Tentang Cinta (Untuk Putriku)

sumber foto:www.hdwallpapers.in

sumber foto:www.hdwallpapers.in

Kirana, Mama senang sekali membaca tulisanmu tentang matematika di blogmu. Di situ kamu menyertakan youtube TEDx Sudjiwo Tedjo yang memberimu inspirasi soal hakikat matematika. Ok, Mama setuju bagian itu memang inspiratif. Tapi, ada bagian dari orasi ST yang menggelitik hati Mama (mulai menit ke-14). Tentang cinta.

ST bilang (kurang-lebih), ketika seseorang bisa meneruskan kalimat ini, “Aku mencintainya karena…”, maka sesungguhnya dia tidak sedang mencintai. Mencintai itu tidak butuh alasan. ST bahkan mencontohkan ayam: “Pernah nggak ayam nanya sebelum kawin, bapakmu siapa, keturunan dari mana..?” Menurut ST, cinta yang butuh alasan itu bukan cinta, tapi kalkulasi.

ST juga bilang, cinta itu tak perlu pengorbanan. Karena, kalau seseorang masih merasa berkorban untuk pasangannya, pastilah dia tidak cinta. Kalau cinta, pastilah dia akan melakukan apapun tanpa merasa berkorban. Di sini ST bermain di kata ‘merasa’. Tapi dia tetap mencontohkan adanya pengorbanan: “hujan-hujanan demi sang pacar”. Wujud pengorbanannya ada, tapi ketika engkau “merasa” berkorban, maka itu bukan cinta.

Bahkan ST menyatakan sangat salut pada istri-istri yang tetap setia ketika suami mereka ditahan akibat narkoba (kalimat ini tentu setara dengan: salut pada istri-istri yang setia ketika suaminya dipenjara karena korupsi, menipu, menggebuki, dll.).

Putriku, ada beberapa kesalahan logika dalam kalimat-kalimat ST di atas.

Pertama, sungguh, cinta itu pasti butuh ‘karena’ yang  baik-baik;  itu adalah sesuatu yang alami dan fitrah. Fitrah manusia menyukai keindahan, kecantikan, tutur kata yang manis, kesalehan, dll. Tapi terkadang, fitrah itu tertutupi oleh banyak ‘tipuan’ mata. Itulah sebabnya seorang gadis perlu izin dari orang tuanya saat ia hendak menikah. Mata orang yang jatuh cinta seringkali kabur dan tak bisa melihat hakikat. Itulah sebabnya, seorang gadis perlu percaya penuh pada orang tuanya (dan orang tua juga perlu konsisten antara kata dan perbuatan agar dipercaya oleh anak-anaknya).

Istri tetap cinta, meski suaminya narkoba? Oh no. Seandainya si suami juga mencintai istrinya, dia pasti akan menghentikan kebiasaan buruknya itu. Kecanduan apapun itu bisa disembuhkan, dengan tekad kuat. Istri memang perlu membantu suaminya bila tersandung sesuatu keburukan, dengan catatan, si suami memang berjuang keras untuk meninggalkan keburukan itu. Bila terus-menerus menyerah pada kecanduan, apakah itu cinta?

Ingat ya Nak, cinta itu harus membahagiakan, bukan menyakitkan. Kalau menyakitkan, itu bukan cinta.

Terkadang, dalam rumah tangga, ada momen-momen menyakitkan, ketersinggungan, kemarahan. Tapi bila benar cinta, kedua pihak akan saling terbuka membicarakan segala sesuatunya, memperbaiki sikap-sikap yang buruk dan menyakitkan. Kalau salah satu tetap egois mempertahankan sikap buruknya, itu bukan cinta.

Kedua, menikah itu harus dengan ‘karena’. Kenapa? Karena kita bukan ayam. Rasulullah pun bersabda, “Engkau menikahi perempuan dikarenakan harta, kecantikan, keturunan, dan agamanya. Jika tidak engkau dapatkan [keseluruhannya], nikahilah karena agamanya, maka engkau akan selamat.”

Hadis ini juga berlaku untuk perempuan. Carilah suami yang kaya, ganteng, keturunan orang baik-baik, dan soleh. Kalau engkau berhasil mendapatkan 4 kriteria ini dalam sosok calon suamimu, wow, Mama akan sujud syukur. Tapi bila tidak, yang penting, lihatlah agamanya (tapi hati-hati Nak, banyak yang keliatan soleh tapi aslinya mengerikan).

Cinta itu tidak hanya melibatkan hati, tapi juga akal. Itulah cinta yang berpikir. Penulis blog kesukaanmu, Ellen Kristi pernah menulis buku “Cinta yang Berpikir.” Bahkan cinta ibu kepada anaknya pun butuh kalkulasi, butuh akal pikiran, butuh rasionalitas. Contoh, kalau ibu selalu menuruti apa mau anaknya, baik-atau buruk dituruti semua, itu bukan “cinta yang berpikir” namanya.

Ketiga, cinta itu HARUS berkorban, demi kebahagiaan kedua pihak, suami dan istri. Ketika seorang suami kecanduan narkoba, jika ia benar mencintai istrinya, dia harus berkorban untuk tak lagi menyentuh barang haram itu. Itu pengorbanan besar, perjuangan berat. Tapi bila dia benar cinta pada istri dan anaknya, itu akan dia lakukan.

Dalam keadaan ‘baik-baik saja’ pun, cinta butuh pengorbanan. Mama lebih suka berkarir daripada harus di rumah melulu, lebih suka berkutat dengan paper daripada harus menunggui adikmu menggambar atau mendengarkan cerita adikmu. Tahu kan, sikonnya selama ini: Mama baru mengetik satu kalimat, adikmu menyela, “Ma.. liat…liat…!” (sambil memperlihatkan karyanya atau keterampilan sulap terbarunya). Ketika itu terjadi berkali-kali, Mama pun menutup laptop dan memusatkan perhatian pada ‘pertunjukan’ adikmu. Nah, ini pengorbanan.

Atau, kamu ingat kan ketika Mama pergi bolak-balik ke Jakarta untuk melakukan penelitian atas biaya sendiri/tanpa sponsor (yang menurut Papamu ‘tidak perlu’)? Papamu tidak setuju, apalagi begitu banyak uang yang Mama habiskan. Tapi Papamu memahami passion Mama, memahami bahwa Mama memang ingin melakukan penelitian itu. Jadi, meski tak setuju, dia mengizinkan Mama pergi, bahkan memberi uang. Nah, itulah pengorbanan Papa.

ST bermain di kata ‘merasa’: kalau merasa berkorban, maka itu bukan cinta. Ah, kenyataannya tidak demikian. Mama merasa berkorban. Papamu, ketika membiarkan Mama pergi ke Jakarta waktu itu, juga pasti merasa berkorban. Wujud pengorbanan itu ada. Ketika ada, tentu bisa dirasakan.

Bila melakukan sesuatu dengan senang; pasti itu bukan pengorbanan. Misalnya, Mama memang senang makan coklat, lalu Mama dikasih permen coklat. Itu pengorbanan atau bukan? Tentu bukan, kan Mama memang senang makan coklat?

Sebaliknya, Mama tidak suka makan tempe (misalnya -aslinya sih suka banget), tapi Papamu nggak punya uang buat beli ayam atau daging. Akhirnya, Mama makan tempe (meskipun merasa tidak suka). Tapi, Mama bersabar, ikhlas makan tempe, tak mengomeli Papamu yang tak sanggup membelikan ayam. Nah, itu pengorbanan.

Mama melakukannya karena cinta. Papa juga melakukannya karena cinta. Coba kalau Mama tak cinta Papa, pasti Mama akan marah-marah kalau Papamu tak punya duit. Atau, kalau Papamu tak cinta Mama, pasti dia akan marah kalau Mama pergi keluar rumah dan ngabis-ngabisin duit.

Jadi, cinta tidak kontradiktif dengan pengorbanan.

Tapi, itu semua harus ada parameternya. Tidak semua pengorbanan itu baik dan sebangun dengan cinta. Parameternya adalah keridhoan Allah.

Mama berkorban, meninggalkan paper yang terus terbengkalai dan tertunda, apakah Allah ridho? Insya Allah ridho, karena itu Mama lakukan demi pendidikan anak. Apa gunanya Mama sukses nulis paper kalau anak terabaikan?

Papa berkorban membiarkan Mama pergi, meski ia tak suka, apakah Allah ridho? Insya Allah ridho, karena penelitian Mama adalah sesuatu yang memang perlu diteliti demi keilmuan Mama. Papa tidak suka hanya karena ego pribadi. Tapi Papamu berhasil melampaui ego pribadi dan melihat sikon dengan parameter yang benar.

Beda situasinya dengan istri yang terus bertahan mendampingi suami yang tak mau berkorban untuk lepas dari jeratan narkoba, atau suami yang korupsi, atau suami yang gemar memukuli istrinya, tanpa mau datang ke psikolog/psikiater untuk menyembuhkan penyakit ‘suka memukuli’ itu.

Apakah Allah ridho melihat seorang perempuan memaksakan diri untuk mendampingi seseorang yang jelas-jelas membuatnya menderita, sengsara, makan uang haram, dll? Ah, pasti tidak. Allah itu Maha Pencinta, tak mungkin Dia menyuruh kita untuk bertahan dalam kesakitan, meski atas nama cinta. Sekali lagi, cinta itu harus membahagiakan, bukan menyakitkan. Kalau menyakitkan, itu bukan cinta.

Jadi, berhati-hatilah saat menerima doktrin tentang cinta, atau tentang apapun. Selalulah pakai parameter yang benar. Dan jangan pernah ragu untuk mendiskusikannya dengan Mama.

I love you full.

Advertisements

8 thoughts on “Tentang Cinta (Untuk Putriku)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s