Hidup Tanpa Berita

sumber foto: wldywjbl.co

sumber foto: wldywjbl.co

Akhir-akhir ini berita nasional semakin membingungkan. Untuk satu isu yang sama, beberapa media akan memberitakan dengan cara yang berbeda, bahkan ada yang benar-benar bertolak belakang. Preferensi politik sangat berpengaruh pada penulisan berita. Khusus media-media tertentu yang hobi sekali memfitnah dan membuat berita dengan judul sangat negatif (dan dengan cara itu mereka mendapat trafik tinggi), sudah pasti tidak akan saya klik (bukan karena saya pro ini atau itu, karena amit-amit, saya dulu juga pernah jadi korban media-media pemfitnah itu, pantang buat saya mengklik situs-situs itu). Tapi sayangnya saat saya buka FB, ada saja orang-orang yang share berita-berita dari situs-situs itu. Sering, kalau orangnya tidak saya kenal (dari 4800-an friend FB saya, sebagian besar sebenarnya tidak saya kenal secara pribadi), saya langsung unfriend. Amit-amit lah berteman sama penggemar situs-situs buruk itu. Kalau kenal, ya sudah, unfollow saja, beres.

Masalahnya, berita-berita terus membanjir. Suami saya karena keperluan pekerjaannya, rutin beli koran dan terkadang buka TV untuk mengikuti perkembangan (padahal kami sudah komitmen ga nonton TV, tapi suami berkali-kali melanggarnya, duh). Karena ruang tengah kami sekaligus ruang kerja, mau tak mau saya ikut mendengar/nonton sesekali. Saya juga entah mengapa buka FB berkali-kali, padahal sudah tahu, pastilah wall penuh dengan berita. Rasanya muak sekali. Karena saya pada dasarnya penulis, saya jadi terstimulasi ingin menulis artikel soal politik nasional, terutama karena saya merasa tahu beberapa hal.  Cuma, waduh, sudah terlalu banyak yang bersuara, terlalu berisik.

Tapi bisakah kita hidup tanpa berita? Lalu, adakah manfaatnya menjauhkan diri dari berita? Awalnya saya pikir, tak mungkin. Bagaimana mungkin saya bisa menganalisis sesuatu kalau tidak mengikuti berita? Tapi, setelah membaca artikel ini ternyata, SANGAT MUNGKIN hidup tanpa berita. Berikut ini bukan terjemahan utuh, tapi saya tulis ulang yang menarik buat saya saja:

1. Berita bagi pikiran sama seperti gula untuk tubuh (gula adalah zat yang berbahaya untuk tubuh). Media memberi kita “makanan” yang mudah dicerna, yang tidak memerlukan banyak pemikiran, dan sebenarnya tidak terlalu terkait dengan kehidupan nyata kita. Tidak seperti membaca buku atau artikel panjang di majalah (yang memerlukan pemikiran), otak kita bisa menelan berita-berita singkat yang tak terbatas, bagaikan makan permen (dan terlalu banyak makan permen, tentu bikin diabetes, obesitas, dll)

2. Berita membuat pikiran kita salah fokus. Karena media butuh uang, maka mereka memproduksi berita yang “menarik” tapi tidak relevan buat kehidupan kita. Misalnya, saat ada kecelakaan pesawat, yang banyak disorot adalah manusianya (korban, keluarga korban, atau pejabat berwenang). Kita pun terus-menerus sibuk mengikuti apa yang disuapkan media kepada kita. Padahal yang relevan adalah masalah struktural: apa penyebab terjadinya kecelakaan, dan bagaimana langkah pemerintah utk mencegahnya terulang. Tapi berita pertama lebih murah untuk dibuat, berita kedua membutuhkan investigasi (dan mungkin akan ditekan sana-sini oleh pihak-pihak berduit yang takut dirugikan oleh berita investigasi). Salah fokus seperti ini, kalau dibiasakan, tentu akan berimbas dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan menganalisis, dll.

3. Berita itu tidak relevan dengan kehidupan. Coba sebutkan, dari sekitar 10.000 berita yang Anda baca dalam 12 bulan terakhir, ada berapa berita yang memungkinkan Anda untuk membuat keputusan yang lebih baik bagi hal-hal yang serius dalam kehidupan Anda (karir/bisnis). Umumnya, orang-orang sulit untuk mengenali apa yang relevan; mereka lebih mudah mengenaliapa yang baru”. Media ingin Anda percaya bahwa berita memberikan keunggulan kompetitif (jadi, kita merasa rugi kalau “ketinggalan berita”.. kuatir dianggap gak gaul, atau ga update).

Padahal, semakin sedikit berita yang Anda konsumsi, semakin besar keuntungan yang Anda miliki. Kenapa? Jawabannya: baca poin 1-2 di atas, dan poin 4-5 di bawah ini.

4. Berita membawa emosi negatif. Karena media memilihkan berita-berita yang “menarik” (baca poin 2), sistem limbik terpicu. Berita-berita yang membuat gusar (hayo, ngaku, ngikutin berita KPK vs Polri, pasti pada gusar kan? tapi kegusaran ini mendatangkan profit bagi media; mereka akan terus menulis berita dg angle yang bikin orang tambah gusar dan tambah penasaran) akan memacu pelepasan glukokortikoid (kortisol). Hal ini membuat sistem kekebalan tubuh menurun dan menghambat pelepasan hormon pertumbuhan. Dengan kata lain, tubuh Anda akan stres kronis. Tingkat glukokortikoid yang tinggi menyebabkan gangguan pencernaan, kurangnya pertumbuhan (sel, rambut, tulang), gugup, dan rentan terhadap infeksi. Potensi efek samping lainnya: rasa takut, agresi, tunnel-vision and desensitisation (mbuh, terjemahannya apa).

5. Berita menghambat pikiran. Berpikir membutuhkan konsentrasi. Konsentrasi membutuhkan waktu lama yang tidak diganggu apapun. Tapi, berita-berita singkat secara khusus dirancang untuk mengganggu Anda. Mereka seperti virus yang mencuri perhatian untuk tujuan mereka sendiri. Berita membuat kita menjadi pemikir dangkal. Yang lebih parah lagi, berita sangat mempengaruhi memori.

Ada dua jenis memory (ingatan): jangka panjang dan pendek. Ingatan jangka panjang hampir tak terbatas, tapi daya kerjanya terbatas. Jalur dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang disebut choke point”; jika lorong ini terganggu, informasi yang didapat tidak akan masuk ke ingatan jangka panjang. Tak heran kalau kita ini sering pelupa. Padahal baru beberapa bulan yang lalu kita masih heboh ngata-ngatain si X (karena media membanjiri kita dengan keburukan-keburukan si X), eh, sekarang lupa lagi dan malah memuji-muji si X. Tak heran banyak politisi yang tebal muka. Mereka tahu, nanti saat pemilu, masyarakat lupa lagi pada kesalahan-kesalahan mereka.

Karena berita mengganggu konsentrasi, pemahaman kita pun melemah. Berita online memiliki dampak yang lebih buruk. Dalam sebuah studi yang dilakukan dua pakar di Kanada tahun 2001, disebutkan bahwa pemahaman menurun ketika jumlah hyperlink dalam dokumen meningkat. Mengapa? Karena setiap kali link muncul, otak Anda terpaksa membuat pilihan (mengklik, atau mengabaikan), yang dengan sendirinya mengganggu. Berita adalah sistem gangguan yang disengaja.

Masih banyak lagi yang lain: News has no explanatory power, News increases cognitive errors, News works like a drug, News wastes time, News makes us passive, News kills creativity (silahkan baca sendiri di artikel aslinya)

Lalu, apakah kita benar-benar tidak butuh jurnalisme? Ini jawabannya (paragraf akhir dari artikel tsb):

Masyarakat membutuhkan jurnalisme, tetapi dalam bentuk yang lain. Jurnalisme investigatif selalu relevan. Kita memerlukan berita yang mengawasi birokrasi/pemerintahan, dan mengungkapkan kebenaran. Tetapi, penemuan-penemuan penting ini tidak harus selalu berbentuk berita. Artikel jurnal yang panjang dan buku yang mendalam (pembahasannya), juga bagus.

Saya telah melalui empat tahun tanpa berita, jadi saya bisa melihat, merasakan, dan melaporkan efek dari ‘bebas dari  berita’ ini secara langsung: gangguan berkurang, kecemasan berkurang, mampu berpikir lebih dalam, lebih banyak waktu, dan lebih berwawasan. Hal ini tidak mudah dilakukan, tetapi berharga.

Kontemplasi pribadi:

Seorang psikolog teman saya pernah bilang sekilas bahwa acara XXX di tivi itu membawa emosi negatif, karena kita yang nonton jadi sebel melihat si pembicara berkoar-koar, tapi kita (rakyat biasa), tidak bisa berbuat apa-apa kecuali ngomel sendiri. Cocok dengan isi artikel ini. Selain itu, saya akhir-akhir ini merasa tambah bodoh, nulis artikel jurnal gak beres-beres, padahal segitunya sudah dibimbing cuma-cuma oleh teman saya yang PhD-nya dari Jepang. Dulu saya berhasil bikin draft proposal disertasi juga musti bolak-balik mohon petunjuk sobat saya D yang baik hati; dia dengan bermurah hati membaca text book utama yang saya pakai, lalu menjelaskan ulang ke saya… Subhanallah, terima kasih ya Allah, saya dikasih teman-teman sebaik ini..tapi astaghfirullah..pasti ada yang salah kenapa kok saya jadi bego begini. Sepertinya, sekarang saya sudah menemukan sebabnya.

Bismillah, saya akan mengurangi membaca berita, seminimal mungkin.

 

Catatan: mohon maaf untuk teman-teman yang bekerja di bidang pemberitaan.. sama sekali tidak ada niat merendahkan lho.. setiap orang punya jalan hidup sendiri-sendiri kan? Semoga Allah memudahkan kehidupan kita semua, amiiin… 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Hidup Tanpa Berita

  1. keep blogging bu dinaa :)!
    sy suka baca kedua blog ibu..
    btw, bu dina yg jumat sore ini pakai baju ungu duduk di stasiun bandung, bukan? pengen nyapa..

  2. Duhhh.. pantesan saya merasa tambah bego aja tiap hari.. jangan-jangan itu karena saya gemar ngecek situs berita online tiap sejam sekali ya.. dan ngikutin pemberitaan.. dan ngerasa paling update banget ama kondisi di luar sana, padahal ngaruh juga gak tuh ama keseharian saya :((

    Padahal udah puasa tv dan baca koran.. tapi malah “olab” ama berita online..

    Nuhun ah teh.. kontemplasinya.. btw.. kalo blogwalking mah ngga bikin lemot kan teh??

  3. Memang lebih baik baca yg jelas2 saja yg teruji objektifitasnya spt blognya Bu Dina ini. Tapi sayangnya terusterang saya masih suka melahap berita2 yg disuguhkan media2 mskipun sgt selektif & tntu saja sangat NO untuk media “mereka”; media yg menyebut Te***is sbg Aktivis Islam dlm headlinenya. Baca artikel ini saya merasa disadarkan bahwa urgensi informasi berbatas relevansi.
    Terima kasih Bunda Kirana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s