit lah berteman sama penggemar situs-situs buruk itu. Kalau kenal, ya sudah, unfollow saja, beres.

Masalahnya, berita-berita terus membanjir. Suami saya karena keperluan pekerjaannya, rutin beli koran dan terkadang buka TV untuk mengikuti perkembangan (padahal kami sudah komitmen ga nonton TV, tapi suami berkali-kali melanggarnya, duh). Karena ruang tengah kami sekaligus ruang kerja, mau tak mau saya ikut mendengar/nonton sesekali. Saya juga entah mengapa buka FB berkali-kali, padahal sudah tahu, pastilah wall penuh dengan berita. Rasanya muak sekali. Karena saya pada dasarnya penulis, saya jadi terstimulasi ingin menulis artikel soal politik nasional, terutama karena saya merasa tahu beberapa hal.  Cuma, waduh, sudah terlalu banyak yang bersuara, terlalu berisik.

Tapi bisakah kita hidup tanpa berita? Lalu, adakah manfaatnya menjauhkan diri dari berita? Awalnya saya pikir, tak mungkin. Bagaimana mungkin saya bisa menganalisis sesuatu kalau tidak mengikuti berita? Tapi, setelah membaca artikel ini ternyata, SANGAT MUNGKIN hidup tanpa berita. Berikut ini bukan terjemahan utuh, tapi saya tulis ulang yang menarik buat saya saja:

1. Berita bagi pikiran sama seperti gula untuk tubuh (gula adalah zat yang berbahaya untuk tubuh). Media memberi kita “makanan” yang mudah dicerna, yang tidak memerlukan banyak pemikiran, dan sebenarnya tidak terlalu terkait dengan kehidupan nyata kita. Tidak seperti membaca buku atau artikel panjang di majalah (yang memerlukan pemikiran), otak kita bisa menelan berita-berita singkat yang tak terbatas, bagaikan makan permen (dan terlalu banyak makan permen, tentu bikin diabetes, obesitas, dll)

2. Berita membuat pikiran kita salah fokus. Karena media butuh uang, maka mereka memproduksi berita yang “menarik” tapi tidak relevan buat kehidupan kita. Misalnya, saat ada kecelakaan pesawat, yang banyak disorot adalah manusianya (korban, keluarga korban, atau pejabat berwenang). Kita pun terus-menerus sibuk mengikuti apa yang disuapkan media kepada kita. Padahal yang relevan adalah masalah struktural: apa penyebab terjadinya kecelakaan, dan bagaimana langkah pemerintah utk mencegahnya terulang. Tapi berita pertama lebih murah untuk dibuat, berita kedua membutuhkan investigasi (dan mungkin akan ditekan sana-sini oleh pihak-pihak berduit yang takut dirugikan oleh berita investigasi). Salah fokus seperti ini, kalau dibiasakan, tentu akan berimbas dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan menganalisis, dll.

3. Berita itu tidak relevan dengan kehidupan. Coba sebutkan, dari sekitar 10.000 berita yang Anda baca dalam 12 bulan terakhir, ada berapa berita yang memungkinkan Anda untuk membuat keputusan yang lebih baik bagi hal-hal yang serius dalam kehidupan Anda (karir/bisnis). Umumnya, orang-orang sulit untuk mengenali apa yang relevan; mereka lebih mudah mengenaliapa yang baru”. Media ingin Anda percaya bahwa berita memberikan keunggulan kompetitif (jadi, kita merasa rugi kalau “ketinggalan berita”.. kuatir dianggap gak gaul, atau ga update).

Padahal, semakin sedikit berita yang Anda konsumsi, semakin besar keuntungan yang Anda miliki. Kenapa? Jawabannya: baca poin 1-2 di atas, dan poin 4-5 di bawah ini.

4. Berita membawa emosi negatif. Karena media memilihkan berita-berita yang “menarik” (baca poin 2), sistem limbik terpicu. Berita-berita yang membuat gusar (hayo, ngaku, ngikutin berita KPK vs Polri, pasti pada gusar kan? tapi kegusaran ini mendatangkan profit bagi media; mereka akan terus menulis berita dg angle yang bikin orang tambah gusar dan tambah penasaran) akan memacu pelepasan glukokortikoid (kortisol). Hal ini membuat sistem kekebalan tubuh menurun dan menghambat pelepasan hormon pertumbuhan. Dengan kata lain, tubuh Anda akan stres kronis. Tingkat glukokortikoid yang tinggi menyebabkan gangguan pencernaan, kurangnya pertumbuhan (sel, rambut, tulang), gugup, dan rentan terhadap infeksi. Potensi efek samping lainnya: rasa takut, agresi, tunnel-vision and desensitisation (mbuh, terjemahannya apa).

5. Berita menghambat pikiran. Berpikir membutuhkan konsentrasi. Konsentrasi membutuhkan waktu lama yang tidak diganggu apapun. Tapi, berita-berita singkat secara khusus dirancang untuk mengganggu Anda. Mereka seperti virus yang mencuri perhatian untuk tujuan mereka sendiri. Berita membuat kita menjadi pemikir dangkal. Yang lebih parah lagi, berita sangat mempengaruhi memori.

Ada dua jenis memory (ingatan): jangka panjang dan pendek. Ingatan jangka panjang hampir tak terbatas, tapi daya kerjanya terbatas. Jalur dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang disebut choke point”; jika lorong ini terganggu, informasi yang didapat tidak akan masuk ke ingatan jangka panjang. Tak heran kalau kita ini sering pelupa. Padahal baru beberapa bulan yang lalu kita masih heboh ngata-ngatain si X (karena media membanjiri kita dengan keburukan-keburukan si X), eh, sekarang lupa lagi dan malah memuji-muji si X. Tak heran banyak politisi yang tebal muka. Mereka tahu, nanti saat pemilu, masyarakat lupa lagi pada kesalahan-kesalahan mereka.

Karena berita mengganggu konsentrasi, pemahaman kita pun melemah. Berita online memiliki dampak yang lebih buruk. Dalam sebuah studi yang dilakukan dua pakar di Kanada tahun 2001, disebutkan bahwa pemahaman menurun ketika jumlah hyperlink dalam dokumen meningkat. Mengapa? Karena setiap kali link muncul, otak Anda terpaksa membuat pilihan (mengklik, atau mengabaikan), yang dengan sendirinya mengganggu. Berita adalah sistem gangguan yang disengaja.

Masih banyak lagi yang lain: News has no explanatory power, News increases cognitive errors, News works like a drug, News wastes time, News makes us passive, News kills creativity (silahkan baca sendiri di artikel aslinya)

Lalu, apakah kita benar-benar tidak butuh jurnalisme? Ini jawabannya (paragraf akhir dari artikel tsb):

Masyarakat membutuhkan jurnalisme, tetapi dalam bentuk yang lain. Jurnalisme investigatif selalu relevan. Kita memerlukan berita yang mengawasi birokrasi/pemerintahan, dan mengungkapkan kebenaran. Tetapi, penemuan-penemuan penting ini tidak harus selalu berbentuk berita. Artikel jurnal yang panjang dan buku yang mendalam (pembahasannya), juga bagus.

Saya telah melalui empat tahun tanpa berita, jadi saya bisa melihat, merasakan, dan melaporkan efek dari ‘bebas dari  berita’ ini secara langsung: gangguan berkurang, kecemasan berkurang, mampu berpikir lebih dalam, lebih banyak waktu, dan lebih berwawasan. Hal ini tidak mudah dilakukan, tetapi berharga.

Kontemplasi pribadi:

Seorang psikolog teman saya pernah bilang sekilas bahwa acara XXX di tivi itu membawa emosi negatif, karena kita yang nonton jadi sebel melihat si pembicara berkoar-koar, tapi kita (rakyat biasa), tidak bisa berbuat apa-apa kecuali ngomel sendiri. Cocok dengan isi artikel ini. Selain itu, saya akhir-akhir ini merasa tambah bodoh, nulis artikel jurnal gak beres-beres, padahal segitunya sudah dibimbing cuma-cuma oleh teman saya yang PhD-nya dari Jepang. Dulu saya berhasil bikin draft proposal disertasi juga musti bolak-balik mohon petunjuk sobat saya D yang baik hati; dia dengan bermurah hati membaca text book utama yang saya pakai, lalu menjelaskan ulang ke saya… Subhanallah, terima kasih ya Allah, saya dikasih teman-teman sebaik ini..tapi astaghfirullah..pasti ada yang salah kenapa kok saya jadi bego begini. Sepertinya, sekarang saya sudah menemukan sebabnya.

Bismillah, saya akan mengurangi membaca berita, seminimal mungkin.

 

Catatan: mohon maaf untuk teman-teman yang bekerja di bidang pemberitaan.. sama sekali tidak ada niat merendahkan lho.. setiap orang punya jalan hidup sendiri-sendiri kan? Semoga Allah memudahkan kehidupan kita semua, amiiin… 🙂

Tentang Cinta (Untuk Putriku)

sumber foto:www.hdwallpapers.in

sumber foto:www.hdwallpapers.in

Kirana, Mama senang sekali membaca tulisanmu tentang matematika di blogmu. Di situ kamu menyertakan youtube TEDx Sudjiwo Tedjo yang memberimu inspirasi soal hakikat matematika. Ok, Mama setuju bagian itu memang inspiratif. Tapi, ada bagian dari orasi ST yang menggelitik hati Mama (mulai menit ke-14). Tentang cinta.

ST bilang (kurang-lebih), ketika seseorang bisa meneruskan kalimat ini, “Aku mencintainya karena…”, maka sesungguhnya dia tidak sedang mencintai. Mencintai itu tidak butuh alasan. ST bahkan mencontohkan ayam: “Pernah nggak ayam nanya sebelum kawin, bapakmu siapa, keturunan dari mana..?” Menurut ST, cinta yang butuh alasan itu bukan cinta, tapi kalkulasi.

ST juga bilang, cinta itu tak perlu pengorbanan. Karena, kalau seseorang masih merasa berkorban untuk pasangannya, pastilah dia tidak cinta. Kalau cinta, pastilah dia akan melakukan apapun tanpa merasa berkorban. Di sini ST bermain di kata ‘merasa’. Tapi dia tetap mencontohkan adanya pengorbanan: “hujan-hujanan demi sang pacar”. Wujud pengorbanannya ada, tapi ketika engkau “merasa” berkorban, maka itu bukan cinta.

Bahkan ST menyatakan sangat salut pada istri-istri yang tetap setia ketika suami mereka ditahan akibat narkoba (kalimat ini tentu setara dengan: salut pada istri-istri yang setia ketika suaminya dipenjara karena korupsi, menipu, menggebuki, dll.).

Putriku, ada beberapa kesalahan logika dalam kalimat-kalimat ST di atas.

Pertama, sungguh, cinta itu pasti butuh ‘karena’ yang  baik-baik;  itu adalah sesuatu yang alami dan fitrah. Fitrah manusia menyukai keindahan, kecantikan, tutur kata yang manis, kesalehan, dll. Tapi terkadang, fitrah itu tertutupi oleh banyak ‘tipuan’ mata. Itulah sebabnya seorang gadis perlu izin dari orang tuanya saat ia hendak menikah. Mata orang yang jatuh cinta seringkali kabur dan tak bisa melihat hakikat. Itulah sebabnya, seorang gadis perlu percaya penuh pada orang tuanya (dan orang tua juga perlu konsisten antara kata dan perbuatan agar dipercaya oleh anak-anaknya).

Istri tetap cinta, meski suaminya narkoba? Oh no. Seandainya si suami juga mencintai istrinya, dia pasti akan menghentikan kebiasaan buruknya itu. Kecanduan apapun itu bisa disembuhkan, dengan tekad kuat. Istri memang perlu membantu suaminya bila tersandung sesuatu keburukan, dengan catatan, si suami memang berjuang keras untuk meninggalkan keburukan itu. Bila terus-menerus menyerah pada kecanduan, apakah itu cinta?

Ingat ya Nak, cinta itu harus membahagiakan, bukan menyakitkan. Kalau menyakitkan, itu bukan cinta.

Terkadang, dalam rumah tangga, ada momen-momen menyakitkan, ketersinggungan, kemarahan. Tapi bila benar cinta, kedua pihak akan saling terbuka membicarakan segala sesuatunya, memperbaiki sikap-sikap yang buruk dan menyakitkan. Kalau salah satu tetap egois mempertahankan sikap buruknya, itu bukan cinta.

Kedua, menikah itu harus dengan ‘karena’. Kenapa? Karena kita bukan ayam. Rasulullah pun bersabda, “Engkau menikahi perempuan dikarenakan harta, kecantikan, keturunan, dan agamanya. Jika tidak engkau dapatkan [keseluruhannya], nikahilah karena agamanya, maka engkau akan selamat.”

Hadis ini juga berlaku untuk perempuan. Carilah suami yang kaya, ganteng, keturunan orang baik-baik, dan soleh. Kalau engkau berhasil mendapatkan 4 kriteria ini dalam sosok calon suamimu, wow, Mama akan sujud syukur. Tapi bila tidak, yang penting, lihatlah agamanya (tapi hati-hati Nak, banyak yang keliatan soleh tapi aslinya mengerikan).

Cinta itu tidak hanya melibatkan hati, tapi juga akal. Itulah cinta yang berpikir. Penulis blog kesukaanmu, Ellen Kristi pernah menulis buku “Cinta yang Berpikir.” Bahkan cinta ibu kepada anaknya pun butuh kalkulasi, butuh akal pikiran, butuh rasionalitas. Contoh, kalau ibu selalu menuruti apa mau anaknya, baik-atau buruk dituruti semua, itu bukan “cinta yang berpikir” namanya.

Ketiga, cinta itu HARUS berkorban, demi kebahagiaan kedua pihak, suami dan istri. Ketika seorang suami kecanduan narkoba, jika ia benar mencintai istrinya, dia harus berkorban untuk tak lagi menyentuh barang haram itu. Itu pengorbanan besar, perjuangan berat. Tapi bila dia benar cinta pada istri dan anaknya, itu akan dia lakukan.

Dalam keadaan ‘baik-baik saja’ pun, cinta butuh pengorbanan. Mama lebih suka berkarir daripada harus di rumah melulu, lebih suka berkutat dengan paper daripada harus menunggui adikmu menggambar atau mendengarkan cerita adikmu. Tahu kan, sikonnya selama ini: Mama baru mengetik satu kalimat, adikmu menyela, “Ma.. liat…liat…!” (sambil memperlihatkan karyanya atau keterampilan sulap terbarunya). Ketika itu terjadi berkali-kali, Mama pun menutup laptop dan memusatkan perhatian pada ‘pertunjukan’ adikmu. Nah, ini pengorbanan.

Atau, kamu ingat kan ketika Mama pergi bolak-balik ke Jakarta untuk melakukan penelitian atas biaya sendiri/tanpa sponsor (yang menurut Papamu ‘tidak perlu’)? Papamu tidak setuju, apalagi begitu banyak uang yang Mama habiskan. Tapi Papamu memahami passion Mama, memahami bahwa Mama memang ingin melakukan penelitian itu. Jadi, meski tak setuju, dia mengizinkan Mama pergi, bahkan memberi uang. Nah, itulah pengorbanan Papa.

ST bermain di kata ‘merasa’: kalau merasa berkorban, maka itu bukan cinta. Ah, kenyataannya tidak demikian. Mama merasa berkorban. Papamu, ketika membiarkan Mama pergi ke Jakarta waktu itu, juga pasti merasa berkorban. Wujud pengorbanan itu ada. Ketika ada, tentu bisa dirasakan.

Bila melakukan sesuatu dengan senang; pasti itu bukan pengorbanan. Misalnya, Mama memang senang makan coklat, lalu Mama dikasih permen coklat. Itu pengorbanan atau bukan? Tentu bukan, kan Mama memang senang makan coklat?

Sebaliknya, Mama tidak suka makan tempe (misalnya -aslinya sih suka banget), tapi Papamu nggak punya uang buat beli ayam atau daging. Akhirnya, Mama makan tempe (meskipun merasa tidak suka). Tapi, Mama bersabar, ikhlas makan tempe, tak mengomeli Papamu yang tak sanggup membelikan ayam. Nah, itu pengorbanan.

Mama melakukannya karena cinta. Papa juga melakukannya karena cinta. Coba kalau Mama tak cinta Papa, pasti Mama akan marah-marah kalau Papamu tak punya duit. Atau, kalau Papamu tak cinta Mama, pasti dia akan marah kalau Mama pergi keluar rumah dan ngabis-ngabisin duit.

Jadi, cinta tidak kontradiktif dengan pengorbanan.

Tapi, itu semua harus ada parameternya. Tidak semua pengorbanan itu baik dan sebangun dengan cinta. Parameternya adalah keridhoan Allah.

Mama berkorban, meninggalkan paper yang terus terbengkalai dan tertunda, apakah Allah ridho? Insya Allah ridho, karena itu Mama lakukan demi pendidikan anak. Apa gunanya Mama sukses nulis paper kalau anak terabaikan?

Papa berkorban membiarkan Mama pergi, meski ia tak suka, apakah Allah ridho? Insya Allah ridho, karena penelitian Mama adalah sesuatu yang memang perlu diteliti demi keilmuan Mama. Papa tidak suka hanya karena ego pribadi. Tapi Papamu berhasil melampaui ego pribadi dan melihat sikon dengan parameter yang benar.

Beda situasinya dengan istri yang terus bertahan mendampingi suami yang tak mau berkorban untuk lepas dari jeratan narkoba, atau suami yang korupsi, atau suami yang gemar memukuli istrinya, tanpa mau datang ke psikolog/psikiater untuk menyembuhkan penyakit ‘suka memukuli’ itu.

Apakah Allah ridho melihat seorang perempuan memaksakan diri untuk mendampingi seseorang yang jelas-jelas membuatnya menderita, sengsara, makan uang haram, dll? Ah, pasti tidak. Allah itu Maha Pencinta, tak mungkin Dia menyuruh kita untuk bertahan dalam kesakitan, meski atas nama cinta. Sekali lagi, cinta itu harus membahagiakan, bukan menyakitkan. Kalau menyakitkan, itu bukan cinta.

Jadi, berhati-hatilah saat menerima doktrin tentang cinta, atau tentang apapun. Selalulah pakai parameter yang benar. Dan jangan pernah ragu untuk mendiskusikannya dengan Mama.

I love you full.

Motivasi Belajar Anak

Ada satu penemuan saya soal motivasi : tanpa motivasi, sulit menyuruh anak belajar (yang saya maksud “belajar” di sini tidak sebatas pelajaran akademik).

Ceritanya, Reza (hampir 9 tahun) pernah saya ikutkan les matematika (itupun atas hasil diskusi dan kesepakatan bersama, saya tidak memaksa). Hanya bertahan sebentar, lalu mulai banyak ulah. Males bikin PR, harus ditegur berkali-kali baru mau mengerjakan, dan sejenisnya.

Kirana memberikan analisisnya: “Aku senang les di ***** karena sangat terbantu mengerjakan pelajaran matematika di sekolah [ketika SD]. Sekarang [homeschooling] aku kan juga bertekad mau cepet selesai SMP-SMA biar cepet masuk universitas. Jadi, aku punya motivasi.”

Adik ipar saya yang guru, dan suami saya,  juga memberikan analisis sama. Intinya, karena Reza tidak menemukan motivasi, makanya males-malesan. “Kalau Reza sekolah, dia akan bersaing dengan temannya, dia merasa kesulitan menjawab ulangan, nah, setelah merasa terbantu oleh les di *****, pastilah dia akan rajin les,” kata ipar saya itu.

Baiklah, jadi PR kami sekarang adalah menumbuhkan motivasi belajar Reza. Langkah awal (dan sebenarnya sudah sejak lama dilakukan) tentu saja mengajaknya diskusi, buat apa sih belajar? Nanti di masa depan apa yang ingin Reza lakukan? Atau, saat dia bercerita “Aku ingin jadi koki dan punya restoran”, saya langsung nembak “Kalau punya restoran musti pinter ngitung duit dong… Kira-kira biar pinter ngitung, musti belajar apa..?”

Langkah kedua: “memaksa” untuk belajar. Saya bilang, “Baik, Reza mau berhenti les, padahal Ummi udah bayar mahal. Jadi Ummi rugi uang nih. Penggantinya apa?” Reza dengan rasa bersalah, berjanji akan belajar di rumah dengan teratur. Selama ini memang belajarnya semaunya saja, dan yang dipelajari juga semaunya. Kadang bisa seharian mempelajari google sketchup, atau origami, atau sekedar baca novel. Saya pun membuat jadwal belajar untuk Reza.

Untuk matematika, Reza belajar dari IXL.com. Sebenarnya sudah lama kami berlangganan IXL, tapi dulu dia males-malesan banget. Sekarang, setelah “dipaksa” teratur, dia bisa duduk tenang selama 1 jam mengerjakan assignment di IXL. Awalnya, tentu saja saya musti full duduk di sebelahnya (sementara Reza kayak cacing kepanasan, ingin segera kabur), memberi semangat dan pujian, menyabarkannya ketika dia merasa kesulitan. Lama-lama, keyakinan dirinya bertambah. Bagusnya, IXL memang diprogram untuk memancing motivasi, misalnya dengan memberikan hadiah dan pujian. Sekarang Reza sudah betah dan bisa belajar sendiri via IXL.

Untuk bahasa Inggris, Reza belajar dari raz-kids.com.Dorongan untuk naik level membuatnya tekun. Juga, ada pemberian ‘gelar’ (sekarang gelar Reza ‘admiral’.. bangga banget dia). Untuk pelajaran agama, sejarah, sains, nanti kapan-kapan insya Allah saya ceritain.

Untuk pelajaran olahraga, ceritanya lain lagi. Awalnya, kami piknik bersama kakak dan adik-nya suami. Reza dan sepupunya, Fadli, main bulutangkis (dan tentu saja sepupunya selalu menang). Suami saya mendorong Reza untuk ikut les. Dan, Reza menemukan motivasinya sendiri: aku mau les biar pinter bulutangkis supaya bisa mengalahkan Fadli!

Awalnya Reza tentu saja bersemangat (karena motivasinya masih kenceng). Karena kuatir dia kehilangan motivasi, kami terus mengajaknya diskusi, betapa baiknya ikut les bulutangkis: tambah tinggi, ototnya jadi kekar, nanti bisa jadi pemain internasional, dst.

Menjelang berangkat, saya benar-benar melayaninya dan berkata, “Mama bangga sama Reza, yang giat berbuat baik, menjaga kesehatan dengan cara berolahraga.” [catatan: dulu Reza memanggil saya Ummi, sekarang udah balik lagi ke Mama 😀]

Reza: Papa juga bilang, manfaat bulutangkis itu, aku bisa naik pohon yang tinggi karena tanganku jadi kuat. Dulu kan papa suka latihan bulutangkis, jadi papa bisa memanjat pohon kelapa… Kalau ada tamu, papa yang memanjat dan mengambil buah kelapa untuk tamu…” [dst.. saya ngobrol ke sana-sini, membesarkan hatinya]

Saat dia pulang dalam kondisi kelelahan, saya sambut dengan penuh antusias. Pokoknya, saya berusaha menciptakan sikon bahwa bulutangkis itu sesuatu yang penting dan berharga buat Reza. Saya ‘merumuskan’ 6 langkah untuk memotivasi belajar anak, saya adaptasi dari artikel di scholastic.com:

  1. Penuhi dunia anak dengan buku; buku yang bagus akan membuka wawasan, inspirasi, dan memancing motivasi anak untuk melakukan sesuatu.
  2. Dorong anak untuk mengekspresikan pendapat, perasaan, dan biarkan ia melakukan pilihan-pilihan. Tapi kalau sudah memilih, upayakan agar ia konsisten.  Ortu perlu membantu anak untuk konsisten, bukan sekedar nyuruh-nyuruh, lalu ngomel ketika anak tidak berhasil konsisten. Kasih batas waktu, bila setelah 6 bulan berusaha, anak memang tidak betah, ya sudah, jangan dipaksa lagi. Misalnya, untuk les bulutangkis, saya sejak awal sudah sampaikan, biaya les, beli raket, sepatu, baju, itu lumayan mahal. Reza harus berjanji untuk konsisten (rajin pergi les).
  3. Tunjukkan antusiasme pada ketertarikan anak dan dorong dia untuk mengeksplorasi topik yang ia sukai. Misalnya, karena Reza tertarik pada membuat komik, saya berusaha mengapresiasi saat Reza menunjukkan karyanya, lalu mendiskusikannya (tidak sekedar ngomong “bagus!”), membelikan komik-komik yang bagus (saya hati-hati banget memilihkan komik untuk Reza karena banyak komik yang menyelipkan pornografi), mendiskusikan isinya, mengapresiasi gambar-gambar dalam komik itu, dst.
  4. Tunjukkan bahwa ibu-ayah juga selalu antusias saat menemukan hal baru. Misalnya, saat browsing ketemu artikel tentang ‘cara membuat sabun sendiri’, nah tunjukkan segera ke anak-anak, lalu diskusi. [tapi jangan berharap anak selalu antusias menanggapi ya :D]
  5. Rayakan keberhasilan, meskipun kecil. Misalnya: Reza sekarang sudah paham cara menghitung skor pertandingan bulutangkis, wah.. saya langsung angkat jempol, antusias, dan meminta Reza menjelaskan caranya.
  6. Fokus pada kelebihan anak, jangan pada kekurangannya. Reza terkadang agak minder melihat kakaknya yang pinter nulis, main biola dan piano. Saya bilang ke Reza, “Setiap orang punya bakat dan kelebihan sendiri-sendiri. Coba, apa saja kelebihan Reza?” [setelah dia mampu menemukan apa potensi yang dia punya, dorong dan fasilitasi untuk terus mengembangkannya]. Kata guru parenting saya, pantang bagi ortu untuk membanding-bandingkan anak-anak, menyebut-nyebut kelebihan kakak untuk mengkritik adik atau sebaliknya. Kalau itu dilakukan, hasilnya hanya sakit hati dan dendam, yang biasanya terbawa sampai dewasa.

[Parenting] Sirami Anak dengan Cinta dan Pelukan

sumber foto: connectedfamilies.org

sumber foto: connectedfamilies.org

Sebagai ayah dan ibu, pastilah ada masa turun-naik. Masa ketika rasa lelah dan beban berat di benak, membuat kita ingin marah pada dunia. Tapi, seringkali, yang jadi korban justru mereka yang terlemah di rumah: anak-anak. Sering, kita membentak atau mengomeli anak, padahal kalau dipikir-pikir, sumber kekesalan bukanlah anak, tapi masalah lain di luar sana. Perilaku anak hanya memicu kemarahan dan kekesalan yang sedari tadi atau kemarin, tersimpan di benak. Dalam situasi seperti itu, segeralah untuk kembali memeluk mereka, dan katakan cinta… I love you.. bunda sayang banget sama kamu.. kamu permata bunda yang paling berharga.. man dustet doram (bahasa Farsi: i love you)… Kata guru parenting saya: peluk anak-anak perempuan sering-sering, jangan sampai mereka kehausan pelukan dan pingin dipeluk laki-laki yang bukan muhrimnya. Beliau menyebut kasus-kasus anak remaja putri yang kabur dari rumah karena rayuan teman facebooknya adalah berakar dari kurangnya rasa cinta yang dia dapatkan dari ortu. Kini, ada lagi kasus yang sangat tragis. Anak laki-laki kelas 2 SMP bunuh diri.

Di grup WA beredar cerita, bahwa si anak suka membaca manga (komik Jepang) yang mengajarkan ‘bagaimana bunuh diri slow and peaceful’.

Terlepas dari benar atau tidaknya berita ini, ada pelajaran penting yang bisa dicatat:

1. Saya tidak pernah tahu ada manga seperti ini. Tapi Komik Jepang memang banyak yang saya temukan mengandung pornografi, bahkan termasuk Doramenon. Saya selalu seleksi dulu komik Doraemon sblm memberikan ke Reza. Gambar Shizuka yang enggak pakai baju atau roknya tersingkap, saya robek, atau kalau bisa ditutup dengan selotip warna.

2. Lalu, beredar lagi pesan di WA, konon tanggapan dari Ibu Elly Risman. Intinya: jangan salahkan Manga! Banyak ortu yang tak sadar betapa kejamnya mereka pada anaknya sendiri. Kasus-kasus yang dihadapi Yayasan Kita dan Buah Hati menunjukkan besarnya tendensi anak-anak yang mau bunuh diri karena merasa tidak berharga, menyesal mengapa dilahirkan, terperangkap seperti dalam selimut tebal, ingin keluar rumah ditabrak truk..dst. Mereka baru berusia 10-14 tahun. Sebabnya, karena kurang perhatian dan kasih sayang, ortu mau menang sendiri, anak-anak tak pernah didengarkan dst.

Dan saya teringat pada ucapan bu Elly Risman dalam salah satu seminarnya, dia mengucapkan sambil menahan tangis. Kurang -lebih begini katanya,  Allah sudah menitipkan anak kepada kita, pikirkanlah, kelak anak-anak itu akan kita kembalikan kepada Allah dalam keadaan apa..?

NB: artikel ini versi editan by 5/2/2015